
Kirana hanya bisa menutup mata dan mendekap dadanya ketika desiran asing dalam hatinya itu kembali hadir tiap kali dia bertemu sosok itu lagi."Aku kenapa ya?" tanyanya.
Kirana takut dengan getaran asing itu. Ia bingung dan malu. Ia belum tahu, sejak saat itu dunianya akan
berputar perlahan menguji hatinya untuk memahami sebuah rasa.
***
Kelas begitu riuh padahal Ms. Eliza hanya membahas tentang busana muslim dan muslimah dalam pandangan Islam. Hanya saja pertanyaan diajukan teman sekelas lebih banyak tentang hukum pacaran dalam Islam. Kirana hanya diam mendengar sampai kalimat yang disampaikan Ms. Eliza membuatnya terpaku.
"Gak ada yang salah ketika kalian mengagumi lawan jenis, itu fitrah. Desiran asing yang tiba-tiba menyerang ketika si dia ada di dekat kalian. Itu wajar."
Kirana luput kalimat selanjutnya, "Bahwa yang salah ketika rasa kagum itu membuat kalian jadi mabuk. Semua yang kalian lakukan seolah diawasi oleh sosok itu. Yang ada di pikiran dan hati hanya dia. Allah akan cemburu jika si dia lebih kalian ingat dibanding penciptanya." Kirana tersenyum dia hanya tahu getaran dalam hatinya itu tak salah.
***
Alif baru saja mengakhiri kultum siang
__ADS_1
itu. Kali ini giliran dia menyampaikan sedikit ceramah di depan jama'ah sholat dhuhur di musholla sekolah. Alif tak tahu sepanjang ceramah, ada hati yang berdegup kencang disana, di barisan belakang shaf siswi. Alif memang tak peka, seseorang sedang tak karuan dibuatnya. Seseorang yang diam-diam menaruh hati pada pemuda baik hati nan sholeh tersebut.
***
Alif, ketua rohis SMK Luar Biasa. Ia menjadi panutan para siswa. Bertanggung jawab, sholeh dan tulus. Ia memiliki
banyak teman. Guru-guru pun mengandalkannya. Wajar jika banyak siswi yang terpikat. Termasuk Kirana. Kirana yang pendiam, Kirana yang kikuk. Kirana polos yang hanya bisa terdiam mematung tiap kali berpapasan
dengan Alif. Kirana tak tahu mengapa itu terjadi padanya. Di tahun ketiga mereka di sekolah. Kirana tak mau Alif tahu. Sayangnya, Kirana masih belum bisa mengendalikan rasa asing yg sering menyerangnya tiba-tiba dan menyergapnya dalam kebingungan. Ketika rasa itu sudah mengganggunya, merusak moodnya, Kirana menangis, ia tahu ini bukan perasaan salah, namun ia tak mau terganggu. Kirana ingat Ms. Eliza mengajarinya untuk berdoa agar hatinya lebih tenang. Sosok Alif telah bersemayam dalam hatinya entah sejak kapan dan sampai kapan Kirana harus menanggung rasa itu sendiri.
***
disiapkan ibu. Kiara, adik Kirana, tak henti-henti menggodanya.
"Jatuh cinta nyiksa ya kak, bisa bikin demam."
"Tau apa sih, de'?"
__ADS_1
Kirana membalikkan badannya, ia mulai kesal dengan godaan adiknya itu.
"Iya, kan. Yang susah tidur, sampai begadang, sampai sakit kan karna Kak Kirana mikirin Kak Alif terus." Kiara makin usil. Ia menarik satu buku di meja dan membuka lembar terakhir
"Alif Ahmad Bachtiar, Alif Ahmad Bachtiar...Satu halaman nama Kak Alif saja. Ia sih Kak Alif menarik tapiii...”
"Tapi apa?" tanya Kirana.
Kiara menatap kakaknya dari atas ke bawah, "Kak Kirana diliat dari sisi manapun gak ada menarik-menariknya. Gak ada kesempatan dapat perhatian dari Kak Alif. Hahaha." Kiara tertawa usil.
"Yang mau dapat perhatian Alif siapa?" Kirana manyun.
"Bukannya kalo suka sama orang biasanya kita ngarep direspon ya?"
"Sok tau! Udah, keluar dari kamar kakak, kepala makin pusing dengar Kiara ngoceh. Awas ya, ember di sekolah." ancam Kirana.
"Gak takut! Kiara mau umumin pake toa aja di lapangan Kirana suka sama Alif Ahmad Bachtiar!"
__ADS_1
Kirana senewen," Kiaraaa...!" Kiara sudah kabur.
***