
Masyita menyelesaikan pekerjaannya membantu mama Rehan membereskan peralatan makan malam itu. Ia ingin bergabung bersama tante, Om Arif dan Rehan di ruang keluarga milik Rehan. Ia selalu senang berada diantara mereka. Ia masih ingat dulu ketika kecil ia sering menginap dan bermain bersama Rehan dan adiknya. Sekarang
terasa berbeda. Masyita sudah tinggal di Makassar ketika mendengar kabar ayah dan adik Alif meninggal karena kecelakaan. Dari ayahnya ia juga tahu bagaimana keadaan Rehan setelah kepergian orang-orang yang dicintainya. Dua tahun Rehan terpuruk dan meninggalkan bangku sekolah, itu sebabnya Rehan masih SMK sedang Masyita sudah kuliah semester 4 padahal mereka seumuran. Masyita kasihan dengan sepupunya. Tapi sejak hari pertama ia datang dan melihat keadaan Rehan sekarang ia merasa lega. Meski masih berseragam putih abu, Rehan tampak lebih dewasa. Masyita pun kagum bagaimana sepupunya tersebut bisa menghandle usaha ayahnya. Yang lebih surprise lagi, dari Om Arif ia tahu Rehan akan segera menikah. Ini berita yang paling membuat Masyita tak percaya tapi tetap bangga pada Rehan. Ia penasaran seperti apa perempuan yang bisa membuat Rehan sampai seberani itu mengambil keputusan menikah di usia muda.
Ia pasti sangat istimewa, pikir Masyita.
Rehan sedang bergelut dengan nota dan invoice tokonya, Om Arif membantu Rehan mengecek laporan keuangan toko, Mama Rehan pun sibuk dengan laptopnya. Masyita ingin membantu tapi tak tahu apa yang harus ia lakukan.
"Syita bisa bantu apa, Om?" tanyanya pada Om Arif. "Masyita duduk saja disini, sebentar lagi selesai" balas Om Arif.
"Rey, butuh bantuan gak?"
Rehan menoleh sebentar lalu menunjuk pada tumpukan buku pelajaran dan buku catatan yang tak jauh darinya.
__ADS_1
"Invoicenya masih banyak yang harus aku cek, padahal aku juga harus mencatat materi pengayaan yang ketinggalan."
"Ketinggalan karena jemput saya waktu di terminal ya?" Rehan mengangguk. Masyita segera mengecek
buku-buku itu.
"Mulai dari mana nih?"
"Ikuti saja yang ada di buku pink itu." Rehan menunjuk lagi. Masyita meraih buku tersebut dan membaca nama pemiliknya.
Rehan tersenyum penuh arti. Masyita langsung paham buku itu milik calon Rehan. Masyita bukannya menulis tapi justru membuka lembar demi lembar buku catatan Kirana. Tulisan tangannya rapi dan bersih, pikir Masyita. Sampai ia membaca di lembar tertentu. Keningnya berkerut, pelan-pelan ia membaca catatan disana. Masyita bingung sesekali ia melihat ke arah Rehan dan kembali membaca catatan Kirana lalu...
"Rey, aku mau kenalan sama Kirana, boleh?"
__ADS_1
Rehan mengangguk, "Besok aku tanya dia, kapan bisa ketemu Masyita."
"Kalo gitu aku catat di kamar aja ya, suka gak konsen kalo sambil dengar suara TV." Masyita beralasan.
Ia pun segera berpindah ke kamarnya dan kembali menatap tak percaya pada tulisan yang ada di buku Kirana.
Hatiku berdetak tak karuan sejak melihat dia pertama kali berdiri di mimbar musholla. Aku kenapa, ya Allah?
Di catatan yang lain pada buku itu.
Hujan sore itu jadi lebih indah karenanya.
Masyita tak habis pikir, apa Kirana tak tahu ada tulisan seperti itu di bukunya? Masyita yakin kalimat-kalimat itu bukan untuk Rehan karna pada halaman yang lain ia menemukan sebuah nama, nama yang ditulis memenuhi satu lembar pada buku itu. Siapa Alif Ahmad Bachtiar? Rehan tak boleh melihat ini, Masyita khawatir tapi ia pun penasaran. Walau bagaimana pun ia harus bertemu Kirana dan mengenal lebih jauh gadis itu. Ia tak ingin su’udzon. Rehan tak mungkin salah pilih, pikir Masyita.
__ADS_1
***