
Maria dongkol lagi. Dongkol di depan pintu kamar mandi. Sesekali menggedor-gedor.
Ia menggerutu hebat. Lalu menggedor-gedor lagi. Hingga akhirnya…
Seseorang yang digerutuinya keluar. Diaz bertelanjang dada dan hanya ada selembar
handuk yang menutupi bagian alat ***********. Walau sudah tinggal serumah, ini kali pertamanya melihat Diaz bertelanjang dada. Makanya ia jadi terkesima. Apalagi Diaz sungguh sempurna.
“Hei,” Diaz melambai-lambaikan tangan di muka tunangannya. “Pagi-pagi udah
ngelamun aja.”
Pemuda itu nyengir lebar, Maria jadi semakin terkesima.
Terkekeh. “Kayaknya lu udah nggak ngambek lagi yah?”
Seketika itu, Maria tersadar dari lamunan. Bibirnya tertekuk lagi, lalu kedua pipinya
menggelembung lagi. Pemudi itu memang begitu kalau tengah ngambek.
“Lama banget sih mandinya.” semprot Maria.
“Kayak cewek aja. Aku aja juga nggak
selama gitu mandinya.”
Diaz nyengir gemas. Ia mengertakan gigi.
“Kamu itu kenapa sih? Aneh. Tadi
mandangin keseksian tubuh aku kayak apa aja, eh sekarang jadi jutek gini. Dasar freak!”
“Seksi?” Kedua alis Maria terangkat. “Apanya yang seksi? Kayak tulang ikan gitu
dibilang seksi.” Gadis itu mulai meletakan setengah kakinya ke lantai kamar mandi.
“Kalau nggak seksi, ngapain ngelihat aku ampe segitunya?” sindir Diaz nyengir.
“Si-siapa juga yang lihatin badan kamu. Ge-er!” ujar Maria defensif. “A-aku cuma
heran aja, masa ada cowok mandi lama banget.”
“Kalau nggak mau nunggu, mandi aja di atas. Di atas kan ada kamar mandi.” Diaz
tahu, Maria itu penakut. Tunangannya itu takut masuk kamar mandi di jam lima pagi yang masih bernuansa gelap. Oh iya, kamar mandi di lantai dua itu terletak di pojok – dan
memiliki satu jendela kecil.
Maria memonyongkan bibirnya. Diempaskannya pintu kamar mandi.
Diaz terkekeh. “Lagian kamu kenapa nggak masak dulu sih? Yah seperti biasanya.”
“Katanya masakanku nggak enak? Cuma bikin perut sakit doang?” teriak Maria dari dalam kamar mandi.
“Emang sih.” Diaz nyengir membenarkan. Ia melengos menuju kamarnya untuk
berpakaian.
Untuk ke kamar, Diaz perlu melewati kamar Martin dulu. Kebetulan Martin baru saja
keluar. Abangnya itu menatapnya sayu, juga nyengir.
“Diaz, Diaz…” kata Martin geleng-geleng kepala. “Lu tahu nggak? Sejak Maria dan
adiknya tinggal di sini, suasana jadi rame. Gue suka dengerin pertengkaran lu sama Maria.”
Diaz mendengus. “Sial lu.”
Martin terkekeh. “Lu kenapa sih selalu aja sikap lu gitu ke Maria? Dia salah apa sama
lu?”
“Dari awal, gue nggak suka dijodoh-jodohin.”
“Tapi hubungan lu sama dia udah mau mendekati anniversary kedua. Lagian gue
nggak yakin, lu beneran nggak suka sama perjodohannya. Soalnya kalau lu nggak suka,
perayaan anniversary waktu akhir tahun itu nggak akan pernah terjadi. Plus…” Martin
senyum menggoda. Menggodai Diaz.
“Apa sih lihatin gue kayak gitu? Risih tahu.” tukas Diaz.
“Lu masih ingat nggak kejadian waktu Maria sakit usus buntu?”
Diaz memutar bola mata dan mengangkat bahu.
__ADS_1
“Nggak usah berlagak lupa deh.” Martin nyengir. “Gue ingat banget kok kejadiannya.
Waktu itu, kita cuma berempat aja di rumah--gue, lu, Maria, dan Agatha. Gue sama Agatha
lagi nonton di ruang tengah waktu lu naik ke atas buat… entahlah, lu orangnya nggak bisa
ditebak sih.” Martin tergelak.
“Terus sepuluh menit kemudian, lu histeris turun dan nyamperin gue sama Agatha. Gue ingat sekali kata-kata lu, ‘Tin, Ta, Ma-maria kenapa tuh? Dia dari tadi terus megangin perutnya.’ Pas Agatha bilang, ‘Ah paling lagi dapet Kak Maria tuh.’–lu langsung damprat dia, ‘Nggak kayaknya… Tin, nyalain mobil, kita bawa Maria ke rumah sakit.’”
Martin benar-benar memarodikan kejadian saat itu, Juli 2012. Dan dugaan Diaz tak meleset. Maria tak sekedar menstruasi, tapi terkena penyakit usus buntu yang membuatnya harus dirawat selama sebulan.
“Sudah ingatkah, Adikku Tersayang?” goda Martin. “Dan siapa juga yah, yang jagain
Maria selama dirawat di rumah sakit? Yang bahkan dia juga ogah pulang, kalau Maria masih dirawat.”
Diaz mengertakan gigi. Ia bergeming. Segenap tubuhnya seperti sepakat untuk ogah mengakui kebenaran fakta itu.
“Oh iya, Diaz,” ujar Martin. “Lu siap nggak, kalau misalnya Maria minggat dari
rumah ini?”
“Minggat? Nggak mungkin-lah, dia kan sudah nggak punya siapa-siapa lagi, selain
adiknya. Makanya Papa-Mama nyuruh dia tinggal di sini, selain soal perjanjian Papa sama bokapnya itu. Bokapnya anak tunggal, kan?” jawab Diaz dengan tingkat kepolosan luar biasa.
Dari wajahnya terpancarkan aura kelegaan; ia lega saat tahu Maria tak akan pernah jauh
darinya. Perasaan lega itu berusaha ia tutupi dari abangnya.
“Lu nggak tahu memangnya?” tanya Martin lagi.
“Tahu apa?” Diaz mendadak bingung.
“Nyokapnya Maria kan keturunan Italia.”
“Yah, itu sih gue udah tahu dari dulu.”
“Lu tahu nggak, kalau nyokapnya nggak seperti bokapnya yang anak tunggal?”
Diaz menggeleng. Ia mulai terlihat cemas.
“Nyokapnya punya adik dan kakak yang selama ini tinggalnya di Italia. Eh salah deh,
adik nyokapnya tinggal di Jepang, jadi cuman kakaknya aja yang masih di Roma, Italia.”
Abangnya itu berjengit. Martin nyaris tertawa lepas melihat ekspresi kalut Diaz.
“Kenapa? Lu takut, kalau misalnya Maria dan adiknya ke rumah tantenya yang di Roma atau di Jepang?”
Diaz tak menjawab. Ia malah termangu-mangu. Membayangkan jikalau Maria dan
Agatha pindah dan tinggal bersama sanaknya yang tinggal di Italia atau Jepang.
“Udah nggak usah dipikirin, mending lu pake baju gih, ntar masuk angin.” kata Martin nyengir dan menepuk pundak adiknya. Lalu abangnya itu melengos menuju teras
untuk berolahraga pagi. Sementara Diaz masih terus tercenung. Ia tercenung sembari berjalan ke kamar. Ia agak bergidik juga membayangkan Maria angkat kaki dari rumahnya untuk memilih hidup di
Jepang atau Italia. Tak terbayangkan rasanya tak ada Maria. Mungkin tak akan ada lagi
seorang gadis yang terus menerus menyodorkannya sepinggan masakan yang belum terjamin kelezatannya. Mungkin tak ada lagi yang bisa diajak gelut di depan kamar mandi tiap pagi.
Mungkin tak ada lagi seseorang yang bisa dimintai tolong untuk mengerjakan tugas-tugas kuliahnya. Mungkin tak akan terdengar lagi suara-suara cempreng nan manja. Mungkin tak akan disaksikannya lagi aksi-aksi konyol dari seorang gadis berusia dua puluh tiga tahun yang sering bikin ia mau tergelak. Mungkin tak akan ditemui lagi seseorang yang sering mencoba sok tahu saat ia sedang mengobrol. Atau mungkin tak akan dilihatnya lagi seseorang yang selalu duduk di bangku sebelah sopir setiap pagi berangkat kuliah, selalu saja sibuk ber-make-up ria. Juga tak akan ada lagi seseorang yang jadi polisi pribadinya saat mengemudi.
Ah… Diaz jadi buang napas banyak-banyak. Ia jadi merinding membayangkan sesuatu yang mungkin saja tak akan terjadi. Selama ini kan, Maria belum pernah bilang ke keluarganya, ia lebih suka tinggal bersama keluarga tantenya di Italia atau di Jepang. Bahkan Maria sendiri yang menyetujui tinggal di rumah keluarga Rohie. Diaz terlalu paranoid, atau mungkin itu perwujudan dari rasa cintanya ke Maria yang selama ini terus dipendam.
Pagi ini, syukur-lah Maria sudi berangkat ke kampus bersamanya–naik Innova. Seperti pagi-pagi yang sudah-sudah, Diaz sopirnya, Maria di sampingnya, dan Martin serta
Agatha di bangku belakang. Untuk Agatha, gadis itu hanya menumpang hingga gerbang
komplek, yang lalu dilanjutkan dengan angkot ke sekolahnya.
Selama menyetir, beberapa kali Diaz melirak-lirik Maria yang sibuk make-up. Kata
orang, ketika kita sedang memerhatikan seseorang, waspadalah orang yang tengah diamati itu tersadar dan melihat balik. Yah itulah yang terjadi, Maria sadar.
“Apa sih lihat-lihat?” protes Maria.
“Si-siapa yang lihatin kamu? Ge-er banget. A-ku cuma lagi lihat spion dekat kamu,
kok.” dalih Diaz gugup.
Maria terkikik, Martin yang duduk dibelakang juga.
Lalu Diaz kembali menatap ke depan, walau sesekali masih suka curi-curi pandang ke
Maria. Saat Maria menegurnya, Diaz pasi dengan dalih spion lagi. Martin benar-benar
__ADS_1
terhibur sekali di bangku penumpang, meskipun hiburan dari radio mobil sudah cukup. Saat itu, salah satu stasiun radio tengah memutar lagu “Never Knew I Needed” dari Ne-Yo.
“Oya, Mar,” kata Diaz memberanikan diri untuk mengatakan sesuatu yang dirasanya
penting.
“Hmm…” Hanya itu reaksi Maria.
“Aku mau nanya sesuatu ke kamu.”
“Tanya apa?” Maria menelengkan wajah ke Diaz yang juga berlaku sama.
“Kamu beneran punya keluarga yang tinggal di Italia atau Jepang?” Percaya atau
tidak, dahi Diaz mulai basah sewaktu mengutarakannya.
Di bangku penumpang, Martin tertawa tanpa suara, yang langsung bungkam saat
diseringai adiknya.
Maria tersenyum penuh arti. “Kamu tahu dari mana?”
“Da-da-da-dari…” Diaz menggaruk-garuk rambutnya. “… da-da-da-dari Mama
aku…”
“Terus kalau iya kenapa?” Maria tersenyum misterius lagi.
“Ng-nggak kenapa-napa sih, Cuma pengin tahu aja. Kan kita tunangan juga, jadi aku
harus tahu soal kamu.”
Maria terkikik.
“Jadi benar atau nggak?” Diaz tak sabar.
Maria mengangguk. “Yang di Roma itu kakak dari Mami aku, namanya Mariana. Kalau yang di Jepang itu adiknya Mami, namanya Elisabetta. Zia13 Elisabetta menikahi
orang Jepang – namanya Takeshi-ojiisan.”
Diaz angguk-angguk.
“Udah keponya?” Sebelah alis gadis itu terangkat. “Emang kenapa sih kamu nanyain
itu?”
“Cu-cuma pengin tahu aja. Lagian kamu kan tingal di rumah aku, aneh aja kalau aku
sampai nggak tahu apa-apa soal kamu.” Lagi-lagi Diaz berusaha menutupi sesuatu dari
Maria.
Maria tersenyum menggoda. “Kamu takut yah, kalau aku mutusin tinggal di rumah
Zia Elisabetta atau Zia Mariana?”
“Ng-nggak kok..” Tergesa-gesa ia membuang muka lagi ke jalan.
Lalu hening. Selama hening, wajah Diaz masam sekali. Keringat dingin mulai
membasahi punggung dan tangannya. Sepertinya udara dari pendingin membuatnya
kepanasan. Karena itulah, Maria mengambil tisu dan menyeka keringat-keringat itu. Wajah
Diaz jadi semakin kaku. Martin tertawa tanpa suara lagi.
“Oh yah, Diaz,” kata Maria yang masih sibuk membersihkan dirinya dari keringat.
“Itu tiket ke Puerto Rico, keberangkatannya kapan yah? Bukannya bulan Juni ini kan flight-nya?”
“Eh, tiket yang mana yah? ” ujar Diaz mengernyitkan kening.
“Itu lho yang kamu beli dari mas-mas itu.” seru Maria dengan mata berbinar-binar
dan senyum genit itu muncul kembali. “Aku pengin banget ke Puerto Rico. Jadi kapan kita berangkat?”
Diaz nyengir kaku. Keringat dingin mulai bercucuran lagi.
“Selesai ujian, kita berangkat ke sana yuk. Tanggal satu kan, udah nggak ada ujian
lagi di fakultas.”
Sesungguhnya Diaz patut curiga. Seingatnya, Maria kan masih ngambek. Tadi pagi saja, ia masih sempat ribut-ribut kecil dengan perempuan itu. Mengapa pagi ini perempuan
kembali lagi dengan sikap centilnya itu? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Diaz benar-
benar bingung dalam hati dan pikirannya.
__ADS_1