DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 32 Hidup yang Baru


__ADS_3

Pekan pertama kuliah. Kirana masih terus beradaptasi dengan lingkungan barunya. Ia tak bisa menahan rasa bangga yang membuncah di dada tiap kali ia melewati gerbang kampus yang menerimanya itu. Salah satu kampus terbaik di Indonesia. Keluarganya sampai mengadakan kenduri kecil sebagai ungkapan rasa syukur ketika melihat


pengumaman penerimaan mahasiswa baru lewat jalur prestasi tersebut.


“Ayah bangga, Kirana. Di tengah masalah dengan temanmu, Kirana masih mempertahankan prestasi.” Sahut Ayah dengan raut wajah bangga. Ia lalu memeluk Kirana dan meniup ubun-ubun anak gadisnya itu dengan doa.


“Tapi, yah. Kiara akan kesepian. Kenapa harus Yogya, Kak?” Kiara merengek manja. Kirana lalu memeluk adik bawelnya itu. “Bukankah tahun depan kamu akan menyusulku?”


Kiara melonjak senang kembali ke ayahnya, “Bolehkan, Yah? nyusul kakak ke Jogja.” Lagi-lagi ia tunjukkan ekspresi merengeknya itu.


Ayah tentu gemas sekali melihat anak bungsunya manja seperti itu, “Tentu, anak manja.” Jawab ayahnya ringkas. Sepertinya ia tak ingin terus-terusan mendengar rengekan Kiara.


“Masalahnya…” Lanjut ayah.


“Masalahnya kalau Kiara ikut juga, ibu yang kesepian.” Rajuk Ibu dan itu sukses merubah ekspresi senang Kiara menjadi sedih.

__ADS_1


“Padahal Kiara bisa jaga kakak disana.” Sungut Kiara beralasan.


Kirana yang mendengar alasan itu langsung tergelak.


“Yang ada kakak yang harus menjagamu Kiara. Bawelmu kadang tak terkontrol dan itu


sering  menyusahkan kakak.” Balas Kirana dengan senyum meringis. Ia masih ingat momen ketika ia mendapat kunjungan dari Alif dan teman-temannya waktu ia sakit dulu. Kiara mendengus kesal ternyata Kirana


malah berbalik ikut tak mendukungnya ke Jogja.


susul Kirana. Ia kan, Bu?” Yang disebut hanya mengangguk setuju. Tak ada yang lebih membahagiakan dari keluarga yang selalu mendukung tiap langkah kita. Kirana dan Kiara sangat beruntung memiliki keluarga seperti itu. Apalagi sejak masalah yang ada antara Kirana, Alif dan Rehan selesai. Ayah dan ibunya sangat mendukung Kirana untuk melanjutkan pendidikannya di Jogja. Sesuai harapan gadis itu sejak dulu. Kirana ingin kuliah di UGM Jurusan Psikologi.


Sesaat sebelum berangkat ke Jogja, Kirana menghadiri pernikahan Rehan dan Masyita. Ia datang dengan hati tenang tanpa beban. Ia tak menyalahkan Rehan atau pun Masyita. Bagi Kirana masalah tersebut adalah pelajaran hidup untuknya. Ketika menyalami kedua pengantin tersebut, tulus ia mendoakan agar kedepan mereka


hidup bahagia. Rehan sempat menanyakan perihal Alif.

__ADS_1


“Kirana, apakah Alif pernah menghubungimu? Aku tak bisa menghubunginya sama sekali sejak.” Tanya Rehan. Kirana menggelengkan kepala. Masih terlihat jelas rasa bersalah Rehan di raut wajahnya. Masyita paham itu.


“Kirana, semoga kedepannya kita bisa berteman baik.” Pinta Masyita, tulus dan dijawab dengan anggukan dan senyum yang sama tulusnya dari Kirana. Kedua gadis itu berpelukan sesaat di atas pelaminan. Para tamu undangan menyaksikan hal itu sebagai sesuatu yang biasa terjadi. Mereka tidak tahu kisah yang sebenarnya.


Kecuali Pak Arif dan Ibu Rehan yang ikut tersenyum bahagia melihat kedekatan anak-anak muda di depannya itu.


Kini Kirana berada di Jogja dan mulai beradaptasi dengan kehidupan barunya. Sejak hari pertama ia berdiri di depan kampus UGM, ia telah berjanji menanggalkan kisah masa lalunya, berdamai dengan hatinya dan menutup rapat kisahnya dengan Alif. Ia berharap Jogja mendukung keputusannya itu.


“Hidup yang baru dimulai hari ini. Kirana bersemangatlah!” Ia berteriak kecil untuk dirinya sendiri. Derap langkahnya penuh energi siap menyambut kisah dan petualangan yang baru. Wajahnya yang teduh tak henti mengukir senyum bahagia.


Sedang nun jauh di tengah kebisingan Kota Daeng, Makassar, seorang pemuda baru saja melangkahkan kakinya keluar dari ruang administrasi di gedung Fakultas Tekhnik, Univesitas Negeri Makassar. Pemuda itu menyelesaikan urusan administrasi sebelum memulai masa-masa kuliah sebagai mahasiswa tekhnik sipil di kampus tersebut. Wajahnya yang ceria dan penuh semangat terlihat lebih matang dan berkharisma. Seorang pemuda yang lain berjalan menghampiri dan memanggil namanya.


“Alif!”


***

__ADS_1


__ADS_2