
Puerto Rico merupakan sebuah negara tropis. Sama seperti Indonesia, negara itu
hanya memiliki dua musim. Saat Diaz, dkk datang, cuacanya begitu hangat. Sebelumnya, kota San Juan sudah diguyur hujan selama dua bulan terakhir (Musim hujan di Puerto Rico berlangsung antara bulan April dan November). Desember ini, matahari menyelimuti negeri tersebut.
Benar apa yang dikatakan Caio. Rumah Bosco tak jauh. Dengan menggunakan Ford
minibus yang disetir oleh Pedro, anak sulung Caio, Diaz, dkk telah tiba di kediaman Bosco.
Bosco tinggal tak jauh dari Fort San Felipe del Morro, sebuah benteng pertahanan yang
dibangun pada abad keenambelas.
Martin begitu terkesima menyaksikan pemandangan indah yang kali pertama ini
dilihat. Baru kali ini ia merasakan melihat sebuah benteng bersejarah dari sebuah lokasi yang lebih rendah dari bentengnya. Itu bagaikan makhluk kerdil yang tengah menatap raksasa.
“Nggak sia-sia gue ke sini,” desah Martin sembari sibuk mengabadikan pemandangan
indah yang mungkin tak akan pernah dilihatnya lagi.
“Untung kita datang ke sini pas lagi musim panas yah. Angin sepoi-sepoinya lebih
luar biasa ketimbang yang ada di Bali.” timpal Agatha yang menengadahkan kepalanya,
menatap langit. “Apalagi kalau lu ke pantai Dorado, Bang. Kita bagaikan lagi berada di
surga.”
“Ah ini juga masih kalah kok, sama waktu gue ke Copacabana tiga tahun lalu.” Tiara
tak mau kalah. Dari dulu, gadis ini selalu antipati dengan Maria dan adiknya.
Martin cengar-cengir. Ia lebih memilih untuk terus memotret dan memotret dengan
menggunakan kamera ponselnya. Ah andai saja ia tahu akan ada pemandangan
semenakjubkan ini indahnya di Puerto Rico, tentu ia akan membawa kamera SLR miliknya.
Rumah Bosco tak jauh berbeda dengan kebanyakan rumah di Puerto Rico.
Kebanyakan rumah di Puerto Rico tak jauh berbeda dengan rumah-rumah ala Amerika Latin atau Meksiko. Tidak beratap runcing seperti yang ada di Indonesia. Dilengkapi banyak pintu dan jendela, sehingga penghuninya tak merasa kepanasan. Dan Bosco merupakan salah satu dari ke sekian warga San Juan yang beruntung bisa memiliki rumah dengan lokasi paling
strategis di dunia.
Bayangkan saja. Tiap Bosco keluar rumah, pria yang kini sudah membukakan pintu
rumah itu sudah disambut oleh lanskap yang luar biasa. Ia sudah disuguhi oleh pemandangan bangunan paling bersejarah di negara yang dipimpin oleh seorang gubernur bernama Alejandro Garcia Padilla, pula mendengar deburan ombak yang begitu menggebu-gebu.
“Bienvenido – selamat datang!” seru Bosco, seorang pria yang sepertinya berusia
nyaris sebaya dengan Caio, namun lebih muda lagi. Sorot mata begitu berbinar saat melihat
Serena lagi. “¿Quė pasa–ada apa, Serena?”
“La buena noticia--kabar baik.” balas Serena tersenyum. “Kami ada perlu dengan
anda.”
“Perlu apa?” Masih sambil tersenyum, Bosco beralih menatap Pedro. “Hei, Pedro.
Tak menyangka kau sudah besar sekarang. Hampir setinggi aku sekarang.”
Pedro terkekeh. “Ini akibat dari permainan bola basket yang dulu kau pernah ajarkan.
__ADS_1
Sekarang aku sudah mahir, dan timku sudah berhasil menggondol piala.”
“Felicidades–selamat!” Bosco dan Pedro saling menepuk tangan.
“Oh ya, ayo masuk,” Bosco baru mempersilakan mereka semua masuk ke
kediamannya yang kecil tapi nyaman.
Alamak, Diaz melotot. Penampilan dalam rumah Bosco sungguh membuat mengernyitkan dahi. Ini sungguh tak masuk akal. Begitu sederhananya. Malah jauh lebih
sederhana ketimbang rumah Caio tadi. Hanya ada satu-dua sofa yang cukup bisa diduduki
enam orang, meja makan beserta empat buah kursi, televisi lawas dengan layar 4 inchi, dan
dua buah bufet. Hanya itu yang ada di ruang tengah. Berbeda dengan rumah Caio, tak ada
pigura yang terpajang di dinding. Apa jangan-jangan di lantai atas juga sama sederhana? Atau malah kosong melompom.
“Biasa aja, Yas.” bisik Martin. “Jangan norak gitu ah.”
“Gue takjub aja, Tin. Nggak nyangka aja, rumahnya ini begitu sederhana gini.” desis
Diaz yang sesekali melirik Bosco yang masih menyimpulkan sebuah senyuman ramah.
“Kampungan lu ah!” Martin terkekeh. “Jangan-jangan lu berpikir–semua rumah di
luar negeri itu mewah semua lagi?! Nggak kayak gitu, Adikku tersayang. Cetek ah kalau lu mikirnya gitu.”
“Sialan.” rengut Diaz. “Bukan gitu maksud gue, Tin. Buktinya gue juga nggak kelihatan norak pas di rumah Caio. Gue juga nggak begitu terkesima melihat permukiman
penduduk San Juan.”
“Terus?” goda Martin nyengir.
Baru saja Diaz akan menimpali, Bosco menyela. Dalam bahasa Inggris. Katanya:
Diaz dan Martin segera beringsut ke arah Bosco, mengambil bangku untuk diduduki.
Diaz melihat bahwa semuanya sudah duduk. Semuanya – selain kakak beradik itu – sudah
duduk dan menatapi Bosco dengan intens. Tampak Serena mulai berkata-kata dalam bahasa yang tidak dimengerti, bahkan oleh Agatha maupun oleh Pedro.
“Itu bahasa suku Atlantis, dan Bosco–sama seperti Serena–merupakan warga
Atlantis. Dan mungkin Serena tengah menceritakan segala apa yang terjadi kepada Bosco.” kata Pedro dalam bahasa Spanyol, yang kemudian diteruskan lagi oleh Agatha kepada Diaz dan Martin.
Bosco berjengit. “Jadi begitu duduk permasalahannya,” Kali ini, ia berbicara dalam bahasa Spanyol. “Ternyata mereka masih mengincarnya.”
“Mengincar apa?” Diaz dan Martin berbicara nyaris bersamaan. Nyaris bersamaan
pula dengan Agatha yang berujar dalam bahasa Spanyol.
“Sebetulnya itu bukan urusan kalian juga,” Ia terkekeh. “Tapi karena kalian sudah
terseret, mungkin sudah sepatutnya kalian tahu.”
“Seberapa percaya kalian terhadap keberadaan Atlantis?” Sepertinya Bosco tak
berharap akan jawaban. “Wajar kalau kalian tak memercayainya. Bagaimanapun sulit
memercayai ada sebuah daratan – sebuah benua–yang tenggelam hanya karena letusan gunung berapi. Tidak masuk akal memang. Tak heran hanya sedikit yang memercayai
keberadaan Atlantis, bahkan menengarai bahwa ada kehidupan di benua Atlantis, khususnya di bawah segitiga Bermuda.”
__ADS_1
“Segitiga Bermuda itu kan…” Kerutan di jidat Martin semakin bertambah saja.
Rahangnya menegang. “…tempat kuburan pesawat dan kapal yang melintas di sana…”
Bosco mengangguk. “Sebetulnya teori seputar magnet-lah yang menarik pesawat dan kapal itu ada benarnya juga. Nyatanya mereka semua bisa tenggelam karena ada semacam gaya tarik yang diciptakan oleh suku Atlantis demi menyembunyikan keberadaannya. Sebab ada banyak hal di bawah sana yang tak boleh diketahui suku-suku lain yang tinggal di permukaan bumi.” Telunjuknya menunjuk ke lantai yang hanya diaci, belum diberi keramik.
Bagaikan bisa membaca pikiran, Bosco berujar, “Atlantis itu bak kotak Pandora.
Kami, suku Atlantis, juga sudah sekian lama mengamati perilaku suku-suku di permukaan
yang begitu ambisius, gila harta dan kekuasaan, dan segala sifat yang–kami rasa–belum siap untuk menerima kotak Pandora yang tak ternilai.”
“Dan, pria bernama Kenneth yang mengejar kalian–“ Ia memutar bola mata. “–lo
siento - maaf, maksudku itu Serena, telah mengetahui rahasia Atlantis. Entah bagaimana caranya, ia–bersama gengnya tersebut–tahu soal Atlantis, terlebih soal Atlántico Hibiscus.
Tanaman itu mirip Puerta Rican Hibiscus, tapi hanya hidup di bawah samudra Atlantik.
Bunga tersebut memiliki cairan yang bisa digunakan untuk menyembuhkan segala macam penyakit, mencegah penuaan, bahkan menghidupkan orang yang sudah mati.”
Agatha nyaris loncat dari bangku. Diaz terbelalak. Rahang Martin menegang.
Mungkin karena Martin yang tertua, lelaki itu bisa terlihat begitu mengontrol emosinya.
Sementara Pedro? Pemuda berambut berdiri tersebut memang sudah mengetahuinya dari sang ibunda.
Lagi-lagi Bosco langsung menjawab. Ia menjawab keraguan yang ada dalam diri
Agatha. “Yah, itu betul. Atlántico Hibiscus itu bukan sebuah tanaman yang hanya hidup
dalam legenda. Legenda tentang mata air yang bisa membuat awet muda itu juga terilhami dari fenomena Atlántico Hibiscus tersebut. Menurut legenda, mata air tersebut berada di daratan Borinquen7 ini.” Ia terpingkal sendiri. “…mereka tak akan menemukan mata air tersebut. Karena mata air tersebut sebetulnya tak ada. Yang ada hanyalah Atlántico Hibiscus,
bunga yang hanya ditemukan di perairan Atlantis. Letaknya itu tak jauh dari rumahku yang berada persis di samping Fort San Felipe del Morro.” Ia terkekeh lagi. “Sungguh cerdas pemikiran señor Juan Ponce de León.”
Di tengah pembicaraan yang menegangkan urat tersebut, terdengar suara ketukan
pintu. Cukup nyaring, sehingga membuat Bosco mendengus kesal. Sekonyong-konyong ia berjalan tersaruk-saruk ke arah pintu. Sayang pintu tersebut sudah dibuka sebelum ia membukakan. Segerombolan pemuda berwajah oriental mengeluarkan seringaian yang cukup menyebalkan.
“Well, well, well, kita bertemu lagi. Tampaknya kau tak bisa menghindar lagi, Tuan
Putri Duyung yang aduhai,” goda Kenneth bersiul ke arah Serena.
“Semuanya, ayo ikut aku. Come on!” seru Pedro dengan suara yang agak dipelankan.
“Biarkan mereka pergi,” kata Kenneth pada ke sepuluh rekannya. “Kita tak memerlukan mereka. Yang kita butuhkan hanya dua,” Ia melirik Pedro sembari membentuk
huruf V. “–ups, aku salah ternyata. Ada tiga yang kita butuhkan, ada tiga orang. Kamu–“
tunjuknya pada Pedro. “–kamu–” Matanya menatap tajam Bosco. “–dan kamu.”
Senyumnya mengembang sewaktu menatap Serena.
Mencekam. Mereka semua tak berkutik. Pasrah terhadap nasib apa yang akan
menimpa mereka. Apalagi lawan mereka membawa senjata api. Dengan ditodongi colt navy yang sudah dilengkapi peredam, mereka harus menurut. Sesuai petunjuk Pedro yang
terpaksa setelah Bosco ditembak pelipisnya, mereka menuju lantai atas.
Kenneth terkekeh. “Jadi ini mesinnya?! Inikah alat yang bisa menteleportasi kita
kemana saja? Ini mengingatkan aku pada apa, kawan-kawan?”
“…pintu kemana saja…” seru salah satu dari sepuluh orang yang Kenneth bawa ke
__ADS_1
kediaman Bosco.
Tawa yang sangat mengerikan langsung menggelegar.7