DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 31 Perpisahan


__ADS_3

“Jadi kak Alif ada kesempatan nih?” goda Kiara.


Kirana terdiam sejenak.


“Sebaiknya Alif tak tahu jika antara aku dan Rehan telah berakhir.”


Kiara tak mengerti bukannya dengan begini akhirnya Alif bisa maju menggantikan Rehan?


“Kan sudah tak ada halangan lagi kak?”


“Andai Alif tahu semua telah berakhir justru ia akan menyalahkan dirinya sendiri. Ia akan berpikir penyebab putusnya lamaran Rehan pada kakak itu karena dirinya dan aku tak mau itu terjadi.”


***


Masyita mengemasi pakaian dan barang-barangnya ke dalam ransel dan koper kecil yang ia


bawa. Ia akan pulang sore ini, tapi ia kebingungan mencari satu barangnya yang tak nampak belakangan ini.


“Aku ingat terakhir kuletakkan di meja ini. Tapi buku itu dimana?” tanya Masyita pada dirinya sendiri.


Ia kembali mencari ke kolong meja, sekitar tempat tidur atau di belakang pintu. Akan tetapi, buku itu tetap tak nampak juga. Masyita berniat mencari buku itu di ruangan lain. Ia membuka pintu kamar dan terkejut karena Rehan telah berdiri di sana.


“Sejak kapan Rehan ada disini?”


Rehan tak segera menjawab, ia justru balik bertanya.


“Apa ini yang kau cari?” kata Rehan sambil mengacungkan buku sketsa milik Masyita.


Masyita tak berani menatap Rehan meski tangannya pelan-pelan meraih buku itu. Ia tahu Rehan pasti telah melihat isinya, mengetahui rahasia hatinya, menyadari betapa ia telah memendam begitu lama perasaannya pada Rehan. Sejak mereka masih kecil.

__ADS_1


“Harusnya kamu tak melihat ini.”


Kemudian ia berbalik, bergegas memasukkan buku sketsanya ke dalam ransel lalu mengenakannya ke punggung. Tangan kanannya mulai menarik koper. Rehan melihat itu dengan iba.


“Kalo kamu memang peduli tentangku, jangan pergi!” cegah Rehan.


“Yang harus peduli padamu bukan aku, tapi Kirana” ucap Masyita lirih.


Sesaat mereka terdiam dan membuat Masyita tak tahan dengan situasi itu. Ia tetap ingin pergi.


“Aku telah mengikhlaskan Kirana. Seperti saranmu, aku tak ingin menghalangi kebahagian Kirana dan Alif.”


Masyita menoleh tak percaya secepat itu Rehan telah merubah keputusannya.


“Rehan, kau…bagaimana denganmu?”


***


Dua bulan kemudian…


Alif berdiri di teras depan rumah orang tuanya. Sudah dua pekan ia tinggal disana sambil menunggu pengumuman kelulusan tes untuk masuk di salah satu universitas di kota itu. Alif tiba-tiba merindukan kakeknya, merindukan kehidupannya dulu di kampung. Ia mengingat saban sore ia harus mencari makan untuk hewan ternak milik kakeknya, menyiapkan makan malam untuk mereka berdua dan melakukan banyak aktifitas lainnya bersama kakek. Termasuk kegiatan akhir pekan mereka di tepi sungai. Jika memorinya tentang tepi sungai kembali terngiang, ia tak pernah mampu menolak untuk kembali mengenang Kirana. Sejauh apapun ia mencoba menghindar, bayangan raut wajah gadis itu tak berhenti mengganggunya dan pada akhirnya ia pun bertanya.


“Apa kabar, Kirana?”


Alif hanya mampu menghela nafasnya lebih dalam tiap kali kepalanya menyebut nama gadis itu lagi. Ada perasaan bersalah disana.


“Pantaskah aku masih memikirkan Kirana yang mungkin kini telah menikah dengan Rehan?”


Ada perasaan menyesal yang tiba-tiba mengendap masuk ke dalam hati Alif tatkala memikirkan sikapnya di hadapan Kirana dan Rehan waktu itu. Karena sejak itu pula, ia selalu menghindar dari mereka. Meski sekelas, Alif selalu berusaha mengalihkan pembicaraan teman-temannya tentang Kirana dan Rehan. Ia tak ingin diusik kisah dua orang itu lagi.  Sebisa mungkin ia tak mendengar nama mereka. Ia bahkan tak tahu apa yang terjadi pada Kirana dan Rehan sekarang.

__ADS_1


Di pikiran Alif, Kirana dan Rehan mungkin telah menikah. Memikirkannya saja membuat Alif sangat sedih. Alif butuh jarak dan waktu agar tidak bertemu Kirana hingga pada akhirnya ia memutuskan untuk melanjutkan sekolah di kota tempat orang tuanya berada. Meski ia berat meninggalkan Kakek Hasan.


“Dari dulu Ato menyarankanmu untuk kuliah di kota saja. Jadi kau tak perlu khawatir. Cucu Ato yang lain akan menjaga Ato disini. Jadi, pergilah. Mungkin dengan begitu kamu bisa segera melupakan Kirana. Tak baik selalu memikirkan gadis yang akan menjadi milik orang lain.” Pesan Ato pada Alif. Lalu ia pun mengikuti saran Ato-nya.


Alif tak tahu sepekan setelah ia meninggalkan kampung halaman. Rehan melangsungkan pernikahan. Bukan dengan Kirana seperti anggapan Alif. Akan tetapi, Rehan menikahi Masyita, gadis yang ditemui Alif di terminal


waktu itu.


Alif bahkan tak menyadari di hari yang sama ketika ia berangkat ke kota, Kirana terbang menuju Jogja. Juga meninggalkan keluarganya untuk melanjutkan pendidikan disana. Alif dan Kirana pergi membawa kisahnya masing-masing. Mereka menyertakan hati mereka yang patah untuk alasan yang sama. Desiran asing di hati Kirana dan gejolak rasa di hati Alif tak menemui jalan untuk bersatu. Mereka memilih saling menjauh tanpa ada kata perpisahan.


***


Kiara bertemu dengan Kakek Hasan di tepi sungai. Sudah lama rasanya mereka tak bersua. Tanpa Alif dan Kirana, Kiara masih terbiasa berbagi cerita dengan kakek. Apalagi sejak ditinggal kakaknya, Kiara merasa sepi.


“Kirana tak jadi menikah dengan Rehan?” tanya kakek tak percaya.


“Iya, Ato. Rehan memilih Masyita, gadis yang tempo hari datang kesini.”


“Sayangnya, Alif telah pergi. Sampai sekarang ia pasti tak tahu soal itu.”


“Awalnya Kiara ingin sekali menemui Kak Alif untuk menceritakan itu, Ato. Kiara berharap Alif dan kakak bisa bersama. Tapi Kirana melarangku. Ia takut Alif menyalahkan dirinya atas keputusan Rehan memilih Masyita.” jelas Kiara dengan wajah sedih.


Kakek Hasan paham sekarang. Kirana begitu menyukai Alif hingga tak ingin Alif merasa bersalah sebaliknya Alif terlalu takut mengusik kebahagian Kirana. Alur cerita mereka sebenarnya sangat mudah hanya saja ketidakjujuran menghalangi keduanya.


“Jangan bersedih, biarkan mereka menjalani takdirnya masing-masing. Kita cukup mendoakan yang terbaik untuk Alif dan Kirana.”


Kiara pun mengangguk meng-amin-kan harapan Kakek Hasan. Meski dalam hatinya tak berhenti berharap agar kedua orang yang saling mencintai itu bisa bersatu kelak. Entah kapan.


***

__ADS_1


__ADS_2