
Alif duduk di bangku terminal yang ramai menunggu kedatangan Kakek Hasan. Sepekan lebih kakek ke kota untuk satu urusan sekaligus mengunjungi orang tua dan adik Alif disana. Sesekali ia melirik jam di tangannya, seharusnya kakek tiba setengah jam lagi, pikir Alif.
Alif memperhatikan tiap bus yang datang dan menurunkan penumpangnya di terminal tersebut. Alif senang memperhatikan para penumpang tersebut, gaya mereka mengesankan 'kehidupan kota'. Apa sebaiknya ia melanjutkan hidup di kota saja setelah lulus sekolah? Mungkin ia bisa mendapatkan pengalaman yang lebih
banyak lagi dan mungkin kesibukan di kota akan membuat ia bisa melupakan Kirana. Tapi sedetik kemudian ia meralat sendiri pikirannya, Alif tak ingin meninggalkan kakek sendirian.
Untuk masalah Kirana, agak lama Alif berpikir. Alif pasrah, saat ini mungkin ia belum bisa melupakan Kirana, mungkin satu saat nanti.
"Maaf,boleh pinjam hape?" Seseorang menegur Alif. Spontan Alif merogoh saku jaket mencari hape miliknya.
"Saya mau menelepon keluarga, pulsanya habis, gak ada penjual pulsa sekitar sini."
__ADS_1
Alif melihat ke arah perempuan yang terlihat bingung di depannya itu. Ia memegang sebuah koper berukuran sedang dan memakai ransel. Mungkin seorang mahasiswa yang sedang berlibur, pikir Alif.
Alif mengulurkan hape miliknya. Perempuan itu meminta maaf sebelum meraih hape tersebut. Ia terlihat canggung tapi tak ada pilihan lain. Ia harus menghubungi keluarganya.
Sesaat kemudian perempuan itu mengembalikan hape Alif dan mengucapkan terima kasih. Ia menelungkupkan tangan di depan dadanya. Alif teringat Kirana pun sering bersikap seperti itu saat mengucapkan terima kasih. Ia pamit memilih tempat duduk yang agak sepi di terminal itu. Alif paham, perempuan itu pasti sudah tertarbiyah dengan baik. Makanya memilih tempat duduk yang jauh dari ikhtilat.
Alif memperhatikan hape di tangannya, benar dugaan Alif, terdengar dari pembicaraan perempuan itu saat menelepon tadi, ia sedang berlibur dan sedang menanti keluarga untuk menjemputnya di terminal tersebut. Alif luput memperhatikan nomor yang dihubungi gadis tadi ternyata seseorang yang ia kenal.
***
dan memakai semua barang Rehan, pakaian pun seperti anak lelaki pada umumnya, rambutnya tak pernah panjang persis anak laki-laki. Sedang Rehan terheran-heran menatapnya, gadis itu justru manyun menahan kesal mengingat Rehan, saudara sepupunya membiarkan ia menunggu lama di terminal. Gadis yang berubah anggun versi Rehan itu bernama, Masyita.
__ADS_1
***
Alif duduk di ruang tamu sambil mencari nomor kontak ibunya, ia ingin menelepon dan memberitahu
jika Kakek sudah sampai di rumah. Akan tetapi, ia heran melihat daftar panggilan keluar ada nama Rehan disitu. Kapan ia menelepon Rehan? Alif melihat waktu panggilan tersebut. 10.17? Alif ada di terminal di jam itu. Alif ingat perempuan yang tadi meminjam hapenya... menelepon Rehan!
Siapa dia?Apa hubungannya dengan Rehan? Mengapa penampilannya mengingatkan Alif pada Kirana? Kenapa dunia Alif selalu berhubungan dengan Rehan? Takdir kah? Kepalanya dipenuhi banyak pertanyaan tapi Alif segera
mengabaikan pertanyaan-pertanyaan itu. Ia ingin menelepon ibunya, mendengar suara ibu, ayah dan adiknya. Tiba-tiba Alif begitu merindukan mereka, rindu bercengkrama dan berbagi cerita. Alif menghela nafas sedih, Alif butuh
kehadiran keluarga untuk menghibur hatinya yang masih berkabut.
__ADS_1
***