DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 16 Untuk Masa Depan Kirana


__ADS_3

Kiara menemui ayah di ruang tamu, beliau sedang membaca sebuah kitab Sirah Nabawiyah, Kiara yang memang manja langsung saja meletakkan kepalanya di lengan ayahnya tersebut. Ayah yang melihat tingkah Kiara langsung paham, pasti ada sesuatu yang ingin Kiara bahas. Kiara bingung harus mulai darimana menjelaskan ke ayah masalah yang dihadapi kakaknya. Ia belum bisa mengerti bagaimana seorang perempuan yang baik harus


menerima laki-laki yang datang pertama kali meski yang diinginkan oleh perempuan adalah laki-laki yang datang setelahnya. Bukankah hubungan dua orang bisa lebih baik ke depannya jika saling menyukai? Bukan memaksakan diri menyukai seperti posisi Kirana pada Rehan justru akan berakhir tak baik? Kiara belum bisa memahami itu. Akhirnya ia hanya bisa menanyakan pada ayah,"Kenapa sih kita harus mendahulukan laki-laki yang datang pertama kali kepada kita, meski kita tak suka, Ayah?"


Ayah langsung mahfum yang dimaksud Kiara pasti soal kakaknya. Ayah berusaha memberi penjelasan yang lebih sederhana kepada Kiara.


"Semisal Kiara datang ke sebuah toko lalu menemukan benda yang Kiara mau, Kiara sudah melakukan tawar menawar lalu datang lagi seseorang yang juga menyukai benda yang sama dengan Kiara ia pun mengajukan tawaran yang mungkin lebih menarik dari tawaran Kiara, gimana rasanya? Kurang etis kan?"


"Tapi, Yah, ini kan masalah perasaan, kakak sebenarnya menyukai Kak Alif..."


"Kiara, jangan sampai kecintaan kita terhadap manusia, melebihi ketaatan kita pada Allah. Kirana sedang diuji keikhlasannya, sejauh apa Kirana bisa konsisten dengan prinsip dan pemahamannya terhadap agama. Ia bisa saja sangat menyukai Alif, namun Alif belum tentu yang terbaik untuk Kirana maka Allah mengirim Rehan, atau pun sebaliknya sejauh apapun nanti proses ta'aruf kakakmu dengan Rehan, jika Allah tak memberi jalan, mereka pun tak akan bisa bersama. Allah lebih tahu apa yang terbaik untuk hambaNya."  Kiara hanya bisa menarik nafas dalam-dalam. Ia lalu menatap ayahnya tersebut.

__ADS_1


"Ayah, mengapa mengijinkan kakak menerima proses ta'aruf secepat ini? Ayah gak khawatir dengan masa depan kakak Kirana? "


Ayah tersenyum, lalu mengusap kepala Kiara.


"Ayah lebih ridho kakakmu menikah muda, dibanding ia pacaran, baik buruknya anak-anak ayah yang harus bertanggung jawab adalah ayah kelak. Ayah juga tak akan mengijinkan kakak mu menerima proses itu andai ayah tak mengenal siapa yang mengajukan proses itu. Bagi ayah, seorang pemuda yang berani mengambil


keputusan mengenal gadis dengan cara seperti ini apalagi di usia yang masih sangat muda, sudah pasti memiliki karakter yang istimewa. Sementara banyak yang seusia mereka justru melakukan hal-hal yang dilarang agama."


"Menikah tak akan menghalangi kakakmu menyelesaikan sekolah dan lanjut kuliah, itu semua bisa diajukan sebagai salah satu syarat selama mereka ta'aruf."


hati ia berdoa kelak dapat pendamping seperti ayahnya.

__ADS_1


"Atau jangan-jangan Kiara yang gak rela ditinggal sama Kirana?" Canda ayahnya


dan disambut dengan wajah manyun Kiara.


"Kiara hanya ingin kakak bahagia dengan pilihannya kelak." Senyum Kiara tulus.


"Lagi pula ayah gak akan kehilangan kakakmu, justru akan menambah satu anak laki-laki di rumah ini. Ayah bosan jadi yang paling ganteng sendiri di rumah." Ayah tertawa jayus. Ibu yang sedari tadi mendengar dari ruang keluarga langsung menimpali.


"Bilang aja dari dulu ayah memang pengen anak laki-laki." Mereka bertiga pun tertawa bersama.


"Jadi Kak Alif atau Kak Rehan nih, Yah? "

__ADS_1


"Biarkan kakakmu yang memilih, kita hanya perlu mendukung. Dua anak muda itu sama-sama baik." Tanpa mereka sadari, Kirana menyimak pembicaraan ayah, ibu dan adiknya tersebut. Kirana bersyukur memiliki keluarga seperti itu. Terutama ayahnya, betapa ia sangat menyayangi beliau.


***~~~~


__ADS_2