
Diaz buang napas. Ia putar-putar bola matanya. “Capek, capek, capek… mau tidur
dulu ah…” Lalu memberikan punggungnya pada Maria begitu saja.
Kenapa sih cowok ini? Selalu saja ketus sama aku? Maria menghela napas, lalu tersenyum. Tapi lucu juga ketemu orang yang tsundere itu. Luarnya saja yang dingin, dalamnya kan tidak.
Seraya masih terbayang-bayang kejadian di teras tadi sore, gadis itu bergegas masuk
ke dalam kamar abang iparnya tersebut. Dilihatnya, Martin tengah sibuk di depan komputer. Lelaki itu sibuk dengan tugasnya sebagai seorang jurnalis di sebuah harian terkemuka yang berkantor pusat di daerah Palmerah.
“Bang,”
Martin menoleh. “Eh, Maria, ada apa?”
“Aku mau minta tolong, Bang.”
“Minta tolong apa?”
“Ini soal Diaz.”
Martin nyengir. Dia mulai tahu akan ke arah mana topik pembicaraannya. Apalagi
saat Maria menceritakan segala apa yang terjadi hari ini.
“Jadi gitu, Bang.” ucap Maria tersenyum. “Aku bingung banget sama semua sikap
Diaz ke aku. Kenapa sih dia selalu dingin sama aku? Tapi giliran aku nggak ada, dia terang-terangan nunjukin rasa sayangnya. Oya, apa yang dibilang temanku, si Teguh itu benar, Bang?”
Martin mengangguk, nyengir. “Eh tapi pernah kok Diaz nunjukin rasa sayangnya ke
kamu. Kamu ingat kan, waktu kamu sakit usus buntu? Atau waktu kamu keracunan Atlante? Atau waktu pas hari Valentine itu – yang waktu di garasi itu lho.”
Maria menghela napas. “Kurang meyakinkan, Bang. Bisa aja kan, itu cuma caranya
aja untuk nunjukin sisi kemanusiaannya. Terus yang di garasi, siapa tahu itu cuma akal-akalan dia, supaya bisa bujuk aku pergi bareng, jadi dia bisa ngindarin aturan three-in-one.”
Martin terkekeh. “Percaya deh sama aku, kalau di pikiran Diaz memang cuma ada
kamu. Walaupun, waktu awal perjodohan, dia kayak nggak setuju gitu. Tapi kan, seiring
berjalannya waktu, cinta tumbuh juga, kan, di hatinya?!”
Maria menghela napas lagi. “Aku nggak tahu, Bang. Diaz orangnya aneh, susah
ditebak.”
“Gini deh,” Martin memberikan kode supaya Maria beringsut padanya. “Aku punya
rencana supaya Diaz bisa nunjukin rasa sukanya ke kamu.”
Saat kepala Maria ditelengkan, Martin membisikan sebuah rencana. Maria
cengengesan mendengarkan ide Martin tersebut.
“Makasih yah Bang,” kata Maria tersenyum
“Sama-sama. Lagian kita kan udah kayak keluarga, jadi harus saling tolong dong.”
Maria terkikik, lalu pandangannya terarah pada meja yang berada dekat komputer
pribadi Martin itu. Pikirannya tertumbuk pada sebuah bingkai foto. Bingkai foto itu yang
awalnya ia penasaran. Itu ternyata foto mendiang istri Martin yang meninggal sebelum ia dan adiknya tinggal.
“Oya, Bang, aku baru sadar,” ujar Maria memegangi bingkai itu. “Kok mendiang istri
Abang agak mirip aku yah?”
Martin terkekeh. “Kamu bisa aja. Eh tapi kamu ada benarnya juga, soalnya Priska itu memang ada darah Eropa-nya. Ibunya orang Timor, dan ia pernah cerita, moyangnya itu
orang Portugis. Nggak heran, ia juga sama kayak kamu, sama-sama agak berwajah
Kaukasoid, tapi ada nuansa ketimuran ala Maluku. Dia benar-benar cewek tereksotis yang pernah aku temui, Mar.”
💜💜💜💜💜
Baru saja keluar dari ruang kuliah YB 103, selepas mengikuti kelas Hukum
Persaingan Usaha, ponsel pintarnya berbunyi. Ia aduk-aduk tas tangan, dan mendapati sebuah pesan masuk. Dari Diaz. Maria tersenyum bahagia. Baru kali ini, ia dikirimi pesan oleh tunangannya itu. Sepertinya rencana Martin berjalan sukses.
Segera ia balas pesan itu: iya, aku baru selesai kelas, dan nggak ada kelas juga. Kamu memang dimana?
Tak butuh waktu lama, pesan balasan tiba. Tak perlu berpikir lagi, Maria langsung
bergegas ke lokasi yang disebutkan: lantai 11 gedung Yustinus.
Mungkin dewi fortuna sedang memihak padanya. Ia tak perlu menunggu lama lift. Hingga tak terasa, sepuluh menit kemudian, ia sudah berada di lantai 11. Maria masih ingat dimana persisnya Diaz memarkirkan Innova itu.
Maria mengetuk-ngetukan telunjuknya di jendela seberang sopir. Tunangannya itu
__ADS_1
menoleh dan segera membuka kunci otomatisnya. Maria langsung duduk manis. Ia tersenyum dan senyum itu membuat Diaz kikuk.
“Tumben kamu ajakin aku nonton.” ucap Maria. “Ada apa sih?”
Diaz garuk-garuk kepala. “Ng-nggak ada apa-apa sih. E-emang nggak boleh ajakin
kamu nonton.”
“Boleh sih.” Maria sibuk memasang sabuk pengaman. “Ya udah, langsung aja pergi
nonton.”
Diaz mengangguk kaku. Kemudian segera saja ia memasang sabuk pengaman dan
melajukan mobilnya menuju Grand Indonesia. Bosan juga, pria itu menonton di Plaza
Semanggi. Sesekali ia ingin mencoba suasana baru, sekaligus memberikan kesan positif ke Maria. Ia takut ngambeknya Maria terus berkelanjutan, lalu terpikirkan untuk pindah ke kediaman salah satu tantenya. Bayangan-bayangan buruk tadi pagi kembali terbayang.
Dewi fortuna sungguh memihak pada Maria--atau juga Diaz. Kebetulan film yang dipilihkan Maria, entah mengapa, animonya begitu minim. Alhasil saat berada di dalam
studio satu, Maria serasa istimewa. Serasa sudah memesan tiket very-very-important-person, namun dengan biaya normal (Hari kamis, harga tiket masuknya adalah Rp 35.000). Selain ia dan Diaz, hanya lima orang yang menonton film tersebut. Sayang Diaz malah kurang bisa memaksimalkan kesempatan tersebut untuk mencoba menjadi pria romantis. Yah minimal menjadi teman berbagi yang amat bisa diandalkan untuk mengeritisi film romance tersebut.
Diaz terlelap karena tak tahan dinginnya udara buatan dalam studio.
💜💜💜💜💜
“Dari Jakarta hingga Puerto Rico
Banyak uang sudah melayang
Dari Rodolfo yang punya toko
Akhirnya kutemukan juga Maria-ku tersayang”
Begitu mendengar pantun itu diucapkan dengan logat yang hampir mirip logat
Madura, Diaz segera merangkul bahu Maria yang langsung disambut dengan pelukan hangat.
Ia jengah melihat tunangannya itu digoda cowok gila sastra seperti Teguh. Masih saja cowok gila klenik itu menguber-uber Maria.
Diaz menyapa (Berusaha menyapa, tepatnya) dengan cengiran lebar: “Hey, Teguh!
Ada apa kemari? Kok bersama Tiara, Dion, sama Velita berangkatnya?”
Di mimpinya itu, Diaz memimpikan sedang berada di San Juan, Puerto Rico lagi bersama Maria. Hanya saja ia kesal mengapa harus ada pula Teguh, Tiara, Dion, dan Velita.
Makanya, dari kedua bola matanya, kita bisa menangkap aura kekesalan.
mengelus-elus rambut panjang Maria.
“Sekaligus untuk terus berada di samping Maria. Dikau tahu kan peribahasa ini: ‘Ada gula, ada semut’? Nah, daku sebagai seekor semut, haruslah terus mengikuti keberadaan gula manis tersebut.”
Ia mencolek dagu Maria, dan Diaz tergesa-gesa menepisnya. Ia menatap garang.
“Santai, Kawan.” sahut Teguh tersenyum jahil.
Diaz terkekeh-kekeh, tapi masih agak kesal. Ia benci ada yang berani berbuat nakal ke
tunangannya itu. “Oya, ini dalam rangka apa kalian semua pergi rame-rame begini?” Ia heran melihat Teguh, Tiara, Dion, dan Velita bisa pergi bersama-sama ke Puerto Rico. Curiga mereka semua berniat mengganggu saat-saat istimewanya bersama Maria. Dion, si cowok dengan muka penuh jerawat mengambil alih giliran untuk menjawab,
“Yah biar lu nggak macem-macemin Maria.” Lalu terbahak-bahak.
“Yeee, Maria juga tunangan gue, bentar lagi nikah juga, nggak apa-apa dong dimacem-macemin.” kata Diaz mulai nakal.
“Ingat-lah, Kawan, dikau itu orang Timur, jagalah dengan teguh nilai-nilai ketimuran.” kata Teguh dengan gaya ala ustad.
Tiara beringsut pada Diaz dan beberapa kali mengerlingkan mata. “Eh Diaz, kita
ketemu lagi,” Kali ini giliran Maria yang tampak jengah. “Eh Maria, manja banget sih lu?!
Baru tunangan aja, udah meluknya kayak gitu.” ejek Tiara sinis, waktu melihat Maria yang masih memeluk erat lengan Diaz.
“Suka-suka aku! Kita kan udah bertunangan ini. Apalagi bulan depan kita juga mau
menikah.” Maria ganti memanas-manasi Tiara.
Tak hanya Tiara yang terbelalak, Teguh juga kaget mendengarnya. Kasihan pria yang
hobi bikin pantun itu, bibirnya jadi kelu. Sementara Dion hanya menautkan alis matanya seraya berkata, “Serius lu, Yaz? Kok lu nggak pernah cerita ke sahabat terbaik lu ini sih?”
Kata-kata itu langsung ditimpali Velita: “Iya nih, Diaz berani main rahasia-rahasiaan. Yaz,
walau kamu itu mantan aku, nggak seharusnya main rahasia-rahasiaan. Aku ikhlas kok kamu nikah sama Maria.”
“Iya, iya, gue minta maaf. Ini juga gue sama Maria ke negara ini dalam rangka mau
bulan madu. Ya kan Letty Sayang?”
Diaz mencubiti Maria dengan gemas, Maria pun sama.
__ADS_1
“Hey, Diaz, barusan dikau sebut apa Maria Tersayang-ku itu? Apa-apaan dikau ini?
Sudah berani mesra-mesraan pakai nama julukan lagi.” semprot Teguh tiba-tiba.
“Kenapa? Maria kan bentar lagi udah jadi istri gue, jadi suka-suka gue dong. Dan asal
lu tahu yah, Letty itu nama panggilannya waktu kecil. Gue baru tahu, ternyata dia ini sahabat gue waktu TK dulu.” jawab Diaz sambil mengelus-elus rambut panjang Maria. “Sahabat sekaligus cinta pertamaku.”
“Diaz, lu udah benar-benar berubah yah sekarang?” ujar Dion nyengir. “Udah berani
gombalin cewek.”
“Iya, padahal waktu aku pacaran sama dia, mana pernah aku digombalin.” kata Velita
mencicit. “Oya, kalian berdua lagi ngapain ke sini? Lagi bulan madu-kah?”
“Bisa aja,” Diaz terkekeh. “Kami mau ke Santurce, mau mengunjungi El Museo de
Arte de Puerto Rico. Tapi pas taksinya lewat daerah sini, sopirnya mendadak berhenti;
mobilnya mogok, sehingga kami jadi melanjutkan perjalanan dengan jalan kaki sampai dapat transportasi lain. Kalian sendiri ngapain di sini? Pertanyaan gue tadi belum dijawab, lho.”
“Kan gue udah bilang, mau ngawasin lu biar nggak macem-macemin Maria. Ingat,
kalian kan belum menikah juga.” jawab Dion nyengir.
“Serius ah.” desak Diaz meminta jawaban yang lebih serius.
“Memang itu jawabannya, Sobat.” ujar Teguh meninju dada Diaz.
“Kalau gue sih, biar bisa terus dekat dengan Yayang Diaz.” Sumpah kata-kata Tiara
itu bikin Maria mau muntah. Maria jadi menatap galak pada Tiara yang ikut-ikutan memeluk lengan Diaz, namun lengan yang satunya. “Apa sih lihat-lihat?”
“Dasar cewek kegatelan.” ejek Maria.
Berikutnya tubuh Diaz ditarik ke arah dua sisi. Sisi sebelah kanan ditarik Maria, sisi
sebelah kiri ditarik oleh Tiara. Pemandangan itu jadi menarik perhatian warga San Juan, dan itu berlangsung cukup lama. Di saat bersamaan, ada bunyi kencang yang terdengar dahsyat. Tanah tempat mereka berdiri jadi bergetar, sehingga menyebabkan mereka semua--termasuk warga San Juan--jadi tiarap mendadak. Bahkan ada beberapa orang yang terpelanting. Tak hanya terpelanting, tapi terpelanting dengan badan penuh darah. Sambil memegang jalan
beraspal beton, samar-samar terlihat–karena ada asap yang cukup tebal–banyak onderdil
kendaraan roda empat berterbangan dan meluncur ke bawah. Beberapa orang apes terkena kepingan-kepingannya.
“Tak di Puerto Rico, tak di Jakarta
Bom bisa terjadi dimana saja
Dari dulu daku bertanya-tanya
Untuk apa bom tercipta?”
Ya ampun, Teguh. Di saat situasi genting seperti ini, ia masih bisa berpantun. Memang benar yang orang-orang bilang, kalau sudah jadi kebiasaan, di situasi apapun, kita
pasti akan melakukan hal yang jadi kebiasaan kita itu. Dari jauh juga, sepertinya Diaz melihat sesosok lain yang tidak asing. Pria berwajah oriental yang waktu itu ditemuinya di bandara. Pria itu juga teman Maria waktu sekolah di negeri Paman Sam. Dia Kenneth. Tampak Kenneth memegangi sebuah alat yang seperti controller. Apakah Kenneth yang melakukan pemboman ini?
💜💜💜💜💜
Diaz membuka matanya. Barulah ia tersadar itu hanya mimpi. Di depannya, tampak
sebuah layar lebar khas bioskop, dimana scene-nya adalah sebuah adegan romantis yang berlokasi di gereja. Ada sepasang pengantin berdiri di depan seorang pendeta – yang sedang mengucapkan janji untuk sehidup-semati.
Oh, cuma mimpi.
Ia menoleh ke arah samping. Ada Maria yang agak sewot.
“Kamu kok malah tidur sih?” protes Maria.
“Ditonton kenapa filmnya.”
“Maaf deh, Sayang–“ Diaz langsung mengertakan gigi, sementara Maria agak
terkejut mendengarnya. “Eh maksudku, Maria. Maaf yah, Mar, aku ketiduran. Nggak tahan
sama AC-nya.”
“Tadi kamu bilang aku apa? Sayang?” ujar Maria yang hatinya berlonjak-lonjak
kegirangan.
Dia risih diseringai seperti itu oleh Maria. Maria mulai centil lagi. “U-u-udah deh, ng-
nggak usah dibahas… yang tadi itu, aku cuma kebawa suasana gara-gara film ini, plus tadi
juga habis mimpi aneh.”
“Emang kamu habis mimpi apa sih?” selidik Maria tersenyum jahil, sekaligus
kesenangan.
__ADS_1
Dia mengertakan giginya. Tenggorokannya kering seketika. Dahinya mulai basah
karena keringat. Haruskah ia ceritakan mimpinya barusan?