
Masyita duduk di teras rumah Rehan, ia masih memikirkan pertemuannya dengan Kirana siang tadi. Masyita masih mengingat bagaimana Alif menatap dan memperhatikan Kirana. Ia juga merasakan bagaimana canggungnya
Kirana pada Alif. Ditambah kalimat Kiara...
"Mereka terlihat serasi tapi tak ditakdirkan bersama."
Rehan, apa yang kamu lakukan pada mereka?
***
"So, menurutmu Kirana..." Rehan ingin menanyakan pendapat Masyita tentang Kirana.
"Cantik, aku suka dengan kesederhanaannya."
"Hanya itu?" desak Rehan.
Masyita agak lama berpikir, lalu...
"Rey, apa kamu yakin dengan ini semua?"
"Maksudnya, kamu meragukan perasaanku pada Kirana?"
"Tidak, aku tak meragukanmu... " Masyita memandang ke depan seperti menerawang...
"Hanya...Kirana dan Alif...mereka..." kalimat Masyita terpotong.
"Mereka saling menyukai namun aku ada di antaranya..." lanjut Rehan.
Masyita menatap tak nyaman pada sepupunya itu.
"Bahkan kau pun merasakan hal itu." jelas Rehan.
"Alif Ahmad Bachtiar?"
__ADS_1
"Ya, laki-laki yang menolongmu di terminal itu, itu yang pertama untuk Kirana..."
Selanjutnya Rehan menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Bahwa ia tak tahu jika Kirana telah menyukai Alif dari dulu sebelum ia melamarnya. Yang ia tahu saat itu Alif pun mengajukan ta'aruf dengan Kirana.
Masyita paham sekarang. Ia pun mengerti posisi Rehan saat ini, namun ia juga kasihan dengan Kirana dan Alif.
Mereka orang-orang baik bagi Masyita.
"Rey, kau tahu Kirana menyukai Alif dan Alif pun begitu.Mengapa kau tak memberi mereka kesempatan?"
Rehan menatap Masyita tak percaya.
"Aku hanya tak ingin Kirana merasa terpaksa menikah denganmu hanya karna kamu yang pertama melamarnya, dan sebaliknya, aku tak mau pada akhirnya kamulah yang akan berkorban lebih banyak agar bisa menggantikan
posisi Alif di hati Kirana dan kamu sendiri tak yakin sanggup melakukan itu semua." jelas Masyita. Rehan tak sanggup membalas kalimat Masyita. Ia hanya mampu memandangi punggung sepupunya tersebut berlalu.
Masyita tiba-tiba berhenti...
***
Kirana sibuk mencari sesuatu di meja belajarnya lalu memeriksa ke dalam tas sekolah. Tak berapa lama ia juga mencari di bawah meja dan sekitar tempat tidurnya. Ia berusaha mengingat...
"Bukankah Rehan belum mengembalikan buku catatanku?"
***
Rehan memikirkan perkataan Masyita tentang Alif dan Kirana. Masyita baru saja mengenal kedua orang itu, ia bahkan bisa merasakan hubungan antara Alif dan Kirana.
"Sedalam itukah hubungan mereka? Apakah itu arti dari airmata Kirana waktu bertemu Alif? Salahkan aku
mengharapkan Kirana? Mengapa aku jadi sebimbang ini? karena perkataan Masyitakah atau aku yang sebenarnya egois?" Rehan kesal sendiri dengan dirinya ia memutuskan menemui Pak Arif dan menyampaikan masalahnya.
***
__ADS_1
"Jadi sekarang kamu ragu?" tanya Pak Arif. Rehan diam sesaat, lalu...
"Aku tak yakin jika Kirana bahagia dengan ini, dengan rencana pernikahan ini. Itu yang selalu menggangguku."
"Apalagi mendengar pendapat Masyita yang baru mengenal mereka, Masyita bisa melihat hubungan mereka yang
sebenarnya." lanjut Rehan.
"Masyita bertemu dengan mereka?" tanya Pak Arif.
Rehan menjelaskan bagaimana pertemuan Alif dan Masyita lalu perkenalannya dengan Kirana.
Pak Arif mengangguk mengerti, ia memikirkan Masyita. Mungkinkah Masyita menyukai Rehan? Tiba-tiba pertanyaan itu muncul sendiri di benak Pak Arif mengingat bagaimana perdulinya Masyita tentang
Kirana tetapi ini akan jadi lebih rumit jika seperti itu kenyataannya. Pak Arif segera menghalau pertanyaan
itu. Rehan akan semakin bingung jika ia mengatakan kemungkinan Masyita menyukai Rehan. Sedang Masyita di kamar mendengar percakapan mereka. Sebenarnya ia merasa bersalah telah mengatakan banyak hal pada Rehan tentang Alif dan Kirana. Namun, Masyita tak mau sepupunya hidup dengan orang yang justru hatinya terpaut
ke orang lain.
Bukan ia tak menyukai Kirana, hanya saja Kirana bukan tipe yang bisa mengungkapkan perasaannya, ia yakin gadis itu juga sedih dengan keadaan ini. Masyita tahu Kirana pasti sedang berusaha keras untuk melupakan Alif juga dan itu tak mudah. Bisa jadi ia menerima Rehan karena ingin menghilangkan Alif dari hati dan pikirannya. Kalau itu benar, ini sangat tak adil untuk Rehan.
Bagaimana Masyita bisa seyakin itu? Masyita meraih buku catatan Kirana yang masih ada padanya lalu membuka lembar tertentu.
Siang itu ketika angan-angan untuk bisa bersamanya menguasaiku, di tepi sungai yang tenang, setenang harapanku tentangnya. Ia, laki-laki yang selalu aku sukai dalam diam, yang aku sebut dalam doa, justru memintaku menerima Rehan...untuk pertama kalinya aku bertanya, patah hati, sesakit ini kah? Aku sadar, aku menyukai orang yang tak pernah menyukaiku.
Masyita memeluk buku Kirana, ia lalu menutup matanya, ia bisa merasakan perasaan Kirana pada tulisan itu. Bagaimana sakitnya, bagaimana hancurnya, ketika harapan tak berwujud ketika cinta tak menemukan jalannya.
Patah hati... Masyita mengenal emosi satu ini.
Emosi yang sama yang dialami Masyita ketika ia tahu Rehan akan menikah!
***
__ADS_1