
"Tuh kan, Rehan suka sama kakak." Ibu yang melihat bingkisan itu menatap Kirana,
"Rupanya anak gadis ibu sudah membuat seseorang terpikat." Kirana hanya diam.
"Tapi sayangnya yang Kak Kirana suka bukan orang yang ini, bu." sahut Kiara.
"Kirana, punya pacar?" tanya ibu.
"Kirana tak mau pacaran, bu."
"Ibu paham, ibu hanya pesan Kirana tetap baik ke semua teman. Meski suka atau tidak. Kirana sudah
besar, sudah gadis, jaga diri juga perlu."
"Lalu bingkisan ini bagaimana, bu? Apa Kirana kembalikan saja besok di sekolah?"
"Niat baik teman jangan ditolak. Doakan saja agar Allah melindungi teman Kirana ini, berterima kasih juga perlu."Kirana mengerti besok ia akan berterima kasih lagi pada Rehan. Meski Kirana yakin pasti ditolak lagi seperti
kasus buku waktu itu. Ada satu hal yang membuat Kirana penasaran, dari mana Rehan tahu nomor nya? Rehan paling anti sosial di kelas. Tak mungkin ia bertanya ke teman-teman.
Ah, besok ia akan menanyakan hal itu juga ke Rehan. Itu pun kalo Kirana berani.
***
__ADS_1
Sarah mengajak Kirana ke kantin, saat bel istirahat berdering dan guru telah meninggalkan kelas. Kirana yang masih mencatat tugas dari pelajaran tadi meminta Sarah untuk ke kantin terlebih dahulu, dia akan segera menyusul. Kirana telat mengikuti pelajaran tadi karena diminta mengikuti rapat persiapan kegiatan rohis, Alif pun begitu. Namun, sampai sekarang Alif belum datang, mungkin karena ia ketua jadi tanggung jawabnya lebih banyak dan masih banyak yang harus dibahas.
Dari sudut kelas, Rehan memperhatikan Kirana diam-diam. Cewek itu masih sibuk dengan catatannya, ia pasti akan kehilangan waktu istirahat dan tak sempat makan, pikir Rehan. Ia pun beranjak meninggalkan kelas. Bukannya Kirana tak melihat Rehan, tapi ia sudah berencana menyampaikan terima kasihnya untuk bingkisan
semalam waktu pulang nanti. Jadi, Kirana hanya diam.
Kirana terkejut Rehan tiba-tiba menyodorkan beberapa roti dan air mineral untuknya.
"Nih makan, saya gak suka, kelas nanti jadi heboh gara-gara kamu pingsan karna telat makan." ucap Rehan dengan sinisnya.
Bukannya mengambil jajanan itu, Kirana malah menatap dan berusaha memberanikan diri bertanya ke Rehan.
"Rehan, ini semua apa?"
"Makanan." jawab Rehan.
"Kamu keras kepala!" kata Rehan yang segera meninggalkan Kirana. Tapi, Kirana masih sempat menegur Rehan.
"Kita bukan siapa-siapa, Rehan. Jangan kasihan sama saya." Rehan segera berbalik, dengan keras ia berseru.
"Aku gak kasian! Aku suka sama kamu!"
Kirana ketakutan baru kali ini ia melihat ekspresi Rehan seserius itu. Tangisnya pecah, Alif yang baru saja masuk
__ADS_1
ke dalam kelas dan melihat kejadian itu segera bertindak. Alif paham sebaiknya Kirana dibiarkan dulu menangis sampai ia bisa tenang. Yang jadi masalah adalah Rehan. Alif segera mengajak Rehan keluar kelas, ia akan membawa Rehan ke kebun di sudut sekolah. Disana suasananya nyaman untuk berbicara. Meski dalam hati diam-diam ia cemburu Rehan menyatakan perasaannya. Cepat-cepat ia halau perasaan itu dengan istighfar. Ada yang jauh lebih penting.
***
"Gadis itu keras kepala sekali!" seru Rehan kesal begitu sampai di bangku yang tak jauh dari kebun sekolah. Alif maklum.
"Rehan, Kirana beda dengan teman-teman perempuan lain kebanyakan."
"Bedanya apa? Bukannya cewek itu suka kalo diperhatikan?"
"Ia itu fitrah mereka. Tapi, Kirana tidak termasuk. Sebagai sesama anggota Rohis, kita belajar tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan yang bukan mahram."
"Lalu? Apa salahnya dengan menerima perhatian?"
"Simpelnya begini saja, Kirana akan lebih suka diperhatikan oleh laki-laki yang jadi mahramnya, ayahnya, sodaranya atau suaminya kelak. Jika dari orang lain, Kirana mungkin khawatir orang-orang akan salah paham padanya."
"Kau sepertinya sangat mengerti, Kirana. Apa kau juga suka sama dia? "telisik Rehan.
"Tak ada pacaran dalam Islam."
"Aku gak tanya soal pacaran, apa kau juga suka sama dia?" sekali lagi Rehan bertanya.
Alif menghela nafas panjang.
__ADS_1
"Laki-laki baik akan mudah menyukai Kirana." jawab Alif mantap.
***