
Kirana menahan sujud lebih lama pada raka'at terakhir tahajudnya malam itu. Ia sedang menumpahkan segala keresahan pikiran, meminta ampun untuk kerapuhan hatinya dan menyampaikan segala asa dan harapannya. Ia sadar, ia sudah mengambil langkah besar untuk masa depannya. Memutuskan menerima Rehan untuk saling mengenal lebih dekat. Tapi bukan pacaran! Kirana sudah menegaskan itu pada Rehan.
"Ini ta'aruf bukan pacaran" tegas Kirana.
Selama ta'aruf, Rehan tak boleh menelpon Kirana, tak ada sms maupun menyapanya di sosial media. Kirana membatasi itu semua meski sempat diprotes Rehan.
"Mengapa tak boleh?"
Hanya dengan sedikit penjelasan, Kirana menyampaikan alasannya agar selama ta'aruf hati dan sikap mereka terjaga dari fitnah. Rehan pun menerima itu. Mereka sepakat hanya akan berhubungan melalui secara langsung dan didampingi oleh Ms.Eliza dan Pak Arif sebagai guru pembimbing mereka di Rohis.
Kirana teringat lagi, siang itu sekembalinya mereka dari lab otomotif dan menemui Ms.Eliza dan mendapatkan info dari Ms.Eliza bahwa Rehan akan menggantikan Hilmi untuk membaca ayat-ayat alquran di pembukaan tabligh akbar yang akan diselenggarakan esoknya. Hilmi sakit dan tak bisa hadir. Ms.Eliza memutuskan Rehan yang menggantikan Hilmi atas rekomendasi Pak Arif. Untuk pertama kalinya, Rehan akan tampil di depan umum bersama Kirana sebagai qori' dan pembaca saritilawah. Kirana membatin,"Ia dan Rehan memang ditakdirkan bersama." Namun di sudut hatinya yang lain, menolak, berontak, tak terima.
Ah, Kirana tak ingin terpengaruh. Ia sudah memutuskan seperti itu.
***
Ia hampir saja menjatuhkan gelas berisi kopi panas yang akan diberikan untuk kakeknya sampai beberapa bagian tumpah ke tangan Alif sendiri. Ia sedikit meringis. Kakek yang melihat sebenarnya tahu beberapa hari ini sejak pulang dari sungai tempo hari, Alif sering terlihat linglung dan banyak melamun. Pernah Alif sampai harus bolak balik dalam rumah untuk mencari kunci motor saat ia akan pergi sekolah padahal kunci itu ada di saku tas, tempat ia biasa menyimpan kuncinya. Kemarin pun ia tak sadar telur yang sedang digoreng hangus, rupanya Alif sedang melamun dan senja hari ini pun dia lupa menutup kandang ternak kambingnya. Lalu malam ini, ia hampir menjatuhkan kopi Kakek Hasan yang hampir tiap malam Alif buatkan.
__ADS_1
Kakek sangat tahu sesibuk apapun Alif dengan tugas sekolahnya, Alif tak pernah sebingung ini. Pasti ini urusan hati, tebak kakek. Ia mengingat kejadian di sungai dan cerita Kiara tentang Kirana dan bagaimana Alif menatap Kirana, kakek sudah bisa 'membaca' itu. Kakek menunggu Alif untuk menceritakan apa yang
sedang terjadi antara dia dan Kirana. Sayangnya, Alif justru lebih banyak diam hingga terlihat linglung seperti ini.
Dari awal kakek ingin menyampaikan cerita Kiara soal perasaan Kirana pada Alif, kakek menunggu waktu yang tepat. Beliau pikir, ini saatnya.
Kakek duduk tak jauh dari Alif yang sedang melamun, Alif sampai tak sadar jika sedari tadi kakek memperhatikannya."Kirana gadis yang baik, cantik dan solehah, kakek akan sangat senang mempunyai cucu
perempuan seperti itu di rumah ini" kata kakek sambil menepuk pundak Alif.
Sejujurnya Alif senang dengan keinginan kakek, Alif pun akan sangat bahagia bila itu benar terjadi namun...
Alif kembali mengingat percakapannya dengan Kirana di tepi sungai waktu itu.
"Bagaimana Alif tahu?" tanya kakek.
Alif hanya tersenyum kecut lalu menceritakan kejadian di sungai. Kakek yang mendengar cerita hanya bisa menahan senyum. Anak muda jaman sekarang ada-ada saja. Saling suka tapi tak berani terus terang, pikir kakek.
__ADS_1
"Alif memang bodoh!" senyum kakek.
"Maksudnya?"
"Apa jaket rapi dan wangi yang dikembalikan gadis itu belum bisa membuktikan kalo dia menyukaimu?"
Jaket rapi dan wangi? Alif takjub, "Ato tau darimana?"
"Gadis itu punya adik yg juga cantik tapi lebih cerewet." Kakek tertawa dan Alif paham sekarang.
Alif mendesak kakeknya untuk mengatakan apa saja yang diceritakan oleh Kiara tentang Kirana. Yang tadinya terlihat murung jadi berubah bahagia. Ia tersipu-sipu sendiri mendengar cerita kakeknya.
Alif akhirnya tahu laki-laki yang dimaksud Kirana waktu itu memang dirinya. Alif melambung kesenangan tanpa ia sadari kenyataan selanjutnya akan merubah rasa senang itu menjadi penyesalan.
"Orang baik tak datang dua kali." nasehat kakek pada Alif.
“Ato, apa sebaiknya Alif mengjukan ta’aruf pada Kirana?”
__ADS_1
Kakek mengacungkan dua jempolnya pada Alif tanda setuju. Alif pun tersenyum, ia akan membicarakan hal itu pada Pak Arif. Alif berharap semoga niat baiknya diberkahi dan dimudahkan olehNya.
***