
Alif duduk menemani kakek Hasan di ruang tamu sambil menonton berita di televisi malam itu, selepas sholat isya. Wajahnya tidak bersemangat, ia masih memikirkan Kirana, ada penyesalan yang begitu dalam. Ini pertama kalinya ia menyukai seorang gadis, namun ia juga paham bagaimana ia harus bisa menata hatinya agar tidak larut pada perasaan itu hingga ia membiarkan semuanya terpendam, mengagumi Kirana dalam diam meski pada akhirnya dia pun tak sanggup membendung rasa itu. Sungguh-sungguh ia meyakinkan dirinya bahwa ia sanggup menjadi seorang imam yang baik meski di usia yang masih belia dan ketika harapan itu muncul dan ia bersiap mengenal Kirana lebih jauh, Kirana telah memilih Rehan. Alif menyesal, ia sedih, untuk pertama kalinya ia mengharapkan sesuatu yang sangat berharga tapi untuk pertama kali pula ia harus kecewa. Berkali-kali ia berusaha membujuk
hatinya untuk ikhlas, dan menerima kenyataan jika Kirana bukanlah untuknya. Ia berusaha pasrah meski rasa menyesal tetap mengganggunya dan tiap kali rasa menyesal itu menguasai pikiran dan hati Alif, ia segera menarik nafas dalam dan menghempasnya begitu saja. Kakek yang menyadari perubahan itu segera mengerti, Alif sedang tertekan.
"Kamu harus mengalahkan kecewa itu. Banyak-banyaklah beristighfar, pada awalnya terasa sulit, tapi nanti kamu akan mengerti rasa kecewa itu menyadarkanmu bahwa kamu memang menyukai gadis itu. Ini juga jadi pengalaman yang baik untukmu, kelak jika kamu bertemu dengan seseorang yang membuatmu benar-benar ingin melindunginya, membuatmu merasa nyaman, jangan sia-sia kan. Sekarang kalian belum berjodoh, itu artinya Allah masih memberi Alif kesempatan untuk menata diri lebih baik lagi. Ato' yakin, kamu bisa." Nasehat Ato' pada Alif.
Alif mengangguk pelan, ia sangat paham dengan nasehat kakeknya. Ia hanya butuh waktu untuk menerima kenyataan itu.
"Ato, entah mengapa ada rasa khawatir dari diri Alif untuk Kirana."
"Apa sebabnya?"
"Entahlah, seperti kekhawatiran Kirana tak bahagia dengan keputusannya, Alif tak mau ia melakukan ini karena terpaksa."
"Alif pernah memintanya untuk menerima Rehan, Ato', saat itu Kirana berpikir Alif tak menyukainya." lanjut Alif.
Kakek yang mendengar itu menepuk pundak Alif.
__ADS_1
"Tak ada satu pun daun yang jatuh di muka bumi ini tanpa sepengetahuan Allah, Ia telah merencanakan segala sesuatunya termasuk kisahmu dan Kirana, tetaplah berbaik sangka, doakan juga Kirana dan pilihannya tersebut. Apapun yang terjadi ke depannya, Allah yang lebih tahu. Apakah Kirana terpaksa ato tidak bahagia
nanti, itu takdir yang harus ia jalani dari tiap keputusan yang sudah ia pilih. Alif hanya perlu mendoakan yang terbaik."
Alif setuju dengan pendapat kakek.
"Apa nanti Alif masih bisa bertemu dengan gadis yang baik seperti Kirana, Ato?"
"Semua tergantung Alif, jodoh itu cerminan diri kita, jika Alif baik, maka jodoh Alif pun baik."
Dalam hati Alif berbisik, "Iya, Ato, jodoh yang baik seperti Kirana."
***
Bukan dari tulang ubun ia dicipta
Sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
__ADS_1
Tak juga dari tulang kaki
Karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
Tetapi dari rusuk kiri
Dekat ke hati untuk dicintai
Dekat ke tangan untuk dilindungi
Saat itu pertama kali Rehan mulai memperhatikan Kirana. Melihatnya bergaul, menilai penampilannya, memuji kecerdasannya dan mengagumi prinsip Kirana yang tak ingin bersentuhan dengan lawan jenis. Bagi Rehan semua itu istimewa dan ia akhirnya tahu, ia menyukai gadis itu dalam artian yang lebih dalam.
Rehan mengingat setiap momen yang ada antara dirinya dan Kirana hingga ia memberanikan diri untuk mengajukan ta'aruf dan memutuskan untuk melamarnya. Rehan tersenyum dan ia kembali memandang foto Kirana. Menatap setiap inci wajah Kirana. Hatinya mulai sedih saat menatap mata Kirana.
"Benarkah kau memilihku dari hatimu?"
"Sanggupkah aku menggantikan Alif disana? Bukankah ia yang pertama untukmu?"
__ADS_1
Rehan mulai cemas, Kirana, bahagia kah kamu dengan semua ini?
***