
Bukan dari tulang ubun ia dicipta
sebab berbahaya membiarkannya dalam sanjung dan puja
Tak juga dari tulang kaki
karena nista menjadikannya diinjak dan diperbudak
Tetapi dari rusuk kiri
dekat ke hati untuk dicintai
dekat ke tangan untuk dilindungi
ia.Wanita.
Kutipan syair dalam buku "Agar Bidadari Cemburu Padamu" Karya Salim A. Fillah, pemberian Ms.Eliza untuk Kirana sebagai jawaban atas pertanyaannya tempo hari. Ms.Eliza ingin Kirana menemukan sendiri jawabannya
pada buku tersebut. Kirana tak henti-hentinya berdecak kagum membacanya. Semua pertanyaan yang selama ini mengganggu hati dan pikiran Kirana terjawab sudah.
Meski ia telah tuntas membaca, Kirana tetap membawa buku itu kemana-mana. Termasuk hari ini, jam istirahat, saat sebagian temannya memilih keluar ruangan, Kirana tak pindah juga dari kursinya, ia kembali membaca isi
__ADS_1
buku tersebut. Ia cukup senang ketika ia tenggelam dengan untaian kalimat pada buku itu, setidaknya ia lupa akan Alif, lupa akan perasaannya. Benar nasehat Ms.Eliza, menyibukkan diri akan membuat kita lupa dan tak terpengaruh dengan angan-angan semu.
Kirana tak sadar kebiasaannya membaca buku akhir-akhir ini jadi perhatian seseorang yang lain di kelasnya. Bukan Alif. Akan tetapi, seseorang yang luput dari perhatian Kirana selama ini.
***
Sebuah buku berwarna biru tua tiba-tiba diletakkan di depan Kirana. Kirana melihat Rehan. Siswa tercuek yang ada di kelas sedang berdiri di depannya. Jarang bersuara, tak suka bergaul, sekali bicara kalimatnya nyelekit. Itu sebabnya teman kelas yang lain pun tak ada yang berani berteman dengannya kecuali Alif. Mungkin Alif satu-satunya teman yang bisa Rehan terima untuk bergaul dengan Rehan. Belum saja Kirana sadar dari rasa herannya, Rehan kembali mengoceh.
"Saya liat kamu suka baca buku, gak kayak yang lain. Itu buku dari rumah. Gak ada yang baca, buatmu saja. Cocok untuk orang yang suka melamun kayak kamu."
Deg!
Sudah Kirana duga, pasti kata-kata Rehan ngegas. Sarah, teman sebangku Kirana pun sampai melongo melihat tingkah Rehan. Ajaib nih orang, pikir Sarah. Kirana dan Sarah saling menatap dan sama-sama mengangkat bahu tanda tak mengerti situasi.
pertama kalinya.
***
"Fatimah Az Zahrah" Judul buku bersampul biru pemberian Rehan. Nanar pandangan Kirana menatap buku
tersebut. Meski kejadian tadi siang masih membuat Kirana tak mengerti. Mengapa Rehan peduli padanya? Awalnya Kirana ingin mengembalikan buku itu ke Rehan, tapi Sarah mencegah.
__ADS_1
"Niat baik teman jangan ditolak, apalagi Rehan yang jarang bergaul dengan kita, mungkin dia beneran tulus memberikan buku tersebut. Itu pertanda baik, bisa jadi dengan seperti ini akhirnya Rehan bisa menganggap
kita temannya."
"Tapi sikapnya tadi?"
"Itulah Rehan, untuk jadi teman gak harus selembut dan seramah kamu kan?" Kirana mengangguk perlahan.
Diraihnya buku tersebut, lembar demi lembar ia baca tanpa jeda. Kisah heroik putri Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam, memukau Kirana lebih dalam. Ia bersyukur pernah membaca buku tersebut, ia menemukan banyak inspirasi pada kehidupan putri seorang Nabi yang bersahaja dan penuh hikmah. Ia terharu akan cinta Rasulullah padanya, dan bagaimana ia hidup sebagai seorang istri dari pemuda cerdas seperti Ali bin abi Thalib. Kirana baru ingat ia belum mengucapkan terimakasih pada Rehan.
Esoknya, Kirana memberanikan diri menyapa Rehan di kelas. Ia mengulurkan buku itu dan berniat mengembalikannya. Walau bagaimana pun Kirana tak enak hati menerima pemberian seseorang yang tidak terlalu akrab dengannya.
"Rehan, teri...,"
Rehan langsung meraih dan mengetokkan buku itu ke kepala Kirana.
"Bukannya kemarin sudah saya bilang, jangan dikembalikan?" Rehan melangkah ke arah ransel Kirana dan
memasukkan buku itu tanpa permisi.
"Gak perlu berterima kasih." Lalu Rehan meninggalkan Kirana yang masih diam tertegun.
__ADS_1
***