Destiny 41

Destiny 41
Rejeki Tak Akan Kemana


__ADS_3

“Maaf, Kak,” ucap seorang karyawati Asia Airlines yang mengenakan blazer


berwarna abu-abu gelap dan rok selutut berwarna sama.


“Tapi kalau sudah sobek itu seperti itu, berarti tiketnya tak bisa digunakan lagi. Dan


itu di luar tanggung jawab kami. Saran saya, bagaimana kalau Kakak membeli tiket baru lagi saja. Kebetulan perusahaan kami sedang mengadakan diskon sebesar tiga puluh persen.”


“Yah tolonglah Mbak, diusahakan,” pinta Diaz. “Saya juga kan dapat tiket ini dari


kontes yang diadakan oleh Asia Airlines. Masa sih tidak ada keistimewaan sebagai juara utamanya?”


Karyawati berambut ikal itu menggeleng. “Itu sudah jadi ketentuannya juga. Tapi–“


“ – tapi kenapa, Mbak?” potong Diaz. Senyum mulai mengembang di wajahnya. Diaz


melihat, sepertinya ada titik cerah untuk kasusnya tersebut.


“Tapi berbeda kalau misalnya Kakak beli tiketnya dari kami langsung. Kemungkinan


kalau kejadiannya seperti ini juga, tiketnya masih berlaku. Sebab, kami sudah memiliki data-data yang berkaitan dengan Kakak dan pacar Kakak. Dan karena Kakak mendapatkannya karena jadi juara dalam kontes yang diadakan oleh perusahaan kami, alhasil kami belum mendapatkan selengkapnya data soal Kakak dan pacar Kakak. Apalagi tiketnya juga belum kami verifikasi.”


Yah karyawati yang sebetulnya berusia lebih tua enam tahun dari Diaz itu tak salah. Apalagi hari ini juga merupakan hari verifikasi tiket ke Puerto Rico. Saat pemverifikasiannya, tiketnya malah sobek jadi dua bagian, yang diselotip pula. Sungguh sudah jatuh ke gorong-gorong, kena air kencing kucing pula. Apes kuadrat itu namanya!


“Begitu yah, Mbak? Jadi nggak bisa digunakan lagi?” tanya Diaz sekali lagi.


Karyawati tersebut hanya menggeleng saja.


“Ya sudahlah, Di,” hibur Maria. “Namanya juga sudah apes, mau bagaimana lagi.


Mungkin bukan rejeki kamu juga. Lebih baik kita saja pulang saja, yuk. Sudah jam lima sore ini. Kamu tahu sendiri Jakarta selalu macet parah di jam segini.” Setelah menunggu Maria selesai kelas Etika Profesi di jam 14.30, Diaz langsung menuju kantor Asia Airlines yang memang tak begitu jauh dari kampusnya. Kurang lebih butuh waktu tiga puluh menit dengan syarat tidak macet tapi karena macet, perjalanan mereka ke sana jadi selama tujuh puluh menit, kurang lebih.


Dengan berat, Diaz berjalan terhuyung-huyung ke luar ruangan yang mengurus soal


kontes video tersebut. Maria mengikuti dari belakang. Saat itu, Maria terkaget-kaget


menyaksikan Diaz meraih tangan kanannya dan menggenggam erat telapaknya. Baru kali ini saja, ia bisa bergandengan tangan seperti layaknya sepasang kekasih. Genggaman tangan Diaz tersebut juga membuat mukanya jadi berona merah. Jantungnya pun juga berdentum-dentum semakin kencang. Tanpa sepengetahuan Diaz, ia menutupi bibirnya yang sedang nyengir tanpa menentu. Hari ini sungguh hari paling istimewa bagi Maria, sejak ia bertunangan dengan Diaz. Tambah istimewanya lagi, Diaz mengajaknya pergi menonton.


Memang bukan film yang harus ditonton sepasang kekasih (baca: romance), tapi ini kali pertamanya, Diaz jadi orang yang berinisiatif pertama mengajak pergi menonton. Biasanya Maria yang suka memaksa Diaz untuk ke bioskop. Alhasil, Maria dan Diaz tak langsung pulang ke rumah dulu setelah gagal bernegoisasi dengan pihak Asia Airlines. Mereka melanglang buana dulu ke Grand Indonesia, tepatnya bioskopnya. Karena masih terbuai dengan sikap Diaz yang mendadak romantis, Maria mengiyakan saja ajakan Diaz untuk menonton sebuah film thriller. Padahal Maria benci film-film yang hanya membuatnya jadi mau ke toilet. Tapi kebencian itu diendapkannya sementara, bersama-sama dengan kekesalannya dalam hal mengantre.


Memang mengesalkan rasanya, saat kita sedang mengantre untuk sesuatu, tiba-tiba


saja kita bertemu dengan orang yang menelepon dan suaranya itu cukup nyaring terdengar. Yah itulah yang dialami oleh Maria dan Diaz, saat mereka berdua sudah berada di depan loket penjualan tiket bioskop di Grand Indonesia. Diaz jengkel sekali melihat seorang pemuda berpakaian necis yang menerima telepon, padahal orang tersebut sudah berada dalam posisi yang dilayani oleh karyawati bioskop. Berulang kali karyawati itu mengingatkan pemuda tersebut untuk menyebutkan film mana yang akan ditonton, pemuda itu tetap saja sibuk dengan seseorang yang sedang berbicara padanya lewat I-Phone.


“Mas, Mas,” kata Diaz dengan mimik tegang. Ia mencolek pemuda itu untuk


membuat pemuda itu menoleh padanya.


“Lebih baik anda menyingkir dulu. Antriannya


masih panjang, Mas.”

__ADS_1


Pemuda yang sepertinya eksekutif muda–dari pakaiannya–itu langsung menoleh


padanya dan berbisik sambil mencegah agar ucapannya pada Diaz tak terdengar oleh


temannya yang berada di balik jaringan telekomunikasi itu., “Maaf yah, Mas,” Ia langsung menyingkir dengan wajah memerah. Di dekat pintu masuk bioskop pun, ia masih terus berbicara dengan suara nyaring.


“Di, sepertinya orang itu lagi bicara sama pacarnya deh,” bisik Maria sambil


merangkul erat tangan kanan tunangannya itu.


“Sok tahu kamu, Let,” Diaz nyengir. Kemudian Diaz menoleh ke karyawati bioskop


yang sudah menunggu perintahnya. “Mbak, kami mau nonton film Dead Mine yang diputar di jam 18.00. Bangkunya di sini saja.” Diaz menunjuk dua buah bangku yang paling


belakang. Setelah itu, Diaz menyerahkan uang sebesar Rp 70.000 kepada karyawati yang


menjaga mesin kasir tersebut, dan karyawati itupun menyerahkan dua buah tiket sebagai


pertukarannya. Barulah setelah itu, ia pergi menjauh dari antrian dengan Maria yang masih terus merangkul tangannya.


“Oya, kamu tahu dari mana kalau orang itu bicara dengan pacarnya?” selidik Diaz.


“Kamu dengar saja percakapannya,” jawab Maria sambil menunjuk eksekutif muda


itu.


Lalu Diaz berhenti berjalan. Dari jarak sekitar lima langkah dari eksekutif muda itu, ia


“Kamu itu egois ya? Aku sudah mahal-mahal beli tiket ke Puerto Rico ini, eh kamunya malah pengin ke Guam. Terus tiketnya mau kuapakan ini? Kamu kira murah apa


beli tiketnya, semurah beli gorengan?” omel pemuda necis itu.


“Jual? Jual ke siapa? Kamu kira gampang apa jual tiket pesawat?.... Apa? Kasih? Kasih ke siapa? Lagian rugi aku kalau kukasih begitu saja. Tiketnya saja sudah seharga satu I-Phone. Kalau ngomong itu dipikir


dulu kenapa sih?” Pemuda itu mendengus kesal.


“Yaz, kamu dengar, kan, apa yang dibilangnya barusan?” desis Maria. “Coba kamu dekati dia, deh. Bilang saja, kamu mau beli dua tiketnya itu. Jadi kita bisa pergi ke Puerto


Rico.”


Diaz nyengir. Tanpa diminta dua kali oleh Maria, ia beringsut ke arah eksektif muda


itu. Kebetulan saja, eksekutif muda itu baru saja selesai bercakap-cakap via telepon dengan pacarnya.


“Maaf, Mas, tadi saya tak sengaja menguping pembicaraan Mas tadi. Sepertinya Mas


ada masalah yah dengan istrinya?” kata Diaz lembut.


Di luar dugaan, eksekutif muda itu tak marah sama sekali, saat ada seseorang yang


ikut campur. Ia malah mencurahkan isi hatinya pada Diaz dan Maria. “Iya, mas. Saya kesal sekali dengan istri saya itu. Kemarin lusa, kami baru saja merayakan hari jadi pernikahan kelima, dan sebagai kadonya, ia minta apa saja bakal saya kasih. Makanya itu saya beli tiket ke Puerto Rico. Eh mendadak dia batalin dan malah kepengin ke Guam.” Eksekutif muda itu berdecak-decak, geleng-geleng kepala. “Dasar cewek manja!”

__ADS_1


Mendengar curhat on the spot itu, Diaz hanya berjengit saja kepalanya. Sementara Maria tersenyum, berusaha menahan tawa. Ia geli melihat ada seorang eksekutif muda yang


cukup mellow.


“Oh begitu yah Mas,” respon Diaz terhadap penuturan eksekutif muda itu tadi. “Oya,


kalau boleh, saya beli tiketnya itu gimana?” Diaz menawar dua buah tiket yang dimiliki


eksekutif muda itu. Kemudian ia segera menceritakan kepada eksekutif muda itu insiden yang baru saja ia alami: insiden tiket sobek. Tentunya Diaz tak begitu detil menceritakannya.


Yah karena itu hanya akan membuat dirinya ditertawakan oleh eksekutif muda itu, apabila


tahu bahwa sobeknya tiketnya itu karena ulahnya sendiri yang bertindak gegabah.


Eksekutif muda itu mengangguk. “Oh begitu… Yah saya sih nggak keberatan, daripada saya rugi besar. Mas mau beli berapa? Atau biar enaknya, gimana kalau kita ketemu di kantor Asia Airlines saja? Yah sekalian saya urus juga pergantian namanya. Mas, ada


waktu besok?”


Diaz berjengit kepalanya. “Oh boleh, Mas, kalau begitu. Kebetulan besok saya


lowong, kok. Dan soal tiketnya itu, gimana kalau saya beli dua juta rupiah?”


Eksekutif muda itu menawarkan tangannya untuk berjabat tangan, lalu Diaz pun


menyambutnya; Maria langsung melepaskan rangkulannya untuk mempermudah


tunangannya berjabat tangan. Pemuda necis itu berucap, “Oke, deal. Oya, nama saya


Hendro.”


“Saya Diaz,” Ganti Diaz yang memperkenalkan dirinya.


“Boleh saya tahu nomornya Mas?” Dengan sigap, Hendro mengambil I-Phone-nya


yang sudah dimasukan ke dalam saku jasnya. Segera Diaz memberitahukan nomor


teleponnya, yang semata-mata untuk mempermudah transaksi.


“Besok bagaimana kalau kita ketemu di kantor Asia Airlines-nya jam sepuluh? Mas


tahu kan dimana kantornya?” ajak Hendro.


Diaz mengangguk.


“Oke, besok jangan lupa yah bawa uangnya,” ucap Hendro. Ia lalu pamit kepada Diaz


dan Maria.


Pada akhirnya, Diaz jadi juga mengajak Maria kencan ke Puerto Rico, walau dengan


harga yang mahal. Bayangkan saja, ia harus menguras sebagian besar dari tabungannya untuk mendapatkan dua buah tiket pengganti yang sobek dahulu. Sudah tabungannya menipis, ia juga harus kena omel ayahnya atas kecerobohannya itu. Sepertinya Diaz harus menjalani gaya hidup hemat sepulang dari Puerto Rico dan juga harus mencoba mencari pekerjaan sampingan untuk mengisi kembali rekening tabungannya itu. Kalau perlu, PSP miliknya harus ia jual.

__ADS_1


__ADS_2