Destiny 41

Destiny 41
Kenneth Soo


__ADS_3

Akhirnya hari yang ditunggu tiba. Tiket pesawat sudah mereka pegang masing-


masing. Koper juga sudah mereka seret sepanjang pintu masuk bandara hingga melintasi garbarata untuk masuk ke dalam perut pesawat Boeing dengan destinasi Amman – Yordania.


Delapan jam penerbangan dari Jakarta ke Amman. Lalu beberapa jam mengitari kota Amman dan mengunjungi beberapa titik menarik di sana, sambil menunggu pesawat yang ke Roma – Italia datang keesokan harinya. Lalu dari Roma menuju Madrid. Martin sempat mengeluh tak bisa mengunjungi tempat-tempat seperti Prado Museum, Royal Palace, Campo del Moro


Garden, Puerta de Alcalá, Plaza Mayor, Torrespaña, dan khususnya lagi, Plaza De Cibeles – alun-alun kota Madrid, tempat klub sepakbola Real Madrid apabila merayakan gelar juara liga Spanyol.


“Udah deh, nggak usah kecewa. Puerto Rico juga nggak kalah menakjubkannya, kok.


Pantai di sana lumayan indah. Nggak kalah dengan Bali atau Hawaii.” hibur Agatha kepada


Martin, saat mereka berada di boarding pass bandara Barajas, Madrid.


“Tahu darimana?” selidik Martin. “Jangan sok tahu, deh.”


“Gue belum pernah cerita yah, Bang, kalau keluarga gue dulu pernah pelesiran ke


Puerto Rico?”


“Iye, iye gue tahu, nggak usah sombong.” tukas Martin.


“Gue cuma kasih tahu doang kok.” tangkis Agatha defensif.


“Oh iya, ingat, kita ke sana bukan untuk kepentingan hiburan semata. Kita ke sana


untuk cari obat penawar buat Maria. Jangan lupa.” sela Diaz mengingatkan abangnya itu.


“Yah tapi kan, ambil keuntungan sedikit nggak apa-apa, kan?” kata Martin nyengir.


“Benar tuh katanya Bang Martin,” bela Agatha. “Harusnya kita nikmatin dulu kota


ini sebentar.”


“Ini lagi adiknya,” gerutu Diaz. “Kakaknya lagi berjuang melawan penyakit, eh dia


malah pikirannya jalan-jalan.”


“Biarin.” ujar Agatha yang langsung melengos, saat sudah ada pengumuman bahwa

__ADS_1


pesawat yang ditunggu sudah tiba.


💜💜💜💜💜


Luiz Muñoz Marin International Airport. Bandar udara Puerto Rico yang terletak di


kota Carolina, lima kilometer dari San Juan–kota tujuan utama mereka–itu terletak di


sebelah tenggara ibukota Puerto Rico, negara yang katanya masih menjadi bagian dari 60


Amerika Serikat. Sekeluarnya mereka–Diaz, Martin, Agatha, dan Serena–dari garbarata,


mereka takjub melihat bandara tersebut. Beragam jenis orang dari berbagai latar belakang yang jauh berbeda dari bandara Soekarno Hatta ataupun bandara I Ngurah Rai. Ada kulit putih khas Eropa Barat dan Utara, ada tampang hispanik, ada kulit hitam, ada juga yang bermata sipit dan berkulit kuning. Bahasanya–Inggris dan Spanyol--menjadi sebuah paduan suara yang bersuara merdu: good morning, buenos dias. Muka Diaz bersemu merah waktu mendegar namanya disebut oleh berpuluh-ratus orang Puerto Rico. Baik Agatha, Martin dan


Serena cekikikan mengamati rona wajah Diaz tersebut.


“Hei, Kenneth!” seru Agatha pada seorang pria bertampang oriental dan berambut ala


penyanyi K-Pop sedang berdiri di dekat konveyor. Ia sedang menunggu kopernya datang menghampiri.


Wajah Diaz kusut. Diaz tahu Kenneth adalah mantan Maria. Agatha yang memberitahukannya. Kata Agatha, Kenneth Soo ialah mantan Maria sewaktu keluarga


Maria dekat dengan Kenneth.


Kenneth menoleh ke arah suara yang memanggilnya. “Hey, Agatha.


?” Kenneth sengaja tak menyebut merek. Ia masih sakit hati, karena diputusi oleh Maria akibat sikap playboy-nya.


“And you?” tanya balik Agatha nyengir. “From where you already gone, Don Juan?”


“Miami.”Kenneth terkekeh. “Having fun with sexy hot Miami girls.”


“Darn you!” umpat Agatha yang agak jengah dengan sikap Kenneth yang mata


keranjang. “I already knew why she left you.”


Kenneth tergelak.


Agatha juga tergelak.

__ADS_1


Sementara lainnya pura-pura tertawa saja, karena kurang mengerti apa obrolannya.


“Where’s your sister?”


“Omigosh!” seru Agatha. “You remain to remember my sister for the long time?”


“Don’take the conclusion easily.” ralat Kenneth. “I – “ Sepertinya kornea matanya


menangkap sesuatu yang tak asing.


Itu Serena.


“Hey, I know you. Me and my family have


looked for you anyway.”


Serena kalut, setelah tahu Kenneth sadar akan kehadirannya. Baik Agatha, Diaz, dan


Martin bingung sebingung-bingungnya.


“What’s happened already?” tanya Agatha.


Kenneth apatis. Ia hanya memandangi Serena yang ketakutan dan mati kutu karena


agak kesulitan untuk melarikan diri.


Kenneth terkekeh seraya memegangi dagu Serena. “You seem not to be able to get


away from me right now, Atlantis Princess.”


Serena terkikik getir. “How could it be?”


Dengan gemas, ia menyingkirkan tangan


Kenneth dari dagunya. Lalu… “Look at them!”


Kenneth menoleh, Serena memanfaatkan betul situasi itu untuk kabur. Diaz, Martin,


dan Agatha tercengang-cengang apa yang sudah terjadi. Tapi setelah mengambil barang bawaan, mereka turut menyusuli Serena yang untungnya belum berlari terlalu jauh.

__ADS_1


Sementara Kenneth hanya dapat menggeram. Agak bahaya kalau ia mengejarnya, apalagi saat dirinya tahu masih dalam masa percobaan dari kepolisian Puerto Rico. Polisi bisa curiga ada sesuatu yang terjadi, dan sesuatu itu bisa diartikan sebagai tindak kriminal.


__ADS_2