
Maret 2011,
Tiga tahun telah berlalu. Kabar soal pertunangan Diaz dengan Maria sudah tersebar ke seantero kampus. Entah siapa yang menyebarkannya, kabar burung itu membuatnya gelisah. Nyaris tiap berada di kampus, ia selalu mendengar selorohan ”pengantin baru”, bahkan hingga berada di ruang kuliah. Contohnya, saat dirinya baru saja tiba di parkiran lantai 12 dan mengunci mobil Innova-nya, tampang Diaz sudah kusut.
“Hei, Yaz,” sapa Dion. “Gimana kabarnya? Gue denger-denger lu putus yah sama Maria.”
Waktu Dion mengucapkan kalimat terakhirnya itu, wajahnya tampak sumringah. Ia bahagia bak orang yang habis menang togel. Sebelum pertunangan itu terjadi, Dion pernah
mengaku bahwa dirinya menyukai Maria. Namun setelah tahu temannya itu bertunangan, ia jujur mengatakan akan mundur.
“Putus? Udah kayak orang pacaran aja,” ujar Diaz sinis. Di pikirannya, ia menengarai
bahwa Maria-lah orang yang membuat isu tersebut. Ada-ada saja ulah gadis itu untuk
menarik perhatian dirinya. “Gue kan sama dia juga nggak pacaran. Lagian kapan gue nembak dia? Amit-amit dah, nembak cewek centil nan manja kayak gitu.”
“Alah, sok **** lu. Tunangan sama pacaran apa bedanya? Lagian, dengan lu tunangan sama dia, itu artinya selangkah lagi lu bakal nikah sama dia. Tapi…”
Dion menghentikan ucapannya sementara. “…ngapain juga gue repot-repot jelasinnya ke lu yah? Toh, lu udah bukan tunangannya Maria lagi. Itu artinya, jalan gue buat dekatin Maria makin mudah. Maria, I’m coming.” Dion tertawa lepas–apalagi saat dia membayangkan hari-hari indah menjadi pacarnya Maria. Ia membayangkan, dia dan Maria kencan romantis di sebuah
kafe, saling rangkul di sebuah studio bioskop, liburan di sebuah pantai idaman tiap pasangan, hingga… mungkin bisa duduk berdua di sebuah taman dan Dion bersiap melamar Maria.
“Ngimpi aja lu!” sembur Diaz. “Gue ingetin yah, gue masih tunangannya Maria. Dan
akan selamanya begitu. Apalagi ini juga mau bokapnya sebelum meninggal.”
“Ya ya ya…. Itu kan hanya masalah waktu aja. Dan kayaknya Tuhan udah ngabulin
doa gue.”
Diaz terkekeh di belakang punggung Dion yang menjauhinya pergi. Pasti menuju
ruang kuliah. Jam sudah menunjukan pukul 08:45. Lima menit lagi, kelas Hukum Agraria-
nya Bapak Halomoan yang otoriter akan dimulai.
💜💜💜💜💜
Cewek itu demen banget ngerjain sesuatu yang nggak jelas. Daripada terus mencoba
menarik perhatian gue supaya bersikap apa yang dia mau, lebih baik kan dia sibuk
mengerjakan sesuatu yang bermanfaat. Contohnya, belajar masak gitu.
Begitulah isi pikiran seorang Diaz. Tiga kata terakhir yang digumamkannya itu segera diakhiri dengan gelak tawa.
Tapi masalahnya dengan Dion (Atau seharusnya Maria mungkin) tak usai di situ saja.
Hari ini Diaz sungguh cemburu berat, waktu memandangi Maria duduk di sebelah Dion.
Sambil mencatat apa yang dijelaskan dosen, Maria dan Dion saling bersitatap. Mereka juga asyik bercakap-cakap, saling pinjam alat tulis, atau berdiskusi soal tugas kuliah. Diaz yang
selalu mengaku tak punya perasaan apa-apa ke Maria, kali ini harus mengakui ia menyukai
gadis centil itu. Di kelas, ia tak fokus ke apa yang dijelaskan dosen. Pandangannya selalu
mengarah ke Maria yang malah bermesraan dengan Dion. Puncak kecemburuannya, waktu Maria mengajak Dion untuk makan siang bersama di kantin kampus. Khususnya, saat melihat Dion menghapus kotoran dari wajahnya Maria. Kalau saja tempat duduknya Diaz tidak dipisahkan oleh dua meja dari tempatnya Dion dan Maria duduk, hmmm, bisa terjadi drama di kantin itu. Drama komedi, tepatnya.
Drama komedi itu seperti ini:
Diaz menangis tersedu-sedu di mejanya, gara-gara melihat Maria menggandeng mesra tangan Dion–atau tepatnya Dion merangkul dan Maria jadi meringkuk dalam dada
bidangnya. Melihat hal tersebut, Diaz jadi merah menyala wajahnya–semerah cabai merah, dan ditinjunya kuat-kuat mejanya, epiknya, ia berteriak sekuat tenaga: “AARGGGHH!!! BRENGSEK LU, DION!!! LIHAT PEMBALASAN GUE NANTI!!! JANGAN HARAP LU BISA HIDUP DENGAN TENANG!!!”
__ADS_1
Apalagi Diaz sampai menenggak habis botol sambal yang ada di dekatnya.
Untungnya itu hanya ada di pikiran Diaz. Ia masih punya akal sehat, rupanya. Setidaknya kala samar-samar Diaz bisa mendengar kata ‘anjing’ dalam percakapan Maria dan
Dion. Diaz mulai mencium adanya bahaya yang bakal mengancam Maria, tunangannya itu.
Ia tahu, Maria takut dengan ******. Menurut tutur Agatha, phobia Maria itu muncul, gara-
gara ia pernah dikejar dan digigit ****** semasa SD dulu. Jangankan melihat makhluk penyuka tulang itu berkeliaran di dekatnya, mendengar kata ‘anjing’ pun, Maria sudah mulai berdiri bulu romanya.
“Kamu mau yah lihat si Hibiki?” Hibiki adalah nama ****** jantan milik Dion tersebut. Walau terlihat panik, pada akhirnya jadi juga Maria menemani lelaki itu ke parkiran lantai 12 untuk memperkenalkannya dengan Hibiki-nya. Sepuluh menit mereka berdua pergi,
Diaz tergesa-gesa membayar makanannya, lalu langsung membuntuti Dion dan Maria tanpa ketahuan, tentunya. Ia menengarai, sesuatu yang buruk akan menimpa Maria.
Dugaan Diaz benar. Setibanya di parkiran lantai 12 dan sudah berjumpa dengan Jazz
peraknya Dion, ia melihat Maria sedang berteriak histeris. Hibiki, si ****** pudel mengejarnya dan belum dikenakan tali kekang oleh Dion.
Berkali-kali Dion memanggil Hibiki, ****** pudel berwarna hitam itu tak mendengarnya,
apalagi menghampirinya. Lebih menakutkan lagi, tampang Hibiki sedikit aneh. ******
berukuran kecil–tapi sebetulnya sudah bisa dikawinkan–itu seperti terkena penyakit rabies kelihatannya. Setidaknya itulah yang Diaz tahu dari tayangan Discovery Channel yang sering ditontonnya. Maka terburu-burulah, Diaz beringsut menuju Maria. Melihat Diaz sudah ada di hadapannya, Maria langsung meringkuk dalam pelukan Diaz. Saat Hibiki akan menerkam salah satu tungkai antara tungkai Diaz dan Maria, Diaz memasang kuda-kuda yang tidak
terlalu rumit, lalu ****** mungil itu terpental dan pingsan. Hanya pingsan dan belum mati.
Kini giliran Dion yang berteriak histeris. Ia segera menghampiri ****** pudel yang sudah dipeliharanya sejak SMA. Ia terisak-isak melihat ****** kesayangannya itu nyaris sekarat.
Dion beringsut menuju Diaz dan memaki-makinya, “Diaz, lu gila yah? Masak ******
gue lu tendang? Kalau kenapa-napa, lu mau bayarin biaya perawatannya? Asal lu tahu yah, biaya perawatannya itu mahal.”
“Lu nggak lihat? ****** lu itu kena penyakit rabies. Jangan bilang juga, lu nggak tahu
“Soal biaya, it’s okay, gue bayarin biayanya. Tapi misalnya, kalau Maria sempat kena gigit, apa lu mau tanggung jawab? Sempat itu terjadi, gue nggak bakal maafin orang yang membuat nyawa orang yang paling gue cintai jadi terancam.”
Maria mengangkat wajahnya dan menatap Diaz dengan berkaca-kaca.
“Apa buktinya kalau Hibiki rabies?” tantang Dion.
“Bawa masuk Hibiki ke mobil lu,” kata Diaz.
“Dan bawa gue ke dokter hewan
langganan lu. Kita buktiin di sana. Kalau memang dugaan gue salah, gue bayar semua
biayanya. Gimana?”
“Oke.” Dion menerima tantangannya Diaz.
“Oya, Mar, nih kamu bawa saja mobilku pulang. Jadi kamu nggak usah naik bus
pulangnya.” Diaz menyerahkan kunci mobilnya pada Maria, setelah diambilnya dari kantung celana jinsnya.
“I-iya,” ucap Maria. “Tapi kamu gimana?”
“Aku bisa naik bus, taksi, atau kereta,”
Maria tersenyum manis pada Diaz, dan itu membuat Diaz kikuk. Inilah salah satu
yang membuat Diaz jatuh cinta pada Maria – selain sikap pantang menyerah, keahlian
perawat, dan juga suara emasnya.
__ADS_1
Lagi-lagi Diaz benar. Di rumah sakit hewan, setelah didiagnosis oleh dokter hewan
langganan Dion, Hibiki memang terkena penyakit rabies. Selama ini, Dion hanya senang bermain-main dan mengajak jalan-jalan Hibiki saja tanpa memperhatikan hal penting yang seringkali dianggap sepele: vaksinasi. Sehingga karena itulah, Hibiki harus dirawat untuk jangka waktu yang lumayan lama untuk pengobatan penyakit rabiesnya – selain pengobatan
luka di perut Hibiki akibat tendangan karate Diaz (Menurut dokter yang memeriksa, Hibiki
perlu dirawat hingga enam bulan). Sebagai seorang sahabat semenjak SD, Diaz dengan
ksatrianya menanggung biayanya – seluruh biayanya. Padahal jelas-jelas, Diaz menang
taruhan. Dion jadi tersentuh melihat ketulusan sahabatnya itu.
“Thank’s, bro, atas ini semua,” isak Dion sambil memeluk Diaz.
“Nggak apa-apa,” ucap Diaz. “Itulah gunanya sahabat.”
Dion melepaskan pelukannya itu, dan memandang lekat-lekat mata sahabatnya itu.
“Oya, bro, ada yang mau gue kasih tahu ke lu,”
“Soal apa?” Kening Diaz agak berkerut.
“Yang tadi lu lihat itu… di kantin tadi, maksud gue…” Dion ragu-ragu mengatakannya. Ia meriang saat membayangkan sekilas apa reaksi sahabat SMA-ya itu kalau diberitahukan. “Sebetulnya gue sama Maria cuma pura-pura.”
“Pura-pura?” Ah, kening Diaz malah semakin berkerut saja.
“Iya, pura-pura; kita hanya pura-pura mesra buat panas-panasin lu, dan… lu
kepancing.” ujar Dion terkekeh. “Udah deh, nggak usah nyangkal. Tadi di kantin, gue lihat
kok muka bête lu waktu gue berdua aja bareng Maria. Wajah lu dongkol gitu waktu gue elus-elus rambut panjang Maria.”
Diaz tak berkata apa-apa. Ia hanya bersemu merah pipinya. Hal itu membuat Dion
nyengir. Ia geli melihat kesalahtingkahan sahabatnya itu.
Dion tergelak lepas. “Yah Tuhan, ternyata teman gue ini bisa jatuh cinta juga. Kirain
selama ini, kalau bukan gay, dia cuma seorang pemuda yang kerjaannya nge-game doang.”
“Sial.” desis Diaz. “Pernah-lah gue jatuh cinta.”
“Sama siapa?” Dion menyeringai nakal. “Kok gue nggak pernah dengar lu lagi
berusaha ngedeketin siapa gitu. Bukannya kita ini sahabat udah dari SMA?”
“Ya… ya… ya…” Diaz memutar bola matam gugup. “Ya intinya pernah. Itu kan
jawaban yang lu mau?”
“Iya, sama siapa? Bukan sama tokoh video game kan?”
“Ya nggak-lah,–“
“–sama siapa?”
“Velita.” Secepat kilat, dirinya menyebut satu nama yang terlintas di pikirannya.
Dion meninju pundak Diaz, terkekeh. “Gue nggak yakin lu beneran suka sama si
cewek tomboy itu. Kedekatan lu sama dia itu juga lebih mirip kedekatan seorang sahabat,
bukan kayak antara lelaki dengan perempuan incarannya. Udah, nggak usah lu sangkal lagi
__ADS_1
perasaan cinta lu itu. Lu nggak akan tahu apa yang lu miliki sampai itu pergi. Plus sekali-kali cobalah menyenangkan hati Maria. Percaya sama gue, Maria itu gadis termanis yang pernah ada di dunia.”