DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 18 Membelakangi Rindu


__ADS_3

Semilir angin menggoyangkan daun-daun kelapa di sekitar Alif dan Kirana, suara yang ditimbulkan dari


gesekan daun serta gemericik air sungai mengisi keheningan yang tercipta di antara mereka. Kirana membisu, sedang Alif terdiam lesu. Terjawab sudah semua pertanyaan yang selama ini mereka pendam.


Kirana mulai merasakan desiran asing sejak pertama kali melihat Alif di atas mimbar musholla ketika pemuda itu menyampaikan sebuah ceramah singkat. Sedang Alif tak pernah bisa lupa bagaimana pesona Kirana menyergapnya ketika melihat gadis itu dalam balutan jilbab berwarna pink sore itu.


Kirana tak pernah bisa menghapus kenangan bersama Alif di kala hujan, dan Alif pun masih bisa mengingat aroma wangi dari jaket yang dikembalikan Kirana. Pikiran dua remaja tersebut saling bertautan menelusuri kembali tiap kenangan yang terjadi hingga akhirnya sadar semua sudah terlambat.


"Maafkan saya Kirana, ini salah saya. Menyukaimu dalam diam hanya karena tak ingin perasaan ini membawa kita ke jalan yang salah. Aku tak pernah ingin membuatmu terjebak dalam harapan palsu. Hingga akhirnya aku sadar, gadis baik seperti Kirana takkan datang dua kali."


"Lalu kamu datang ketika semua sudah seperti ini?"


"Saya tak pernah tahu jika Rehan tetap maju semenjak Kirana menolaknya."


"Rehan tak pernah mundur, seperti katamu, ia sudah berubah."


"Ia, dia pria yang baik."


Kembali mereka membisu, hingga akhirnya Kirana pamit pulang.


"Kita tetap bisa berteman kan?" tanya Alif pasrah. Ia menatap sedih ke punggung Kirana.


Kirana yang sudah kembali menuntun sepeda berhenti sejenak dan menganggukkan kepalanya pelan tanpa


menoleh ke arah Alif, ia tak mau Alif melihat airmatanya sudah mengalir sejak tadi. Alif memang tak melihat air mata itu, namun seseorang dari jauh sudah melihatnya dan memahami situasi yang sedang terjadi. Alif duduk sendiri di gubuk tua, ia berusaha menerima kenyataan bahwa selamanya ia tak akan bisa bersama


gadis yang pertama kali mengetuk hatinya. Alif menenangkan diri sebuah untaian puisi tercipta dibenaknya.

__ADS_1


*Membelakangi Rindu**


Kuletakkan rinduku untuknya


di tepi sungai yang basah


si atas bening titik hujan


yang bertengger di rerumputan


ku tak berhak menyimpannya


biarlah tertinggal disana


luruh menanti temaram


Alif memejamkan matanya


membiarkan setetes air mengalir dari sudutnya. Segera ia hapus, hatinya sedang berduka. Namun tiba-tiba seseorang telah menepuk pundaknya dan ikut duduk menemani Alif di gubuk itu, dialah... Rehan.


***


Rehan menatap ke atas riak-riak sungai yang mengalir tenang di hadapannya, Alif pun demikian. Untuk sesaat mereka membiarkan waktu berlalu dalam diamnya kedua anak muda itu. Sebelumnya Rehan menjelaskan pada Alif jika ia ingin membicarakan sesuatu tapi tak disangka ia melihat Kirana di tempat itu juga meski ia penasaran namun ia tak menampakkan diri hingga Kirana pulang. Rehan baru tahu jika selama ini Kirana menyukai Alif. Kesal sendiri karena selama ini tak menyadari bagaimana perasaan Kirana sesungguhnya, ia terlalu sibuk dengandiri sendiri. Lama ia membujuk hatinya untuk memulai pembicaraan dengan Alif.


"Kirana..." Rehan ingin memecah keheningan dengan Alif namun Alif segera memotongnya.


"Kirana memilih orang yang tepat. Jangan khawatirkan saya. Cukup jaga Kirana dengan baik."

__ADS_1


"Tapi orang yang ada di hati Kirana, kamu...Alif."


"Tidak, bukan seperti itu. Kirana memilihmu dari hatinya." Alif meyakinkan Rehan meski dalam hatinya 'berdarah'.


"Laki-laki yang pantas untuk Kirana adalah yang berani menunjukkan perasaan dan membuktikan


kata-katanya bisa dipercaya, dan itu ada di Rehan. Jadi, jangan sia-siakan Kirana. Ia pun pantas bahagia dengan pilihannya." Kata-kata Alif sejurus dengan perih yang mendera dalam dirinya.


"Ia pun pantas memilih orang yang sebenarnya ia sukakan?" desak Rehan.


"Tolong, Rehan jangan ragukan Kirana, ia akan terluka. Ketika ia sudah memutuskan pasti ia punya alasan dibalik itu. Sekali lagi jangan ragukan dia."


Alif memegang pundak Rehan dan menjabat tangannya.


"Berjanjilah akan membuatnya bahagia." tegas Alif.


Rehan mengangguk perlahan dan berusaha tersenyum. Alif pamit pulang tapi Rehan memanggilnya.


"Alif... Kamu yakin?" Alif mengangguk mantap.


Rehan menatap Alif yang berjalan melalui jalan setapak hingga hilang di balik rimbunnya pepohonan di tepi sungai itu.


"Tapi air mata Kirana yang aku lihat tadi mengatakan hal lain." lirih Rehan.


***


* Puisi pemberian seorang teman

__ADS_1


__ADS_2