
Diaz dan Martin cukup kaget melihat kehadiran Maria. Sebetulnya Maria cukup
sering mengunjungi kamar Diaz; dan itu selalu di luar ekspektasi seorang Diaz. Bukan
sesuatu yang aneh juga. Apalagi status Maria adalah tunangan Diaz. Justru akan jadi hal aneh jikalau Maria belum pernah sekali pun masuk ke kamar tunangannya.
Hanya saja Maria masuk di waktu yang salah. Diaz gugup sendiri melihat
tunangannya itu sudah berdiri sambil tersenyum. Bukan senyum biasa, namun senyum yang luar biasa indahnya. Menunjukan keceriaan gadis itu karena berhasil mendapatkan apa yang
dia mau. Walaupun pihak lelakinya masih gengsi untuk menyatakan perasaannya langsung.
“Eh gue keluar dulu yah,” pamit Martin nyengir. “Gue baru sadar–“
“Yah ja-jangan gitu dong, Tin. Masa gue berdua aja sama cewek sih?” protes Diaz
gugup.
“Lho, bukannya lu udah biasa yah berdua sama Maria? Tiap ke kampus kan berdua
mulu. Terus Maria ini kan tunangan lu, calon istri lu. Sudah sepatutnya, kali ini lu berdua aja sama Maria di kamar. Hitung-hitung latihan.” kata Martin terkekeh.
“Mar, gue titip Diaz dulu yah,” Maria hanya mengangguk dan tersenyum. Martin
melengos begitu saja. Saat Diaz berusaha mengikutinya, ia melotot dan mendorong masuk kembali adiknya ke dalam kamar. .
“Udah sih, ngapain harus takut sama tunangan sendiri?
Maria orangnya baik kok, nggak gigit juga.”
Diaz mendesah, beringsut ke arah Maria yang sudah duduk di tepian tempat tidur.
Jantungnya kumat lagi sewaktu melihat paras gadis tersebut. Ya ampun, tak ada top model
manapun yang memiliki senyuman seindah senyuman tunangannya.
“Yaz,” kata Maria dengan suara pelan dan tak ada terdengar intonasi genit. “Makasih
yah buat segalanya. Terutama saat kamu udah bela-belain ke Puerto Rico, yang juga
mempertaruhkan nyawa kamu, demi menyembuhkan penyakitku waktu itu.”
Diaz masih berdiri. Jidatnya mulai basah; begitupun telapaknya. “I-iya, sa-sama-
sama.”
Maria terkikik melihat kekikukan tunangannya tersebut.
Diaz terkekeh dengan kakunya. Ia melangkah menuju meja belajarnya. Kembali
duduk dan menatap laptop. Bukan untuk kembali berkutat dengan program-program yang ada di dalamnya. Melainkan untuk shut down. Sebelum Maria masuk, Diaz tengah sibuk mengerjakan tugas kuliah sembari sesekali mendengarkan musik atau menonton film.
__ADS_1
Sementara Martin berada di kamar hanya untuk menumpang baca beberapa komik dari koleksi Diaz.
Masih duduk di bangku, ia memutar badan dan memberanikan diri untuk menatap
Maria yang masih memandanginya.
Maria terkikik. “Yaz, aku suka deh, kalau kamu lagi kayak gini. Lucu.”
Diaz memaksakan diri untuk tergelak.
“Daripada terus kasih aku tampang-tampang galakmu, mending kan gini,--” Maria
nyaris saja tergelak. “–aku suka lihat kekikukanmu ini. Jarang-jarang aku lihat kamu jadi salah tingkah gini. Apa jangan-jangan kamu…”
Mereka bersitatap cukup lama. Jantung Diaz berdebar-debar. Maria cengar-cengir.
Gadis itu mungkin sedang meraba isi pikiran tunangannya: mungkinkah perasaannya
terbalaskan?
“…kamu suka kan sama aku?!”
Debaran jantung Diaz makin kencang mendengar pertanyaan tendensius yang
dilontarkan Maria.
“Udah deh, Yaz. Kamu nggak perlu nyangkal perasaanmu lagi? Kenapa harus malu
Pipi Diaz memerah. Ia tersenyum. Dan Maria mengikik lagi melihat perubahan rona
muka dirinya.
“A-aku nggak nyangka, Mar. Nggak nyangka aja, ternyata kamu dulu pernah sekolah
di Miami.” Terbayang di pikirannya, pengalaman luar biasa di Puerto Rico beberapa hari silam. Diaz teringat kata-kata Agatha, plus pertemuan kali pertamanya dengan Kenneth Soo.
Maria terkekeh. “Aku bukannya dulu pernah cerita yah?!”
Diaz menggeleng.
“Oh iya, waktu itu kan, aku baru ceritanya ke Bang Martin sama orangtua kamu
doang yah.”
Diaz memutar bola mata.
“Aku juga nggak nyangka, kamu bakal ketemu mantanku di Puerto Rico. Juga nggak
nyangka, ternyata dia sepsikopat itu orangnya.”
“E-emang gimana ceritanya kamu bisa jadian sama Kenneth? Kamu emang nggak
__ADS_1
tahu soal latar belakang keluarganya?”
Maria menggeleng, terkekeh. “Ya nggak-lah, Diaz. Hidup ini kan nggak seperti
komik yang kamu baca, yang dengan mudahnya ketahuan belangnya seseorang. Lagian Kenneth dulu itu orangnya benar-benar murid teladan, di luar kebiasaan playboy-nya itu. Tiap datang ke sekolah, kedua orangtuanya hampir tak pernah menunjukan mereka itu bagian
dari mafia. Lebih mirip keluarga pebisnis sukses gitu.”
“Oh,” kata Diaz berjengit. “Terus gimana kamu bisa jadian sama Kenneth? Siapa
yang nembak duluan? Kamu atau dia?”
Maria terkekeh. “Seumur-umur baru kali ini kamu jadi kepengin tahu soal kehidupan
aku.”
“Eeeee…” Diaz membeku
Ketawa Maria makin lebar saja. Suaranya juga nyaris begitu kencang. “Aku jadi
makin cinta sama kamu, Yaz.”
“M-m-mar, pertanyaanku tadi belum kamu jawab,”
“Emang kamu nggak bakalan panas kalau aku cerita nantinya?” Maria kembali dengan sikap centilnya yang sering membuat
Diaz gerah.
Diaz berdecak. “Mulai deh centilnya,”
“Bukan gitu,” alibi Maria. “Soalnya dulu hubunganku sama Kenneth itu dulu sampai
dijuluki the hottest couple.”
Diaz membuang napas. “Jadi mau cerita atau nggak nih?”
“Kamu cemburu yah?”
“Nggak.”
“Cemburu kan?”
“Ngawur.”
“Ngaku aja deh.”
“Jadi mau cerita atau nggak nih?” Diaz meradang. “Kalau nggak mau cerita juga
nggak apa-apa. Aku nggak maksa kamu ini. Dan sebaiknya kamu keluar aja dari kamar aku, kalau udah nggak ada kepentingan lagi.”
Maria terkekeh. “Ya deh, ya deh, aku cerita.”
__ADS_1