
Kirana hampir saja menjatuhkan puluhan buku paket Akuntansi yang dibawanya sekaligus andai saja ia tak sigap memegang buku-buku itu dengan erat. Hati-hati ia melangkah menuruni anak tangga sekolah menuju perpustakaan. Pak Arif meminta Kirana yang mengembalikan. Kakinya baru saja menginjak anak tangga pertama saat seseorang dengan tiba-tiba mengambil sebagian buku-buku itu dari tangan Kirana dengan cueknya.
"Apa salahnya sih minta tolong!" lagi-lagi Rehan berulah. Ia menatap gerak badan Rehan yang menuruni anak tangga dengan lincah.
Kirana bingung beberapa waktu belakangan ini, Rehan sering hadir di sekitarnya. Ada sesuatu yang membuat Kirana tak nyaman dengan Rehan, apapun itu cepat atau lambat Kirana merasa hal ini akan jadi masalah.
***
Alif melangkah meninggalkan sekolah menuju halte yang tak jauh dari sana. Hari ini ia tak mengendarai motor yang biasa ia gunakan, Kakek Hasan sedang memakainya untuk satu keperluan. Beberapa siswa terlihat sedang menunggu angkot juga. Sebagian pun sudah mendapatkan angkot untuk pulang. Alif membuka ransel dan mencari makalah Produktif yang harus ia presentasekan besok. Ia ingin membaca lagi materinya sambil menunggu angkot
yang akan membawanya pulang. Alif fokus sampai tak sadar langit mendung dan hujan yang tadinya rinai segera berganti deras.
Cepat ia memakai jaket yang sedari tadi ia gulung dalam ransel untuk menghalangi dinginnya angin dan hujan.
Ia sadar hujan akan membuat angkot yang ditunggunya akan datang lebih lama padahal yang lain sudah lebih dulu pulang. Alif sendiri disana tapi tak lama saat ia melihat seorang siswa sedang berlari menuju halte dimana Alif sedang berdiri. Siswa itu berusaha menutup wajahnya dengan lengan agar tak terkena hujan namun malang seragam putih abu-abunya sudah basah kuyup. Alif mengernyitkan dahi, ia mengenal siswa yang sedang berlari menuju halte tersebut...dia...siswa itu... Kirana.
__ADS_1
"Alhamdulillah!" ucap Kirana dengan pelan begitu sampai di sana. Ia segera melepas ranselnya yang basah, mengibas sedikit lumpur yang menempel di baju, rok dan ransel yang ia lepas tadi. Kirana tak sadar Alif memperhatikannya dengan mata membulat.
Kirana masih sibuk membersihkan lumpur di sepatunya ketika Alif menyodorkan jaket sambil memunggungi
Kirana.
"Tolong pakai ini, Kirana."
Kirana yang baru menyadari keberadaan Alif di halte tak urung terkejut. Tak biasanya Alif berada di halte. Ia melihat ke sekeliling namun tak menemukan motor milik Alif. Sekali lagi, Alif meminta Kirana untuk memakai jaketnya. Tapi Kirana menolak. Ia sangat risih jika harus menerima kebaikan Alif yang seperti itu. Namun, Alif punya alasan.
Kirana menatap baju seragamnya dan...."Astaghfirullah" pekik Kirana. Ia baru sadar pakaian dalamnya terlihat di balik baju dan jilbab putih yang kuyup dan menempel ke badannya. Kirana panik ia tak punya pilihan lain selain memakai jaket Alif untuk menutupi tubuhnya.
Kirana sangat malu, wajahnya mulai memanas dan ingin menangis. Tapi Alif segera meyakinkannya bahwa itu bukan salah Kirana. Ia pun berusaha menghalau kekhawatiran yang muncul di hatinya. Kirana berusaha percaya pada pikirannya bahwa Alif bukan tipe anak muda yang berpikiran negatif.
Lama mereka terdiam. Hujan pun tak kunjung reda, dan angkot yang mereka tunggu pun belum datang. Jalan pulang Alif dan Kirana memang searah meski berbeda desa. Alif berusaha memecah kebisuan.
__ADS_1
"Sebentar lagi kita ujian, nanti lanjut dimana?" tanya Alif.
"Rencana ke Jogja ato Makassar."
"Jauh ya?" Kirana mengangguk pelan, ragu-ragu ia bersuara.
"Lalu... rencana Alif sendiri, bagaimana?"
"Saya kuliah di sini saja."
Selanjutnya, mereka bercerita banyak hal layaknya teman. Sesekali mereka tertawa ringan. Sore itu, satu kenangan telah tercipta diantara mereka. Kenangan yang akan terpatri begitu dalam di hati terutama untuk Kirana.
Jaket abu-abu milik Alif menjadi saksi bisu bagaimana perjalanan Alif dan Kirana memulai kisah yang akan
menguji hati dan ketulusan mereka menjalani jalan hijrah yang panjang.
__ADS_1
***