
Pandangannya kosong. Tak dihiraukannya kendaraan lalu lalang. Kalau terus
melamun seperti itu, bisa-bisa ia tak sadar bus nomor 62 datang. Kalau sudah begitu, ia harus menunggu bus lebih lama lagi. Juga sudah beberapa kali, bibir bawahnya ia gigiti. Ia menyesali kata-katanya di warnet tadi. Bodoh sekali, kenapa harus mengatakan hal seperti itu ke cowok itu? Kesannya, kan, ia jadi seperti sedang mencomblangi cowok itu dengan cewek itu.
Tiara mendengus sebal. Sebal sekali mengapa ia bisa berbuat sebodoh itu. Semoga saja Diaz masih seperti yang ia kenal, yang suka tidak perhatian dengan apa yang terjadi. Jadi kan ia bisa terus mencoba membuat lelaki itu jadi menyukainya. Masa bodoh dengan kata-kata Caio itu. Ucapannya tak rasional. Tak masuk di otak. Aneh. Mungkin itu hanya cara warga San Juan dalam melontarkan sebuah guyonan.
Tuhan, kenapa Engkau harus pertemukan aku untuk kedua kali dengan cowok itu, kalau ia bukan jodohku, Tiara merintihkan sebuah doa yang penuh keluh kesah.
Ah, ia teringat akan kata-kata Serena, si gadis duyung dari Atlantis. Serena pernah bilang kan, “Terkadang pertemuan itu bukan berarti tanda kita berjodoh dengan yang bersangkutan. Mungkin kita hanya bertemu, mungkin bisa saling suka, tapi tidak ditakdirkan untuk saling bersama. Mungkin yang bersangkutan masuk ke dalam kehidupan kita untuk memberikan kita suatu pelajaran hidup.”
Ada benarnya juga. Setelah kali pertama berjumpa dengan Diaz, ia jadi sedikit
mengerti sensasi bermain video game. Mulai paham pula bagaimana memainkannya. Bahkan saking ketagihannya, ia pernah sampai lupa waktu. Lupa makan, lupa mandi, lupa belajar. Diaz merupakan lelaki pertama yang memperkenalkannya ke dunia video game; pun yang membuatnya jadi video game addicted. Adiksinya akan video game baru hilang setelah duduk di kelas 11 SMA (Ia nyaris tinggal kelas karena video game).
Mungkin masuknya Diaz ke dalam kehidupannya untuk memperkenalkannya suatu dunia baru. Mungkin memang benar ia jatuh hati terhadap lelaki itu. Saking jatuh hatinya, tiap bermain video game, ia serasa tengah duduk berdampingan dengan anak laki-laki tersebut. Walau kenyataannya, Diaz seringkali tak ada di sampingnya. Ia ingat, lelaki yang hobi bermain video game itu pindah rumah. Katanya sih keluarga si bocah ingin ganti suasana.
“Kak Tiara, emang yakin Bang Diaz itu anak laki-laki yang Kakak temui di rental PS?” Pertanyaan Agatha sewaktu di San Juan juga turut menggema di otaknya.
Waktu itu, ia mantap menjawab, “Iya, yakin kok.” Langsung saja ditangkis oleh Agatha kembali, “Kalau gue sih, belum begitu yakin, Bang Diaz itu anak laki-laki tersebut. Karena bagaimanapun juga, ada yang bilang juga, ingatan manusia semasa kecil itu masih lemah. Wajah seseorang dari pas kecil hingga gedenya itu juga seringkali berbeda, lho.”
Lagi-lagi, setelah meresapi lagi tiap perkataan Agatha, ia mendapatkan kembali suatu
kebenaran lain. Kata-kata tersebut ada benarnya. Mengapa ia begitu yakin bahwa Diaz itu orang yang sama? Atas dasar apa? Atas dasar kesamaan hobi bermain video game? Semua laki-laki juga seringnya begitu kan. Mereka cenderung menggemari bermain video game.
Ah mungkin karena kesamaan fisik. Namun tunggu dulu. Itu juga tak bisa dijadikan
pegangan untuk segera mengambil kesimpulan. Bagaimanapun, seingatnya, antara Diaz dan bocah laki-laki itu cukup beda jauh. Bocah laki-laki itu, seingatnya, berbadan lumayan gempal. Sebelas-dua belas dengan artis cilik Tiongkok yang cukup terkenal di era 90-an. Nah Diaz. Badan laki-laki itu jauh dari kata obesitas, meskipun pipinya agak tembem. Perhatikan saja perut Diaz. Datar dan nyaris membentuk enam kotak.
Tapi…..
“…Wajah seseorang dari pas kecil hingga gedenya itu juga seringkali berbeda, lho…”
Nah itu, nah itu. Wajah seseorang dari masa kanak-kanak hingga beranjak dewasa
seringkali berbeda. Jarang ada seseorang yang wajahnya tak berbeda jauh dari masih kecil hingga dewasa. Siapa tahu setelah berpisah cukup lama, anak laki-laki itu menjalani diet superketat dan akhirnya menjelma menjadi seorang Diaz.
__ADS_1
Ah, Tiara ingat lagi. Kali ini buktinya lebih kuat lagi. Soal nama. Entah bagaimana caranya, ia mendadak berhasil mendapatkan nama si bocah lelaki tersebut. Kalau tak salah, ia
beberapa kali memanggil si bocah, “…Yaz, Diaz, gantian dong mainnya. Kali ini giliran aku yang main…” Plus ia ingat juga sorakan-sorakan anak-anak yang berada di sekitar:
“Cie, cie… Tiara, Diaz… Kalian kok jadi kayak orang pacaran yah?”
Diaz. Nama itulah yang membuatnya langsung begitu yakin saat ospek. Nama yang begitu sulit ia temukan di Indonesia. Keberadaan nama itu mungkin ibarat mengharapkan turunnya salju di Jakarta. Dari antara sepuluh laki-laki di Indonesia, mungkin hanya tiga yang menyandang nama Diaz, entah sebagai nama panggilan, entah itu memang nama pertamanya. Apalagi saat ospek, ia ingat betul, kata ‘Diaz’ sering mengalun waktu orang yang menjadi tunangan Maria itu tengah berada di sekitarnya. Di fakultasnya sendiri, terlebih di
angkatan 2009, nama Diaz hanya disandang oleh satu orang. Begitu pula di fakultas-fakultas lain. Sepertinya ia tak menemukan seseorang lain yang disapa dengan nama ‘Diaz’, selain orang itu.
Tiara terkekeh sendiri. Untung saja, orang-orang di halte sibuk dengan aktivitas
masing-masing. Ditambah lagi, ia juga sibuk dengan ponselnya; begitu sibuknya memerhatikan akun Facebook kepunyaan Marino Diaz Rohie. Mungkin saja, jikalau ada
yang mengamatinya, orang itu akan menyangka dirinya jadi tertawa karena isi dari ponselnya tersebut. Mungkin ia baru saja mendapatkan SMS super lucu. Atau mungkin di lini masa Facebook miliknya, ada seseorang yang mempublikasikan sesuatu yang bisa membuat bibirnya membentuk sebuah cengiran.
Kayaknya cewek itu bilang kayak gitu karena mungkin si cewek itu juga suka sama
Diaz, deh. Siapa sih yang nggak suka sama Diaz. Wajah ganteng, tinggi pula, badan juga
Diaz. Yah, pasti Serena juga menyukai Diaz. Tak ayal, Serena bisa berkata seperti itu. Licik
juga gadis itu.
Ia ingat…..
“Kak Serena,” ujar Agatha. “Aku mau nanya dong.”
“Tanya apa?”
“Aku beberapa kali suka mengamati Kakak. Dan aku punya firasat, Kakak punya
perasaan juga ke Bang Diaz. Soalnya cara pandang Kakak ke Bang Diaz itu, menurutku, agak sedikit nggak wajar. Itu kayak seseorang yang tengah memandangi orang yang disukainya.
Memandangi agak lama, seperti orang yang sedang melamun, dan mendadak senyam-senyum sendiri. Kak Serena beneran suka sama Bang Diaz?”
__ADS_1
Hati Serena mencelos. Kedua pipinya bersemu merah; dan itu cukup menjelaskan
kepada Agatha–juga Tiara–soal perasaan yang sesungguhnya kepada Diaz. Selain Serena yang mendadak tertunduk dan lama tak menjawab, Agatha, Tiara dan dirinya merupakan seorang perempuan. Sesama perempuan pasti akan langsung menerka beberapa kode yang hanya dikenali oleh perempuan saja. Apalagi kaum perempuan juga sering peka terhadap sesuatu yang selalu luput dari pengamatan kaum laki-laki.
“Memangnya Kak Serena suka Bang Diaz karena apa?” ucap Agatha nyengir. “Yah
aku tahu sih, perasaan cinta itu nggak perlu ada alasan. Cinta itu datang dan pergi seperti
angin. Kita nggak bakal tahu kapan datangnya. Tapi pasti ada dong, sesuatu yang bisa bikin Kak Serena tertarik sama Bang Diaz. Apa mungkin itu karena Bang Diaz pernah menyelamatkan Kakak sewaktu terjaring di pantai itu?”
Lagi-lagi Serena tak menjawab. Pipinya juga semakin memerah. Andai saja Agatha
atau Tiara memiliki kemampuan untuk membaca pikiran, mungkin mereka akan bisa
mendengar isi pikiran gadis Atlantis tersebut.
Ada benarnya juga kata-katamu itu, Agatha. Tapi bukan hanya itu yang bisa membuatku menyukai Diaz. Ada faktor lainnya yang merupakan faktor penentu kenapa aku
begitu menyukai Diaz. Sebetulnya aku begitu menyukai dirinya karena aroma tubuhnya.
Pheromone laki-laki tersebut benar-benar yang terbaik dari tiap pheromone laki-laki yang pernah kucium. Ha-ha-ha.
Tiara tergelak dalam hatinya. Sampai-sampai ia jadi cengar-cengir sendiri di halte. Ia
begitu optimis sekali bahwa Serena memang menyukai Diaz. Walaupun gadis itu belum
pernah sama sekali menyatakannya secara tersurat. Pasti kata-kata itu terlontar, yah karena untuk membuat perhatiannya teralih dari Diaz. Licik juga dia. Untung saja gadis itu tengah berada di San Juan.
Semangat, Tiara. Kamu itu harus semangat. Kamu pasti bisa mendapatkan cinta
Diaz, lalu membatalkan pertunangan tersebut. Tak ada yang mustahil kan di dunia ini.
Tiara mengepalkan erat kedua telapaknya. Pada saat yang bersamaan, bus nomor 62
itu datang. Dan gadis itu masih bisa menyadari kedatangan bus bercorak biru-putih tersebut.
__ADS_1
Ia dan beberapa orang lainnya bergantian dan cukup susah payah masuk ke dalam bus nomor 62.