
Sejak saat itu Rehan sadar banyak orang yang mengandalkan dirinya. Rehan bangkit, di usianya yang masih belia, kondisi membuat Rehan harus berpikir dewasa melampaui umurnya. Sore itu, di kelas kajian khusus putra, Rehan sekali lagi membuat teman-teman berdecak kagum. Suaranya saat membaca ayat-ayat Al-Quran mengalun dengan indah. Tilawahnya terdengar seperti sebuah kerinduan yang dalam. Pada setiap ayat yang ia baca sore itu, mengabarkan betapa ia merindukan ayahnya, merindukan adiknya, merindukan hari-hari bersama mereka. Rehan pandai membawa ayat-ayat tersebut penuh penghayatan.
Sedang di balik hijab pembatas antara area laki-laki dan perempuan, ada seseorang yang tak percaya bahwa lantunan bacaan Al quran tadi adalah milik Rehan. Ia baru saja melipat mukena, ketika dari balik hijab terdengar suara Pak Arif yang menunjuk Rehan untuk melanjutkan tahsin surah Ar-Rahman dan tiap kali Rehan tiba pada ayat
"Fabiayyi alaa irabbikuma tukardzibaan" (Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kau dustakan?)
Maka sepenuh hati pun ia ikut membaca dan mengulang ayat tersebut. Dialah,.. Kirana.
***
__ADS_1
Hari menjelang siang, Alif baru saja membereskan peralatan yang dipakainya untuk menggemburkan tanah di sawah. Sebentar lagi musim tanam padi tiba, maka setiap akhir pekan Alif membantu kakeknya mengurus sawah.
Biasanya anak muda seperti Alif menghabiskan waktu dengan jalan dan nongkrong dengan teman-temannya. Alif memilih untuk bekerja di sawah. Saban hari dia ke kebun untuk memetik buah kelapa, mengumpulkan lalu membawanya ke tengkulak di pasar untuk dijual. Alif memang tumbuh di keluarga petani, maka tak heran jika
sedari belia dia sudah mahir memanjat pohon kelapa, tangan mudanya terbiasa memegang arit dan cangkul, menggiling padi untuk dijadikan beras pun sudah biasa bagi Alif. Apalagi hanya sekedar mencari pakan untuk makanan ternak ayam dan kambingnya. Alif sosok pekerja keras, ia tak ingin banyak menyia-nyiakan
waktunya. Apalagi ia sadar betul tanggung jawab untuk menemani kakek. Kakek Hasan memang beruntung memiliki cucu seperti Alif. Ia merawat Alif layaknya anak sendiri. Apalagi anak-anak kakek sejak berkeluarga memilih untuk tinggal di tempat lain. Maka Alif adalah hiburan untuknya. Tak putus doa kakek untuk kebaikan Alif. Ia bahkan menyisihkan penghasilan dari sawah dan kebunnya untuk tabungan Alif. Meski hidup sederhana, Alif dan kakek selalu bersyukur. Mereka juga punya cara sendiri untuk menghabiskan waktu senggang bersama.
"Ato, sudah ada tangkapannya?"
__ADS_1
Kakek mengangkat jari lima, artinya ia sudah berhasil menangkap lima ekor ikan. Alif mengerikan alat yang dicucinya tak jauh dari saung. Ia melihat sekelilingnya, rupanya hari itu banyak warga yang ke sungai. Beberapa anak berenang, ada juga yang sedang mengambil air dengan membuat lubang resapan di tepi sungai dan
mengambil air dari lubang tersebut lalu memasukkannya ke dalam jejeran jerigen dan akan dibawa pulang ke rumah oleh pemiliknya. Biasanya air dalam jerigen digunakan untuk memasak. Di seberang sungai ada juga yang sedang memancing seperti kakek. Ramai, pikir Alif.
Alif duduk di samping kakeknya dan mengambil seutas tali pancing juga. Tapi kakek melarang Alif, kakek justru meminta Alif untuk menyiapkan tempat untuk membakar ikan-ikan yang sudah didapatnya. Kakek merasa hasil tangkapannya sudah cukup untuk teman makan siang mereka hari ini.
Alif segera mencari ranting kayu kering untuk dijadikan bahan bakar. Alif tengah sibuk mengumpulkan ranting-ranting tersebut saat seseorang memanggil Alif dari jauh.
"Kak Alif!" suara itu terdengar riang.
__ADS_1
Alif menoleh ke arah suara tersebut, ia segera mengenal Kiara yang melambaikan tangan sambil menuntun sepeda mendekati Alif. Alif tersenyum melihat Kiara yang sangat antusias mendatangi Alif bukan tanpa sebab karena tak jauh di belakang Kiara ada Kirana yang sedang mengayuh sepeda juga tersenyum manis padanya.
***