
Seorang gadis mendekat sambil memperhatikan mereka. Dalam hatinya, "Mereka terlihat bahagia." Masyita langsung bisa mengenali Kirana setelah sebelumnya ia melihat foto gadis itu di hape Rehan. Pasti gadis satunya itu adik Kirana, dan seorang kakek. Lalu siapa anak muda yang sedang membelakang itu? Apa itu teman
yang dimaksud Rehan?
Kiara jahil," Kak Alif awas di belakangnya ada... "
Spontan Alif menoleh ke belakang tapi tak menemukan apa-apa. Kiara terbahak karena berhasil mengerjai Alif. Sedang Masyita terperangah. Anak muda yang memunggunginya itu sama dengan pemuda yang menolongnya di
terminal. Masyita makin tak percaya menyadari orang itu yang bernama Alif!
Bibirnya bergerak mengeja,
"Alif Ahmad Bachtiar..."
Alif, Kirana dan Kiara serentak menoleh ke arah suara tersebut dan menatap ke arah gadis bergamis biru dengan jilbab berwarna senada,... Masyita.
***
Kirana dan Kiara sibuk menebak, mungkin ini sepupu Rehan sedang Alif sendiri heran.
"Masyita..."
Kirana mendengar Alif menyebut nama itu dengan pelan tapi hatinya berdetak cemburu.
***
"Tau nama saya dari Rehan ya?"
__ADS_1
Bukan, dari catatan Kirana, sahut Masyita tapi dalam hati.
"Saya gak tau kalo ternyata yang menolong saya waktu di terminal itu, teman Rehan. Rehan juga baru sadar pas cek hapenya."
Masyita juga menjelaskan waktu ia menelepon Rehan yang menjawab karyawan toko. Alif pun segera paham tapi tak sadar Kirana memperhatikan mereka dengan perasaan tak nyaman. Kiara sampai menegur Kirana dengan berbisik,"Kak, berhenti perhatiin mereka, kakak keliatan banget lagi cemburu."
Kirana menoleh ke arah Kiara dan dibalas dengan anggukan untuk meyakinkan Kirana. Kirana pun berusaha tersenyum. Masyita menghampiri Kirana dan Kiara sambil bersalaman dan juga berkenalan dengan Kakek Hasan yang masih membuat tongkat untuk Kirana. Mereka awalnya canggung satu sama lain. Alif pun begitu. Kiara yang paling mengerti situasi segera bertanya.
"Kak Masyita, Kak Rehan gak ikut?"
"Rey harus ngantar barang sama karyawan, tadi saya diantar sampai depan. Nanti mau jemput lagi."
"Kenal Kak Alif juga ya kak?" tanya Kiara lagi, Kirana langsung melirik ke arah Kiara dan Masyita melihat ekspresi Kirana yang bingung.
"Kami bertemu di terminal waktu jemput At'." Alif yang menjawab.
"Kiara..., maaf Kak Masyita adik saya memang cerewet." sapa Kirana sungkan.
Kirana lalu pamit kembali ke sungai mau mengisi beberapa jerigen kosong. Masyita mau ikut tapi Alif justru segera mengambil jerigen itu dari tangan Kirana.
"Kalian disini saja, biar saya yang ambilkan."
"Alif tau tempat lubang resapan nya yang mana?" tanya Kirana.
Alif berpikir sebentar, dan menunjuk ke satu titik. Kirana menggeleng lalu menunjuk ke arah yang lain.
"Sebaiknya Kirana ikut Alif, tunjukkan tempatnya." Perintah Kakek yang langsung disetujui Kiara.
__ADS_1
"Benar Kak, nanti Kak Masyita dan saya menunggu disini saja sambil menemani Ato' disini." Kirana lalu menatap Alif yang juga menatap ke arahnya. Salah tingkah.
"Iya, kalian pergi saja, empat jerigen itu gak akan kuat dibawa satu orang kan?" tunjuk Masyita pada jerigen kosong di tangan Alif. Masyita menatap mereka pergi, Kirana berada di belakang Alif. Sesekali Alif menengok Kirana.
"Terlihat sekali Alif menyukai Kirana, begitu pun Kirana terhadap Alif. Tapi apa yang terjadi sebenarnya sampai
Rehan yang melamar Kirana?" Pikir Masyita penasaran. Kiara melihat tatapan bingung Masyita dan menghampiri gadis itu.
"Mereka terlihat serasi tapi tak ditakdirkan bersama."
Masyita kaget sepertinya Kiara tahu jalan pikirannya. Sementara itu...
"Kak Masyita cantik ya?" tanya Kirana pada Alif.
Alif yang sedang mengisi jerigen menatap Kirana sebentar lalu melanjutkan pekerjaannya.
"Itu bukan kata lain dari cemburu kan?" Alif balik bertanya.
"Cemburu?"
"Waktu tau itu sepupu Rehan, entah kenapa aku memikirkanmu, Kirana. Tapi, kamu tak perlu khawatir, Rehan menganggapnya seperti adik. Rehan sendiri yang mengatakan itu."
"Aku tak cemburu pada Rehan dan Masyita." kata Kirana.
...tapi tak nyaman ketika Alif menyebut namanya tadi. Lanjut Kirana dalam hati.
***
__ADS_1