
Jam di dinding menunjukkan pukul 22.42.
Sudah cukup larut tapi Alif masih berkutat dengan tugas sekolahnya di kamar. Suara dengkur halus dari kamar kakeknya sudah sejak tadi mengiringi belajar Alif malam itu. Alif kehilangan fokus mengingat pertanyaan-pertanyaan Ato tentang sekolah, kuliah dan terakhir tentang "cucu perempuan". Alif mengaitkannya dengan candaan adik Kirana tentang mempelai wanita dan pria. Lucu. Namun, serius Alif berpikir mungkin kakek ingin ada seseorang yang akan mengurusnya, meski masih terlihat kuat, tapi tak bisa diingkari kehadiran sosok perempuan dalam sebuah rumah juga penting untuk kakek. Tapi Alif sadar dia belum bisa memenuhi itu. Dia hanya bisa berjanji dalam hati ia akan mengurus kakek sebaik mungkin.
Masalah 'cucu perempuan', Alif yakin akan ada masanya dan tentang candaan 'mempelai pria dan wanita'... Tanpa sadar, Alif kembali mengeja sebuah nama... Dita Kirana Rahmansyah.
Mungkinkah nama itu mulai merasuk ke hati Alif? Sanggupkah Alif bertahan dan menata hatinya agar tak terjebak dengan rasa dan angan yang akan mengganggunya sepanjang waktu?
Virus merah jambu mulai membidik hati Alif.
***
Bismillah, bisik hati Kirana. Pagi ini ia bisa kembali ke sekolah setelah hampir sepekan bed rest. Sebenarnya wajah Kirana masih terlihat pucat, hanya saja ia merasa sudah lebih baik. Ia pun mulai bosan tidur di kamar sepanjang hari dan mendengar ocehan adiknya, Kiara, yang tak kenal lelah. Lagipula ia rindu suasana sekolah. Kelas masih sepi ketika Kirana tiba disana, belum ada satu pun siswa yang hadir. Kirana melihat ke arah jam di dinding kelas, 06.40, ternyata dia yang kepagian. Mungkin ia terlalu bersemangat hari ini. Ia meletakkan ransel dan menatap ke arah pohon-pohon yang berjajar di balik jendela kelas. Sesekali ia tersenyum menatap burung-burung yang tak henti-hentinya berkicau. Damai sekali rasanya, pikir Kirana. Ia tak tahu seseorang memperhatikan dirinya sedari tadi sampai...
__ADS_1
"Assalamualaikum, Kirana." Kirana menoleh ingin membalas salam tersebut.
"Wa'alaikumsalam wa...” kalimatnya tergantung. Alif sedang melangkah ke arahnya.
"Alhamdulillah, Kirana sudah masuk."
Kirana hanya mengangguk tak nyaman. Alif paham mungkin Kirana merasa tak nyaman karena hanya mereka berdua di kelas saat itu. Alif bergegas keluar. Ia pun tak ingin teman-teman yang melihatnya akan salah sangka.
Kirana membuang nafas lega begitu ditinggal Alif.
Kuatkan Kirana agar tak semakin larut dengan perasaan ini. Kirana tak ingin mengkhianatiMu dengan semakin terpesona oleh makhluk ciptaanMu itu. Astagfirullah al adziim. Bisik Kirana, lirih. Sedang di luar sana, Alif pun tak
hentinya berdoa agar ia tenang saat berhadapan dengan Kirana. Ia tak ingin sikapnya akan menimbulkan salah paham. Segera ia berwudhu dan menuju musholla sekolah. Alif rutin dengan sholat dhuha, sepertinya mulai hari itu doanya akan semakin panjang.
__ADS_1
***
Ms. Eliza sedang mengisi kajian keputrian seperti biasa. Kali ini, materinya tentang "Zina yang terabaikan". Kirana mendengar uraian Ms. Eliza dengan sungguh-sungguh. Banyak hal yang ingin ia tanyakan, banyak hal yang
ingin ia tahu.
"Zina tak hanya tentang perbuatan di luar batas yang dilakukan oleh dua orang lawan jenis yang tak halal. Ketika hati dan benakmu mulai banyak berhasrat dan berangan-angan terhadap seseorang yang tak halal bagimu, itu bisa jadi zina hati dan Allah tak akan ridho."
Kirana sedih mendengar "Allah tak akan ridho." Bergetar suara Kirana mengajukan pertanyaan ke Ms. Eliza.
"Lalu bagaimana kita mengatasi perasaan terlanjur suka terhadap lawan jenis, Ms.?" Ms.Eliza menatap Kirana, ia 'membaca' sesuatu disana.
"Kirana sedang jatuh cinta?" Kirana tak mampu menjawab, ia menatap kembali Ms.Eliza. Kirana tahu dibalik cadarnya, Ms.Eliza sedang tersenyum, mengerti.
__ADS_1
***