
"Alif mengajukan ta'aruf dengan Kirana" kata Pak Arif pada Rehan sore itu.
"Sepertinya ia tak tahu kamu dan Kirana sedang ta'aruf."
Rehan hanya menoleh sebentar ke arah guru sekaligus pamannya itu.
"Kirana tau?"
"Entahlah, yang jelas saya belum mengiyakan permintaan Alif."
Lama Rehan terdiam hingga membuat pamannya tersebut curiga jika Rehan mulai ragu dengan proses tersebut.
"Kapan ujian akhir dilaksanakan, Om?"
"Maksudnya UNBK?" Rehan mengangguk. Paman berpikir sebentar lalu mulai menerka,
"Kurang dua bulan dari sekarang, kenapa?
Rehan menarik nafas pelan...
__ADS_1
"Bawa Rehan menemui orang tua Kirana malam ini, Om. Saya akan menikahinya segera setelah ujian selesai."
jawab Rehan mantap.
Pak Arif sampai terkejut tapi tetap takjub dengan ketegasan Rehan. Beliau masih ingat bagaimana terpuruknya Rehan pertama kali ditinggal oleh ayah dan adiknya, sejak saat itu Pak Arif terus berada di samping Rehan berusaha membangkitkan semangatnya. Sempat ia mengira jika keputusan Rehan menikah bisa jadi efek dari kesepian yang mendera Rehan, mungkin ia menemukan sosok yang tepat pada Kirana, sosok yang akan mengisi
kekosongan hari-harinya. Awalnya, Pak Arif ragu, tapi ia yakin apapun kehendak Rehan pasti sudah melalui pertimbangan matang. Dari segi ekonomi Rehan sanggup, secara fisik pun usia Rehan sebentar lagi 20 tahun, walaupun usia belum tentu bisa dijadikan sebagai tolak ukur kematangan pemikiran seseorang.
Satu hal yang tak henti-henti nya Pak Arif ingatkan pada Rehan, apapun yang terjadi kelak Rehan tak boleh berputus asa dan lepas dari mengharap pada Allah karena keyakinan dan kepercayaan terhadap semua keputusan
Allahlah yang akan menolong menyelesaikan setiap masalah dan ujian yang datang. Apalagi Rehan telah memutuskan untuk menjadi seorang suami, seorang pemimpin, ujiannya pasti ada.
"Lalu Alif?" tanya pak Arif.
***
Paginya Kirana sudah berdiri di tepi sungai menatap jauh ke satu titik meski pikiran melayang entah kemana. Sepeda yang biasa ia gunakan sudah sejak tadi dibiarkannya rebah di rerumputan. Matanya tak lepas memandang
ke arah susunan batu bekas pembakaran ikan yang dulu dibuat Alif. Kirana masih ingat rasa kecewa yang dulu ia rasakan saat pertama kali Alif meminta Kirana untuk menerima Rehan. Hati Kirana sakit untuk pertama kalinya.
__ADS_1
Bibirnya pelan bergerak mengucapkan sesuatu.
"Kamu memang bodoh!" lirih Kirana mengatakan itu. Kiara menghampiri Kirana.
"Harusnya kakak menolak lamaran Kak Rehan semalam jika memang belum bisa meikhlaskan Kak Alif!" seru Kiara.
"Lihat kondisi kakak sekarang, setelah tahu tak lama lagi kakak akan jadi nyonya Rehan, justru kakak malah kesini, kembali mengingat kenangan kakak bersama Alif disini, gak adil buat Kak Rehan, kakak juga
menyiksa diri sendiri!" Kiara mulai emosi.
"Justru dengan kakak datang kesini, akan mengingatkan saya bagaimana rasa kecewa dan hancurnya kakak ketika Alif justru meminta kakak menerima Rehan, disini, di tempat ini, kakak masih tak percaya Alif meminta seperti itu disaat ia sendiri menyukai kakak. Mengapa ia tak mengatakan sendiri perasaannya? Apa ia menunggu kakak yang menyatakan itu terlebih dahulu? Dia memang bodoh. Itu alasan kakak menerima Rehan, ia lebih jujur dan berani
mengatakan perasaannya. Alif, orang bodoh yang kakak sukai, bodoh karena membuat semuanya terlambat."
"Terlambat?"
Tiba-tiba Alif sudah ada disana, ia mendengar ucapan Kirana. Pelan ia mendekati kakak adik itu.
"Jadi Rehan melamar Kirana?" Suaranya tertekan. Kiara yang melihat Alif jadi iba sekaligus sedih, kisah Kirana, Alif dan Rehan baginya terlalu rumit. Ia memutuskan meninggalkan mereka berdua disana, mereka butuh waktu.
__ADS_1
Di jalan, pikiran Kiara melayang pada kakaknya dan Alif, semoga mereka bisa menyelesaikan masalah ini, harap Kiara. Ia sampai tak sadar, sebuah motor yang melaju dengan kecepatan cepat dari arah berlawanan membuat sepedanya sedikit oleng, Kiara tak tahu, pengendara motor tadi adalah Rehan yang sedang menyusul Alif ke sungai. Lalu terjadilah apa yang seharusnya terjadi, manusia hanya bisa berencana, Allahlah yang akan menentukan.
***