Destiny 41

Destiny 41
Berani Malu demi Calon Tunangan


__ADS_3

Tangerang, Mei 2013,


Di tengah hembusan udara dari mesin pendingin, Diaz tercenung. Ia terlentang


memandangi langit-langit kamar berwarna oranye akibat tempias sorot lampu. Masih saja ia terbayang-bayang segala kisah di Puerto Rico Januari silam. Kisah itu memang untuk Maria, tunangannya. Namun entah mengapa pikirannya terus saja direcoki oleh satu wajah Hispanik: Serena. Ia terus menerus terbayang wajah Serena. Senyumnya, tawanya, kesalnya,


sedihnya,…. nyaris tiap ekspresi Serena menghantuinya.


“Serena, Serena,” desisnya tersenyum. “Kamu lagi apa yah di sana?”


Terdengar suara decak. Itu Martin, abangnya yang hanya selisih dua tahun; itulah


mengapa ia jarang memanggilnya abang, apalagi sikapnya juga tak layak untuk dipanggil abang.


Kepala Diaz ditelengkan ke arah dimana Martin muncul. “Eh lu Tin,”


Martin nyengir gemas. Geleng-geleng kepala. “Lu kenapa sih sama Maria kayak anjing dan kucing mulu? Nggak pernah akur. Lu selalu aja nyakitin hatinya terus.”


“Ah dianya aja yang kelewat sensitif.” katanya enteng, lalu menatap langit-langit


kamar lagi.


Martin berdecak lagi. Geleng-geleng lagi. “Dia itu tunangan lu, calon istri lu.”


“Dari awal gue menentang perjodohan ini, kok.” sembur balik Diaz. “Papa aja yang


suka maksa.” Ia menegakan badannya, mengambil posisi duduk. Kini ia menatap wajah abangnya itu dengan selayaknya. “Lagian kenapa harus gue sih yang dipilih buat dijodohin ke gadis centil itu sih? Ada lu juga yang anak sulung di keluarga ini?”


Lalu ia beringsut pada Martin. Ia tatap


abangnya itu seraya tersenyum. “Harusnya lu


ikut belain gue saat perjodohan itu dimulai, Tin.”


Martin nyengir. “Itu maunya surat Papi-nya Maria. Kalau mau protes, protes ke dia


sono.”


Diaz nyengir – nyaris tergelak. “Heran gue, kenapa sih orang-orang jaman dulu suka


banget menjodoh-jodohkan anaknya dari kecil? Merepotkan banget, jadi nyusahin malah.”


Martin tergelak. “Nyusahin yah? Nyusahin, tapi lu sebetulnya suka juga kan sama


Maria? Ngaku deh.”


Diaz terkekeh.


“Nggak usah munafik, Adikku Tersayang,” goda Martin. “Kalau lu nggak cinta sama


Maria, nggak mungkin kan lu bela-belain ikut kontes itu?! Ingat nggak kejadian pas


Valentine itu?”


💜💜💜💜💜


Setelah Maria terbebaskan dari bahaya lanjutan dari keracunan Atlante, kehidupan di rumah kediaman Rohie berlangsung nyaris normal. Persis sebelum kedatangan Serena. Diaz dan Maria tak henti-hentinya bak anjing dan kucing. Walau mereka semua tahu bahwa Diaz akhirnya mencintai balik Maria.


Saat itu, tak biasanya Maria tak menyentuh dapur keluarga Rohie di pukul 05.00 pagi.


Baru kali ini sejak tinggal di sana, dia tak bikin keributan kecil di dapur. Diaz jadi teringat


hari kedua Maria tinggal. Ia ingat betul momen pertama serangan fajar di rumahnya.


Tiap pagi--sebelum kedatangan gadis berkepang itu--Diaz selalu terbangun di pukul 05.00 setelah mendengar irama beatbox di alarm ponselnya. Lalu ia keluar kamar dengan wajah lusuh dan mata penuh belek menuju kamar mandi yang berada persis di samping kamarnya.


Bila tak berjalan mulus, ia akan menggedor pintunya pertanda ada orang di dalamnya yang biasanya Martin. Namun hari itu, tidak. Jam di kamarnya masih menunjukan pukul 04.30 pagi, dia sudah terbangun. Dengan mata dikucek-dikucek dan bibir monyong, juga masih dalam busana piyama dan belek di kedua mata, ia tergopoh-gopoh keluar kamar dan berjalan lurus menuju dapur. Samar-samar ia melihat seorang gadis, selain ibunya dan Mbak Nenti.


Gadis itu panik karena kebakaran kecil yang ia buat; ia berkali-kali meminta maaf kepada


Ibu Tantri dan Mbak Nenti, juga berusaha membersihkan kekacauan kecil yang ia buat di pagi buta.


Pagi ini benar-benar berbeda. Maria bangun di jam setengah enam pagi. Yah, jam


lima pagi. Ibu Tantri sampai heran kenapa Maria tidak bangun begitu mendengar bunyi


kompor dihidupkan, suara bawang atau cabai dipotong di atas talenan, ataupun suara keran air sebagai tanda Mbak Nenti tengah mencuci piring-gelas yang masih belum dicuci. Tambah bikin bingungnya lagi, Ibu Tantri heran melihat Maria dan Diaz bertengkar di depan kamar mandi. Padahal biasanya Maria belajar memasak di dapur sambil menunggu


Diaz atau Martin selesai mandi.


“Yah sudah,” Ibu Tantri berusaha melerai pertengkaran sepasang tunangan tersebut.


“Diaz, mending kamu saja yang mandi di atas. Mengalah, dong, sama perempuan apalagi


sama tunangan sendiri.”


“Tuh dengar.” sembur Maria yang langsung ngeloyor begitu saja masuk kamar


mandi. Cklek. Pintu pun dikunci.


Diaz jadi mendengus kesal. Ia berjalan meninggalkan kamar mandi. Namun sebelum ia menjejakan kakinya di atas tangga besi, Ibu Tantri bersahut padanya, “Diaz, kamu


berantem lagi sama Maria? Kali ini masalah apa lagi?”


Diaz tak menjawab, tapi malah Martin yang menjawab, “Kemarin, Ma, kejadiannya.


Diaz mencela habis-habisan masakan Maria. Masakannya sih memang–aku akui--memang nggak terlalu enak, yah tapi nggak usah sampai gitu juga kali. Pakai bilang, ‘Kamu nggak usah sok-sokan masak deh. Tiap kali kamu masak, hanya ada bencana di rumah ini.’” Martin meniru habis-habisan kata-kata Diaz ke Maria kemarin siang.


Diaz mendelik ke arah Martin; ia merah mukanya, entah karena malu ataupun sewot.


Kemudian ia berjalan cepat ke kamar mandi atas. Ibu Tantri hanya menggeleng-gelengkan kepala sambil tersenyum kecil. Ia berpikir itu hanya masalah kecil dan sama seperti


pertengkaran lainnya; paling satu-dua-tiga hari setelahnya, mereka berdua kembali rujuk.


Tak hanya soal kamar mandi atau dapur saja, pertengkaran Diaz dan Maria juga


merembet ke soal mobil. Untuk pertama kalinya, Maria menolak pergi kuliah bersama Diaz dan Martin, yang hanya menumpang, seperti biasanya.


“Diaz, lepasin.” seru Maria. “Aku kan sudah bilang mau berangkat sendiri.”


“Ngapain sih? Mending naik mobil aja. Kamu kan nggak usah desak-desakan di bus.”


sahut Diaz.


“Enakan naik bus.” semprot Maria.


“Nggak enak kalau nggak ada kamu, Mar. Ada yang kurang rasanya. Lagian malas


banget aku, kalau berangkat bareng Martin.” kata Diaz dengan tatapan melecehkan.


“Sialan.” sela Martin mendesis.


“Ah paling juga buat menghindari three-in-one, ya kan?” ucap Maria sinis.


“Yah itu sih… Itu sih, kuakui, memang keuntungannya kamu ikut,” Diaz


membenarkan.


Maria memberengut. Ia berjalan mendekati pagar berwarna coklat kehitaman. Terburu-buru Diaz menangkap salah satu pergelangan tangan Maria.

__ADS_1


“Mar, udah dong ngambeknya,” pinta Diaz.


“Aku, aku, aku, - “ Ia tertunduk dengan


kedua pipi memerah. “ – me-me-me-me-merana ka-ka-ka-kalau ka-ka-ka-kamu te-terus-terusan ngambek begini. Jadi pusing nggak karuan. Aku merasa bersalah banget.” Sebentar tergagap, sekejap kemudian cepat sekali diucapkan.Tak hanya Martin yang terperangah, Maria juga.


“Yaz, lu sakit yah?” ujar Martin mengernyitkan dahi.


“Diaz, maksudmu apa?” tanya Maria yang juga sama bingungnya dengan Martin.


Diaz terpatung. Karena terus menerus diseringai oleh dua orang, ia mulai gerah. “Oke, terserah kamu, deh, mau ngapain. Mau pergi naik bus, ya udah silakan.”


Dihempaskannya pegangannya dari pergelangan Maria. Ia bergegas masuk mobil. Di dalam, ia mengelakson kencang-kencang. Ribut sekali jadinya. Apalagi Maria juga semakin memanaskan suasana dengan banting pagar meninggalkan Diaz dan Martin yang berada di dalam mobil. Sekitar satu-dua-tiga kilometer dari kediaman keluarga Rohie, cekcok lagi. Diaz sengaja memelankan mobilnya di dekat Maria, lalu berkata, “Ayo naik, aku tahu kamu nggak kuat berdiri lama-lama di bus. Jam segini kan susah dapat tempat duduk.”


“Enak aja, jangan ngeremehin yah!” sembur Maria. Diaz, Diaz, cowok itu suka sekali menghina dan meremehkan Maria. Kata siapa Maria tidak dapat tempat duduk? Diaz salah besar. Ia berhasil kok mendapatkan tempat


duduk kosong di dalam bus kota yang lewat kampusnya. Yah walau penumpang di sebelah kirinya memiliki masalah dengan bau badan. Berkali-kali Maria menyempitkan lubang hidungnya. Tapi bau yang sungguh memuakan itu tak menghalangi otak kanannya bekerja kreatif menciptakan beberapa haiku yang membentuk sebuah sajak. Itu semua terjadi karena masih terus menerus mengumpat Diaz yang hari ini bikin jengkel lagi.


Tak tahu kamu?


Hujan mengingatkanku


pada sosokmu


Dingin; tak peka;


cowok anti romantis;


Itulah kamu


Walau tak peka


aku tak bisa marah


sama sekali


Bukan marah jua


Hanya sedih – kecewa


Mimpi tak sampai


Berhasrat punya


Pacar super romantis


bak dalam dongeng


Kini ‘ku sadar


Dongeng tetaplah dongeng


Hanya ilusi


Ilusi tak riil


Hanya sebagai candu


Buaian hidup


Walau begitu


tapi tetap cintamu


sebab satu hal


Tidak sempurna juga


Pasangan unik


Kita memang pasangan unik


💜💜💜💜💜


Selain Maria yang terus mendekam dalam kamarnya dengan pintu terkunci, petang


hari tetaplah petang hari di rumah keluarga Rohie. Martin tiba di rumah sekitar jam enam


sore, setelah seharian berkutat di kantor redaksi sebuah majalah remaja. Selepas pulang, bukannya mandi, ia malah sibuk di depan komputer--sibuk menyelesaikan tugas-tugas kantor yang belum terselesaikan tadi. Saat itu, Diaz masuk.


“Bang Martin,” panggil Diaz yang sudah berdiri di belakang Martin.


“Apa?” kata Martin yang tetap tak menoleh pada adiknya itu. “Biasanya kalau udah


begitu, ada maunya kan lu.”


“Lihat dulu dong ke arah gue,”


Martin terpaksa menoleh ke arah Diaz. Ia nyengir. Alisnya naik-turun. Diaz jadi grogi


dibikinnya.


“Cepetan deh, ada apa. Gue masih harus nyelesein bikin artikel ini.” desak Martin.


“Ini soal Maria, Tin,” kata Diaz malu-malu.


“Gue takut ngambeknya dia bakal


berkepanjangan sampai ke masalah yang lebih serius lagi. Apalagi tadi di kampus, sikap dia ke gue benar-benar dingin. Gue benar-benar dicuekin. Dia malah selalu buang muka, tiap ketemu gue.”


“Terus kenapa? Bagus kan? Siapa tahu habis ini dia minta perjodohannya dibatalkan,


itu kan sesuai dengan yang lu mau.” seloroh Martin.


“Eeee…” Diaz mati kutu. Ia jadi mematung sekian lama.


Martin belum juga kembali mengalihkan pandangannya ke layar komputer. Ia tetap


memandangi adiknya dengan harapan…. Diaz berkata lebih jujur soal perasaannya.


“Ju-ju-jujur gu-gu-gue be-berharap itu jangan terjadi…” kata Diaz berusaha mengalahkan kegugupannya.


Martin nyengir. “Jadi lu beneran cinta sama Maria?”


Diaz mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Jaga-jaga saja, takut ada yang


menguping, apalagi kalau itu Maria. Setelah dirasa aman, hanya ada dia dan abangnya, Diaz berani mengangguk.


Martin tergelak.


Diaz cemberut. “Jangan ketawa dong. Nggak ada yang lucu.”


“Sorry deh sorry,” ujar Martin yang harus mengerem tawanya.


“Jadi gimana nih?” Ganti Diaz yang mendesak Martin.


“Gimana apanya?” Sebetulnya Martin sudah tahu maksud pertanyaan adiknya itu. Ia


hanya sedikit menggodanya saja.

__ADS_1


“Yah cara,” Jeda sebentar. “cara melunakan hati Maria, biar dia nggak ngambek lagi.”


Martin tergelak lagi.


“Tin,”


“Untung sepulang kerja tadi, gue langsung browsing dan nemuin sesuatu yang


berguna banget buat masalah lu,” Martin bergegas ke komputernya lagi. Sementara ia


mencari-cari lagi laman yang dimaksud, Diaz beringsut tanpa diminta. “Nih dia, yang gue


maksud,”


Ternyata itu adalah sebuah kontes yang tengah diselenggarakan oleh sebuah maskapai penerbangan bernama Asia Airlines dalam rangka merayakan hari terbentuknya perusaan penerbangan itu yang keduapuluh; sekaligus itu juga untuk merayakan Valentine’s Day. Kontes itu memiliki banyak hadiah menarik. Salah satunya, dua tiket ke Puerto Rico langsung. Cara untuk mendapatkan dua tiket itu ialah dengan mengunggah ke Youtube sebuah video dimana pelakunya harus berpuisi romantis dengan latar dan gaya tak biasa.


Itulah sebabnya, besoknya, Diaz yang hari itu seharusnya tak ke kampus karena tak


ada kelas, jadi harus ke kampus.


“What the hell!” seru Diaz. “Kenapa harus di lorong Gedung C scene-nya? Mana hari


jumat pula. Di sana kan rame banget tiap hari jumat. Tempat lain, kek, plus hari lain juga.


Gue mohon, jangan di sana.”


“Tadi pagi kan lu udah janji mau nurutin apa kata gue dan Agatha,” kata Martin


nyengir.


“Laki-laki harus memegang kata-katanya.” goda Agatha.


“Benar banget.” Martin membenarkan. “Ya sudah, buruan gih, lu jajal adegan dalam


naskahnya. Ingat lho, ini buat Maria. Mau dia ngambeknya semakin lama lagi dan akhirnya


jadi ninggalin lu beneran?”


Diaz kelu bibirnya. Ia buang napas. Pasrah. Wajah pasrah itu bikin Martin dan Agatha


terkekeh.


“Oke, aktor, tunjukan aktingmu!” seru Martin, yang langsung menyuruh Diaz menuju


patung setengah badan Albertus Magnus. “Buruan sana, jangan buang-buang waktu.”


Diaz berjalan gontai ke lokasi skenario. Ia angkat tinggi-tinggi sehelai kertas berisi


puisi yang dibuatkan Agatha.


Aku bukan Aladdin


dengan lampu ajaibnya


Aku bukan Eric


yang diselamatkan Ariel The Mermaid


Juga bukan seorang Tarzan


dengan segala kejantanannya


Aku adalah aku


seorang yang ******


Tak tahu artinya cinta


Tak tahu memperlakukan wanita


Aku kikuk soal cinta


Namun…


sekeras-kerasnya


segigih-gigihnya


semantap-mantapnya


‘Ku berusaha semampu-mampunya


ciptakan cerita cinta anti-klise untukmu


Kuteguhkan cerita cinta unik ini


Tak ada yang bisa menyamainya


Lebih menarik dari Snow White


Lebih menarik dari Beauty and the Beast


Lebih mengharu biru dari Cinderella


Tak ada fairy’s tale manapun yang bisa menyamainya


Cerita cinta terbaik sepanjang masa


Kamu dan aku


Aku dan kamu


Kita


Lebih dari pasangan manapun


Diaz menghela napas. Sambil menundukan kepala, lalu Agatha langsung saja


menghidupkan handycam yang dari tadi dipegangnya. Diaz perlahan tapi pasti mulai


mendeklamasikan puisi tersebut dengan lantangnya, dan dengan gaya yang membuatnya jadi pusat perhatian orang-orang yang berada di tempat kejadian: mahasiswa, mahasiswi, dosen, office boy, office girl, dan karyawan-karyawati kampus jadi mengarah padanya.


Mereka semua terbengong-bengong melihat aksi teatrikal tersebut. Bahkan ada juga yang


nyengir dan tertawa melihatnya. Diaz berusaha menahan agar tidak merah mukanya. Bisa gawat jika adegan itu terus diulang oleh Agatha dan Martin hanya karena mereka merasa tidak keren atau mencerminkan puisi tersebut. Untungnya saja, adegan itu hanya butuh


waktu lima belas menit saja. Tanpa pengulangan. Diaz langsung terbirit-birit menuju Agatha--dan juga Martin--yang tadi berteriak “CUT!!!”


“Acting lu keren, Yaz!” seloroh Martin. “Lu pantas dapat Piala Oscar, atau minimal


Piala Citra.”


❤❤❤❤❤


“Gue kan dipaksa lu, Nyet.” sembur Diaz ketus dan merona merah.


“Gue nggak maksa lu yah,” ralat Martin. "Seingat gue, lu yang datang sendiri ke


kamar gue, terus curhat soal Maria yang ngambek, terus minta saran gue buat luluhin hati."

__ADS_1


__ADS_2