
"Setiap perkara yang baik termasuk nikah pasti ada ujiannya. Misalnya keraguan hati, tiba-tiba gak yakin, cemas akan selalu menyertai. Kirana harus melewati itu. Banyak berdoa, minta ampunan Allah, dan mohon petunjuk. Jangan lalai, apalagi hatimu pernah diisi orang lain. Setan dengan mudah menggoda kalian." Nasehat Ms.Eliza pada Kirana. Akhir pekan Kirana berkunjung ke rumah Ms.Eliza dan menyampaikan keluh kesahnya. Ms.Eliza pun terkejut mengetahui apa yang terjadi antara Alif, Kirana dan Rehan.
"Bagi Ms.Eliza, Alif dan Rehan adalah dua pemuda yang baik. Masing-masing punya kelebihan. Alif yang hanif, bertanggung jawab dan ramah, disukai banyak orang, lalu Rehan, anak muda yang penuh kejutan. Selama ini Ms. Eliza hanya tahu anak itu sangat cuek namun tulus." Ms.Eliza diam sebentar lalu melanjutkan. "Akan tetapi, kalian pun tahu bagaimana syariat mengajarkan kita adab dalam menerima pinangan. Kirana pun sudah paham itu kan?
Dan kau pun sudah menerima lamaran Rehan. InsyaAllah apapun ketetapan Allah, itulah yang terbaik. Ms.Eliza yakin kalian bisa melalui ujian ini."
Kirana selalu takjub dengan segala penyampaian Ms.Eliza. Tiap kali menemukan masalah dalam masa hijrahnya, Kirana tak pernah lupa meminta nasehat dari guru pembimbing Rohis sekaligus Guru Bahasa Inggris-nya itu. Namun, kali ini ia sangat rapuh.
"Ms., apa Kirana sanggup melalui ujian ini?"
"Kirana bisa gak melupakan Alif?" Ms. Eliza tanya balik. Kirana menatap Ms.Eliza.
"Mungkin untuk melupakan tak mudah tapi Kirana bisa berusaha mengikhlaskan."
Kirana melihat senyum lega Ms.Eliza meski dalam hatinya,
__ADS_1
"Sanggupkah?"
***
Hujan turun lagi, Kirana kembali berteduh di halte yang sama waktu itu. Kiara tak bisa menjemputnya, ia sedang mengikuti kegiatan praktek kerja di sebuah perusahaan untuk tiga bulan lamanya. Dinginnya udara di sekitar Kirana membuat ia menggigil. Ia berharap hujan segera reda dan angkot yang mengarah ke rumahnya pun datang lebih cepat. Matanya tak lepas menatap rinai yang deras dan memercikkan air hujan di lantai halte. Suasana itu membuat ia kembali mengingat kenangan bersama Alif. Bagaimana Alif meminta untuk memakai jaket miliknya menutupi tubuh Kirana yang kuyup oleh hujan. Kirana memejamkan matanya ia berharap ia tak larut dengan kenangan bersama Alif, namun hujan mengalahkan pertahanannya. Kirana terbayang setiap cerita yang mereka bagikan waktu hujan sore itu. Kirana pilu bertanya pada dirinya sampai kapan ia seperti itu?
"Alif biarkan aku melupakanmu" bisik nya lirih. Kirana tak sadar seseorang sudah berdiri di halte yang sama menatapnya sedih.
"Sesulit itu ya?"
Kirana langsung membuka matanya, ia terkejut Rehan ada disana.
"Aku kembali, hujan membuatmu menunggu disini. Aku tak mau kamu sendirian."
Hati Kirana menatap punggung Rehan yang berdiri membelakanginya. Ia bingung sendiri, bagaimana ia bisa bersikap tak adil pada pemuda yang sudah melamarnya itu.
__ADS_1
"Kamu tak perlu mengkhawatirkanku Kirana, itu jadi resiko yang harus aku hadapi karena menyukai Kirana yang ternyata menyukai orang lain."
Kirana tak dapat membendung airmatanya. Rehan selalu memikirkan dirinya sedang ia masih tak bisa melupakan Alif.
"Kita menunda semuanya jika kamu masih butuh waktu agar kamu bisa benar-benar menerimaku di hatimu."
Kirana tak menyangka Rehan mengatakan itu. Ia benar-benar benci pada dirinya sendiri.
Ini semua akan menyakiti Rehan.
"Rehan, mengapa kamu sebaik ini padaku?" Rehan membalikkan badan dan menatap Kirana yang sedang tertunduk menangis.
"Aku dan Alif menyukaimu bukan tanpa alasan. Tapi, karena kamu memang pantas untuk diperjuangkan. Berhenti menyalahkan dirimu, kamu menyukai Alif pun tentu karena ia memang pemuda yang baik. Disini aku hanya beruntung karena melamarmu lebih dulu. Tak perlu kamu menyukaiku sekarang. Aku hanya butuh kamu percaya padaku. Cukup itu saja."
Sekali lagi Kirana terpana pada Rehan. Sedang dari jauh seseorang membiarkan dirinya basah oleh hujan menatap ke arah Kirana dan Rehan. Ia tersenyum kecut.
__ADS_1
"Aku memang selalu terlambat" kata Alif. Ia pun segera berlalu dari sana membawa hatinya yang kembali menyesal.
***