
Kirana tak habis pikir dengan apa yang terjadi barusan. Untuk pertama kali, Alif menunjukkan emosi. Ia bertanya pada Rehan melalui tatapan bingungnya.
"Aku yang salah." jawab Rehan.
"Hm?"
"Sebaiknya kita bicara disana." kata Rehan sambil menunjuk pada bangku taman samping perpustakaan. Kirana manut, sepertinya ini memang serius.
"Tak ada maksud meragukan Kirana, hanya.. aku selalu merasa bersalah."
"Merasa bersalah untuk?" Rehan menatap Kirana.
"Untuk hubunganmu dan Alif."
"Kami tak pernah ada hubungan apapun, Rehan sudah tau itu." Rehan tersenyum kecut mendengar jawaban Kirana. Ia paham Kirana memang tak memiliki hubungan apapun dengan Alif. Hanya...
"Tapi kalian saling menyukai dalam diam..." lirih Rehan.
Kirana terdengar menghempaskan nafas beratnya. Selama ini ia sudah berusaha menghapus perasaan itu pada Alif agar tak melukai Rehan tapi hari ini bahkan Rehan mengingatkan perasaan itu lagi.
"Jujur, yang paling merasa bersalah saya sendiri, Rehan."
"Tidak, Kirana tak salah. Aku yang masuk ke hubungan kalian."
"Kami tak pernah ada hubungan apapun." sela Kirana.
"Haruskah aku perjelas Kirana? Bahkan Masyita bisa melihat hal itu dari pertama kali melihat kalian."
__ADS_1
"Masyita? Apa yang Masyita tau?"
"Entahlah, tapi dia membuatku yakin, aku yang menghalangi kesempatan dua orang yang saling menyukai." jawab Rehan penuh dengan tekanan.
Lama Kirana mencerna kalimat Rehan. Pelan-pelan ia mengurai masalah yang ia hadapi.
"Rehan, bahkan kamu lebih yakin pada yang dirasakan Masyita dari usahaku melupakan Alif." terdengar sedih. Matanya mulai berair. Rehan tak tahu harus bagaimana tapi ia bingung dengan arah pemikiran Kirana. Mengapa sekarang ia yang terpojok?
"Kirana, bukan seperti itu yang saya mau katakan."
Tapi, kalimat Kirana selanjutnya membuat Rehan makin tak berdaya.
"Mungkin Rehan yang harus memperjelas perasaan sendiri, awalnya Rehan dengan berani melamarku, itu cukup membuatku percaya, memilihmu bukan sesuatu yang salah, lalu aku berusaha melupakan Alif meski tak
mudah tapi aku pun berusaha yakin padamu. Namun sekarang...penilaian Masyita bisa membuatmu ragu. Apa mungkin Masyita menyukaimu, Rehan?" tanya Kirana dengan tangis yang suara penuh tekanan.
"Tidak, Kirana." sela Rehan.
"Jika memang itu kenyataannya, yang harus merasa bersalah itu aku, Rehan." Suara Kirana terdengar lirih.
Rehan melihat air mata Kirana mengalir. Ingin sekali menghapus dan mendekap Kirana untuk menenangkan gadis itu tapi ia pun paham belum waktunya.
"Kirana..." panggil Rehan.
Ia menatap wajah sembap gadis itu.
"Aku tak pernah meragukanmu...disini hanya ada aku yang takut tak mendapatkan hatimu."
__ADS_1
***
Masyita duduk di teras belakang rumah Rehan, ia menemani tantenya melipat jemuran lalu merapikannya. Tangannya cekatan menyusun liputan pakaian itu berdasarkan pemiliknya. Mama Rehan memperhatikan gerak-gerik Masyita, anak ini telah tumbuh menjadi gadis cantik, beliau juga senang melihat Masyita yang rajin beribadah.
"Andai Rehan belum bertemu Kirana, tante pun setuju dengan Masyita."
Masyita yang mendengar itu hanya tersenyum kecil. Ia tahu tante Rina hanya bercanda.
"Masyita punya pacar?" tante Rina kembali bertanya.
"Masyita tak pacaran, tante. Mau ta'aruf saja nanti."
"Masyita gak takut menikah dengan orang yang hanya kenal melalui ta'aruf?"
"InsyaAllah, tidak tante. Tentu sebelum ta'aruf Masyita bisa mencari tahu dulu dengan siapa Masyita akan berkenalan."
"Padahal jika dengan Rehan tak perlu ta'aruf lagi ya, sudah kenal dari kecil."
"Rehan dan Kirana pun ta'aruf, tante dan pada akhirnya mereka akan menikah."
"Iya, awalnya tante kaget juga, sebelumnya Rehan tidak pernah bercerita apapun soal gadis yang disukainya, lalu tiba-tiba ia meminta untuk melamar Kirana. Sejak ayah dan adiknya meninggal, Rehan menutup diri. Tante pikir gadis ini pasti istimewa bisa membuat Rehan melamarnya."
"Iya, tante. Kirana memang istimewa. Masyita sudah pernah bertemu dengannya." kata Masyita meski pikirannya beralih ke catatan Kirana.
"Masyita pun istimewa." ucap tante Rina.
Tapi tak cukup istimewa untuk Rehan, tante, bisik hati Masyita.
__ADS_1
***