
Januari 2006,
Restoran itu lumayan luks. Padahal menu yang disajikan masakan tradisional
Indonesia. Ada nasi goreng, sate, es teler, es cendol, hingga jajanan pasar seperti siomay pun ada. Restoran ini sungguh memanjakan lidah penikmat masakan Indonesia, terlebih kaum ekspatriat. Mereka tak perlu berpanas-panasan dan pastinya higienitas masakannya terjamin.
Sebab koki yang dipekerjakan memang koki berkelas, walaupun tak sekelas koki-koki di
restoran yang ada di hotel bintang lima.
Hari ini hari selasa. Restoran itu agak sepi. Apalagi jam telah berkata waktu sudah
pukul dua belas siang tepat. Hanya ada beberapa pengunjung yang menyambangi, salah satunya dua orang paruh baya. Yang satu memiliki kumis lumayan lebat, satunya lagi berkepala plontos di tengah-tengah. Mereka sedang memperbincangkan sesuatu.
“Kau tak ada niat untuk cari pekerjaan di Indonesia?” tanya yang berkumis basa-basi.
Namanya Hendrikus.
Yang berkepala plontos di tengah nyengir, Pak Sulis. Logatnya sudah seperti orang
Amerika. “Nanti saja-lah, lagipula aku juga masih punya beberapa project di negara ini.
Mungkin untuk sementara aku akan berwirausaha dulu.”
Pak Hendrikus berjengit.
“Oh iya, bagaimana kabar anak kau?” tanya Pak Sulis yang menyeruput kopi luwaknya. “Itu, yang nomor dua itu maksudku. Anak kau ada dua orang kan?”
__ADS_1
Mengangguk, nyengir. “Oh, yang itu. Yah, sekarang dia duduk di kelas satu. Sama
seperti anak kau itu.”
Pak Sulis terkekeh.
Ganti Pak Hendrikus tergelak dan mengocok-ngocok perutnya yang keroncongan;
lama sekali pesanan mereka diantar. “Dan kau masih berpikir anak kita sudah ditakdirkan
berjodoh yah?”
Pak Sulis terkekeh dan menganggukan kepala beberapa kali. “Iya, aku yakin sekali
itu. Bagaimana tidak, selain kita yang sahabat sejak kecil, lalu istri kita juga sealmamater,
kebetulan.” Ia menggeleng mantap. “Aku yakin, segala fakta itu memang bukti mereka
memang berjodoh. Aku berharap, perjanjian perjodohan yang kita rancang saat anak kita
masih orok itu bisa terlaksana.”
Pak Hendrikus hanya terkekeh, rada segan untuk mendebat sahabatnya; apalagi dalam
hatinya, ia juga membenarkan segala fakta yang tak boleh diabaikan begitu saja.
“Aku bahkan sudah mempersiapkan hunian, kalau kelak mereka menikah. Di daerah
__ADS_1
Bogor. Aku membelinya saat anak itu masih seorang murid TK. Nanti kuajak kau ke sana.”
Pak Hendrikus terkekeh lagi. “Kau ini serius sekali dengan perjodohan ini. Aku saja
tak yakin perjodohan ini bisa berjalan mulus.”
Pak Sulis terbawa suasana untuk tergelak. “Dalam melakukan sesuatu, mana mungkin
awalnya mulus-mulus saja. Mungkin saat kita memberitahukan mereka berdua soal
perjodohan ini, yah aku yakin juga – mereka akan menolak. Kemungkinannya seperti itu, tapi kelak mereka akan sadar dan malah menyetujui konsep perjodohan ini.”
“Amin, semoga saja seperti itu. Jujur saja aku sepertinya tidak tega memaksakan mereka berdua dalam rencana perjodohan ini. Apalagi jaman Siti Nurbaya sudah lama berlalu dan kedua orangtua mereka juga menikah bukan karena perjodohan. Kenapa tidak biarkan saja mereka bertemu sendiri? Kalau mereka memang berjodoh, pasti suatu saat akan bertemu dan jatuh cinta sendiri, bukan?” ujar Pak Hendrikus yang tampak was-was dan juga dipenuhi rasa bersalah. Yah walau ia pun menerbitkan sebuah cengiran lebar.
Pak Sulis menepuk pundak temannya itu. “Sudah-lah, Kawan, jangan khawatir begitu.
Percaya saja denganku, kalau rencana perjodohan ini akan sukses besar. Lagipula sudah lama sekali aku memimpikan bisa punya besan yang merupakan sahabatku sejak kecil. Mungkin dengan fakta bahwa mereka berdua lahir di tahun yang sama itu, Tuhan akan telah mengabulkan doaku.”
Pak Hendrikus mengerjapkan mata. Ia mengangguk mengiyakan. “Aku yakin sekali, mereka memang sudah dijodohkan, bahkan sebelum mereka lahir.
Dan perjanjian perjodohan ini hanyalah sebagai media belaka untuk mengantarkan mereka ke sana.”
Saat ia selesai berkata, pesanan pun diantar ke meja persegi panjang yang mereka
tempati. Rencana berikutnya soal perjodohan itu terpaksa ditunda dulu demi membiarkan
perut mereka yang sudah berbunyi.
__ADS_1