Destiny 41

Destiny 41
Tensi Meninggi


__ADS_3

Praaaang!!!


Gilberto meloncat dari rebahannya di sofa. Pandangannya teralih dari layar playstation portable. Dicopotnya headset yang sedari tadi tengah memainkan lagu “No Me Digas Que No” yang dinyanyikan oleh Enemigo dan Adriene Bailon. Pemuda berusia dua


puluh tiga tahun ini sangat mengidolakan Diaz Antonio Matos Torres, nama asli dari


Enemigo, rapper kelahiran New York dan dibesarkan di Puerto Rico.


“Ada apa, Mama?” tanya Gilberto yang sudah berdiri dan memerhatikan ibunya


memecahkan piring.


“Tak apa.” Nicole menggeleng.


Namun Gilberto tak percaya. Tak biasanya ibunya seceroboh itu. Memecahkan


sebuah piring sungguh di luar kebiasaan sang ibunda yang selalu teliti; dan telitinya


mengalahkan agen rahasia manapun. Ia beringsut, dipegangnya kening sang ibunda. “Mama sakit?”


Masih tetap menggeleng. “Soy fina--tak perlu khawatir. Tak perlu khawatir”


“Tapi tak biasanya Mama memecahkan sebuah piring.”


Nicole memekuri piring yang sudah retak di lantai. Wanita berambut brunette itu


mendadak memikirkan anak sulungnya. Berkali-kali wajah Pedro menghiasi otaknya.


“Mama memikirkan abangmu, Gil.” desah Nicole dengan pikiran masih menerawang.


“Dari semalam, abangmu belum pulang kan?”


“Mama jangan terlalu mendramatisir begitu. Paling Pedro pergi ke suatu tempat


setelah mengantarkan mereka ke rumah Bosco. Dia kan selalu begitu. Selalu keluyuran tak tentu arah. Mungkin sekarang ia sedang berada di Santurce, asyik menggoda perempuan-perempuan di sana.”


“Tapi Pedro tak biasanya tak menelepon,”


“Mama lupa yah?” Gilberto nyengir.


“Bukankah Pedro pernah beberapa begitu? Ia


keluyuran tanpa menghubungi orang-orang rumah terlebih dahulu.”


Tak menjawab. Dalam pikiran Nicole masih terus terbayang wajah Pedro.


“Sudahlah, Mama tenang saja. Pedro akan selalu dalam keadaan baik-baik saja.”


“Mana Papa-mu?”


Terkekeh. “Mama, Papa kan pergi ke Rio Piedras untuk berbelanja kepentingan toko.


Papa juga sudah meminta ijin seingatku.”


“Kau jangan pergi kemana-mana sampai Mama pulang. Mama mau menyusuli Papa-


mu. Hati Mama sungguh tak tenang sama sekali.”


Gilberto nyengir dan mengangkat bahu.


“Terserah Mama saja-lah.


💜💜💜💜💜

__ADS_1


Selang dua jam setelah para Indonesia kita dikirim pulang, rumah Bosco bagaikan


sebuah tempat penjagalan. Kacau sekali di sana. Mencekam. Tak hanya Bosco dan Agatha yang menjadi korban, Pedro turut jadi sasaran. Pemuda berambut panjang itu tewas ditembak dari belakang setelah berhasil mengoperasikan mesin yang berbentuk seperti kerangka pintu berganda, yang mana memiliki altar kecil. Akibatnya, Serena terus tersedu, terisak, dan meraung. Kontrasnya, para anggota kartel itu terbahak sekencang-kencangnya. Memang sungguh kepuasan tersendiri bagi seorang mafia setelah berhasil membunuh seorang manusia; dan untuk kasus ini adalah dua. Kesenangannya berlipat ganda.


“Sudahlah, hemat suaramu, Querida.” gombal Kenneth. “Kamu masih harus


memberitahukan kami semua cara ke Atlantis, negeri yang hilang itu.”


Serena tak menjawab, masih terisak.


“Oh ya, bagaimana dengan kedua mayat ini? Kita biarkan saja di sini?” sela salah


seorang rekan Kenneth.


“Bié shǎle (kata makian dalam bahasa China)!” semprot Kenneth. “Para policia itu semuanya cerdas. Mereka pasti akan tahu siapa pelakunya. Apalagi–jangan lupa–mereka bekerjasama pula dengan FBI.


FBI masih ada di negara ini terkait operasi mereka melawan kita.”


“Jadi?”


“Bawa kedua mayat itu keluar, lalu bakar. Kalau ada yang curiga, bilang saja kita


sedang pesta barbeque. Dan setelah mayatnya menjadi abu, taruh di dalam guci.”


Mereka semua menuruti perintah Kenneth tanpa melawan sama sekali. Bagaikan


kerbau yang dicucuk hidungnya. Mungkin mereka semua merupakan anak buah Kenneth, bukan seorang rekan.


Setelah memastikan bahwa Bosco benar-benar sudah mengembuskan napas terakhir,


mayatnya digotong–bersama dengan mayat Pedro–keluar dari rumah kecil tersebut. Dua


orang dari mereka memegangi erat Serena. Di luar, di saat lingkungan sekitar San Felipe del


rumput. Suasana benar-benar hening. Tak terlihat berkeliaran manusia, terutama petugas keamanan yang biasanya menjaga benteng bersejarah tersebut. Oke, ini saatnya.


Salah satu dari menyalakan api lewat pemantik. Dilemparlah pemantik tersebut ke


mayat-mayat yang sudah dibugili dan dilempar bensin. Api berkobar dengan dahsyat, melahap rakus mayat-mayat tersebut. Tanpa ada rasa bersalah, mereka semua cengar-cengir.


Malah ada beberapa dari mereka yang terpingkal dan bersiul-siul. Oh jangan lupa, mereka kan bagian dari sebuah kartel narkoba paling ditakuti di San Diaz, tentu saja ada yang menggunakan obat-obatan terlarang. Favorit mereka semua ialah mariyuana. Bau asap dan


mariyuana sungguh sudah membuat mereka serasa melayang-layang. Pesta itu semakin


meriah saja.


Namun, mau sebesar apapun apinya, tetap saja sulit untuk membuatnya jadi abu. Saat


apinya mulai mereda, tak ada lagi yang bisa dibakar, terlihat serpihan-serpihan tulang


manusia. Oleh mereka, serpihan-serpihan itu dibuang ke laut; mungkin saja ada makhluk-


makhluk laut yang doyan serpihan tulang belulang manusia. Sebagian lainnya dikubur. Satu tugas sudah selesai.


Serena yang jadi bulan-bulanan selama proses pembakaran, langsung dibawa naik ke dalam Volkswagen Combi berwarna hitam yang sepekat warna langit malam tanpa bintang dan bulan. Mereka semua hendak kembali ke markas yang sampai sekarang tak pernah diketahui, bahkan oleh FBI dan CIA sekalipun. Sebetulnya sudah banyak warga San Diaz–atau Puerto Rico secara luasnya–yang mengetahui segala aktivitas kartel tersebut. Malah ada beberapa yang tahu beberapa spot dimana para anggota kartel sering menghabiskan waktu. Sayang mereka yang tahu sudah dihabisi lebih dahulu tanpa meninggalkan jejak sama sekali.


Dalam perjalanan, mereka semua sibuk bernyanyi. Semuanya masih dalam pengaruh


mariyuana. Hanya satu-dua yang tidak. Salah satunya, Kenneth Soo. Dialah yang


mengemudikan Volkswagen tersebut. Dia jualah yang menyetel sebuah lagu di radionya. ‘La Copa de la Vida’ milik Ricky Martin. Langsung saja mereka semua menyanyikan kembali lagu yang menjadi theme song dari Piala Dunia 1998.


para sobrevivir y luchar por ella

__ADS_1


luchar por ella (si)


luchar por ella (si)


Tu y yo! Ale ale ale


Go, go, gol!


Ale ale ale


Arriba va! El mundo esta de pie


Go, go, gol!


Ale ale ale


La vida es competicion


hay que sonar


Kenneth sibuk sendiri bersiul sembari mengamati Serena yang masih terus tertunduk.


Ia tersenyum sumringah ketika memandangi wajah gadis Atlantis tersebut. Dicoleknya dagu


Serena, sekadar untuk membuat gadis itu menoleh padanya.


“Kamu ini cantik sekali. Apa semua gadis di bawah laut sana, secantik kamu?” kata


Kenneth yang begitu terkesima melihat kecantikan seorang Serena.


Serena tak merespon, hanya tersenyum alakadarnya. Ia masih memikirkan skenario


apa yang akan Kenneth, dkk lakukan. Mereka semua benar-benar biadab. Membunuh dua


orang, lalu membakarnya seolah sedang membakar seekor ****. Ia yakin, skenario apapun yang mereka pikirkan pastilah bukan sebuah ide baik. Tapi apa mau dikata, ia sudah terjebak. Susah untuk bisa melepaskan diri dari cengkeraman iblis-iblis itu.


💜💜💜💜💜


Diaz dan Martin cukup kaget melihat kehadiran Maria. Sebetulnya Maria cukup


sering mengunjungi kamar Diaz; dan itu selalu di luar ekspektasi seorang Diaz. Bukan


sesuatu yang aneh juga. Apalagi status Maria adalah tunangan Diaz. Justru akan jadi hal aneh jikalau Maria belum pernah sekali pun masuk ke kamar tunangannya.


Hanya saja Maria masuk di waktu yang salah. Diaz gugup sendiri melihat


tunangannya itu sudah berdiri sambil tersenyum. Bukan senyum biasa, namun senyum yang luar biasa indahnya. Menunjukan keceriaan gadis itu karena berhasil mendapatkan apa yang


dia mau. Walaupun pihak lelakinya masih gengsi untuk menyatakan perasaannya langsung.


“Eh gue keluar dulu yah,” pamit Martin nyengir. “Gue baru sadar–“


“Yah ja-jangan gitu dong, Tin. Masa gue berdua aja sama cewek sih?” protes Diaz


gugup.


“Lho, bukannya lu udah biasa yah berdua sama Maria? Tiap ke kampus kan berdua


mulu. Terus Maria ini kan tunangan lu, calon istri lu. Sudah sepatutnya, kali ini lu berdua aja sama Maria di kamar. Hitung-hitung latihan.” kata Martin terkekeh.


“Mar, gue titip Diaz dulu yah,” Maria hanya mengangguk dan tersenyum. Martin


melengos begitu saja. Saat Diaz berusaha mengikutinya, ia melotot dan mendorong masuk

__ADS_1


__ADS_2