DESIRAN ASING

DESIRAN ASING
Episode 26 Melupakan


__ADS_3

Alif menerima telpon dari orang tuanya. Mereka menanyakan kemungkinan Alif untuk kuliah di kota saja dan tinggal bersama mereka. Alif hanya mendengar meski sesekali tersenyum. Sayup dia mendengar suara adiknya yang meminta Alif untuk segera ke kota, ia berjanji akan menemani Alif jalan-jalan.


"Alif, bagaimana kabar gadis itu?" tiba-tiba ibu bertanya.


Alif mengerti yang dimaksud ibunya adalah Kirana, gadis satu-satunya ia ceritakan ke keluarga.


"Kirana baik, bu."


"Sayang ibu belum sempat mengenalnya, padahal ibu penasaran seperti apa gadis yang sudah memikat anak sulung ibu." canda ibu. Alif hanya tersenyum tipis.


"Bukan jodoh..." Alif menggumam meski demikian ibu Alif masih mendengarnya.


"Alif masih kecewa?"


Alif lagi-lagi tersenyum.


"InsyaAllah, Alif belajar ikhlas bu.


Kirana gadis yang baik, mungkin Alif yang belum pantas untuk dia." Selanjutnya ibu banyak menasihati Alif


agar Alif tidak menyerah dan putus asa dari ketetapan Allah. Bisa jadi Allah masih memberi Alif kesempatan untuk memperbaiki diri, untuk belajar lebih banyak lagi, nanti jika telah datang waktunya ia akan pun akan bertemu dengan orang yang tepat. Tak lama kemudian Alif menutup telpon setelah ia meminta agar kedua orang tua nya selalu mendoakan Alif dan Kakek.


***


"Sebaiknya Alif lanjutkan sekolah ke kota." Alif duduk di samping kakeknya, lalu memijat lengan dan kaki beliau.


"Kita sudah pernah membahas ini, Ato"


"Alif tak usah mencemaskan ato, masih ada sepupumu yang lain yang bisa menemani ato' disini."


Alif tak memberi jawaban ia justru membayangkan bagaimana jika benar-benar kuliah di kota. Rutinitas nya akan berubah, lingkungannya pun berbeda, ia tak akan lagi menemani kakeknya di sawah, memancing di sungai,


bercengkrama dengan teman-temannya selepas sholat isya, dan... ia tak akan melihat Kirana lagi.


"Ingat Kirana?"


 Alif tersadar dari lamunannya dan tersenyum malu pada Kakek.


"Melupakan itu memang tak mudah ya, Ato'" kata Alif mengaku.


"Padahal Alif sudah berusaha untuk mengikhlaskan dia bersama Rehan."


"Alif juga sudah berjanji untuk mendukung mereka."


Kakek Hasan mengerti posisi Alif.

__ADS_1


"Anggap saja ini ujian untuk keikhlasan Alif. Allah tidak akan langsung memberi keikhlasan pada hati Alif ketika kamu meminta itu, bisa jadi dengan sulitnya Alif melupakan Kirana menjadi jalan buat Alif untuk mengerti dan memahami arti ikhlas itu sendiri. Sama halnya ketika Alif meminta kesabaran, bisa jadi Allah justru menimpahkan


ujian cobaan agar Alif belajar sabar melalui ujian tersebut."


"Eh, bahas Kirana, ato' teringat gadis di sungai waktu itu."


"Maksud Ato' Masyita?"


"Ato' agak heran dengan anak itu"


"Kenapa, Ato'"


"Entahlah, tapi waktu di sungai, gadis itu tak berhenti menatap Alif dan Kirana...terutama pada Kirana."


Alif heran bagaimana kakeknya bisa tahu.


"Mungkin karena ia memang ingin berkenalan dengan Kirana." Jawab Alif.


"Rasanya bukan itu saja" balas Ato.


Alif makin bingung, lalu apa...


"Apa mungkin gadis itu menyukai Rehan? Menyukai sepupunya? "


"Bagaimana bisa, ato?"


Sebenarnya Alif masih tak mengerti maksud kakek, namun firasatnya mengatakan hal lain.


"Mungkinkah Masyita tahu sesuatu?"


***


Kirana duduk di depan perpustakaan sambil memperhatikan teman-teman kelasnya berlatih Volly, beberapa diantaranya bermain sepak takraw. Teriakan dan sorak sorai siswa-siswa yang mencetak poin menghibur Kirana, sesekali ia tersenyum dan menyemangati mereka. Sedang dari arah kantin Rehan dan Alif terlihat duduk bersama. Mereka terlihat kelelahan baru saja dua anak itu menyelesaikan 3 set permainan badminton. Alif memenangkan duel itu meski skornya beda tipis. "Dalam hal olahraga pun aku kalah darimu, Alif."


Alif mengernyitkan keningnya tanda tak mengerti maksud Rehan.


"Memangnya dalam hal apa saja saya menang?"


"Banyak."


"What!" Alif tersenyum pasti Rehan bercanda pikirnya.


"Liat ke sana" tunjuk Rehan.


Alif mengikuti arah pandangan Rehan dan mendapati Kirana di sana. Alif langsung mengerti.

__ADS_1


"Untuk mendapatkan perhatiannya pun tak mudah meski aku sudah melamarnya."


"Rehan, apa kau tak salah menceritakan ini? Padaku?" Rehan melihat ke arah Alif sebentar lalu kembali mengalihkan pandangannya ke Kirana.


"Satu-satunya teman yang aku percaya, kamu Alif. Atau kamu terganggu?"


"Rehan ini bukan soal terganggu atau tidak, walau bagaimanapun, aku pernah menyukai Kirana dan Rehan tau pasti aku tidak akan mengganggu kalian. Aku, ah, entahlah, bagaimana menjelaskan ini." Alif terlihat frustrasi bagaimana meyakinkan Rehan.


"Aku merasa bersalah!" sahut Rehan.


"Bahkan Masyita yang baru mengenal kalian bisa merasakan hubunganmu dan Kirana."


Alif terkejut dengan sikap Rehan.


"Masyita?" Alif mengingat percakapannya dengan Kakek.


"Ada apa dengan Masyita? Apa Rehan menceritakan semuanya?"


"Kalau pun saya cerita, tak mungkin kan Masyita bisa langsung mengetahuinya hanya dengan sekali bertemu kalian."


"Rehan, apa sekarang kamu ragu?"


"Aku gak ragu... aku merasa bersalah!"


Alif berdiri dia mulai kesal dengan Rehan padahal dia sudah menjelaskan sebelumnya bahwa ia tak akan mengganggu.


"Rehan, lebih baik kamu ikut saya."


"Kemana?"


Alif tak menjawab dia terus melangkah Rehan pun mengikuti Alif, tak lama mereka sudah berdiri di samping Kirana.


Kirana yang menyadari keberadaan dua anak muda itu, terkejut.


"Kirana, di hadapan kalian aku berjanji tak akan pernah mengganggu kalian, tak mengacaukan rencana pernikahan kalian nanti. Berbahagialah." Kirana tak habis pikir ada apa ini?


"Alif, bukan ini yang saya maksud!" seru Rehan.


Tapi Alif justru berlalu dari hadapan mereka tanpa memberi kesempatan Kirana


mengatakan apapun. Alif melangkah semakin jauh, tangannya terkepal menahan emosinya.


"Rehan, bagaimana bisa kamu seperti ini, kamu sudah mendapatkan Kirana tapi sekarangseolah kamu ragu! Kamu tak tahu sulitnya saya berusaha merelakan kalian!"


Alif bergerak ke arah musholla sekolah ia ingin membasuh wajahnya, membasuh amarahnya dengan wudhu. Ia ingin mengadu lagi pada tuhannya. Mengadu pada Allah untuk segala rasa tak berdaya dan emosinya.

__ADS_1


Alif sadar dibalik emosinya ia masih…masih sangat menyukai gadis itu.


***


__ADS_2