
"Rehan sudah banyak berubah sekarang." ucap Alif tanpa menatap Kirana. Tangannya tetap sibuk membalik
ikan-ikan di atas perapian. Kirana teringat lantunan bacaan Al Quran Rehan sore itu lalu terbayang lagi bagaimana Rehan mengungkapkan perasaannya di kelas.
"Benarkah?" Balas Kirana ragu. Alif mengangguk mengiyakan.
"Sejak hari itu, berkat Kirana." Kirana menatap Alif, tapi pikirannya melayang ke Rehan. Kirana mengingat beberapa kejadian yang berhubungan dengan Rehan.
"Semua karna dirinya sendiri... Mungkin ia memang orang baik yang sedang menutup diri." jawab Kirana.
Alif tersenyum meski ada yang tak "enak" di sudut hatinya mendengar kalimat Kirana.
"Iya, yang kita tau selama ini tentang Rehan... sikap cueknya padahal dibalik semua itu ia bisa jadi teman yang baik" sahut Alif jujur.
Kirana sekali lagi menatap Alif, sebenarnya ia ingin menanyakan, mengapa ia tiba-tiba membahas tentang Rehan?Bukan membahas hal lain? Tentang kegiatan Rohis yang akan datang, misalnya, atau... perasaan Alif, mungkinkah ia juga seperti Rehan padanya? Ah, Kirana kalut sendiri dengan bisikan-bisikan hatinya. Belum juga ia berani untuk bertanya. Alif sudah melanjutkan kalimatnya.
"Kenapa Kirana tak memberi Rehan kesempatan?"
Deg!
__ADS_1
Kirana tersentak dengan pertanyaan Alif. Ia tak percaya Alif menanyakan kesempatan untuk Rehan. Di saat ia memikirkan perasaannya terhadap Alif, di saat hatinya sedang menanyakan perasaan Alif sendiri pada Kirana. Di saat ia terjebak dengan angan-angan rasanya saat jadi pendamping laki-laki soleh, pekerja keras dan sebaik Alif. Alif justru menanyakan hal sebaliknya. Menanyakan kesempatan untuk orang lain bagi Kirana. Kirana luruh. Hatinya berdetak kecewa menyimpulkan sendiri. Mungkin Alif memang tak ada perasaan apapun padanya, mungkin Alif memang tak menyukai Kirana. Mungkin Kirana memang tak ada artinya di hati Alif. Kirana menyesal pernah merasa istimewa di hati Alif. Tanpa ia sadari, tanpa ia bisa lawan. Kirana menjawab...
"Kirana menyukai orang lain yang sepertinya orang itu tak pernah menyukai Kirana..."
Mendengar kalimat itu, Alif menoleh ke arah Kirana. Ia melihat Kirana berusaha untuk tak menangis. Meski hatinya bertanya "Siapa laki-laki yang dimaksud Kirana? Meski ia sangat penasaran. Meski ia mendengar bisikan hatinya bahwa yang dimaksud Kirana itu bisa jadi dirinya. Namun segala pertanyaan-pertanyaan itu hanya sebatas di benak Alif, terpendam, tak terungkap, tak terucap.
"Laki-laki itu sangat bodoh jika tak menyukai Kirana." Suara Alif tertekan.
"Orang bodoh itu, kamu..." ucap Kirana dalam hati. Ya, hanya dalam hati.
Ada banyak kalimat tak terungkap. Ada banyak kata yang hanya menari di benak mereka masing-masing.
Hingga acara makan siang itu berakhir, Kirana pulang dengan membawa perasaan kecewa dan Alif dengan rasa penasaran. Sedang Kiara dan kakek hanya ingin kedua remaja itu bisa bersama lebih lama.
***
"Berat ya jadi kakak?" tanya Kiara. Kirana langsung tertawa mendengarnya.
"Menjaga komitmen dan berusaha konsisten itu memang sulit de', ada aja ujiannya." Mereka berdua sepakat untuk hal itu.
__ADS_1
"Apa sebaiknya Kakak nikah muda aja sama Kak Alif?"
Kirana membelalakkan mata. Mana bisa???
"Yaaa, bisa saja, bukannya banyak yang nikah dini?"
"Itu pasti ada alasannya masing-masing."
"Kalo' itu kakak alasannya ya supaya gak pacaran, jadi hubungannya halal gitu."
Ah, Kiara...
Kayak nikah gampang aja, pikir Kirana.
"Nikah bisa terjadi jika antara laki-laki dan perempuan sama-sama mau sedang kakak..." Agak lama Kirana melanjutkan kalimatnya.
"Alif tak punya perasaan apapun pada kakak."
Selanjutnya Kirana menceritakan apa yang dikatakan Alif di sungai tadi. Bagaimana kecewanya ia karena Alif justru meminta untuk menerima Rehan. Kiara yang mendengar cerita Kirana sudah mengerti kakaknya itu salah paham. Tapi ia tak mau mengusik kakak. Biarlah untuk sementara ini Kirana menganggap Alif tak menyukainya.
__ADS_1
Kiara berharap apa yang diceritakannya pada Kakek Hasan ada gunanya. Selama ini memang tak mudah mengetahui bagaimana perasaan kak Alif sebenarnya. Hanya melihat sifat Kak Alif dan pertemanannya di sekolah, Kiara yakin masih ada tempat untuk Kirana di hati Alif.
***