
Rehan menghampiri Kirana yang sedang menyiapkan kursi-kursi lipat yang akan digunakan para tamu undangan di Tabligh Akbar yang akan diadakan besok di aula sekolah. Beberapa teman panitia juga ikut membantu mendekor ruangan tersebut.
"Saya bisa sendiri" kata Kirana.
Tapi Rehan tetap saja menyusun kursi-kursi tersebut. Ia menunjuk pada tumpukan kain penutup kursi tak jauh
dari Kirana. Kirana paham Rehan memintanya untuk menutup kursi-kursi tersebut dengan cover kursi berwarna biru itu.
Beberapa saat mereka diam meski tangan-tangannya bekerja dengan cekatan. Kirana sesekali memperhatikan raut wajah Rehan, mungkin ia mau mengatakan sesuatu, pikir Kirana. Akan tetapi, sampai semua kursi tersusun, dan Kirana pun telah menutupi kursi-kursi tersebut dengan covernya, Rehan tak mengatakan apapun. Ia justru keluar dari sana tanpa menoleh ke arah Kirana sekali pun. Kirana membatin, "Apa dia marah?" Ia kembali mengingat emosi Rehan ketika ia menyatakan perasaannya. Entah harus bilang apa pada Rehan. Kirana tak ingin menyakiti siapapun sekalipun itu, Rehan, yang sering bertindak seenaknya.
Kirana cepat-cepat menghalau pikirannya tentang Rehan. Ia kemudian beralih ke tas panggung untuk membantu beberapa siswa disana. Kirana ingin segera menyelesaikan tugas mendekor agar segala sesuatunya selesai tepat waktu dan teman-teman yang akan mengisi sesi acara bisa berlatih di sana. Kirana sendiri mendapat tugas untuk menjadi saritilawah untuk ayat-ayat yang akan dibaca Hilmi, siswa yang telah dipersiapkan untuk membaca ayat-ayat tersebut.
Ms.Eliza masuk ke aula dan mengecek pekerjaan tim dekorasi. Beliau menghampiri Kirana dan teman-teman memastikan mereka bekerja sesuai rencana awal. Ms.Eliza baru saja akan meninggalkan ruangan tersebut saat hapenya berdering. Sesaat kemudian setelah menjawab telpon itu, Ms. Eliza kembali ke ruangan.
"Ada yang melihat Rehan?" Kirana yang sedang menghias meja dengan pita tak mendengar pertanyaan Ms.Eliza. Salah seorang teman menyahut bahwa Rehan tadi ada disana membantu Kirana menyusun kursi.
Ms.Eliza mendatangi Kirana. "Tadi memang ada disini, Ms, habis itu keluar, Kirana tak tahu kemana."
"Ms.Eliza minta tolong ya, carikan Rehan. Ms. akan tunggu disini."
Bukannya Kirana tak mau hanya saja berhadapan dengan Rehan menjadi tak mudah baginya sejak hari itu.
Meski agak berat tapi Kirana tak ingin gurunya tersebut tahu hal apa yang terjadi antara Ia dan Rehan. Kirana pun
__ADS_1
segera berlalu mencari pemuda jangkung tersebut. Tak sulit bagi Kirana menemukan Rehan, ia sedang berada di lab otomotif mengutak atik perangkat motor. Kirana baru akan mengucapkan salam tetiba ia mendengar suara seseorang yang lain di ruangan itu.
"Jadi Kirana menolakmu?" tanya suara tersebut.
Rehan berhenti sejenak dari aktivitasnya seolah mencerna pertanyaan itu. Tanpa mengalihkan pandangan dari
motor yang sedang ia coba reparasi.
"Gadis itu belum menjawab apapun." jawab Rehan.
"Pastinya ia akan tolak, dia bukan tipe yang ingin pacaran." sahut suara itu lagi.
"Siapa yang mengajaknya pacaran?"
Kirana yang sedari tadi berdiri di depan pintu, kaget. Jantungnya berdegup kencang karna ia tahu sedang jadi bahan pembicaraan menjadi bingung, haruskah ia berada di tempat itu dan mendengar percakapan Rehan dengan temannya atau pergi saja? Tapi Ms.Eliza sudah menunggu di aula? Bagaimana ini?
Namun, jawaban Rehan atas candaan temannya membuat hati Kirana makin kacau, tak percaya.
"Kalau nikah memang satu-satunya jalan, kenapa tidak?" jawab Rehan.
Terdengar tepukan tangan dari dalam lab.
"Kamu memang the best, Rehan. Diam-diam tapi gerak cepat."
__ADS_1
Sebuah dentuman benda jatuh terdengar dari luar, Rehan dan teman bicaranya segera mengecek dari mana sumber suara itu berasal. Rehan menemukan Kirana yang sedang berusaha meletakkan tempat sampah
besar dari kayu itu.
"Apa yang kau lakukan disini?" tanya Rehan.
Kirana yang tak sengaja menjatuhkan benda itu gelagapan.
"Ms.Eliza menunggu Rehan di aula." jawabnya gugup.
Kirana ingin segera berlari dari tempat itu. Tapi dengan sigap Rehan mencegahnya. Rehan yakin Kirana mendengar
percakapan Rehan dan temannya, yang ternyata Pak Arif. Ia tak mau Kirana salah paham.
"Apapun yang kamu dengar tadi tak akan pernah terjadi jika kamu memang tak menginginkannya." kata Rehan.
Kirana memberanikan diri menatap Rehan dan berusaha mencari kejujuran disana. Rehan pun menatap Kirana berusaha menembus dan mengetahui apa yang diinginkan hati Kirana sebenarnya.
Lama mereka saling menatap dan akhirnya Kirana berucap,
"Laki-laki disebut baik jika kata-katanya bisa dipercaya, apa Rehan seperti itu?"
Untuk pertama kalinya Rehan tersenyum di depan Kirana. Ia tahu detik itu Kirana memberinya kesempatan. Kesempatan untuk mendapatkan hatinya. Sedang jauh di lubuk hati Kirana, "Mungkin dengan begini ia bisa melupakan Alif."
__ADS_1
***