
Diaz menggerutu dalam hati. Diaz merasa kesal, karena mimpi indahnya diganggu. Ia
bermimpi, ia berada di sebuah gereja, dengan mengenakan setelah khusus mempelai pria. Di samping kirinya, berdirilah Maria. Maria mengenakan gaun pengantin yang super cantik.
Penampilannya yang sudah cantik, jadi tambah cantik lagi. Cantiknya bertambah tiga kali lipat. Lalu, dengan menggenggam erat tangannya Maria yang mengenakan sarung tangan, Diaz menuntun tunangannya itu maju ke altar pernikahan. Waktu demi waktu berlalu. Acara demi acara sudah dilakoni Diaz dan Maria. Hingga, sang pendeta pun mempersilakan mereka untuk saling berciuman. Akhirnya saat inipun tiba juga. Walau kesakralan bibirnya sudah tak
terjaga lagi, Diaz benar-benar berhasrat bisa menikmati ciuman dengan perempuan yang
paling ia cintai: Maria.
Sayangnya, mimpi Diaz harus buyar. Ia jadi terbangun. Samar-samar, ia mendengar
sepertinya ada keributan dari arah dapur. Tanpa menggunakan peramal pun, Diaz tahu
siapakah orang yang menyebabkan keributan di jam setengah enam pagi. Siapa lagi kalau
bukan Maria. Ia pasti mencoba memasak lagi. Dasar keras kepala! Kenapa sih, ia ngotot
banget buat masak? Perasaan sebalnya terhadap Maria muncul lagi dalam pikiran.
Eh, tapi peduli setan! Mendingan tidur lagi aja. Diaz kembali merebahkan diri dan
menutup matanya lagi. Sayangnya, memang sepertinya ia harus bangun dan menemui calon istrinya itu. Karena pintu kamarnya sudah diketuk oleh seseorang. Dengan langkah gontai, Diaz bangkit berdiri dan menuju pintu kamar. Ia membuka pintu itu dan melihat Martin telah berdiri di hadapannya. Di belakang Martin, berdirilah Serena.
“Apaan?” ucap Diaz, dengan nada suara layaknya orang yang baru bangun tidur.
Sesekali ia menguap.
“Pakai nanya lagi? Itu urus dulu istri lu. Dasar suami yang nggak bertanggung
jawab.” seru Martin.
“Biarin aja,” kata Diaz. “Paling Maria bikin gosong masakan, terus tangannya kesayat
piso, atau bikin kebakaran kecil gara-gara naruh minyaknya kebanyakan. Atau paling juga dia nangis-nangis, trus berhenti nangis, dan kembali ceria lagi.”
“Eh lu ini yah, nggak ada peka-pekanya sama sekali.” Martin meradang. Matanya
melotot. “Daripada ributin hal nggak jelas gitu, lebih baik tengok dulu istri lu itu!” tegasnya.
Ia lalu meraih tangan adiknya itu untuk mengajaknya ke dapur – yang tak jauh dari kamar Diaz.
Diaz tetap bergeming. Ia menarik lagi tangannya. “Apa sih lu? Dia bukan istri gue
juga kali. Kami baru bertunangan doang. Lagian, hal seperti ini kan sudah sering terjadi.
Biasa aja kali nanggepinnya.” Saat pegangannya Martin mulai melemah di tangan Diaz, Diaz beringsut kembali ke tempat tidurnya, namun sebelum itu, ia tutup dulu pintunya. “Udah ah,
gue mau tidur dulu!” seru Diaz dari dalam kamar.
Tanpa disuruh, Serena masuk ke dalam kamarnya Diaz yang tidak dikunci. Ia
mendekati Diaz, yang disusul Martin. “Diaz,” sahut Serena.
Diaz membuka matanya dan menatap Serena dari posisi tidur. “Yah, Ser, ada apa?”
“Maria betul-betul perlu kamu. Dia sekarang lagi di kamarnya. Sepertinya perutnya
kesakitan, gara-gara ia mencoba nasi goreng yang ia masak untuk kedua kalinya.” kata
Serena. Yah, Maria memasak dua kali; yang pertama, ia kebanyakan menuangkan minyak
goreng, sehingga timbul kebakaran kecil. Itulah yang membuyarkan mimpi indahnya Diaz. Yang kedua, ia memang berhasil memasak nasi goreng, namun saat mencobanya, ia mendadak sakit perut. Sekarang ini saja, Maria sudah tiga kali bolak-balik masuk kamar mandi.
“Kamu lihat dulu yah, kondisinya Maria. Siapa tahu setelah melihat kamu, kondisinya
berangsur-angsur pulih. Yuk.” ajak Serena sambil memegang tangannya Diaz.
Entah kenapa, Diaz jadi bangkit berdiri dan mengikuti saran Serena untuk menjenguk
Maria. Lalu dari sela-sela pintu kamar yang terbuka separo, Serena dan Diaz dapat melihat Maria sedang meringkuk di atas tempat tidurnya. Wajahnya terlihat kesakitan. Tubuhnya mulai berkeringat.
Serena–dan mungkin Martin–benar. Kondisi Maria kali ini lebih parah dari sebelumnya. Maria berulangkali menggeliat-geliat di atas ranjang. Tampangnya kelewat pucat. Untuk kali pertama, Diaz jadi menaruh rasa iba pada tunangannya itu. Sebelumnya, rasa iba Diaz itu muncul karena desakan Papa, Mama atau Martin.
Perlahan tapi pasti, ia mendekati Maria. Dengan disertai tatapan kaget sekaligus
heran dari Maria, ia duduk di samping dan… seperti ada yang mendorong, ia mempermainkan rambut panjang yang belum dikepang dan awut-awutan dengan kaku tapi
romantis. “Ka-ka-kamu baik-baik aja, Mar?” tanya Diaz kaku; ini kali pertamanya mencoba romantis dengan tunangannya dan ini tak dirancang sama sekali.
“Sudah agak lumayan,” jawab Maria keheranan.
Diaz dan Maria bersitatap. Hening… hening… hening.
“Aku nggak nyangka, kamu beneran cinta sama aku,” kata Maria kelewat optimis.
“Sampai-sampai kamu tahu aku di sini butuh kamu.”
Diaz terkekeh, Maria mengernyitkan dahi.
“Tadi Martin dan Serena datang ke kamarku. Mereka bilang, kamu sakit perut karena
mencoba masakanmu sendiri.” ujar Diaz seraya mencubiti ujung hidung Maria yang agak runcing. “Lagian kamu kepala batu banget. Masa nggak kapok-kapoknya masak? Udah tahu nggak bisa masak, masih aja dilakuin. Bikin telur mata sapi aja, selalu gosong, ini pake goreng nasi lagi. Sadar diri kenapa sih?” Lagi-lagi ucapan bernada satire keluar dari mulutnya. Padahal demi Diaz, Maria selalu berusaha belajar memasak.
Maria meradang. Ia bangkit, namun hanya dalam posisi duduk. Ia menatap kesal pada
Diaz, dan… sebuah tamparan mendarat lagi di pipi Diaz.
“You’re really insensitive jackass,” desis Maria. “Jangan-jangan kalau Serena nggak
minta kamu ke kamarku, kamu juga nggak bakal kali yah ke sini?” Sejak kedatangan Serena, Maria selalu mengira Serena sebagai alasan Diaz bermanis-manis padanya. Padahal sebelum kedatangan Serena pun, Diaz selalu hadir jika Maria dalam kemalangan, walau terpaksa.
“Kenapa mesti bawa-bawa nama Serena? Aku ke sini, karena aku peduli sama kamu.” tegas Diaz. “Yah emang sih, Serena yang minta aku ke sini. Tapi aku ke sini, karena dia bilang kamu benar-benar perlu aku.”
“Serena lagi, Serena lagi,” Maria mulai jengah dengan penyebutan kata Serena.
“Pacaran aja sana sama Serena!”
__ADS_1
“Kamu ini yah….” Diaz gemas dengan tingkahnya Maria barusan. “Kenapa sih sering banget ngelibatin Serena dalam pertengkaran kita kayak sekarang ini? Coba deh berusaha
ramah sama cewek itu. Serena itu cewek yang baik kok.”
Lalu… “Auuuw…” Diaz meringis, karena lengannya dicubit kuat-kuat oleh Maria.
💜💜💜💜💜
Dahi Martin sudah berlipat-lipat kerutannya, saat melihat tingkah penuh drama
adiknya itu. Baru saja ia dan Serena pulang dari belanja pagi, Diaz sudah menggedor-gedor pintu penumpang, minta dibukakan. Oke, menggedor-gedor mungkin belum suatu drama. Tapi bagaimana bila menggedor-gedor sambil menggendong seorang perempuan? Nah itulah yang terjadi. Sambil menggendong Maria, menggedor-gedor pintu belakang. Dari dalam Innova, Martin melongo; juga Serena. Siapa sangka cowok introvert-nan-dermawan-tapi-tidak-sensitif itu bisa berbuat seperti itu?
Martin segera membuka pintu. Belum sempat keluar, Martin tambah semakin melongo lagi. Diaz sudah membuka pintu penumpang dan meletakan Maria di bangku penumpang. Diaz mencolek Serena. “Ser, kamu bisa turun dulu, nggak? Maria harus segera dibawa ke rumah sakit?” Kondisi Maria benar-benar bikin cemas. Sekujur kulitnya mendadak
membiru, hingga dia mulai tampak seperti makhluk smurf; bibirnya putih pucat; matanya pucat dan sendu – mirip orang habis menelan narkotik; sekeliling kuku tangan dan kakinya juga putih pucat dan terkadang mengeluarkan darahnya; terakhir, suaranya. Suaranya Maria seperti orang kehabisan suara, bahkan jauh lebih parah. Tiap kali berbicara, keluar darah dari hidungnya keluar darah layaknya orang mimisan.
Serena tak menjawab, namun ia memilih untuk segera menoleh ke arah Maria. Ia
penasaran segawat apakah kondisi Maria, sampai-sampai Diaz jadi melakukan aksi penuh drama seperti ini. Saat melihat kondisi Maria yang seperti itu, Serena tersentak. Ia teringat kejadian tadi pagi. Langsung saja, ia sampaikan sesuatu yang penting ke Diaz.
“Diaz, sebaiknya Maria jangan dibawa ke rumah sakit dulu,” saran Serena.
“Kenapa?” tanya Diaz yang heran dengan sarannya Serena itu. “Kamu ini masih
waras nggak, sih? Kondisinya Maria seperti ini, kamu bilang nggak perlu dibawa ke rumah sakit? Kamu ini jangan ngawur, deh. Masa calon istriku ini sudah seperti ini, kamu bilang nggak apa-apa?”
“Diaz, dengar aku bicara dulu,” pinta Serena.
“Sepertinya aku tahu penyebabnya. Dan
aku juga tahu apa obatnya,”
Diaz langsung memegangi kedua pundaknya Serena. Matanya meloncat dari
wadahnya. “Kamu serius?”
“Iya,” Serena meyakinkan Diaz. “Tapi kamu bawa turun dulu Maria, terus
dibaringkan di kamarnya lagi. Nanti di sana, aku jelaskan ke kamu maksudku itu,
bagaimana?”
“Oke.” kata Diaz. Lalu segera ia menggendong lagi Maria, membawanya keluar dari
Innova, dan tergopoh-gopoh menggendongnya hingga kamarnya Maria yang berada di lantai
dua. Melihat itu semua, Serena dan Martin jadi semakin melongo. Beberapa kali, Martin
menggeleng-gelengkan kepalanya. Tak biasanya, Martin melihat adiknya itu berbuat seperti itu. Perasaan Diaz paling anti nonton sinetron, tapi kenapa sekarang ini, ia malah melakukan adegan ala sinetron? Jangan-jangan mitos itu ada benarnya. Kata orang, jika manusia dalam keadaan terdesak karena sesuatu hal (Biasanya karena kecelakaan atau musibah), manusia
bisa melakukan hal-hal di luar kendalinya. Apakah Diaz sadar dengan apa yang dilakukan dan diucapkannya barusan?
Setelah Maria dibaringkan kembali di tempat tidurnya, Diaz duduk di tepian tempat
tidur tersebut. Ia menatap Serena. “Ser, sekarang kamu jelaskan padaku maksud kata-katamu tadi? Kenapa kamu bilang nggak apa-apa?”
Martin mengerutkan keningnya. Ia berusaha mengingat apa yang sudah terjadi.
“Diam, lu, Tin!” Diaz emosi. “Lu nggak usah ikut campur!”
“Martin, kamu mending diam dulu. Biar aku yang bicara dengan Diaz dulu.” kata
Serena ke Martin. Lalu Serena menatap kembali Diaz. “Diaz, sebetulnya penangananmu terhadap kondisinya Maria ini nggak tepat saja, menurutku. Justru kalau kamu bawa ke rumah sakit, keadaannya malah makin runyam. Aku jamin, tak ada satu pun dokter yang bisa tahu apa penyakitnya dan bagaimana pengobatannya.”
“Oke, aku bisa bawa Maria ke luar negeri. Singapore, Australia, Jepang, Amerika,
atau Tiongkok sekalipun. Aku nggak keberatan, asalkan calon istriku ini bisa pulih kembali.” tegas Diaz. Lagi-lagi Diaz tidak memperhatikan ucapannya Serena.
“Tapi, Diaz–“ Serena menatap matanya Diaz; mungkin untuk semakin meyakinkan
Diaz dari tatapannya tersebut. “Penyakitnya Maria ini merupakan penyakit yang sering
kujumpai di Atlantis sana. Itulah kenapa kubilang, nggak bakal ada dokter yang tahu apa penyakitnya dan bagaimana menanganinya. Bahkan obatnya itu pun hanya ada di Atlantis sana.”
Kali ini Diaz-lah yang melongo, sekaligus malu.
💜💜💜💜💜
Pak Hendrikus menatap anaknya, Diaz dari pintu kamar Maria yang terbuka separo.Ia
melihat anak bungsunya itu sedang duduk di tepian tempat tidurnya Maria. Sambil duduk, ia memegang semangkok bubur putih yang sudah dibubuhi kecap manis dan sebutir telur rebus.
Dengan amat hati-hati, ia menyuapi tunangannya itu. Ia begitu hati-hati sekali, karena tak mau menyakiti tunangannya. Padahal sakit Maria tak terlalu parah. Racun dari tumbuhan atlante itu hanya baru menyerang sel pigmen dan pita suara Maria saja. Itulah sebabnya Maria masih sadar; panca indera dan bagian tubuh lainnya masih aktif bekerja. Penyakit itu
akan semakin parah, apabila dalam waktu sebulan, tubuh Maria belum juga dimasuki obat penawar. Karena racun tersebut dapat menyerang dan menguasai organ-organ vital seperti jantung, hati, paru-paru, ataupun ginjal dan otak, dan itu bisa beresiko kematian. Namun fakta yang ia dengar dari Serena tadi siang sepertinya hanya masuk telinga kanan, keluar telinga kiri, seperti kebiasaan Diaz selama ini. Diaz memang suka tak memperhatikan apa yang orang lain ucapkan atau lakukan pada dirinya, sehingga ia mudah melupakan apa yang baru saja terjadi. Momen yang terpatri di otaknya hanyalah yang extra-ordinary. Dengan selonong, Pak Hendrikus masuk ke kamar dan menghampiri Diaz. Diaz sadar dan menoleh ke arah ayahnya itu.
“Eh, Papa,” sahut Diaz.
“Kamu makan dulu, gih,” kata Pak Hendrikus.
“Dari sejak kami makan malam, kamu
belum makan, kan? Kamu malah dari dapur langsung ke kamarnya Maria bawa semangkok bubur,”
“Nanti dulu, Pa,” tolak Diaz dengan mata yang sembap. “Tunggu Maria selesaikan
dulu buburnya, baru aku makan,” Ia menatap wajah tunangannya itu. “Kamu buruan dong
kunyahnya,” Di saat yang bersamaan, Maria terbatuk dan mengeluarkan darah lagi. “Aduh,
kamu ini. Kalau mau omong, kamu tinggal tulis saja. Kan kertas dan pulpennya ada di
samping kamu,” Diaz sigap meletakan sementara mangkok tersebut, lalumengambilkan
kertas dan pulpen itu untuk diserahkan ke Maria. “Nih, kamu tulis yah, apa yang kamu mau bilang,”
Maria mulai menuliskan apa yang ada pikirannya. Huruf demi huruf mulai tercetak di atas sehelai kertas HVS itu, dan itu berbunyi: Diaz, kamu makan dulu aja. Aku bisa makan
__ADS_1
sendiri, kok. Oya, terimakasih atas perhatiannya.
💜💜💜💜💜
Diaz memang sedang berada di meja makan saat ini. Di dekatnya sudah ada sepiring
nasi beserta lauk. Hanya saja, ia sedang tak berselera makan. Ia masih memikirkan Maria.
Sudah setengah jam ini, makanannya itu tak kunjung tandas. Bagaimana mau tandas, jika tiap kali suapannya masuk ke mulut, ia malah melamun setelahnya?
Memperhatikan tingkah adiknya itu, Martin hanya menggelengkan kepalanya dari
jarak lima langkah dari Diaz. Diaz, Diaz, selama ini, lu sering banget menyakiti Maria.
Giliran sekarang, lu baru perhatian. Aneh lu. Selesai bergumam dalam hatinya, ia beringsut ke arah Diaz. Ia menjawil pundak adiknya. “Hei, ngelamun aje!”
Sepertinya Diaz benar-benar tak fokus pikirannya. Pikirannya sedang melayang-
layang di tempat lain, walau raganya di meja makan. Sampai-sampai, ia tak sadar dengan
kehadiran Martin yang sudah cukup lama mengamatinya dari sisi sampingnya.
“Eh, Tin, ada apa?” tanya Diaz.
“Nggak apa-apa. Gue cuma mau bilang, selesaikan makan lu itu. Habis ini, gue, Papa,
Mama, Serena, dan Agatha mau bicarain soal rencana lu ke Atlantis buat ambil obat
penawarnya,” jawab Martin, setelah itu ia melengos pergi menuju ruang keluarga, dimana rencana itu akan dibahas.
Mendengar informasi tersebut, Diaz tersenyum tipis dan segera mengebut acara
makannya itu. Saking cepatnya, ia sampai beberapa kali tersedak dan harus minum air putih.
Diaz benar-benar menyukai Maria. Seharian ini, di pikirannya, ia selalu membayangkan
Maria. Maria yang sedang sekarat dengan kondisi fisik yang super duper buruk. Saat acara mengebut makan malamnya itupun juga, bibirnya terus merapalkan suatu kalimat: Maria, kamu harus kuat, dan ditulis berulang kali sambil mengunyah.
Siapa sangka, kegiatan makan saja bisa jadi sebuah petualangan, khususnya untuk
Diaz. Untuk menyelesaikan porsi makan malamnya (nasi dengan lauk ayam goreng dan sop),ia benar-benar berjuang keras. Berjuang dari tersedak, terbatuk-batuk, dan malah nyaris muntah. Itu semua dilakukannya untuk bisa menyelesaikan makan malamnya secepat mungkin, lalu segera menuju ruang keluarga. Di sana telah menunggu keluarganya, keluarganya Maria, dan Serena untuk membicarakan soal rencananya ke Atlantis.
Selepas petualangan makan malamnya itu, Diaz tersaruk-saruk menuju ruang keluarga. Ruang keluarga yang di dalamnya ada televisi plasma ukuran 21 inch, radio,
pohon cemara buatan yang sudah dihias, meja kecil yang di atasnya ada sambungan telepon, beberapa lukisan dan pigura foto di dindingnya, organ ukuran kecil, akuarium berisi beberapan ikan hias. Ada Sapu-sapu, Guppy, Maskoki, dan ikan loreng-loreng, dan terakhir tiga sofa double. Di sanalah mereka semua sedang duduk menanti membicarakan rencana Diaz tersebut. Karena jumlahnya yang lumayan banyak, nyaris tak ada spot kosong yang bisa diduduki Diaz. Mau tak mau, ia duduk di ujung sofa.
“Diaz,” Pak Hendrikus mulai membuka obrolan malam mereka. “Kamu serius dengan rencanamu ke Atlantis?”
“Iya, Pa. Lagipula Maria tunanganku – calon istriku nanti. Sudah seharusnya
seorang…” Diaz malu-malu mengatakannya. Ia sebetulnya tak ingin mengatakannya, tapi
dorongan dari alam bawah sadar lah yang memaksanya mengucapkannya. “…suami menolong istrinya, kan, Pa?”
Pemilihan kata Diaz itu membuat nyaris dari mereka yang hadir di ruang keluarga itu nyaris tertawa; untung saja mereka berhasil menahannya. Eh kecuali Serena tentu saja.
“Jadi kamu benar-benar serius?” konfirmasi Pak Hendrikus lagi sembari tersenyum,
karena berusaha menahan tawa akibat kata-kata Diaz barusan.
“Iya, Pa,”
“Kalau kamu benar-benar serius, ya sudah. Papa akan bantu mengurus segala hal yang
kamu perlukan. Tapi?”
“Dengan siapa kamu pergi?” tanya Pak Hendrikus dengan seringai penuh misteri.
“Yah, dengan Serena-lah. Kan cuma dia yang tahu jalan ke sana,– ”
“Harus ada satu-dua orang lagi.” ujar Pak Hendrikus tegas.
“Kenapa, Pa?” tanya Diaz dengan dahi berkerut.
“Kak Maria, gimana, Bang?” Malah Agatha yang menjawab. “Lu tahu sendiri, dia itu
orangnya lumayan posesif. Cemburuan banget. Dia pasti maksa ikutan juga sampai tahu lu pergi berdua aja sama Serena.”
💜💜💜💜💜
Di kamarnya, Maria mendadak saja merasa telinganya gatal sekali. Ia berpikir,
jangan-jangan ada seseorang yang sedang membicarakannya lagi?
💜💜💜💜💜
Diaz tersentak. Ia baru saja ingat hal yang kelihatannya sepele, tapi sebetulnya cukup
fatal bila dilakukan. Repot sekali, jika Maria minta ikut, apalagi harus melewati pemeriksaan petugas imigrasi. Maria bisa ditahan karena diduga mengidap penyakit menular berbahaya.
“Benar banget.” kata Martin yang sepertinya tahu pikirannya Diaz. “Makanya gue
sama Agatha juga ikutan.”
“Kenapa harus ada lu sih?” Diaz merengut mendengar Martin ikut serta.
“Karena selain Serena, gue juga tahu gimana caranya kita ke Atlantis,” ujar Martin
tersenyum.
“Plus gue harus diajakin juga, karena gue jago bahasa Spanyol,” sela Agatha nyengir.
“Kan di Puerto Rico, mayoritas penduduknya bicara dengan bahasa Spanyol.”
“Puerto Rico?” Diaz mengerutkan dahi. “Lu yakin?” Ia mendelik pada Martin.
“Nggak salah tempat, kan?”
__ADS_1
Martin mengangguk. “Tadi waktu lu di kamar Maria, gue, Serena, dan Agatha sibuk
cari-cari dimana lokasi yang tepat buat ke Atlantis. Dan sewaktu lihat peta, Serena merasa tak asing dengan nama kota San Juan, yang merupakan ibukota Puerto Rico. Itulah daratan yang pertama dilihatnya.”