
Miami, 2004
Butiran-butiran salju berhamburan menghiasi sebuah gereja bercat putih. Tak seratus
persen putih memang. Agak sedikit buram, sehingga terlihat eksotis. Hal tersebut membuat gereja itu tampak seperti bangunan tua yang sudah dibangun di jaman pra-kemerdekaan
Amerika Serikat. Dengan adanya butiran dan gunungan salju, ia seperti tengah melihat
sebuah gereja sorgawi.
Sayangnya itu hanya khayalan si gadis. Faktanya kondisi iklim daerah tersebut tak
memungkinkan turunnya salju secara lebat. Miami merupakan sekian tempat di negeri Paman Sam yang beriklim muson tropis. Alhasil hanya ada dua musim di 464 NE 16th Street Performing Arts, Miami, negara bagian Florida.
Nama gereja itu sendiri ialah Trinity Cathedral Miami. Kali pertama dibuka secara
publik pada tahun 1925. Makanya tak salah dengan kekusaman tiap dindingnya. Meskipun telah direnovasi beberapa kali, tetap saja kesan tuanya akan selalu terlihat. Posisi gereja itu juga termasuk strategis. Dekat pantai. Ketika selesai menjalani misa, jemaat bisa bersantai terlebih dahulu mengunjungi keindahan pantai Miami yang sudah terkenal dari mulut ke mulut. Jangan lupa pula, gereja itu berdekatan dengan Carnival Center, semacam gedung
pertemuan yang cukup sering dikunjungi oleh warga Miami.
Seharusnya gadis itu tak perlu sebegitu terkesannya dengan pemandangan tersebut.
Apalagi tak perlu dirinya mengkhayal turunnya salju di sekitar gereja. Bagaimanapun tiap minggu ia selalu beribadah di gereja tersebut. Perayaan-perayaan penting kekristenan selalu
ia rayakan di sana. Ditambah lagi, ia kan juga sudah tiga kali merayakan Natal dalam situasi bersalju dengan dinginnya yang menggigit tulang.
Namun, kali ini sedikit berbeda. Khayalan si gadis tak seperti biasanya. Semenjak
pagi, ia diserang oleh sebuah perasaan aneh. Mendadak ia ingin sekali merasakan suasana natal di negeri tropis. Tak sekadar iklimnya saja yang tropis. Ia berhasrat merayakan natal tidak dalam bahasa Inggris maupun Spanyol. Ia ingin merasakan suasana natal dalam
sentuhan bahasa ibu ayahandanya: Indonesia.
Ingat, tak hanya ayahnya saja yang Indonesia tulen, dirinya terlahir di negara tersebut.
Seingatnya, ia lahir di ibukotanya. Apa namanya? Oh iya, Jakarta. Dari berita di internet, konon kota metropolitan itu makin parah macetnya. Makin semrawut. Selain lahir di sana, cukup lama ia menghabiskan masa kecilnya. Bukankah ia dulu pernah bersekolah di sebuah taman kanak-kanak yang ada di sana?
“Hei,” sapa seorang pemuda. Matanya sipit dan agak sedikit cengkung. “Kamu Maria
kan?”
Ia mengangguk.
“Lucia Maria Goretti–“ Kelihatannya pemuda itu begitu kesulitan menyebut dua kata
terakhir dari namanya. Dan pengucapan kata terakhir yang diucapkan pemuda itu
membuatnya merasa ditarik mundur ke sebuah masa.
Ah, ia ingat. Dulu, semasa ia TK di Indonesia, ada seorang laki-laki yang menyebutnya Letty. Itu persis seperti dengan yang diucapkan pemuda ini. Mungkinkah pemuda ini orang yang sama? Tak ada yang mustahil di dunia, bukan? Bisa jadi teman masa kecilnya itu pindah ke Amerika juga karena suatu alasan. Mungkin ayahnya dimutasi seperti
ayahnya dulu. Apalagi perawakan pemuda yang berada di hadapannya kini sungguh
mengingatkan dirinya akan sosok cinta pertamanya. Sama-sama bertampang Asia, bermata sipit, dan berkulit putih bersih.
__ADS_1
“–Petlajaya Rossi kan namamu? Siswi kelas 8-2 yang wali kelasnya itu Mrs.
Melissa Teymourian?”
Ia mengangguk. Mungkin dugaannya itu benar. Mungkin anak laki-laki sudah pindah
ke Miami. Hingga tanpa sadar malah bersekolah di sekolah yang sama dengannya, yaitu di Gulliver Schools.
Kali pertama masuk ke sekolah itu, ia geli dengan nama sekolah tersebut. Gulliver itu
kan nama tokoh utama dalam novel karangan Jonathan Swift, penulis berdarah Anglo-Irish.
Semasa kecil, ia sering didongengi ibunya legenda manusia raksasa yang terdampar di negeri manusia kerdil. Saking terkesan dengan nama sekolah itu, ia sempat berpikiran bahwa dirinya tengah memasuki sekolah para liliput.
“Wah ternyata gosipnya benar yah,” kata pemuda itu nyengir. “Kamu ini memang
sungguh cantik dan memesona.”
Mukanya berona merah. Makin kuat dugaannya bahwa memang benar lelaki masa kecilnya tengah berada di hadapannya. Jantungnya berdentum kencang.
“Oh yah, hampir saja lupa, namaku Kenneth Soo.” Pemuda itu menyodorkan tangan.
Memang sih ia membalas sodoran tangan tersebut. Tapi ia agak kecewa. Seingatnya,
nama lelaki itu kan bukan Kenneth. Kalau tak salah, ia sering memanggil lelaki itu dengan
sebutan Didi. Tapi tunggu dulu. Itu kan kenangan masa kecil. Siapa tahu itu bukan nama aslinya. Di sini saja, beberapa teman perempuannya memiliki nama masa kecil yang bisa berbeda dengan nama asli. Ambil contoh sahabatnya, Kathleen Casper. Menurut pengakuan temannya yang berambut nyaris keemasan itu, nama masa kecil perempuan itu ialah Cathy.
Yah walaupun si Kathleen itu masih tetap dipanggil Cathy.
perempuan melankolis. Apa yang sedang kamu lamunkan?” goda pemuda ini lagi.
Ia terkekeh, menggeleng. Teringat juga bahwa cinta pertamanya itu juga senang
menggombal, walau masih duduk di taman kanak-kanak.
“Tidak ada apa-apa. Hanya sedang melamunkan adanya salju yang menutupi gereja ini.” katanya tersenyum lebar.
Pemuda itu nyengir. “Aku juga berpikiran seperti yang kamu pikirkan. Kalau gereja
ini ditutupi dengan salju-saljuan, pasti rasanya gereja ini akan mirip seperti sebuah gereja sorgawi, yang mana beberapa malaikat-lah yang akan menjadi penerima tamunya.”
Ia terkikik. “Oh ya, kamu duduk di kelas apa? Sepertinya aku belum pernah
melihatmu sebelumnya.”
“Wajar jika kamu belum pernah melihatku. Aku memang berbeda kelas denganmu.
Aku di kelas 8-5, yang wali kelasnya itu guru paling mengerikan di Gulliver. Kamu pasti tahu deh.”
Sungguh mirip. Seingatnya, anak laki-laki itu juga memiliki bakat membuat orang
tertawa. “Maksudmu Mr. Omar Acosta?”
__ADS_1
“That’s right.” ujarnya nyengir. “Lebih baik kita segera masuk. Misa natalnya akan
segera dimulai. Kamu ke sini bersama keluargamu kan?”
Mengangguk. “Dan mereka sudah masuk lebih dahulu ke dalam.”
Sejak pertemuan di hari natal itu, hubungannya dengan Kenneth Soo semakin dekat saja. Ia terus saja menduga bahwa Kenneth Soo itu ialah Didi, teman masa kecilnya.
Perawakan, pembawaan, dan sifat humoris seorang Kenneth Soo yang membuatnya bisa
membuat dugaan seperti itu. Itulah yang membuatnya merasa nyaman berada di dekat Kenneth. Sakit dekatnya hubungan mereka, banyak teman di Gulliver yang menduga dirinya tengah berpacaran dengan Kenneth yang ternyata merupakan incaran para siswi di sekolah tersebut.
Ia letih harus menjelaskan bahwa dirinya hanya berteman biasa dengan Kenneth.
Lelah rasanya harus mendapatkan teror dari siswi-siswi yang ingin menjadikan Kenneth
sebagai kekasih. Sayang ia tak bisa meminta orangtuanya untuk memindahkannya ke sekolah yang lain. Konyol rasanya, pindah sekolah karena alasan romansa picisan ala remaja putri Miami.
Tapi ia tak bisa menyangkal soal perasaan itu. Ia akui, tiap berada di dekat Kenneth,
itu selalu terasa berbeda. Darahnya selalu berdesir menyaksikan sisi keren pemuda
bertampang oriental tersebut. Pula selalu termabukan akan nostalgia jaman TK tiap melihat Kenneth. Ia selalu saja merasa bahwa Kenneth itu ialah Didi.
Selang empat bulan, Kenneth baru menembaknya secara resmi. Ia ingat betul dimana tempatnya, di sebuah restoran McDonald yang tak jauh dari sekolahnya. Dengan dalih ada sebuah tugas sekolah yang tak dimengerti, ia diajak ke restoran cepat saji tersebut. Di tengah menjelaskan materi, Kenneth berkata sembari memegang tangannya: “Hey, Maria. I don’t know why, but everytime I’m around here, my heart always get racing. Ever and ever–till the second. I’m hard to guard my eyes not to stuck on you. You are really the queen of my
heart. Would you be the real princess for me?”
Dirinya yang tengah dimabuk kenangan indah masa kecil di Indonesia, begitu sulit
untuk menolaknya. Perasaan itu tak bisa ia bohongi. Ia juga punya perasaan kepada Kenneth.
Selalu merasa nyaman dan terlindungi saat Kenneth berada di dekatnya. Segala humor
pemuda itu selalu bisa membuatnya terpingkal. Maka ia tak ragu untuk mengangguk dan berkata, “I accept you.”
💜💜💜💜💜
“Nggak nyangka si Kenneth bisa romantis juga,” puji Diaz setelah mendengarkan
cerita Maria.
“Kamu cemburu kan?” ujar Maria tersenyum genit.
“Nggak tuh. Sama sekali nggak, kenapa juga harus cemburu?”
“Aku tahu, kamu sebetulnya cemburu kan.”
Diaz mengertakan giginya erat-erat. Memutar bola matanya juga sembari menyisir ke
sekitarnya. Ia pun tersadar bahwa dirinya – bersama Maria – tengah menjadi objek tontonan seseorang.
“Yaz, kamu panas kan dengar ceritaku tadi?” Maria masih saja mengajukan pertanyaan bernada sama.
__ADS_1
Sementara Diaz menatap nyalang keluar kamar dan setengah berteriak, “Dasar tukang
ngintip! Selalu aja pengin tahu banget urusan orang.”