DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 30 Keputusan Berat tapi Harus


__ADS_3

Rehan memenuhi undangan untuk bertamu ke rumah Kirana. Sepanjang jalan ia berusaha menguatkan dirinya, meyakinkan pilihannya dan memujuk dirinya agar berani menyampaikan keputuannya pada Kirana. Ia tak ingin semakin terbenam dalam perasaan bersalah yang akan terus menyiksanya, yang akan terus menghantuinya.


Sempat ia menangis dalam sujud-sujud panjang karena ia merasa telah banyak mengambil langkah keliru hingga menyakiti banyak orang meski ia tak berniat untuk itu dan kali ini, satu keputusan besar akan ia ambil lagi. Keputusan yang ia harap lebih baik untuk semua orang. Walau pada akhirnya, dialah yang akan mengorbankan


perasaan. Dalam hal ini, setidaknya hanya dia yang akan bersedih.


Tiba di rumah Kirana, ia tak kuasa menahan dirinya untuk tidak menatap gadis itu. Gadis yang pertama kali mengisi hatinya. Logikanya memaksanya untuk tegas pada keputusan terakhir yang akan ia sampaikan pada Kirana sedang hatinya berkecamuk tak karuan.


Kirana yang tak peka dengan keadaan Rehan menyapa pemuda itu dengan ramah. Isi pikiran dan hatinya berbeda jauh dengan Rehan. Kirana sedang membujuk dirinya sendiri bahwa laki-laki di hadapannya itu adalah calon imam terbaik untuknya. Kirana tersenyum manis sekali ketika Rehan sekali lagi menatapnya.


Rehan terpesona sekaligus sedih nampaknya senyum itu adalah senyum termanis milik Kirana yang ia lihat untuk pertama dan terakhir kalinya. Tubuh Rehan mulai memanas, tangannya bergetar mengeluarkan dua buku catatan yang sedari tadi ia bawa. Satu catatan milik Kirana dan satunya lagi milik Masyita.


Kirana heran mengapa ada dua buku? Firasatnya mengatakan ada sesuatu yang ingin disampaikan Rehan dan mungkin ini sangat berat.


Kirana meraih kedua buku tersebut. Ia meletakkan buku miliknya dan mulai membuka buku yang lainnya. Kirana penasaran melihat ekspresi Rehan malam itu. Mata Rehan tak henti menatap buku yang ada di tangan Kirana. Lembar demi lembar ia baca, tiap sketsa di dalamnya menceritakan lebih banyak dari sekedar tulisan di catatan


kaki pada setiap sketsa tersebut. Hingga akhirnya Kirana menutup buku itu, ia sadar isi buku itu telah mewakili apa yang ingin disampaikan Rehan.

__ADS_1


“Aku paham sekarang. Rehan tak perlu menyampaikannya lagi. Aku tahu sampai disini kamu bingung. Aku pun tak ingin menjadi penyebab hancurnya kebahagiaan seseorang. Mungkin, Masyitalah yang pantas untuk menerima perhatianmu, menerima hatimu.”Air mata Kirana jatuh bersamaan dengan kata-kata yang ia ucapkan pada Rehan. Sebaliknya Rehan meraih buku catatan Kirana dan membuka lembar tertentu disana. Ia mengulurkannya pada Kirana dan memintanya untuk membaca halaman itu.


“Sepertinya aku yang paling merusak kebahagiaan banyak pihak disini.” Bergetar suara Rehan mengatakan hal itu.


“Aku tak ingin keegoisanku akan merusak lebih banyak hal lagi. Meski ini sangat berat tapi harus aku sampaikan.”


Rehan menarik nafas panjang berusaha menenangkan gemuruh di dalam pikiran dan hatinya.


“Maafkan aku, Kirana. Aku tak bermaksud menyakitimu dan menyakiti keluargamu. Aku hanya tak sanggup untuk melihat banyak orang yang terluka jika aku tetap melanjutkan hubunganku dengan Kirana.”


“Hanya itu alasan utamanya?” tanya Kirana.


“Karena aku tahu Kirana menerimaku hanya sebagai alasan untuk melupakan Alif.”


Mendengar kalimat itu, Kirana keluh tak sanggup ia membantah kalimat Rehan. Karena hatinya sendiri membenarkan. Bahwa sedari awal ia menerima Rehan, hatinya tetap dan masih berdetak menyebut nama Alif.


“Lalu setelah ini Rehan akan memilih Masyita? Itukah yang paling ingin Rehan sampaikan?”

__ADS_1


“Selama ini aku berusaha untuk mendapatkan tempat di hati Kirana dan memberanikan diri untuk melamar namun entah mengapa semakin hari aku justru semakin ragu tak sanggup membuatmu menyukaiku dan kelak tak sanggup membuatmu bahagia. Sedangkan ada hati yang menungguku sejak lama. Salahkah aku memilih hati yang itu Kirana? Hati yang paling menginginkan aku bahagia dan tak terluka?” Kirana sadar, apa yang dikatakan Rehan benar. Hidup dengan orang yang paling menginginkan kebahagiaan kita akan jauh lebih baik dari hidup mendampingi seseorang yang hatinya masih tak bisa berpaling dari seseorang yang lain. Seperti dirinya pada


Alif.


“Aku tak menyalahkanmu, Rehan. Itu pilihan terbaik. Pemuda seperti Rehan pantas untuk mendapatkan gadis setulus Masyita. Maafkan aku jika selama ini tak bisa melakukan hal yang sama seperti yang Rehan lakukan padaku selama ini.”


Kini justru ia merasa bersalah telah membuat Rehan kecewa. Rehan pemuda yang baik, tak pantas rasanya Kirana menyakiti hati Rehan. Mungkin dengan mengakhiri proses ta’aruf ini adalah jalan yang terbaik. Rehan dan Kirana saling memaafkan dan berharap mereka bisa lebih bahagia lagi kedepannya. Rehan lalu menemui kedua orang tua Kirana. Dengan penuh tanggung jawab ia menyampaikan permohonan maaf karena telah mengusik hari-hari keluarga tersebut. Ia menunduk taksim dan memohon doa orang tua Kirana agar ia bisa menjadi pemuda yang lebih baik lagi kedepannya. Kirana yang menyaksikan itu semua hanya bisa terdiam. Ibu memeluk Kirana,


menguatkan gadis itu. Ibu tahu Kirana mengalami hal yang tak mudah sedang Ayah Kirana memeluk Rehan.


“Rehan pantas untuk mendapatkan yang jauh lebih baik lagi. Mungkin Kirana yang masih harus lebih banyak belajar dan memperbaiki diri agar kelak ia bisa mendampingi anak muda sebaik Rehan.”


Rehan terharu mengetahui betapa bijaksananya ayah Kirana. Ia pun segera pamit pada keluarga Kirana. Ia berjanji untuk tetap menjaga silaturahmi dengan keluarga tersebut.


Beban di hatinya perlahan hilang. Ia meyakinkan dirinya bahwa keputusan inilah yang terbaik dan ia pun sadar


menyukai Kirana bukanlah hal yang salah meski tak dapat memiliki gadis tersebut. Kirana tersenyum kisahnya dengan Rehan berakhir dengan baik walau tak harus bersama. Ia bersyukur pernah disukai oleh pemuda sebaik Rehan dan firasat yang selalu mengganggunya belakangan ini pun terjawab. Sekeras apapun manusia berusaha tetap Allah yang menentukan. Sekuat apapun Kirana berusaha menerima Rehan dan sebaliknya Rehan yang tak pernah menyerah menyatakan hatinya pada Kirana, jika memang bukan jodoh, mereka takkan pernah bersama.

__ADS_1


***


__ADS_2