DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 14 Masih Tentang Harapan Alif


__ADS_3

Alif tak bisa tidur malam itu. Entah sudah berapa kali ia membalikkan badan, pikiran melayang, antara bahagia, bingung dan kesal sendiri jadi satu. Alif bahagia karena Kirana ternyata menyukainya, bingung tak tahu


besok harus ngomong apa ke Kirana, tak tahu bagaimana memulainya, kesal sendiri karena baru tahu tentang perasaan Kirana, ia yakin pasti Kirana berusaha keras memendam perasaan itu. Alif tak tega. Ia yakin memendam perasaan, bagi perempuan, akan lebih menyiksa. Alif mengurut tiap moment ketika ada Kirana di sekitarnya. Ia baru sadar, Kirana sering terlihat kaku, gelagapan setiap kali bertemu dengannya. Alif pikir mungkin karena itu memang sifat Kirana, aslinya, Kirana hanya sedang berusaha menutupi perasaan meski tak kuasa juga hingga terlihat seperti orang yang selalu ingin menghilang jika sudah bertemu Alif.


Sekali lagi Alif membalikkan badan ke arah berbeda. Malam ini, ia akan meminta ketetapan hati dan kekuatan jiwa dalam doa sujud malamnya. Ketetapan hati untuk mengajukan proses ta'aruf ke Pak Arif dan Ms.Eliza terhadap Kirana dan kekuatan jiwa agar ia tak ragu untuk menikah muda jika ta'aruf itu berhasil. Alif sudah memikirkan banyak rencana, bagaimana nanti ia dan Kirana bisa hidup lebih baik dengan menikah muda agar terhindar dari fitnah dan zina hati. Ia sadar tanggung jawab menjadi kepala rumah tangga bukan hal kecil namun Kakek Hasan menasihatinya.


"Alif punya niat baik untuk terjaga dari zina dan fitnah, Allah akan menguatkan Alif, selama Alif tak lepas dari berharap padaNya. Kakek akan sangat bangga, meski di usia yang masih belia ini, Alif sudah berpikir dewasa. Merasa bertanggung jawab untuk menjaga hati seorang gadis seperti Kirana."


"Bagaimana dengan kuliah Alif dan Kirana nanti, Ato?jika semuanya berjalan lancar?" tanya Alif.

__ADS_1


Kakek tersenyum sambil menepuk pundak Alif Kakek berkata,"Cucu Ato tak sepicik itukan? Kakek yakin pasti ada jalannya."


Alif bangkit dari tempat tidur dan berwudhu, ia akan menitipkan nama Kirana dalam doanya. Alif menaruh harapan yang tulus, sedang di ujung sajadah yang lain, Kirana tak hentinya menangis meminta agar ia diberi keikhlasan


melepaskan nama Alif di hatinya dan menerima Rehan.


Di saat yang bersamaan, Rehan terbangun dari tidurnya. Untuk pertama kali, ayah dan adiknya datang ke dalam mimpi Rehan. Ayah terlihat sangat bahagia begitu pun adik perempuannya, Rehan ingin mendekat namun ayah


maksud dari mimpinya? Siapa gadis itu? Rehan merasa tak pernah melihat dia sebelumnya. Ah, mungkin hanya mimpi. Rehan pun segera berwudhu, malam itu ia juga ingin meminta sesuatu pada Allah.

__ADS_1


Alif, Kirana dan Rehan berada di ujung sajadah yang berbeda, pada doa yang saling bersahutan, pada harapan yang tak bertepi. Namun Allahlah yang akan menentukan bagaimana ketulusan doa-doa dari orang-orang yang saling mencintai karnaNya akan berlabuh pada hati dan pada waktu yang tepat.


***


Alif tiba di sekolah dengan perasaan yang berbeda. Sejak dari rumah ia terlihat bahagia, rencananya setelah


acara tabligh akbar hari ini, ia akan menyampaikan niat untuk ta’aruf dengan Kirana melalui Pak Arif dan Ms.Eliza sebagai guru pembimbing mereka di Rohis. Ia sibuk menata kalimat yang akan ia katakan dan antisipasi ketika nanti kedua pembimbingnya tersebut menanyakan mengapa ia begitu cepat mengajukan ta’aruf. Alif mantap dan yakin jika Kirana adalah gadis yang tepat untuknya, ia tidak ingin terlalu lama tergoda dengan perasaan-perasaan yang akan membawa dia ke angan-angan semu. Ia pun tak mau membuat Kirana menanti lebih lama.


"Semoga Allah memudahkan segala urusan ini, aamiin" doa Alif.

__ADS_1


***


__ADS_2