
Alif menatap nanar pada sebuah foto yang tampil di layar hapenya. Sebuah gambar yang ia dapati di beranda sosial media yang telah berbulan-bulan tak ia buka. Seorang gadis berdiri menatap jalan panjang di depan Candi Borobudur.
“Apa kabar?” Bisiknya lirih.
Tangannya terkepal. Rasa bersalah dan menyesal begitu menyelimutinya. Ia merasa menjadi pecundang begitu mengetahui akhir kisah Kirana dan Rehan. Ia mengakui betapa pengecut dirinya. Secara tak langsung, ia membiarkan Kirana melalui itu sendiri karenanya. Alif tak menyangka jika Kirana memilih melepaskan Rehan. Pun tak menyangka pada akhirnya Masyitalah yang mendampingi Rehan dan Kirana memilih pergi. Alif juga tak menyalahkan siapapun yang tak mengabari kisah itu padanya. Ini semua salah Alif sendiri yang terlanjur menutup dirinya dari kabar apapun yang berhubungan dengan Rehan dan Kirana. hingga ia terlambat seperti dulu ia selalu
terlambat mendapatkan kesempatan bersama Kirana.
“Kirana, sejak dulu, aku selalu terlambat menyadari semua hal tentangmu. Kini kamu semakin jauh. Semakin tak terjangkau. Aku sadar, tak mudah menemui gadis sepertimu lagi, Kirana. Ini hukuman yang berat untukku. Tapi, aku berharap masih bisa menemuimu satu hari nanti ketika aku sudah menjadi pribadi yang lebih baik dan lebih pantas untukmu.” Harap Alif dalam hatinya.
***
Kirana berdiri di puncak Candi Borobudur, menyaksikan pemandangan yang terhampar di depan dan menatap lekat pada jalan yang ia lalui tadi sesaat sebelum menapaki anak-anak tangga candi yang megah ini. Ia seperti kembali menyaksikan bayangan masa-masa yang telah ia lewati sebelum akhirnya berada di posisinya sekarang.
Sejauh ini, ia harus mengakui sosok Alif masih saja terus bersemayam dalam hatinya. Ia menyadari desiran
asing yang dulu ia rasakan belum pupus. Meski ia berkali-kali melawan segala rasa, memendam sekuat tenaga dan menolak itu semua. Pada akhirnya, hati Kirana kembali berdetak menyebut nama pemuda itu. Satu waktu ia mendapat kabar tentang keberadaan Alif.
Namun sekali lagi, Kirana memendam rasa yang ia miliki. Ia memilih untuk mendekap desiran hatinya. Mungkin ini
memang buka saat yang tepat untuknya bersama Alif. Mungkin tuhan masih ingin memberikan kesempatan untuk memperbaiki diri sebelum akhirnya mereka dipertemukan lagi atau tidak sama sekali.
Kirana memilih mengikhlaskan kisah hatinya luruh bersama angin di puncak Candi Borobudur. Matanya kembali
menatap jauh pada langit senja.
__ADS_1
“Alif, aku mengakui asa ini masih berdetak menyebut namamu meski sempat ingin menggantimu dengan kehadiran
Rehan. Akan tetapi, hari ini aku memutuskan melepaskan segalanya. Kita semakin jauh bukan tak mungkin untuk bertemu lagi. Hanya saja, sampai saat itu tiba aku memilih untuk tak merasakan hal yang sama karena aku hanya ingin meletakkan desiran asing itu tertuju pada bukan sembarang hati. Entah itu hatimu atau hati orang lain. Biarkan waktu yang menuntaskan kisah ini. Semoga kau pun memilih begitu.” Harap Kirana, lirih.
*Blitz,*
Sebuah kilatan flash kamera terlihat sekilas menyadarkan lamunan Kirana. Seorang teman mengambil fotonya saat ia terdiam dan menunjukkan hasilnya pada Kirana.
“Aku tag kamu di facebook ya?” Pinta teman Kirana.
Kirana mengangguk menyetujui.Tak lama kemudian foto itu tampil di halaman akun Facebooknya. Kirana tertegun
saat menyadari sebuah status berisi puisi tertera di berandanya.
Lamunanku basah
Menguak ingatan tentangmu
Kala bumi lelap dalam dekapan hujan
Menyeretku ke dimensi memori
Menyusuri rekam jejak kita
Pada waktu yg terlampaui
__ADS_1
Dingin menyayat kulit
Gerimis masih mnggores pelupuk malam
Menyadarkanku akan langkah yg semakin jauh
Pada laluan yg kita pilih masing-masing
Jalanmu dan jalanku tak sama
Selamanya tak searah
Dan aku masih bertahan dalam petualangan ini
Tuhan memberiku segenggam harapan setiap pagi
Itu mungkin takkan habis
Hingga tujuanku kutemukan
“Ternyata kau pun memilih hal yang sama.” Gumam Kirana. Ia yakin puisi itu untuknya sesaat setelah melihat nama akun pemilik puisi tersebut, Alif Ahmad Bachtiar.
Satu senyum tersungging di wajah. Ia segera menyimpan smartphone ke dalam ransel dan menggandeng tangan Dian\, teman yang menemaninya sore itu. Sekali lagi ia menoleh ke puncak Borobudur sebelum langkah membawanya semakin jauh. “Selamat tinggal\, masa lalu!” Bisik Kirana yakin.***
*Puisi dari seorang teman
__ADS_1