
Acara tabligh akbar berakhir siang itu dengan menyisakan rasa takjub dari para hadirin yang tak menyangka dengan kebolehan Rehan membacakan ayat-ayat al quran. Rehan dan Kirana tampak serasi di atas panggung. Banyak siswa yang memuji mereka sampai Alif bingung sendiri, jujur ia pun setuju dengan pendapat beberapa siswa jika Rehan dan Kirana memang terlihat serasi namun di sudut hati yang lain ia pun harus mengakui ia cemburu.
Apalagi ketika melihat bagaimana Rehan sangat memperhatikan Kirana, sejak turun dari panggung rehan terus berada di sekitar Kirana, pandangan Rehan tak lepas dari Kirana. Alif paham Rehan sedang berusaha
mendapatkan perhatian Kirana. Meski Kirana telah menolaknya waktu itu, pikir Alif. Alif tak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Ia hanya tahu hari ini dia akan segera menyampaikan niat baiknya.
***
Assalamualaikum, afwan jika saya lancang.
Sore ini, saya telah menemui pak Arif untuk dibimbing ta’aruf dengan Kirana.
__ADS_1
Pesan singkat yang dikirim Alif pada Kirana. Alif tak tahu, betapa kecewanya Kirana membaca pesan itu.
“Mengapa baru sekarang, Alif?” isak Kirana.
Mengapa ketika ia sedang berusaha melupakan Alif, Alif justru berusaha mendekat? Apakah Pak Arif tidak menyampaikan pada Alif jika ia sedang ta’aruf dengan Rehan? Lalu benarkah Kirana tak bahagia mengetahui jika ternyata Alif pun menyukainya tanpa perlu mengungkapkan perasaan secara berlebih? Kirana kalut. Ada dua jalan. Satu menuju pada orang yang pertama kali membuatnya merasakan desiran asing terhadap lawan jenis dan satunya lagi, lelaki yang diharapkan Kirana menolongnya melupakan cinta pertamanya itu. Salahkah keputusan Kirana? Kirana mulai ragu, padahal yang ingin ia lakukan hanyalah agar terhindar dari fitnah dan zina hati.
“Jika telah datang padamu pemuda yang baik akhlaknya dan kau ridho akan agamanya, terimalah, jangan kau tolak, jika tidak maka fitnah yang lebih besar akan terjadi.” Kalimat itu terulang terus menerus di kepala Kirana hingga ia terlelap.
***
Pak Arif tak segera mengiyakan, ia hanya meminta Alif untuk bersabar karena beliau harus membahas hal tersebut dengan Ms.Eliza. Apalagi ini bukan hal main-main. Menikah mudah bukan perkara gampang meski dalam hati Pak Alif sendiri yakin bahwa Alif adalah pemuda yang bertanggung jawab. Tapi, masalahnya…ah, Pak Arif menepuk pundak Alif.
__ADS_1
“Mengajukan proses seperti ini, berarti Alif harus siap menerima dua kemungkinan. Diterima atau ditolak. Alif siap dengan itu?” tanya Pak Arif.
Sebenarnya Alif tak menyangka akan ditanya seperti itu. Namun dalam hati Alif merasa yakin bahwa Kirana akan menerimanya. Ia tahu perasaan Kirana padanya. Meski demikan, iya pun menyanggupi permintaan Pak Arif.
“Apapun jawabannya nanti, Alif harus tetap berprasangka baik pada ketetapan Allah.” Tegas Pak Arif.
“Insyaallah, Pak” jawabnya mantap.
***
Sejak Kirana memutuskan untuk memberi Rehan kesempatan. Ia semakin banyak berdiam diri di kamar. Setiap tanggung jawab yang ia lakukan di rumah telah selesai ia kerjakan. Ia segera masuk ke kamar membaca buku, mengaji atau hanya melamun. Tak ada lagi senda gurau dengan Kiara. Meski Kirana terlihat tenang tapi Kiara yang telah mengenal sifat kakaknya bisa merasakan ada hal yang sangat mengganggu pikiran kakaknya.
__ADS_1
Kiara kasihan melihat Kirana seperti itu. Ia ingin melakukan sesuatu tapi Kiara takut jika tindakannya justru akan membuat masalah Kirana jadi lebih rumit. Sebaiknya ia bertanya pada ayah saja, pikirnya.
***