DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 6 Menjaga Hati


__ADS_3

Kirana melipat jaket Alif dan memasukkannya ke dalam ransel, ia akan mengembalikannya besok. Sudah dua hari, jaket itu menyibukkan Kirana. Ia cuci dengan penuh perasaan dan dikeringkan dengan hati-hati. Tak lupa ia berikan pewangi ketika ia setrika. Kiara sampai geleng-geleng kepala.


Si usil Kiara merebut jaket dari Kirana dan membauinya. "Wanginyaaa!" puji Kiara.


"Gimana kalo Kak Alif tau jaketnya diperlakukan dengan sangat istimewa disini ya?" tanya Kiara.


Kirana merebut kembali jaket itu dari Kiara. Manyun ia melihat jaket yang tadinya sudah rapi jadi berantakan lagi.


"Kiara gak usah ngomong di sekolahan. Kan Kirana malu."


"Sebenarnya Kak Kirana dengan Kak Alif itu hubungannya apa sih?" serius Kiara menunggu jawaban Kirana.


Kirana menatap adiknya lalu kembali merapikan jaket Alif. Kiara, meskipun sangat sering mengganggu Kirana. Tapi ia sangat percaya pada adiknya. Mereka sering berbagi cerita apapun termasuk tentang perasaan Kirana terhadap Alif.


"Sampai saat ini, kami hanya sebatas teman kelas." ucap Kirana pelan.


"Trus jaket itu?"


"Ini insiden yang gak sengaja, seperti yang kakak cerita kemarin." terang Kirana.


"Kak Alif tau kakak suka sama dia?" Kirana menggeleng pelan.


"Sebaiknya seperti ini saja. Alif tak perlu tau." lirih Kirana.


Kiara sebenarnya paham, Kirana punya prinsip untuk tidak pacaran sampai bertemu dengan jodohnya kelak. Itu sebabnya, Kirana memilih untuk memendam perasaan hatinya. Apalagi, Alif sepertinya punya prinsip yang sama dengan Kirana. Sebagai Ketua Rohis di sekolah, ia tak mungkin menjalani hubungan seperti itu.


"Lalu bagaimana dengan pemilik buku ini?" Kiara menunjuk buku biru tua di deretan buku milik Kirana.


"Sepertinya dia suka sama kakak."

__ADS_1


"Gak mungkin de', bukannya kamu sendiri bilang dari sisi mana pun kakak gak ada menarik-menariknya. Lalu bagaimana Rehan suka sama kakak?" senyum Kirana.


"Hehe...bercanda, Kak."


Aslinya Kirana manis. Kulitnya terang meski bukan putih. Mata bulat dan bulu lentiknya serasi dengan alis hitam lebat milik Kirana. Lesung pipi yang timbul tiap kali ia tersipu dan tersenyum sangat menarik. Pembawaannya lembut dan pemalu, sangat 'gadis'. Berbeda dengan Kiara yang lebih tomboy meski mirip, Kiara lebih percaya diri dan aktif. Warna kulit mereka sama hanya saja, Kiara lebih suka kegiatan di luar rumah yang membakar


kulitnya jadi lebih gelap.


Satu hal lagi, Kirana lebih sering memakai dress panjang atau rok lebar dibanding celana yang dipakai anak gadis kebanyakan. Kirana anggun dengan caranya. Kiara yang dari tadi memperhatikan kakaknya kembali


mengajukan pertanyaan.


“Antara Kak Alif dan Kak Rehan, kakak lebih suka yang mana?”


Kirana mengingat buku pemberian Rehan lalu jaket yang dipinjamkan Alif padanya. Ia berpikir sejenak. Lalu kembali menatap adiknya.


"Mereka berdua baik dengan caranya."


***


"Kaak, hapenya tuh bunyi terus!" teriak Kiara tanpa mengalihkan matanya dari acara TV yang sedang ia tonton.


"Hush, Ade... Berisik, udah malam." tegur ibu.


"Hape kakak ganggu sih."


"Coba cek ke kamarnya, mungkin kakak sudah tidur."


"Tumben, biasanya juga begadang."

__ADS_1


 "Udah sana."


Kirana muncul dari balik pintu kamar lengkap dengan mukena yang masih ia kenakan.


"Kakak baru selesai sholat isya, de'. "


"Tuh, hape dari tadi ngomel-ngomel."


"Ajaib ya, hape ngomel cuma ada di dunia Kiara." tawa Kirana sambil meraih hape yang tertinggal di kursi tamu.


Empat panggilan tak terjawab dari nomor baru. Kirana mengernyitkan dahi anda bingung, siapa ya? Hapenya kembali berdering. Ragu Kirana menyentuh layar hape lalu diarahkan ke telinganya.


"Lama amat angkat telponnya!" tegur suara dari hape Kirana. Kirana kaget tapi ia seperti mengenal suara


tersebut.


"Buka pintunya!" perintah suara itu lagi.


Pintu? Pintu apa? Dari luar terdengar motor yang sedang digas kencang. Kirana sadar suara itu dari depan rumah.


Ia membuka pintu dan melihat sebuah bingkisan di teras. Suara motor digas melesat cepat menyisakan debu di jalan depan rumah Kirana yang masih terpaku tak percaya, orang yang meneleponnya, dan orang yang melesat cepat tadi ternyata...


Kiara menyusul kakaknya ke teras dan melihat bingkisan yang masih tergeletak di sana. Kirana belum juga bergerak. Kiara inisiatif meraih bingkisan itu. Tangan Kiara sibuk memeriksa dan mengeluarkan isi bingkisan tersebut. Beberapa bungkus permen dan minuman kaleng penyegar tenggorokan serta buah apel dan jeruk ada


disana.


"Dari siapa, Kak?" tanya Kiara.


"Gak ada pesan apapun disini."

__ADS_1


Kirana menjawab pelan terdengar seperti berisik lirih ... Rehan.


***


__ADS_2