
Tangerang, Mei 2013,
Di tengah hembusan udara dari mesin pendingin, Diaz tercenung. Ia terlentang
memandangi langit-langit kamar berwarna oranye akibat tempias sorot lampu. Masih saja ia terbayang-bayang segala kisah di Puerto Rico Januari silam. Kisah itu memang untuk Maria, tunangannya. Namun entah mengapa pikirannya terus saja direcoki oleh satu wajah Hispanik: Serena. Ia terus menerus terbayang wajah Serena. Senyumnya, tawanya, kesalnya,
sedihnya,…. nyaris tiap ekspresi Serena menghantuinya.
“Serena, Serena,” desisnya tersenyum. “Kamu lagi apa yah di sana?”
Terdengar suara decak. Itu Martin, abangnya yang hanya selisih dua tahun; itulah
mengapa ia jarang memanggilnya abang, apalagi sikapnya juga tak layak untuk dipanggil abang.
Kepala Diaz ditelengkan ke arah dimana Martin muncul. “Eh lu Tin,”
Martin nyengir gemas. Geleng-geleng kepala. “Lu kenapa sih sama Maria kayak anjing dan kucing mulu? Nggak pernah akur. Lu selalu aja nyakitin hatinya terus.”
“Ah dianya aja yang kelewat sensitif.” katanya enteng, lalu menatap langit-langit
kamar lagi.
Martin berdecak lagi. Geleng-geleng lagi. “Dia itu tunangan lu, calon istri lu.”
“Dari awal gue menentang perjodohan ini, kok.” sembur balik Diaz. “Papa aja yang
suka maksa.” Ia menegakan badannya, mengambil posisi duduk. Kini ia menatap wajah abangnya itu dengan selayaknya. “Lagian kenapa harus gue sih yang dipilih buat dijodohin ke gadis centil itu sih? Ada lu juga yang anak sulung di keluarga ini?”
Lalu ia beringsut pada Martin. Ia tatap
abangnya itu seraya tersenyum. “Harusnya lu
ikut belain gue saat perjodohan itu dimulai, Tin.”
Martin nyengir. “Itu maunya surat Papi-nya Maria. Kalau mau protes, protes ke dia
sono.”
Diaz nyengir – nyaris tergelak. “Heran gue, kenapa sih orang-orang jaman dulu suka
banget menjodoh-jodohkan anaknya dari kecil? Merepotkan banget, jadi nyusahin malah.”
Martin tergelak. “Nyusahin yah? Nyusahin, tapi lu sebetulnya suka juga kan sama
Maria? Ngaku deh.”
Diaz terkekeh.
“Nggak usah munafik, Adikku Tersayang,” goda Martin. “Kalau lu nggak cinta sama
Maria, nggak mungkin kan lu bela-belain ikut kontes itu?! Ingat nggak kejadian pas
Valentine itu?”
💜💜💜💜💜
Setelah Maria terbebaskan dari bahaya lanjutan dari keracunan Atlante, kehidupan di rumah kediaman Rohie berlangsung nyaris normal. Persis sebelum kedatangan Serena. Diaz dan Maria tak henti-hentinya bak anjing dan kucing. Walau mereka semua tahu bahwa Diaz akhirnya mencintai balik Maria.
Saat itu, tak biasanya Maria tak menyentuh dapur keluarga Rohie di pukul 05.00 pagi.
Baru kali ini sejak tinggal di sana, dia tak bikin keributan kecil di dapur. Diaz jadi teringat
hari kedua Maria tinggal. Ia ingat betul momen pertama serangan fajar di rumahnya.
Tiap pagi--sebelum kedatangan gadis berkepang itu--Diaz selalu terbangun di pukul 05.00 setelah mendengar irama beatbox di alarm ponselnya. Lalu ia keluar kamar dengan wajah lusuh dan mata penuh belek menuju kamar mandi yang berada persis di samping kamarnya.
Bila tak berjalan mulus, ia akan menggedor pintunya pertanda ada orang di dalamnya yang biasanya Martin. Namun hari itu, tidak. Jam di kamarnya masih menunjukan pukul 04.30 pagi, dia sudah terbangun. Dengan mata dikucek-dikucek dan bibir monyong, juga masih dalam busana piyama dan belek di kedua mata, ia tergopoh-gopoh keluar kamar dan berjalan lurus menuju dapur. Samar-samar ia melihat seorang gadis, selain ibunya dan Mbak Nenti.
Gadis itu panik karena kebakaran kecil yang ia buat; ia berkali-kali meminta maaf kepada
Ibu Tantri dan Mbak Nenti, juga berusaha membersihkan kekacauan kecil yang ia buat di pagi buta.
Pagi ini benar-benar berbeda. Maria bangun di jam setengah enam pagi. Yah, jam
lima pagi. Ibu Tantri sampai heran kenapa Maria tidak bangun begitu mendengar bunyi
kompor dihidupkan, suara bawang atau cabai dipotong di atas talenan, ataupun suara keran air sebagai tanda Mbak Nenti tengah mencuci piring-gelas yang masih belum dicuci. Tambah bikin bingungnya lagi, Ibu Tantri heran melihat Maria dan Diaz bertengkar di depan kamar mandi. Padahal biasanya Maria belajar memasak di dapur sambil menunggu
Diaz atau Martin selesai mandi.
“Yah sudah,” Ibu Tantri berusaha melerai pertengkaran sepasang tunangan tersebut.
“Diaz, mending kamu saja yang mandi di atas. Mengalah, dong, sama perempuan apalagi
sama tunangan sendiri.”
“Tuh dengar.” sembur Maria yang langsung ngeloyor begitu saja masuk kamar
mandi. Cklek. Pintu pun dikunci.
Diaz jadi mendengus kesal. Ia berjalan meninggalkan kamar mandi. Namun sebelum ia menjejakan kakinya di atas tangga besi, Ibu Tantri bersahut padanya, “Diaz, kamu
berantem lagi sama Maria? Kali ini masalah apa lagi?”
Diaz tak menjawab, tapi malah Martin yang menjawab, “Kemarin, Ma, kejadiannya.
Diaz mencela habis-habisan masakan Maria. Masakannya sih memang–aku akui--memang nggak terlalu enak, yah tapi nggak usah sampai gitu juga kali. Pakai bilang, ‘Kamu nggak usah sok-sokan masak deh. Tiap kali kamu masak, hanya ada bencana di rumah ini.’” Martin meniru habis-habisan kata-kata Diaz ke Maria kemarin siang.
Diaz mendelik ke arah Martin; ia merah mukanya, entah karena malu ataupun sewot.
Kemudian ia berjalan cepat ke kamar mandi atas. Ibu Tantri hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Ia berpikir itu hanya masalah kecil dan sama seperti
pertengkaran lainnya; paling satu-dua-tiga hari setelahnya, mereka berdua kembali rujuk.
Tak hanya soal kamar mandi atau dapur saja, pertengkaran Diaz dan Maria juga
merembet ke soal mobil. Untuk pertama kalinya, Maria menolak pergi kuliah bersama Diaz dan Martin, yang hanya menumpang, seperti biasanya.
“Diaz, lepasin.” seru Maria. “Aku kan sudah bilang mau berangkat sendiri.”
“Ngapain sih? Mending naik mobil aja. Kamu kan nggak usah desak-desakan di bus.”
sahut Diaz.
“Enakan naik bus.” semprot Maria.
“Nggak enak kalau nggak ada kamu, Mar. Ada yang kurang rasanya. Lagian malas
banget aku, kalau berangkat bareng Martin.” kata Diaz dengan tatapan melecehkan.
“Sialan.” sela Martin mendesis.
“Ah paling juga buat menghindari three-in-one, ya kan?” ucap Maria sinis.
“Yah itu sih… Itu sih, kuakui, memang keuntungannya kamu ikut,” Diaz
membenarkan.
Maria memberengut. Ia berjalan mendekati pagar berwarna coklat kehitaman. Terburu-buru Diaz menangkap salah satu pergelangan tangan Maria.
__ADS_1
“Mar, udah dong ngambeknya,” pinta Diaz.
“Aku, aku, aku, - “ Ia tertunduk dengan
kedua pipi memerah. “ – me-me-me-me-merana ka-ka-ka-kalau ka-ka-ka-kamu te-terus-terusan ngambek begini. Jadi pusing nggak karuan. Aku merasa bersalah banget.” Sebentar tergagap, sekejap kemudian cepat sekali diucapkan.Tak hanya Martin yang terperangah, Maria juga.
“Yaz, lu sakit yah?” ujar Martin mengernyitkan dahi.
“Diaz, maksudmu apa?” tanya Maria yang juga sama bingungnya dengan Martin.
Diaz terpatung. Karena terus menerus diseringai oleh dua orang, ia mulai gerah. “Oke, terserah kamu, deh, mau ngapain. Mau pergi naik bus, ya udah silakan.”
Dihempaskannya pegangannya dari pergelangan Maria. Ia bergegas masuk mobil. Di dalam, ia mengelakson kencang-kencang. Ribut sekali jadinya. Apalagi Maria juga semakin memanaskan suasana dengan banting pagar meninggalkan Diaz dan Martin yang berada di dalam mobil. Sekitar satu-dua-tiga kilometer dari kediaman keluarga Rohie, cekcok lagi. Diaz sengaja memelankan mobilnya di dekat Maria, lalu berkata, “Ayo naik, aku tahu kamu nggak kuat berdiri lama-lama di bus. Jam segini kan susah dapat tempat duduk.”
“Enak aja, jangan ngeremehin yah!” sembur Maria. Diaz, Diaz, cowok itu suka sekali menghina dan meremehkan Maria. Kata siapa Maria tidak dapat tempat duduk? Diaz salah besar. Ia berhasil kok mendapatkan tempat
duduk kosong di dalam bus kota yang lewat kampusnya. Yah walau penumpang di sebelah kirinya memiliki masalah dengan bau badan. Berkali-kali Maria menyempitkan lubang hidungnya. Tapi bau yang sungguh memuakan itu tak menghalangi otak kanannya bekerja kreatif menciptakan beberapa haiku yang membentuk sebuah sajak. Itu semua terjadi karena masih terus menerus mengumpat Diaz yang hari ini bikin jengkel lagi.
Tak tahu kamu?
Hujan mengingatkanku
pada sosokmu
Dingin; tak peka;
cowok anti romantis;
Itulah kamu
Walau tak peka
aku tak bisa marah
sama sekali
Bukan marah jua
Hanya sedih – kecewa
Mimpi tak sampai
Berhasrat punya
Pacar super romantis
bak dalam dongeng
Kini ‘ku sadar
Dongeng tetaplah dongeng
Hanya ilusi
Ilusi tak riil
Hanya sebagai candu
Buaian hidup
Walau begitu
tapi tetap cintamu
sebab satu hal
Tidak sempurna juga
Pasangan unik
Kita memang pasangan unik
💜💜💜💜💜
Selain Maria yang terus mendekam dalam kamarnya dengan pintu terkunci, petang
hari tetaplah petang hari di rumah keluarga Rohie. Martin tiba di rumah sekitar jam enam
sore, setelah seharian berkutat di kantor redaksi sebuah majalah remaja. Selepas pulang, bukannya mandi, ia malah sibuk di depan komputer--sibuk menyelesaikan tugas-tugas kantor yang belum terselesaikan tadi. Saat itu, Diaz masuk.
“Bang Martin,” panggil Diaz yang sudah berdiri di belakang Martin.
“Apa?” kata Martin yang tetap tak menoleh pada adiknya itu. “Biasanya kalau udah
begitu, ada maunya kan lu.”
“Lihat dulu dong ke arah gue,”
Martin terpaksa menoleh ke arah Diaz. Ia nyengir. Alisnya naik-turun. Diaz jadi grogi
dibikinnya.
“Cepetan deh, ada apa. Gue masih harus nyelesein bikin artikel ini.” desak Martin.
“Ini soal Maria, Tin,” kata Diaz malu-malu.
“Gue takut ngambeknya dia bakal
berkepanjangan sampai ke masalah yang lebih serius lagi. Apalagi tadi di kampus, sikap dia ke gue benar-benar dingin. Gue benar-benar dicuekin. Dia malah selalu buang muka, tiap ketemu gue.”
“Terus kenapa? Bagus kan? Siapa tahu habis ini dia minta perjodohannya dibatalkan,
itu kan sesuai dengan yang lu mau.” seloroh Martin.
“Eeee…” Diaz mati kutu. Ia jadi mematung sekian lama.
Martin belum juga kembali mengalihkan pandangannya ke layar komputer. Ia tetap
memandangi adiknya dengan harapan…. Diaz berkata lebih jujur soal perasaannya.
“Ju-ju-jujur gu-gu-gue be-berharap itu jangan terjadi…” kata Diaz berusaha mengalahkan kegugupannya.
Martin nyengir. “Jadi lu beneran cinta sama Maria?”
Diaz mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Jaga-jaga saja, takut ada yang
menguping, apalagi kalau itu Maria. Setelah dirasa aman, hanya ada dia dan abangnya, Diaz berani mengangguk.
Martin tergelak.
Diaz cemberut. “Jangan ketawa dong. Nggak ada yang lucu.”
“Sorry deh sorry,” ujar Martin yang harus mengerem tawanya.
“Jadi gimana nih?” Ganti Diaz yang mendesak Martin.
“Gimana apanya?” Sebetulnya Martin sudah tahu maksud pertanyaan adiknya itu. Ia
hanya sedikit menggodanya saja.
__ADS_1
“Yah cara,” Jeda sebentar. “cara melunakan hati Maria, biar dia nggak ngambek lagi.”
Martin tergelak lagi.
“Tin,”
“Untung sepulang kerja tadi, gue langsung browsing dan nemuin sesuatu yang
berguna banget buat masalah lu,” Martin bergegas ke komputernya lagi. Sementara ia
mencari-cari lagi laman yang dimaksud, Diaz beringsut tanpa diminta. “Nih dia, yang gue
maksud,”
Ternyata itu adalah sebuah kontes yang tengah diselenggarakan oleh sebuah maskapai penerbangan bernama Asia Airlines dalam rangka merayakan hari terbentuknya perusaan penerbangan itu yang keduapuluh; sekaligus itu juga untuk merayakan Valentine’s Day. Kontes itu memiliki banyak hadiah menarik. Salah satunya, dua tiket ke Puerto Rico langsung. Cara untuk mendapatkan dua tiket itu ialah dengan mengunggah ke Youtube sebuah video dimana pelakunya harus berpuisi romantis dengan latar dan gaya tak biasa.
Itulah sebabnya, besoknya, Diaz yang hari itu seharusnya tak ke kampus karena tak
ada kelas, jadi harus ke kampus.
“What the hell!” seru Diaz. “Kenapa harus di lorong Gedung C scene-nya? Mana hari
jumat pula. Di sana kan rame banget tiap hari jumat. Tempat lain, kek, plus hari lain juga.
Gue mohon, jangan di sana.”
“Tadi pagi kan lu udah janji mau nurutin apa kata gue dan Agatha,” kata Martin
nyengir.
“Laki-laki harus memegang kata-katanya.” goda Agatha.
“Benar banget.” Martin membenarkan. “Ya sudah, buruan gih, lu jajal adegan dalam
naskahnya. Ingat lho, ini buat Maria. Mau dia ngambeknya semakin lama lagi dan akhirnya
jadi ninggalin lu beneran?”
Diaz kelu bibirnya. Ia buang napas. Pasrah. Wajah pasrah itu bikin Martin dan Agatha
terkekeh.
“Oke, aktor, tunjukan aktingmu!” seru Martin, yang langsung menyuruh Diaz menuju
patung setengah badan Albertus Magnus. “Buruan sana, jangan buang-buang waktu.”
Diaz berjalan gontai ke lokasi skenario. Ia angkat tinggi-tinggi sehelai kertas berisi
puisi yang dibuatkan Agatha.
Aku bukan Aladdin
dengan lampu ajaibnya
Aku bukan Eric
yang diselamatkan Ariel The Mermaid
Juga bukan seorang Tarzan
dengan segala kejantanannya
Aku adalah aku
seorang yang ******
Tak tahu artinya cinta
Tak tahu memperlakukan wanita
Aku kikuk soal cinta
Namun…
sekeras-kerasnya
segigih-gigihnya
semantap-mantapnya
‘Ku berusaha semampu-mampunya
ciptakan cerita cinta anti-klise untukmu
Kuteguhkan cerita cinta unik ini
Tak ada yang bisa menyamainya
Lebih menarik dari Snow White
Lebih menarik dari Beauty and the Beast
Lebih mengharu biru dari Cinderella
Tak ada fairy’s tale manapun yang bisa menyamainya
Cerita cinta terbaik sepanjang masa
Kamu dan aku
Aku dan kamu
Kita
Lebih dari pasangan manapun
Diaz menghela napas. Sambil menundukan kepala, lalu Agatha langsung saja
menghidupkan handycam yang dari tadi dipegangnya. Diaz perlahan tapi pasti mulai
mendeklamasikan puisi tersebut dengan lantangnya, dan dengan gaya yang membuatnya jadi pusat perhatian orang-orang yang berada di tempat kejadian: mahasiswa, mahasiswi, dosen, office boy, office girl, dan karyawan-karyawati kampus jadi mengarah padanya.
Mereka semua terbengong-bengong melihat aksi teatrikal tersebut. Bahkan ada juga yang
nyengir dan tertawa melihatnya. Diaz berusaha menahan agar tidak merah mukanya. Bisa gawat jika adegan itu terus diulang oleh Agatha dan Martin hanya karena mereka merasa tidak keren atau mencerminkan puisi tersebut. Untungnya saja, adegan itu hanya butuh
waktu lima belas menit saja. Tanpa pengulangan. Diaz langsung terbirit-birit menuju Agatha--dan juga Martin--yang tadi berteriak “CUT!!!”
“Acting lu keren, Yaz!” seloroh Martin. “Lu pantas dapat Piala Oscar, atau minimal
Piala Citra.”
❤❤❤❤❤
“Gue kan dipaksa lu, Nyet.” sembur Diaz ketus dan merona merah.
“Gue nggak maksa lu yah,” ralat Martin. "Seingat gue, lu yang datang sendiri ke
kamar gue, terus curhat soal Maria yang ngambek, terus minta saran gue buat luluhin hati."
__ADS_1