DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 8 Tentang Rehan


__ADS_3

Sekuat hati Kirana menahan air matanya tapi tetap bulir-bulir bening itu makin tak terbendung. Kirana kecewa, sedih, menyesal bukan...bukan karena sikap Rehan tadi. Bukan karna Alif melihat kejadian itu. Akan tetapi,


Kirana menyalahkan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin jadi seperti ini?


Ketika ia sedang berusaha mengendalikan perasaannya terhadap Alif, ketika ia berusaha konsisten dengan


komitmennya untuk menjaga hati hanya untuk jodohnya kelak, hanya untuk Allah. Justru tanpa ia sadari seseorang menaruh hati padanya. Kirana tak menyalahkan perasaan Rehan. Kirana hanya tak ingin menyakiti siapapun. Kirana hanya ingin semua berjalan seperti biasa. Seperti sebelum ia mengagumi Alif, menyukainya bahkan ia bermimpi bersamanya di jalan dakwah.


Airmata itu jatuh lagi, sesulit inikah menjaga hati untuk 'imam' nya kelak?


Bukan untuk sembarang hati


Aku katakan ini sungguh aku cinta kamu


Bukan untuk sembarang hati

__ADS_1


Bila nafas berhenti


Aku rela berlelah untukmu


Kirana teringat lirik lagu yang pernah ia dengar dari speaker angkot yang saban hari mengantar Kirana ke sekolah. Benar, bukan untuk sembarang hati ia akan mengatakan perasaannya, sedalam apapun ia menyukai Alif, seberat apapun ia harus berusaha mengikhlaskan hati itu. Kirana hanya ingin menitipkan hatinya pada orang yang benar, pada hati dan waktu yang tepat kelak.


"Seorang hamba takkan diuji di luar batas kemampuannya. Allah takkan menumpahkan kesabaran padamu ketika kau meminta hati yang sabar. Justru Allah akan menguji hatimu dengan sedikit kesusahan untuk melihat seberapa sabar kalian menghadapi masalah tersebut. Allah mengabulkan doa hamba bukan dengan memberi apa yang mereka inginkan tapi Allah memberi apa yang mereka butuhkan. Boleh jadi kamu menyukai sesuatu padahal itu tak baik untukmu begitu pun sebaliknya sesuatu yang kamu benci belum tentu buruk untukmu. Allah Maha Mengetahui segala sesuatu. Kita hanya perlu berkhusnuzan padaNya, pada setiap ketetapanNya."


Pesan dari Ms.Eliza di kajian rutin yang Kirana ikuti pekan lalu. Kirana bangkit dari kursinya dan bergegas ke musholla sekolah. Ia ingin membasuh wajahnya yang sembab, ia ingin berwudhu, Kirana hanya ingin memenangkan hatinya. Di musholla itu, Kirana menumpahkan segala keluh kesah pada doa-doa yang panjang.


musholla.


Dalam hati Alif berbisik, "Kirana yang seperti ini membuat orang-orang akan mencintainya dengan


mudah. Aku tak akan pernah pantas mendapatkan hati setulus Kirana."

__ADS_1


***


Semua siswa yang hadir di kajian khusus putra terpana saat menyadari Rehan hadir di antara mereka sore itu. Bagaimana tidak? Selama ini Rehan dikenal anti sosial, tak ada satupun kegiatan di sekolah yang menarik minatnya. Di undang ke klub musik karena kepiawaiannya memainkan piano dan drum sekaligus ditolaknya.


Diajak ikut tim basket juga ogah padahal ia terkenal sebagai siswa paling jangkung di sekolah dan nilai pelajaran olahraganya tak meragukan. Apalagi pramuka, PMR dan sispala, Rehan tidak suka dengan sesuatu yang mengikat yang mengharuskan ia rapat dan mempersiapkan acara ini itu. Rehan dengan jiwa bebasnya lebih memilih ke lab khusus untuk anak otomotif, meski ia berasal dari kelas Akuntansi. Memang sangat kontras, hobi dan


jurusan yang dipilihnya tak ada sinerginya sama sekali. Rehan hanya memenuhi permintaan ibunya untuk belajar akuntansi sebagai bekal kelak ia harus mengganti ayahnya mengelola usaha mereka. Rehan, yatim sejak kelas 3 SMP. Ditinggal ayah dan adik perempuannya sekaligus dalam kecelakaan tunggal saat ingin menyaksikan prosesi kelulusan Rehan waktu itu. Untung ibunya terlempar jatuh dari motor sebelum sebuah truk melindas ayah, dan adik Rehan.


Rehan terpuruk, kehilangan semangat. Ia sampai membiarkan dirinya dua tahun tak sekolah. Kehilangan dua orang yang sangat ia sayangi dalam waktu bersamaan tak mudah bagi Rehan. Ia menutup dirinya, menghilang dari pertemanan, dia sembunyi dalam rasa bersalah yang tak kunjung reda. Melihat kondisi Rehan seperti itu.


Ibu Rehan berusaha mengembalikan semangat Rehan, menyadarkan bahwa ia masih memiliki ibu yang akan sangat bergantung padanya kelak. Membawa Rehan ke toko bangunan yang ditinggalkan ayahnya, melihat beberapa karyawan yang mengandalkan toko itu sebagai sumber penghasilan mereka. Ibu mengatakan pada Rehan. Jika ia sudah tak memiliki ayah dan adik, setidaknya Rehan masih punya empati kepada orang-orang yang bekerja pada mereka. Mereka adalah ayah dari anak-anak seperti Rehan.


"Jika toko ini tutup, bagaimana para ayah itu membiayai keluarganya? Bagaimana anak-anak mereka sekolah? Setidaknya berilah ayah-ayah itu kesempatan membahagiakan anaknya dari rezeki yang didapatkan dari toko ini. Ayah sudah tak ada, Ibu sendiri takkan mampu mengurusnya, harus ada orang lain, dan itu hanya Rehan."


Rehan melihat wajah-wajah para karyawan ayahnya, mengingat bagaimana ayahnya memperlakukan mereka sebaik mungkin, melihat bayangan ayahnya yang tiap pagi menyapa dan menanyakan keadaan keluarga karyawannya tiap pagi dan saban sore tak pernah lupa mengucapkan terima kasih pada semua karyawan pada saat toko ditutup. Ayah memang sangat berarti buat para karyawan, buat keluarga apalagi buat Rehan.

__ADS_1


***


__ADS_2