DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 28 Sebuah Pesan


__ADS_3

"Rehan, ini buku Kirana." sapa Masyita pagi itu sebelum Rehan ke sekolah.


"Oh, iya." Rehan meraih buku tersebut dan memasukkannya ke dalam ransel.


Masyita diam-diam berharap, semoga Rehan tidak sempat membuka buku tersebut sebelum menyerahkannya pada Kirana.


"Terima kasih sudah dicatatkan."


"Oh, iya, Masyita sudah dua pekan disini tapi gak pernah keluar rumah, apa mau jalan-jalan?" tanya Rehan sambil memakai sepatunya.


"Aku gak tahu tempat yang bagus dikunjungi dimana."


"Kita ke pantai aja, sama mama dan om Arif, mungkin Kirana ikut juga."


"Kirana diajak?"


"Saya ragu dia mau, tapi sebaiknya dia ikut biar lebih akrab dengan keluarga."


Masyita mengangguk dan menatap kepergian Rehan.


"Ya, Kirana akan selalu jadi prioritasmu, dan aku... Siapa aku? Hanya gadis yang tak boleh berharap lebih." sedih Masyita.


"Mungkin sebaiknya aku pulang lebih cepat, aku takut tak dapat mengendalikan diri. Tinggal disini lebih lama hanya akan membuatku semakin terbiasa denganmu, mengagumimu lalu patah hati sendiri karena tahu kamu telah memilih.... dan itu bukan aku."


***


Alif mendata beberapa siswa yang akan ikut ke tabligh akbar yang akan diisi oleh Ustad Abdul Somad. Seorang ustad yang sedang viral seantero negeri. Isi ceramah beliau mudah diterima oleh umat meski ada saja yang memprovokasi untuk menolak beliau di beberapa tempat. Namun, Alif dan teman-teman rohis mengagumi ustad tersebut. Mereka berencana menghadiri tabligh akbar ini meski panas siang itu sungguh terik.


Alif baru akan menghubungi seorang supir angkot yang akan mengantar teman-temannya nanti ketika Rehan datang menyapanya. Meski agak canggung tapi Alif berusaha ramah.


"Ada berapa siswa yang naik angkot?"


"Tidak terlalu banyak hanya ada delapan siswa, karena sebagian naik motor."


"Gak usah sewa angkot, nanti saya bawa mobil, untuk 8 orang masih cukup."

__ADS_1


Alif sebenarnya ingin menolak karna sudah terlanjur mendapatkan dana dari sekolah untuk acara itu. Tapi Rehan menyarankan dana itu bisa dialihkan untuk hal lain.


"Saya akan mengajak Masyita, bolehkan?" tanya Rehan.


"Gak ada masalah, Masyita mungkin bisa berbaur dengan teman-teman yang lain. Apalagi di rombongan yang ikut mobil ada Kirana. Mereka sudah kenal juga." jawab Alif sambil menunjukkan nama Kirana pada list yang dipegangnya.


"Semoga gak ada lagi salah paham."


"Salah paham apa?" tanya Alif.


"Hari itu, Kirana pikir Masyita... Ah, rasanya tidak mungkin, dia keluarga saya, kami dari kecil memang akrab."


Alif sebenarnya tahu maksud Rehan, ia kemudian mengingat percakapannya dengan Kakek Hasan tentang kemungkinan Masyita menyukai Rehan lalu sekarang Kirana pun menanyakan hal yang sama. Mungkin Rehan memang tak peka.


"Untuk masalah Kirana dan Masyita, saya tidak bisa memberi saran apapun. Itu semua tergantung Rehan, saya hanya berharap tak ada yang tersakiti lagi."


"Jadi, Alif juga berpikir yang sama dengan Kirana tentang Masyita?"


"Harusnya Rehan yang lebih tahu" kata Alif.


***


"Ada acara di kantor jadi siangnya boleh pulang lebih cepat." sahut Kiara ketika menelepon Kirana.


Belum seberapa jauh ia melangkah, Rehan sudah mengejarnya. Ia akan mengembalikan buku catatan Kirana.


"Kirana" panggil Rehan.


Kirana berhenti dan menunggu Rehan mendekat. Saking buru-burunya Rehan sampai menjatuhkan buku tersebut. Ada sehelai kertas yang jatuh dari buku itu, Rehan memungutnya ia pikir itu bagian dari buku Kirana.


Tapi tunggu, bukankah ini tulisan Masyita?


Rehan berhenti sejenak membaca tulisan pada sehelai kertas tadi, ia penasaran, apa yang dituliskan Masyita?


Sedang Kirana yang bingung melihat Rehan yang tadinya terlihat terburu-buru memanggilnya tiba-tiba diam begitu. Ia kemudian memutuskan mendekati Rehan, dan meminta buku catatannya.

__ADS_1


"Rehan, bukunya" tegur Kirana.


"Tadinya mau aku kembalikan, tapi saya baru ingat halaman terakhir belum saya catat." Rehan beralasan.


Kirana manyun, jadi tadi lari terburu-buru mengejar sambil mengacungkan buku itu apa


maksudnya? Pikir Kirana.


Rehan yang melihat wajah Kirana yang manyun jadi gemas sendiri.


"Bahkan Kirana manyun pun terlihat sangat cantik..." puji Rehan sambil tersenyum.


Kirana mendengus mendengar kalimat Rehan, nih orang mungkin salah obat ya? Sambil berbalik meninggalkan Rehan.


"Kirana..."panggil Rehan lagi.


Kirana kembali membalikkan badannya dengan malas karena yakin pasti diusilin lagi.


"Ada apa lagi?"


"Kirana percaya padaku kan?" tanya Rehan.


"Why?" Kirana bingung dengan pertanyaan itu.


"Jawab saja..." desak Rehan.


"Hmm, iya, saya percaya Rehan Hadi Nugraha, cukupkan?"


Rehan lalu mengangguk dan memandang Kirana melangkah jauh.


"Maafkan aku, Kirana..." gumam Rehan. Sebenarnya Rehan merasa bersalah karena tak mengembalikan buku milik Kirana. Namun pesan Masyita pada kertas yang jatuh tadi membuatnya penasaran.


"Sebaiknya Kirana memeriksa dulu buku ini sebelum meminjamkannya pada Rehan. Aku tak ingin kalian sama - sama terluka pada akhirnya jika ada hal tak kalian ungkapkan. Kalian memulai ini dengan niat baik kan? Apa tidak sebaiknya saling jujur? Catatan hatimu di buku ini jelas menceritakan orang lain. Maafkan aku, Kirana. Tolong jangan sakiti Rehan dengan ketidakjujuran. Ia sudah cukup menderita dengan kepergian ayah dan adiknya."


Suasana hati Rehan tak karuan, ia ingin segera membaca catatan Kirana. Tapi sebaiknya tidak saat itu, dan bukan di tempat itu juga. Ia pun butuh penjelasan Masyita.

__ADS_1


***


__ADS_2