
Menyebalkan!
Diaz merutuki suasana hening dalam mobil. Hanya ada suara sang penyiar radio yang
begitu cerdas membawakan acara. Sesekali si penyiar sukses menerbitkan gelak di wajah
Diaz. Namun tidak dengan Maria. Perempuan itu masih terus bergeming dalam kesunyiaan. Masih saja senewen dengan Fidel.
Diaz jadi penasaran. Tak biasanya Maria seperti ini. Selama berada di dalam mobil,
Maria itu suka bersenandung. Perempuan itu akan menyenandungkan beberapa lagu. Kadang lagu Indonesia, kadang lagu Amerika yang masih dikenal Diaz, kadang pula lagu-lagu yang terasa asing di telinga tunangannya itu. Selain itu, Maria juga selalu berceloteh panjang lebar yang dilakukannya untuk bisa lebih akrab dengan Diaz. Biasanya Maria selalu mengomentari apa yang disampaikan oleh penyiar radio.
“Mar,” kata Diaz yang mulai gemas dengan kediaman seorang Maria. “Kenapa sih?
Dari tadi kamu, kulihat-lihat, lebih banyak diamnya. Feeling-ku, kamu beneran ada masalah sama Fidel tadi yah?”
Maria menelengkan kepala ke arah Diaz. Ia tersenyum dan menggeleng. “Nggak ada
apa-apa. Lagi pengin diam aja. Bukannya kamu lebih suka aku diam kayak gini kan. Aku ngomong pun, kamu selalu cuekin aku.”
“Yah..” Diaz memutar bola mata. “…yah, emang benar sih…” Nyengir lebar.
Maria hanya terkekeh seadanya. Sama sekali tak menunjukan gejala-gejala akan
sewot.
“Oya, ada yang mau kutanya sama kamu,”
Backing vocal: seseorang yang jauh berada berpuluh kilometer, tengah berusaha
menyarankan untuk menghindari beberapa titik.
“Soal Fidel?”
“Bukan sih. Soal Dion yang kumaksud.”
“Emang kenapa si Dion?” Tampak Maria belum begitu paham dengan yang dimaksud
Diaz.
“Soal kasus anjingnya itu, yang ternyata kena rabies,” Diaz mulai menjelaskan ke
intinya. Tentunya dengan kehati-hatian agar tak terdengar sebagai sebuah nada kecemburuan.
Maria mulai terlihat kembali hidup. Perempuan itu nyengir lebar. “Kamu mau bilang
kalau kamu beneran cinta sama aku kan. SMS itu betulan dari kamu kan. Dion emang nggak mau kasih tahu. Dia selalu aja bilang untuk konfirmasi sendiri ke kamu. Itu emang kamu
yang nulis kan. Kamu selalu salah tingkah, tiap aku bahas soal itu.”
Di dalam kereta, Diaz iseng saja mengetikan sederet kalimat menawan kepada Maria.
Tanpa sadar, di luar kendalinya, ia menekan ikon ‘send’. Diaz pun kelabakan. Karena pesan tersebut benar-benar sudah ter-send-kan ke ponsel Maria.
“Eeeeee…..” Diaz gelagapan. “Eh, M-m-m-mar… k-k-kamu tuh sebetulnya ada hubungan apa sama si Dion?”
Skak mat.
Mampuslah Diaz. Mati kutu ia sekarang. Kenapa ia malah lebih memberikan petunjuk
ke Maria soal perasaan sesungguhnya. Bodoh.
Maria terkekeh lebar. “Bilang aja kamu cemburu sama Dion. Lagian aku sama Dion
juga hanya teman biasa kok. Kami berdua nggak ada hubungan apa-apa.”
__ADS_1
Diaz menghela napas lega dalam hati. Tapi dirinya belum terlalu yakin. Itulah
sebabnya, lelaki ini berkata, “K-kamu ng-ng-nggak bohong kan. Habisnya kulihat, kamu tuh akrab banget sama Dion. Keakrabannya itu kayak bukan keakraban antar sahabat.”
“Terus kalau misalnya aku beneran pacaran sama Dion, kamu mau apa? Cemburu
kan.” Maria mengacung-acungkan telunjuknya ke Diaz. “Ngaku aja deh kalau cemburu. Kamu suka kan sama aku.”
“Eh, g-gimana kalau kita makannya di GI?”
💜💜💜💜💜
Hari ini Maria ada kelas. Kelas Hukum Agraria. Tak bersama Diaz. Tak ada Teguh
juga.
Kelas sudah berakhir. Tersaruk-saruk Maria beringsut pada Dion. Ester yang dari tadi
duduk di belakang Maria, mulai mencurigai sesuatu. Inilah saatnya untuk memengaruhi Diaz.
Dasar otak dangkal! Disangkanya, dengan memberitahui Diaz soal kedekatan yang janggal antara Maria dan Dion, ia bisa memenangkan hati Diaz, lalu pertunangan itu batal.
Soal hubungan Maria dengan Dion, itu sudah bukan rahasia lagi. Sudah cukup banyak
mahasiswa yang mengendus hal tersebut. Kedekatan Dion dengan Maria sudah tak tampak seperti hubungan pertemanan. Terlalu akrab. Terlalu intim. Terlihat cukup begitu mesra.
Keduanya sering terlihat jalan bareng. Kemanapun. Ke perpustakaan, ke kantin, ke Sport Hall, ataupun hang-out bareng ke mal. Pula mereka berdua sering bertukar catatan kuliah.
Tak jarang mengambil kelas yang sama. Sering duduk berdekatan. Cukup intens diskusi dan ngobrol bareng. Saat diinterogasi, keduanya suka menyangkal dengan mengatakan bahwa mereka murni hanya berteman yang kebetulan cocok secara pikiran.
“Eh, Mar,” kata Dion tersenyum, yang sudah bersiap meninggalkan ruang kuliah.
“Ada apa? Mau minjem catatan gue lagi?”
Maria menggeleng. “Nggak kok. Aku memang mau minta tolong, tapi bukan soal
“Soal apa?”
Maria memepetkan tubuh ke arah Dion. Jelas saja semakin menyebabkan banyak
pergunjingan. Apalagi status Maria itu tunangan Diaz. Sungguh sebuah kesempatan bagi Ester yang sigap mengambil gambar dengan ponselnya.
“Diaz…” bisik Maria.
Dion sebisa mungkin berusaha menahan tawa. Kalau sampai ia meledak dalam tawa,
Maria tentu akan tersinggung. Lelaki itu kurang begitu suka melihat Maria larut dalam
sebuah lubang emosi.
“Jangan ketawa dong,” gerutu Maria.
“Ya habis Diaz kenapa lagi? Bukannya dengan jadi tunangannya Diaz, impian lu
lterkabul yah? Kan lu dari dulu, lu suka curhat ke gue, lu udah cinta mati sama ntu cowok.”
kata Dion tentunya dengan suara sepelan mungkin, yang hanya cukup dinikmati dua kuping.
“Iya sih, harusnya aku senang. Tapi tetap aja, Yon, ada yang masih mengganjal.
Sampai sekarang pun, aku belum tahu soal perasaan Diaz yang sesungguhnya. Kadang dia perhatian, kadang dia judes sama aku. Sebetulnya dia sayang nggak sih sama aku?” keluh Maria buang napas.
Dion nyengir lebar. “Maria, Maria, gitu aja kok repot? Kalau gue jadi lu yah, gue sih
masa bodoh soal perasaan orang yang gue suka. Walau dia kelihatan antipati, gue yakin
__ADS_1
banget pasti suatu saat, kalau gue terus nunjukin perhatian, ia pasti suka juga sama gue. Dan yang penting buat lu itu bukan berusaha mencari tahu soal perasaan sesungguhnya. Yang wajib lu lakuin itu…”
Hening sejenak.
“…terus kasih perhatian ke dia. Terus bikin perhatian dia hanya terpaut ke lu.”
“Iya, iya deh, Master of Romance,” sindir Maria.
“Makasih buat wejangannya. Tapi
sekarang ini bantuin aku dulu dong. Aku perlu banget bantuan kamu, Yon.”
“Oke, oke, gue bantuin deh,” ujar Dion tersenyum. “Gue paling nggak suka lihat lu
cemberut gitu.”
Maria tersenyum lebar. “Nah gitu dong.”
“Tolongin soal apa?”
“Tar aja di Semanggi, aku kasih tahu. Banyak mata di sini.” kata Maria, setelah
mendelik ke arah Ester yang semakin berdiri terlalu dekat.
“Eh Kak Maria, Bang Dion,” ujar Ester sok ramah. “Lagi ngomongin apa sih?
Dengar-dengar, mau ke Semanggi yah. Ikutan dong. Sekalian nonton yuk. Kebetulan tadi gue baru ngecek situsnya, ada film yang sayang banget dilewatin.”
Maria menekuk bibirnya. “Udah yah, Yon. Aku mau ke toilet dulu. Nanti kukabari
lewat SMS.” Ia langsung melengos begitu saja.
“Btw, Bang Dion, ada yang mau kutanya nih,” kata Ester dengan dahi menegang.
“Mau tanya apa?”
“Sebetulnya Bang Dion sama Kak Maria itu pacaran yah? Kok sering barengan
mulu?”
Dion terbahak.
“Soal itu lagi…” kata Dion gemas. “Heran gue, siapa sih yang nyebarin gosip itu. Kurang kerjaan banget.”
“Jadi itu nggak benar?” Ester masih terus berusaha mengorek informasi.
“Ya nggak-lah. Gue sama Maria itu murni teman doang. Lagian gila kali ah, gue
pacaran sama dia di saat yang bersangkutan udah bertunangan sama orang lain.” ucap Dion entengnya.
“Bang Dion yakin?” Ester mengerutkan kening. “Yakin nggak punya perasaan apa-
apa ke Kak Maria? Yah kalau cinta sih, ngaku aja. Kelihatan kok dari cara Bang Dion
memperlakukan Kak Maria yang udah agak berlebihan.”
“Udah ah, males gue nanggepinnya.” kata Dion nyengir.
Di saat Dion melenggang keluar ruangan, Ester disiul-siuli oleh Tiara. Dari tadi Ester
dan tiga orang temannya masih belum beranjak dari bangku. Mereka juga sama penasarannya dengan Ester.
“Ester, sini dong, kasih tahu gue soal temuan lu tadi.” panggil Tiara.
Ester memeletkan lidah. “Males ah. Buat apa juga gue kasih tahu ke lu? Lebih baik gue kasih tahu ke Bang Diaz langsung. Lumayan kan, gue jadi bisa makin dekat sama dia.”
__ADS_1
Tiara meradang. Sontak ia berdiri dan sekonyong-konyong mengejar Ester untuk
memberikan si junior belagu itu suatu pelajaran berharga yang tak akan mudah dilupakan.