
Ada alasan mengapa Martin sama sekali tak mempermasalahkan dilangkahi Diaz. Selain karena respek dengan ayah Maria yang tewas dalam sebuah kecelakaan lalu lintas di kilometer 90 Tol Cipularang , yang gosipnya memang berhantu, ia masih belum bisa
melupakan Priska. Priska…. teman sekolahnya, sahabatnya, pacarnya, tunangannya, istrinya.
Wanita keibuan yang selalu berambut pendek–nyaris seperti pria--itu meninggal karena kanker serviks. Pernikahannya dengan Priska terjadi sewaktu ia berusia 20 tahun, dan berlangsung kilat, tanpa perencanaan yang sangat matang dan malah terkesan tergesa-gesa.
Priska tahu usianya tak lama lagi, makanya memohon pada dirinya untuk segera
menikahinya. Gadis yang lebih muda setahun dari Martin itu ingin sekali bisa mengucapkan kalimat, “Ya, saya bersedia,” di depan seorang pendeta. Untungnya, orangtua Martin
termasuk kedua orang yang tidak kolot. Restu segera didapat dan pernikahan mereka bisa
berlangsung dan tidak berakhir cepat. Setidaknya dua tahun-lah usia pernikahan Martin dan Priska.
Martin memandangi wajah Priska yang terletak di meja belajar (Atau kau bisa
menyebutnya meja kerja, karena Martin sudah lama sekali meninggalkan dunia sekolah). Ia tersenyum dan yakin sekali, lewat foto itu, Priska juga memandanginya tersenyum.
“Pris, tahu nggak?” Martin mulai berbicara seolah-olah istrinya itu berada di sana.
“Banyak banget kejadian menarik di rumah ini, setelah kamu pergi. Mulai dari anak dari
teman Papa aku yang harus tinggal di sini karena kedua orangtuanya tewas sewaktu pulang menghadiri pernikahan kerabatnya hingga petualangan seruku bersama si adik yang suka nggak peka di Puerto Rico. Benar katamu,…”
Kedua mata Martin mulai berlinang. Ia berusaha agar tidak menangis. Disekanya air
mata yang mulai menitik.
“Nggak kok, aku nggak menangis, aku tersenyum. Lihat, senyum kan?” ujar Martin
pada bingkai foto istrinya itu. Di kamarnya yang lampunya belum dimatikan dan udara dari pendingin udara yang dinginnya mulai keterlaluan itu karena sudah dihidupkan lama sekali dan dalam ukuran suhu delapan belas derajat celcius, ia terbahak-bahak. Tanpa suara. Sendirian.
“Benar kata kamu dulu itu,” ucap Martin, yang sekarang nyaris mendesah.
“Kepergianmu membawa keceriaan dalam hidupku. Setahun setelah kamu pergi, Maria dan adiknya datang; lalu rumah ini selalu dipenuhi keramaian yang menurutku konyol. Kalau kamu masih hidup, kamu pasti ketawa deh lihat kelakuan-kelakuan adikku sama
tunangannya, si Maria itu. Selalu kayak anjing dan kucing, padahal sebetulnya saling cinta.
Mereka berdua malu aja ngakuinnya.”
“Andai kamu masih hidup,” Martin mendesah.
__ADS_1
“Waktu aku ke Puerto Rico itu, aku
terus terbayang-bayang kamu. Andai kamu masih hidup,… beuh, pantainya eksotis banget, kamu pasti suka deh.”
Tanpa disadari Martin, Maria mengamatinya dari luar kamarnya. Sepertinya Martin
lupa menutup pintu kamarnya. Maria termenung mengamati sisi lain dari abang iparnya itu. Tak biasanya Martin yang seringkali melakukan aksi-aksi konyol itu--sehingga jauh dari kesan abang yang berwibawa--sekarang ini terlihat cukup melankolis. Maria sungguh penasaran terhadap objek mata Martin itu. Foto siapakah itu? Selama tinggal di kediaman Rohie, ia tak tahu pehal istri Martin itu. Ia memang dikenal centil dan blak-blakan, tapi masih memegang teguh beberapa nilai ketimuran, salah satunya menjaga privasi. Tak sopan, bukan, seenaknya aja masuk ke kamar orang tanpa ijin?
Sepertinya pertanyaan “Foto siapa sih?” itu tak perlu dipendam lama oleh Maria. Sebongkah tangan melayang-layang di hadapan mukanya. Itu tangan Diaz, yang keluar kamar untuk pergi ke kamar mandi yang berada persis di samping kamar Martin dan tangga yang menuju lantai dua, dimana terletak kamar Maria dan Agatha.
“Ada apaan?” tanya Diaz. “Kok ngelamun?”
Maria segera buang muka. Ia mendengus. Masih kesal rasanya saat mendapati
tunangannya itu sedang memikirkan perempuan lain.
“Udahan kenapa sih ngambeknya,” pinta Diaz, buang napas. “Kamu itu udah usia dua
puluh lima tahun, bukan remaja lagi. Nggak perlu juga ngambek-ngambekan kayak gini.”
“Kamu juga ngapain mikirin cewek itu lagi?” serang Maria defensif. “Pakai muji-muji
“Jadi kamu cemburu?” selidik Diaz nyengir.
“Menurut kamu?” tanya balik Maria sewot.
Diaz tergelak. Segera saja berhenti tertawa karena seringaian tajam Maria. Saat
itulah, Martin sadar kelakuannya tadi sedang diamati….. mungkin.
“Eh Diaz, Maria, lagi ngapain kalian di depan kamar gue?” tanya Martin yang kedua
matanya masih sedikit sembap.
“Gue sih mau ke kamar mandi, mau kencing.” jawab Diaz. “Kalau cewek centil ini sih, nggak tahu lagi ngapain berdiri di depan kamar lu.” Ia nyengir menatapi Maria.
Wajah Maria mendadak masam memandangi Martin. “Ng-ng-nggak ada apa-apa kok,
Bang. Cuma lewat aja, mau ke dapur – buat minum. Dan nggak sengaja aku lihat, Bang
Martin lagi lihat foto…”
__ADS_1
“Oh foto itu,” potong Diaz. “Itu foto istrinya yang sudah meninggal, kira-kira dua
tahun yang lalu. Namanya Priska.”
“Aku nggak nanya sama kamu yah,” kata Maria sinis.
“Yah aku cuma kasih tahu aja, sih. Nggak usah sewot gitu kenapa.” serang Diaz.
Martin geleng-geleng kepala, nyengir. “Kalian ini ribut mulu. Akur sedikit bisa nggak
sih?”
“Gue sih mau-mau aja akur, tapi cewek yang sukanya ngambek nggak jelas ini kayaknya nggak mau deh, Bang.”
“Cowoknya juga yang nggak sensitif.” Saat kata ‘sensitif’ mengalun dari mulut Maria, Diaz langsung melengos pergi sambil ber-syalala.
Martin terkekeh melihat kelakuan adik semata wayangnya itu. Ia lalu ganti melihat
adik iparnya. Katanya: “Oya, Mar, yang dibilang Diaz itu benar lagi. Yang gue lihat itu tadi, Priska--istri gue yang meninggal sebelum perjodohan kalian berlangsung. Dia meninggal karena kanker serviks.”
“Oooh… aku turut berduka, Bang…” ucap Maria mencelos.
“Nggak apa-apa, udah lama ini kejadiannya.” kata Martin tersenyum. “Soal itu
gimana?”
“Apanya, Bang?” Dahi Maria sedikit berkerut.
“Itu… tiket ke Puerto Rico… Kalian kok nggak pernah berangkat-berangkat? Emang
jadwal penerbangannya kapan?”
“Oh itu…. tahu,” Maria angkat bahu, lalu melenggang begitu saja ke kamarnya.
Sebetulnya Maria begitu berhasrat sekali menggunakan tiket itu bersama Diaz.
Kencan berdua saja dengan orang yang dicintainya bahkan sebelum perjodohan itu
berlangsung. Tapi dengan sikap Diaz yang menjengkelkan hari ini, ia ogah berangkat ke
Puerto Rico. Setidaknya sampai Diaz meminta maaf dan mengakui kesalahannya.
__ADS_1