Destiny 41

Destiny 41
Diaz Kepergok Lagi Cemburu


__ADS_3

Diaz dan Martin cukup kaget melihat kehadiran Maria. Sebetulnya Maria cukup


sering mengunjungi kamar Diaz; dan itu selalu di luar ekspektasi seorang Diaz. Bukan


sesuatu yang aneh juga. Apalagi status Maria adalah tunangan Diaz. Justru akan jadi hal aneh jikalau Maria belum pernah sekali pun masuk ke kamar tunangannya.


Hanya saja Maria masuk di waktu yang salah. Diaz gugup sendiri melihat


tunangannya itu sudah berdiri sambil tersenyum. Bukan senyum biasa, namun senyum yang luar biasa indahnya. Menunjukan keceriaan gadis itu karena berhasil mendapatkan apa yang


dia mau. Walaupun pihak lelakinya masih gengsi untuk menyatakan perasaannya langsung.


“Eh gue keluar dulu yah,” pamit Martin nyengir. “Gue baru sadar–“


“Yah ja-jangan gitu dong, Tin. Masa gue berdua aja sama cewek sih?” protes Diaz


gugup.


“Lho, bukannya lu udah biasa yah berdua sama Maria? Tiap ke kampus kan berdua


mulu. Terus Maria ini kan tunangan lu, calon istri lu. Sudah sepatutnya, kali ini lu berdua aja sama Maria di kamar. Hitung-hitung latihan.” kata Martin terkekeh.


“Mar, gue titip Diaz dulu yah,” Maria hanya mengangguk dan tersenyum. Martin


melengos begitu saja. Saat Diaz berusaha mengikutinya, ia melotot dan mendorong masuk kembali adiknya ke dalam kamar. .


“Udah sih, ngapain harus takut sama tunangan sendiri?


Maria orangnya baik kok, nggak gigit juga.”


Diaz mendesah, beringsut ke arah Maria yang sudah duduk di tepian tempat tidur.


Jantungnya kumat lagi sewaktu melihat paras gadis tersebut. Ya ampun, tak ada top model


manapun yang memiliki senyuman seindah senyuman tunangannya.


“Yaz,” kata Maria dengan suara pelan dan tak ada terdengar intonasi genit. “Makasih


yah buat segalanya. Terutama saat kamu udah bela-belain ke Puerto Rico, yang juga


mempertaruhkan nyawa kamu, demi menyembuhkan penyakitku waktu itu.”


Diaz masih berdiri. Jidatnya mulai basah; begitupun telapaknya. “I-iya, sa-sama-


sama.”


Maria terkikik melihat kekikukan tunangannya tersebut.


Diaz terkekeh dengan kakunya. Ia melangkah menuju meja belajarnya. Kembali


duduk dan menatap laptop. Bukan untuk kembali berkutat dengan program-program yang ada di dalamnya. Melainkan untuk shut down. Sebelum Maria masuk, Diaz tengah sibuk mengerjakan tugas kuliah sembari sesekali mendengarkan musik atau menonton film.

__ADS_1


Sementara Martin berada di kamar hanya untuk menumpang baca beberapa komik dari koleksi Diaz.


Masih duduk di bangku, ia memutar badan dan memberanikan diri untuk menatap


Maria yang masih memandanginya.


Maria terkikik. “Yaz, aku suka deh, kalau kamu lagi kayak gini. Lucu.”


Diaz memaksakan diri untuk tergelak.


“Daripada terus kasih aku tampang-tampang galakmu, mending kan gini,--” Maria


nyaris saja tergelak. “–aku suka lihat kekikukanmu ini. Jarang-jarang aku lihat kamu jadi salah tingkah gini. Apa jangan-jangan kamu…”


Mereka bersitatap cukup lama. Jantung Diaz berdebar-debar. Maria cengar-cengir.


Gadis itu mungkin sedang meraba isi pikiran tunangannya: mungkinkah perasaannya


terbalaskan?


“…kamu suka kan sama aku?!”


Debaran jantung Diaz makin kencang mendengar pertanyaan tendensius yang


dilontarkan Maria.


“Udah deh, Yaz. Kamu nggak perlu nyangkal perasaanmu lagi? Kenapa harus malu


Pipi Diaz memerah. Ia tersenyum. Dan Maria mengikik lagi melihat perubahan rona


muka dirinya.


“A-aku nggak nyangka, Mar. Nggak nyangka aja, ternyata kamu dulu pernah sekolah


di Miami.” Terbayang di pikirannya, pengalaman luar biasa di Puerto Rico beberapa hari silam. Diaz teringat kata-kata Agatha, plus pertemuan kali pertamanya dengan Kenneth Soo.


Maria terkekeh. “Aku bukannya dulu pernah cerita yah?!”


Diaz menggeleng.


“Oh iya, waktu itu kan, aku baru ceritanya ke Bang Martin sama orangtua kamu


doang yah.”


Diaz memutar bola mata.


“Aku juga nggak nyangka, kamu bakal ketemu mantanku di Puerto Rico. Juga nggak


nyangka, ternyata dia sepsikopat itu orangnya.”


“E-emang gimana ceritanya kamu bisa jadian sama Kenneth? Kamu emang nggak

__ADS_1


tahu soal latar belakang keluarganya?”


Maria menggeleng, terkekeh. “Ya nggak-lah, Diaz. Hidup ini kan nggak seperti


komik yang kamu baca, yang dengan mudahnya ketahuan belangnya seseorang. Lagian Kenneth dulu itu orangnya benar-benar murid teladan, di luar kebiasaan playboy-nya itu. Tiap datang ke sekolah, kedua orangtuanya hampir tak pernah menunjukan mereka itu bagian


dari mafia. Lebih mirip keluarga pebisnis sukses gitu.”


“Oh,” kata Diaz berjengit. “Terus gimana kamu bisa jadian sama Kenneth? Siapa


yang nembak duluan? Kamu atau dia?”


Maria terkekeh. “Seumur-umur baru kali ini kamu jadi kepengin tahu soal kehidupan


aku.”


“Eeeee…” Diaz membeku


Ketawa Maria makin lebar saja. Suaranya juga nyaris begitu kencang. “Aku jadi


makin cinta sama kamu, Yaz.”


“M-m-mar, pertanyaanku tadi belum kamu jawab,”


“Emang kamu nggak bakalan panas kalau aku cerita nantinya?” Maria kembali dengan sikap centilnya yang sering membuat


Diaz gerah.


Diaz berdecak. “Mulai deh centilnya,”


“Bukan gitu,” alibi Maria. “Soalnya dulu hubunganku sama Kenneth itu dulu sampai


dijuluki the hottest couple.”


Diaz membuang napas. “Jadi mau cerita atau nggak nih?”


“Kamu cemburu yah?”


“Nggak.”


“Cemburu kan?”


“Ngawur.”


“Ngaku aja deh.”


“Jadi mau cerita atau nggak nih?” Diaz meradang. “Kalau nggak mau cerita juga


nggak apa-apa. Aku nggak maksa kamu ini. Dan sebaiknya kamu keluar aja dari kamar aku, kalau udah nggak ada kepentingan lagi.”


Maria terkekeh. “Ya deh, ya deh, aku cerita.”

__ADS_1


__ADS_2