DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 2 Pemuda yang Menarik


__ADS_3

Alif sedang mengecek absen siswa. Sebagai ketua kelas dia harus tahu siapa yang tidak hadir tiap harinya. Alif hanya menemukan satu tanda sakit di tabel absen. Telunjuknya menyusuri garis dan menemukan nama seorang siswa disana, Dita Kirana Rahmansyah.


Tumben Kirana gak masuk, pikir Alif. Sudah hari ke tiga malah. Alif memutuskan akan mengajak teman-teman kelas mengunjungi Kirana, sore itu, sepulang sekolah. Alif memang penuh tanggung jawab, teman kelas yang tak hadir berhari-hari akan ia kunjungi bersama teman-teman yang lain. Alif percaya kehadiran teman saat sakit


akan membuat mereka lebih bersemangat untuk sembuh dan kembali kesekolah. Namun, Alif tak tahu kunjungannya sore itu akan merubah satu hal. Satu hal yang tak pernah dipikirkan Alif sebelumnya.


***


Kirana terbangun ketika mendengar seseorang mengucapkan salam dari teras rumah. Kiara membalas salam tersebut dan membuka pintu depan. Bapak dan ibu sedang tak di rumah. Kiara ditugasi menemani Kirana yang masih sakit. Kiara masuk ke kamar dengan ekspresi senang, dia buru-buru meraih jilbab di dekat Kirana dan memakaikannya dengan paksa.


“Apaan sih, de?” tanya Kirana sambil berusaha bangkit dari tempat tidur. Tapi Kiara tetap saja sibuk merapikan penampilan Kirana yang kusut.


“Ada tamu istimewa buat kakak di luar.” Kiara nyengir lebar.


“Siapa,de'?”


“Udah keluar aja!”


Kiara tahu kakaknya masih lemas maka dipapahnya keluar menuju ruang tamu. Dalam hati dia merencanakan sesuatu. Kiara memang sangat usil.


***


Kirana senang ternyata tamu yang datang teman-teman sekelasnya. Akan tetapi, tubuhnya langsung kikuk menyadari ada Alif di antara mereka. Ternyata ini yang dimaksud Kiara. Kirana salah tingkah, dia selalu tak siap bertemu Alif. Telapaknya mulai berkeringat, matanya tak berhenti melirik tak tentu arah. Terbata-bata ia menyapa teman-teman dengan senyum yang kaku pula.

__ADS_1


“Maaf kakak-kakak, ini calon mempelai wanitanya baru bangun. Dia memang pemalas, harap dimengerti.”


Kirana langsung mencubit lengan Kiara. Kiara memang akrab dengan teman-teman Kirana, mudah saja buat dia bercanda. Salah satu teman Kirana nyeletuk, “Mempelai prianya siapa De' Kiara?”


“Bukannya Kak Alif ya?” Kiara nyengir lagi, teman-teman Kirana heboh sendiri.


Kirana terkejut dibuatnya. Matanya takut melihat ke arah Alif yang hanya tersenyum. Alif menganggap itu hanya candaan. Dia menatap Kirana yang kelihatan lebih kurus dan pucat. Entah mengapa, Alif baru sadar, Kirana terlihat lebih manis dalam balutan baju dan jilbab berwarna pink sore itu.


***


Senja mulai pudar ketika Alif tiba di rumah. Ia bergegas membersihkan diri dan bersiap ke mesjid. Ia akan kembali ke rumah selepas maghrib menemani kakeknya menyiapkan makan malam meskipun itu menu ala kadarnya. Alif tak pernah menuntut lebih. Ia paham kondisi kakeknya meskipun belum terlalu sepuh dan masih kuat mengolah


sawahnya sendiri, namun Alif tak mau merepotkan. Sejak kecil Alif sudah tinggal bersama kakek Hasan, neneknya sudah lama tiada. Orang tua Alif sendiri tinggal jauh dari Alif. Mungkin kondisi seperti itu yang membentuk pribadi Alif yang bersahaja dan mandiri.


Alif meletakkan gelas berisi kopi panas di samping kakeknya yang baru saja merapikan karung-karung berisi padi yang akan ia jual besok. Kakek Hasan mengajak Alif duduk di teras rumah panggung mereka. Sepertinya Kakek ingin bicara serius ke Alif.


Sesekali Kakek Hasan menyeruput kopi lalu memandangi jalan depan rumah. Alif tak langsung menjawab ia memperhatikan sosok kakeknya, Alif melihat kerutan-kerutan di sudut mata kakek makin dalam. Kakek makin menua, pikir Alif.


"Alhamdulillah, baik, Ato"


"Alif, Ato tak masalah kalo Alif ingin lanjut ke kota, disana mungkin Alif bisa belajar lebih baik."


Alif menghela nafas berat. Sebenarnya ia pun ingin ke kota dan melanjutkan pendidikannya disana setelah lulus sekolah. Namun, Alif sudah memutuskan sejak lama, ia akan kuliah disini saja. Ia pun berusaha mendapatkan beasiswa agar nanti tak terlalu membebani kakek dan orang tuanya.

__ADS_1


"Alif yakin akan kuliah disini saja, Ato. Disini juga sudah banyak tempat kuliah yang bagus." Alif meyakinkan kakeknya. Kakek Hasan tersenyum, namun matanya menerawang seolah mengingat sesuatu. Kakek Hasan menatap Alif, ia perhatikan cucu nya sudah tumbuh menjadi pemuda yang menarik. Tak punyakah ia seseorang yang istimewa? Di sekolah mungkin?


"Bagaimana dengan teman-temanmu?"


"Sebagian dari mereka juga akan kuliah, Ato tapi banyak juga yang ingin langsung kerja."


"Maksud Ato, tak adakah seseorang yang akan Alif kenalkan pada Ato dalam waktu dekat?" Kakek bertanya penuh arti. Alif heran kenapa kakeknya menanyakan itu. Tapi tak urung, Alif tersipu juga mendengar pertanyaan tersebut.


"Gak ada yang suka pemuda bau lumpur sawah seperti Alif, Ato." canda Alif.


Kakek tertawa, "Sepertinya tak mungkin Alif tak ada yang suka, teman kelas mungkin?"


 "Gak ada, Ato."


Namun bayangan raut wajah seseorang berjilbab pink melintas begitu saja di pikiran Alif. Ia masih ingat candaan teman-temannya waktu mengunjungi Kirana.


"Ato kira sebentar lagi akan punya cucu perempuan di rumah ini." Kakek tak berhenti menggoda Alif.


"Ato bisa saja. Alif masih terlalu muda untuk itu, belum siap."


"Padahal Ato seumuran Alif waktu menikah dengan nenek."


Alif tak tahu mau jawab apalagi, untung adzan isya segera berkumandang. Kali ini Alif selamat dari godaan kakek kesayangannya itu.

__ADS_1


***


Ato : sebutan pada kakek di bahasa Mandar, Sulawesi Barat.


__ADS_2