
Satu kalimat terakhir yang diucapkan temannya itu benar-benar membuatnya
terkesiap. Seolah mengorek kembali suatu kenangan. Kenangan itu terjadi sebelum rencana perjodohan–serta insiden itu–terjadi. Ia dan Maria masih sama-sama seorang mahasiswa baru. Namun berbeda tentunya dengan kebanyakan mahasiswa baru yang hobi kuliah-pulang, kuliah-pulang. Keduanya masing-masing cukup terlibat dalam kegiatan kemahasiswaan yang disukai.
Sembari berjalan menuju halte busway terdekat, juga tentunya sambil awas
memerhatikan sekitar, pikirannya menerawang kembali kenangan tersebut.
Waktu itu, Fakultas Hukum di mana Maria dan Diaz kuliah, sedang sibuk-sibuknya
mengadakan pekan olahraga fakultas. Di luar kegiatan perkuliahan, sejumlah mahasiswa
terlibat dalam beberapa pertandingan olahraga seperti basket, bulutangkis, futsal, tenis meja, dan panjat tebing. Diaz terlibat dalam Law Fest, nama pekan olahraga tersebut. Ia masuk ke dalam tim futsal angkatannya. Tanggal 14 Februari itu sendiri juga merupakan hari pertandingan futsalnya Diaz (Tim Diaz berhasil menembus perempat final). Sport Hall--lapangan serba bisa kampusnya--jadi dipadati pasukan calon pembela hukum, karenanya.
Jam, saat itu, menunjukan pukul 10.15. Tim Diaz (angkatan 2009) tengah bertanding
melawan tim angkatan 2006. Kawan-kawannya benar-benar memiliki semangat tempur yang luar biasa. Walau anak-anak angkatan 2006 berbadan lebih besar dari timnya, Diaz, dan kawan-kawan tak gentar; begitupun saat mereka sempat menerima teror dari mahasiswa mahasiswa lain angkatan 2006. Timnya tetap memberikan perlawanan sengit pada tim 2006. Hingga kedudukan di babak pertama adalah kemenangan 3-2 untuk tim 2009 – dan Diaz
mencetak hattrick.
Karena keberhasilan Diaz mencetak tiga gol di babak pertama, Diaz menjadi sasaran
utama tim 2006 untuk dijaga ketat. Setiap pergerakan Diaz benar-benar dijaga ketat oleh dua-tiga pemain 2006. Tiap kali Diaz bakal mendapatkan operan, bola tersebut tak akan sampai.
Kalaupun sampai, Diaz pasti mati kutu untuk mengkreasikan permainannya. Tak tanggung-
tanggung, demi menghindari Diaz mencetak gol atau assist, salah satu pemain tim 2006
melakukan tackle padanya. Diaz terjatuh dan mengerang kesakitan. Sepertinya ia cedera di
bagian lututnya. Ia terus memegangi lutut kanannya yang jadi sasaran tackle barusan. Lalu wasit menghentikan pertandingan, dan tim medisnya (Tim medis itu direkrut dari beberapa mahasiswa yang terlibat dalam unit kegiatan mahasiswa bernama Korps Sukarela) pun segera masuk lapangan.
Di tengah-tengah kesakitannya itu, Diaz kaget. Ia terpekur melihat yang paling cepat
lari menuju dirinya. Itu Maria–yang setahu Diaz, Maria bukan anggota tim medis–berlari
menghampirinya. Dengan sigapnya, Maria membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa perlengkapan medis dari tasnya dan mengobati cedera Diaz. Maria begitu telatennya merawat Diaz, bak seorang perawat betulan. Hal ini membuat Diaz semakin terpekur. Ia terpesona
dengan wajah Maria yang berbeda dari kesehariannya. Maria tampak seperti Florence Nightingale, perawat yang dengan penuh kasih sayang merawat korban-korban perang di Laut Hitam. Maria, saat itu, juga benar-benar terlihat cute dan itu membuat jantung Diaz berdetak kencang. Diaz sepertinya telah melihat sebuah sisi lain dari Maria yang belum
pernah dilihatnya, yang selama ini selalu terlihat kekanak-kanakan, centil, sedikit bawel, dan menggoda tiap lelaki yang melihatnya.
Saat itu, mungkin itu untuk kali keduanya sosok seorang Maria bisa membuat dirinya
bak terkena serangan jantung lagi. Ia ingat betul saat kali pertama itu kala tes masuk
perguruan tinggi. Kembali otaknya menayangkan kembali sekuen demi sekuen momen yang mungkin bisa disebut sebagai momen bersejarah.
Namanya juga momen bersejarah. Ia ingat pasti tanggal-bulan-tahunnya. 15 Maret
Jangan tanya mengapa, ia sendiri tak tahu menahu. Bingung mengapa tanggal 15 Maret itu bisa terasa begitu istimewa. Itu kan hanya tanggal biasa.
Yang ia ingat, saat itu matanya masih sayu akibat belajar semalam suntuk. Semuanya
demi tes masuk perguruan tinggi. Tak ayal, ia terpaksa membuat pikirannya bekerja ekstra
keras agar lelah dan terlelap. Dengan gontai, ia berjalan menyusuri trotoar ibukota yang dicat merah muda, sekiranya menurutnya. Agak payah ia berjalan di jembatan penyeberangan yang menghubungkan kawasan Bendungan Hilir dengan kampus tersebut, dimana di situlah ia harus menjalani tes masuk. Karena baru ikut tes masuknya sekarang, ada baiknya ia perlu
mendengarkan mitos tersebut. Yang setiap kampus itu mengadakan tes masuk, yang semakin tinggi angkanya, semakin sulit pula tes masuknya. Semoga saja ia lulus di tes masuk yang kelima.
__ADS_1
Ia menyisir pandangan ke sekeliling. Beberapa kali ia mendapati pengemis dan
penjual kaki lima. Ah, khas kota besar – pikirnya. Ia rasa, semua kota besar di seluruh dunia juga sama: ada pengemis dan pedagang kaki limanya. Meksiko City, New York, Tokyo, Beijing, atau New Delhi sekali pun; itu semua pasti ada kok. Hanya saja mungkin penataannya pasti lebih baik daripada Jakarta. Dan para pengemis dan pedagang kaki lima tampak senewen menikmati Jakarta hari ini. Hari ini Minggu, kemacetan Jakarta mulai meramah. Dampaknya mereka kesulitan untuk mengais rejeki. Kemacetan agak berkurang,
jumlah pejalan kaki lewat juga pasti berkurang.
Bicara soal pejalan kaki, hari ini ia seringkali melihat anak-anak remaja sebayanya.
Kebanyakan mengenakan kode pakaian yang ditetapkan: kemeja, celana panjang, dan wajib bersepatu; sepatu sandal atau sandal diharamkan ada di ruang tes. Adanya aturan tersebut sudah membuktikan kampus tersebut punya kualitas. Bukan sembarang kampus dan dengar-dengar alumninya itu seringkali sudah jadi ‘orang’.
Ia sekonyong-konyong menundukan kepalanya. Dirinya begitu terpekur memandangi lantai jembatan penyeberangan itu. Bukan terpekur sebenarnya, ia malah tengah berdoa. Seingatnya juga, ia kurang serius belajar untuk mempersiapkan tes masuk ini. Ia berdoa kepada Sang Khalik agar sekiranya bisa diterima. Kalau gagal, beberapa tes masuk perguruan
tinggi swasta sudah siap mengadangnya. Itu juga belum termasuk SNMPTN. Ia wajib ikut,
tidak boleh tidak oleh ayahnya; bahkan ayahnya sudah mewanti-wanti harus lulus. Namun yang paling penting, ayahnya akan girang sekali dirinya diterima di kampus ini. Rumornya, ayah dan ibunya memiliki jaket almamater dari kampus ini.
Pandangannya kini berubah ke arah kampus tersebut. Ada dua gedung yang tertangkap retina matanya. Salah satu gedung merupakan ciri kampus kampus itu. Gedung
yang satu tu artistik. Kata abangnya, di gedung itulah ada kapel. Ia berkepal dan mulai berjalan lagi untuk segera memasuki
calon kampusnya itu.
“Eh sorry,” seru seorang gadis yang menabraknya dari arah belakang.
Sepengamatannya, gadis itu punya tampang Eropa dan berkepang dua. Gadis itu tampak
seperti ber-ojigi untuk memohon maaf padanya. Kedua telapaknya saling tertempelkan seperti layaknya kita tengah berdoa di kuil.
Kesal juga ia ditabrak begitu saja. Dengan senyum seadanya, ia mengangguk pada
gadis itu, pertanda sudah memaafkan kesembronoan tersebut. Lagian kenapa sih make-up-annya harus sambil jalan di jembatan? Di rumahnya memang nggak bisa apa?
Gadis itu lalu memberikannya punggung yang lumayan indah. Fisik si gadis… boleh
Eh apa ini?
Ia merunduk dan memungut sesuatu. Itu kartu. Kartu peserta tes masuk kampus
tersebut dengan identitas… sepertinya punya gadis itu. Nama yang tertera ialah Lucia Maria Goretti Petrajaya Rossi. Pasti punya gadis itu. Yakin sekali dia.
Tiba-tiba saja ia jadi berjalan cepat. Nyaris seperti berlari. Dalam hatinya, mungkin si
cewek tadi belum jauh. Selama berlari, ia merasakan ada yang aneh dengan degup
jantungnya. Mengapa berdetak-detak keras dan kencang sekali? Padahal hanya tengah
mencoba mengembalikan kartu itu saja. Si gadis juga baru kali pertama bersua dengannya.
Tapi perasaannya mengatakan ia dan si gadis seperti sudah pernah bertemu. Perasaan ini
sangat aneh dan sukar dijelaskan.
Firasatnya tepat. Si gadis tadi bisa dikejarnya. Ternyata si gadis tengah duduk di halte
yang berada dalam kawasan kampus tersebut. Tampak seperti sedang menunggui seseorang.
Mumpung si gadis belum bertemu temannya dan sebaliknya ia juga belum menemukan
keberadaan teman-teman sekolahnya yang katanya juga ikut ambil bagian di tes masuk hari ini, ia segera beringsut.
Didekati seperti gadis itu mengerutkan dahi. “Ada apa yah?” tanya si gadis.
“I-i-i-ini ka-ka-kartunya ta-ta-ta-tadi ja-ja-jatuh,” Astaga, mengapa ia segugup ini di
__ADS_1
hadapan gadis yang baru kali ini bertemu? Ia kan bukan tipe lelaki yang suka salah tingkah di hadapan lawan jenis.
Sembari terkikik, gadis itu meraih kartunya kembali. Kemudian meletakannya dalam
tas tangannya. “Makasih yah. Kalau nggak, aku jadi nggak bisa ikut tes ini.”
Ia tersenyum balik. *****, senyum si cewek manis juga.
“Oya, kamu dari SMA mana?” tanya Diaz sok akrab. Ada sesuatu yang mendorongnya untuk mengenal si gadis. “Oh iya, namaku Diaz.” Ia menunjuk-nunjuk dadanya.
“Aku – “
“Iya, aku tahu kok, nama kamu Lucia Maria Goretti Petrajaya Rossi, kan? Tadi aku
sempat baca kartunya sih.” sela Diaz terkekeh.
“Kamu ada darah Italia yah?”
Saat pertanyaan
itu dilontarkan, kedua alisnya bertautan.
Gadis itu mengangguk. Ia nyengir lebar. “Aku dari SMA Penabur. Dan memang
benar aku keturunan Italia. Mami aku kelahiran sana. Kamu sendiri dari SMA mana?”
Ia berjengit. “Tarakanita.”
“Tangerang?” terka gadis tersebut.
Ia mengernyitkan dahi lagi. “Kok kamu tahu?”
Gadis itu tersipu. “Cuma asal tebak aja.”
Ia nyengir. “Kamu berbakat jadi cenayang juga nih kayaknya.”
Saat bersamaan, ponselnya berbunyi dari arah tas selempangnya. Ia bergegas
merogohnya dan mengecek siapakah yang meneleponnya. Ternyata dari sahabat terbaiknya di SMA, Felix. Temannya yang berkacamata dan berbehel itu menginformasikan padanya sudah berada di lokasi yang bakal jadi ruang tes masuknya; kebetulan mereka berdua seruangan. Dan si Felix mendesaknya untuk segera ke sana.
“Eh maaf yah, aku pamit dulu,” katanya basi-basi. “Tadi temanku telepon, suruh aku
buat nyamperin dia ke Y-104.”
“Y-104?” tanya si gadis berkerut jidat. “Aku juga di sana ruangan tesnya.”
Ia terbelalak. “Oh iya? Kalau gitu, bareng aja yuk ke sana?” Kelak, seusai menjalani
tes masuk dan sudah berada di rumah, ia baru menyadari mengapa ia berkata seperti ini.
Mengapa ia bisa jadi sok akrab dengan gadis bernama Maria tersebut? Padahal selama ini
kawan-kawannya mengenalnya bukan sebagai orang yang suka sok kenal-sok dekat.
“Nggak usah deh, aku juga mau nunggu teman aku dulu.” tolak gadis bernama Maria
itu tersenyum manis.
“Ya udah, aku pergi dulu yah,” pamitnya pada si gadis.
Kurang lebih sepuluh atau lima belas langkah, Diaz berhenti melangkah. Ia balik arah
dan menyaksikan Maria dari kejauhan.
__ADS_1