DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 29 Firasat


__ADS_3

Kirana sibuk menyiapkan beberapa bekal untuk besok siang. Ia inisiatif sendiri menyiapkan penganan kecil itu untuk teman-teman yang akan ikut ke tabligh akbar besok, tempatnya cukup jauh, dan bisa jadi mereka akan pulang selepas maghrib. Semoga bekal ini cukup, pikir Kirana.


Ibu yang menemani Kirana memperhatikan anaknya tersebut. Kirana memang sudah dewasa, pikir ibu. Ibu terlihat bahagia melihat bagaimana terampilnya Kirana membuat kue, memasak dan membersihkan peralatan yang digunakannya. Tak hanya itu untuk urusan rumah tangga yang lain pun Kirana sudah terbiasa. Ibadahnya


tak ketinggalan, sholat malam pun ia lakukan. Hati orang tua siapa yang tak bangga memiliki anak seperti Kirana. Prestasi di sekolah pun istimewa, wajar jika ada pemuda yang tertarik dengan Kirana. Mengingat hal itu, ibu kepikiran dengan Rehan.


"Kalo dilihat-lihat Kirana memang sudah pantas jadi seorang istri." Kirana yang mendengar pujian ibunya


pun tersipu malu.


"Kirana masih harus banyak belajar, bu."


"Apa kabar Rehan? Selepas lamaran, dia jarang ke rumah. Padahal ibu kan mau kenal lebih dekat calon mantu ibu."


"Kirana yang larang, bu. Apalagi Rehan juga sibuk, pulang sekolah, ia harus mengurus tokonya."


"Kenapa dilarang? Gak apa-apa kan kalo Rehan sekali-kali ke rumah? Biar dia juga tahu bagaimana kehidupan Kirana dan keluarga kita."


"Setelah nikah nanti kan tahu juga, bu."


"Tapi, Kirana setelah nikah akan tinggal di rumah Rehan. Duh, rasanya bakal sepi gak ada anak ibu."


Kirana kasihan juga melihat ibunya.

__ADS_1


"Apa Kirana batalkan saja? Biar Kirana bisa tinggal lebih lama dengan ibu?" Ibu yang mendengar itu langsung mencegah Kirana.


"Hush, jangan ngomong gitu, pamali." Kirana lalu menatap ibunya.


"Andai memang batal, kenapa bu?"


"Kenapa Kirana bertanya seperti itu? Aduh, jangan aneh-aneh, ah. Rehan pemuda yang baik. Atau Kirana ragu sekarang?" ibu jadi panik.


Kirana lalu meletakkan kepala di pangkuan ibunya. Beliau langsung mengusap kepala Kirana.


"Entah, bu. Belakangan ini Kirana merasa ada yang ganjil. Kirana juga gak tau apa sebabnya."


"Wajar, Kirana punya perasaan seperti itu. Mungkin karena kurang mengenal Rehan, jadi seperti gak yakin. Cobalah sisihkan waktu bicara dengan Rehan, mengenal dia. Bicarakan tentang masa depan kalian setelah menikah nanti."


"Malu karena nanti berduaan begitu?" Kirana mengangguk.


"Bicara disini gak ada salahnya, kan?" Kirana menyerah sepertinya ia memang harus berbicara dengan Rehan, pikirnya.


***


Rehan membaca pesan dari Kirana, gadis itu mengajaknya bertemu. Hatinya jadi sedih. Untuk pertama kali, Kirana mengizinkan Rehan berkunjung ke rumahnya. Namun, ia sedang berduka, kakinya luruh di antara pasir pantai. Ia mengenal rasa kecewa itu, rasa yang sama ketika ditinggal ayah dan adiknya. Di sampingnya lembaran kertas buku catatan Kirana melambai digoyang angin sedang mata Rehan menatap jauh ke arah senja yang mulai menghitam, pandangannya kosong, berkali-kali ia berusaha menahan matanya agar tak menangis. Indahnya matahari terbenam tak juga mampu menghiburnya. Di tepi pantai Palippis sore itu, ia tahu hati Kirana masih untuk Alif.


***

__ADS_1


Rehan menemui Masyita di kamarnya, tapi gadis itu tak ada, ia hanya menemukan buku sketsa milik Masyita. Entah mengapa Rehan tertarik untuk membukanya. Mungkin ia akan menemukan sesuatu untuk menjawab rasa penasaran Rehan. Pelan ia membuka buku tersebut. Matanya berkedip tak percaya, tiap halaman yang ia buka membuatnya terlempar ke tiap moment yang dulu pernah ia lalui. Bahkan ia dengan mudah mengenali siapa saja yang ada dalam sketsa itu. Hingga pada satu halaman ia menemukan beberapa karakter yang sangat ia kenal. Gadis yang digambarkan berdiri di samping sepeda yang sedang diperbaiki oleh karakter anak muda, mereka adalah Alif dan Kirana!


Rehan menelusuri catatan kaki pada gambar itu.


"Mereka terlihat serasi namun tak ditakdirkan untuk bersama." *Kiara*


Kiara?


Jadi kalimat itu dari Kiara? Apa mungkin gambar ini mewakili pertemuan Masyita, Kirana dan Alif?


Rehan kembali membuka halaman yang lain lagi, kali itu ia menemukan gadis dengan wajah sedih memandang seorang lelaki yang membelakanginya dengan gambar awan berisi sosok gadis yang lain. Rehan pun ingat moment ini.


"Dia sangat istimewa, sampai kau tak pernah menyadari kehadiranku."


Rehan menutup buku sketsa itu, hati yang tadinya berduka makin berkabut dengan rasa bersalah.


"Apa yang telah aku lakukan, ya Allah?"


"Ketika aku sedang berusaha menjaga hati dan diriku dengan melamar seorang gadis, agar terhindar dari zina dan fitnah, di saat bersamaan pula aku menyakiti banyak orang." Rehan meraih buku sketsa Masyita dan menyandingkannya dengan buku catatan Kirana.


"Sungguh aku tak bermaksud menyakiti kalian."


***

__ADS_1


__ADS_2