Destiny 41

Destiny 41
Dengan Ajaib Tiba di Rumah


__ADS_3

Bunyi tawa semakin menggelegar saja. Tawa yang mengerikan tentunya; juga


menyebalkan.


“Hey, Boy,” seru Kenneth lantang. “Jelaskan cara pakai mesin ini. Aku tahu, kau pasti


diberitahukan oleh si Brengsek yang sudah sekarat itu cara menjalankannya, kan.”


Pedro tak menjawab. Ia mengertakan gigi.


Kenneth memberingsut hingga berada di jarak yang pas. Di samping Pedro, berdiri


Agatha. Ke arah sanalah Kenneth menodongkan revolver-nya.


“Kalau kutanya, jawab. Atau kau mau ada korban jiwa lagi?” desis Kenneth nyalang.


Pedro tak gemetar, malah berdecak yang semakin memancing emosi Kenneth.


“Bukannya kau ini tengah dalam masa percobaan yah? Kalau kau tembak perempuan itu lagi, bagaimana?”


Kenneth tergelak. “Kalau aku tak bisa kabur dari cengkeraman para policia keparat


itu, jangan sebut aku ini anak dari Luther Soo yang melegenda. Anggap saja aku hanya apes harus masuk penjara waktu itu.”


Hening.


“Cepat jawab!”


Pedro masih menolak untuk memberitahukan.


“Maldito (kata umpatan dalam bahasa Spanyol)! Respóndeme–jawab aku!”


Jantung Pedro mulai berdebar. Sebetulnya ia menolak untuk menjawab, tapi sepertinya pilihannya hanya satu. Apalagi kondisi di luar rumah sungguh sepi. Hari sudah malam. Hanya sedikit orang yang berada di sekitar San Felipe del Morro.


“Tǎoyàn (masih kata umpatan, kali ini dalam bahasa Mandarin)!” geram Kenneth. “Kau benar-benar ingin ada korban jiwa lagi yah? Aku bisa saja membunuh satu orang lagi. Tapi membereskan dua ekor tikus pasti akan sangat melelahkan. Buang-buang waktu.”


Kenneth menggeram, mendengus. Ia menodongkan revolver tersebut ke lantai –


beberapa jengkal dari telapak kanan Agatha.


Dan…


Agatha meringis. Untung saja Diaz berada tak jauh untuk segera membantu


perempuan itu berdiri tegak di tengah kesakitan yang luar biasa; Teguh juga berinisiatif untuk bantu memapah. Di sinilah keyakinan Pedro mulai goyah. Mungkin karena faktor usia yang lebih muda dari lawannya, ia mulai gemetar. Kotak nuraninya bergetar. Emosi mulai berperan ketimbang logika.


“O-oke, aku akan memberitahukanmu cara menjalankannya.” kata Pedro yang mulai


dilanda kekalutan. “Hanya itu saja kan, yang kau minta?”


“Sebetulnya ada banyak. Tapi untuk saat ini, hanya itu. Cepat jelaskan.” timpal


lKenneth sinis. “Dan kalau kau butuh kelinci percobaan, tiga orang Indonesia ini bisa kau


pakai. Mereka ingin pulang kan?!”


“Tidak usah bingung begitu. Memang kau kira, hanya FBI dan CIA saja yang bisa


memata-matai di Borinquen ini, hah?”


Pemuda bermata cekung itu tergelak yang diikuti rekan-rekannya. “Kami, The Calderons, juga banyak menyebar mata di penjuru San Juan ini. Malah sistem kami lebih canggih dari FBI-CIA cecunguk itu.”


“Kapan pula Borinquen ini bisa segera memerdekakan diri sepenuhnya dari


cengkeraman si adikuasa itu? Biar FBI-CIA cecunguk itu tak begitu banyak tingkah di sini.”

__ADS_1


💜💜💜💜💜


Hebat nian teknologi Atlantis. Diaz masih terbengong-bengong melihat kecanggihan


mesin teleportasi tersebut. Dalam waktu sekitar lima menit, ia beserta Dion, Agatha, Teguh, dan Tiara sudah berada di Indonesia. Tepat di depan rumahnya pula. Ia sama sekali tak menyangka, di balik rumah kecil Bosco--yang sepertinya tengah menyabung nyawa–itu ternyata menyimpan mesin yang mungkin tak akan pernah dilihatnya di negara manapun.


“Tin, tolong pegangin Agatha dulu,” kata Diaz yang sedari rumah Bosco tadi, sibuk


memapah Agatha yang kaki kanannya terluka akibat todongan peluru. Untung saja, dirinya


berinisiatif langsung membalut kaki tersebut dengan salah satu kaus oblongnya. Tapi tetap saja, Agatha wajib dibawa ke rumah sakit.


Martin sibuk menggantikan posisi Diaz; ia dibantu juga oleh Teguh dan Tiara. “Lu


mau ngapain?”


Tampang Diaz kusut. “Oh iya, obat penawar buat Maria mana?”


Martin dan Agatha nyaris melotot. Abang Diaz itu geleng-geleng gemas. “Ya ampun,


Diaz. Ini ada yang terluka gitu, lu malah mikirin Maria. Bantuin dulu gih, adik ipar lu ini. Dia juga sama kritisnya.”


“Alah, kalau dia mah gampang,” ujar Diaz yang tengah memeriksa apakah obat


penawar itu ada di ransel backpacker-nya atau tidak. “Tinggal lu bawa aja ke rumah sakit atau klinik.”


“Kenapa nggak lu sembuhin luka Agatha pake obat penawar itu?” desah Martin.


“Iya, Bang. Dicoba dulu aja.” ujar Agatha yang terdengar merintih menahan kesakitan


yang luar biasa.


“Kalian nggak dengar kata-kata Caio tadi?–” Diaz menatap tajam sembari


keracunan Atlante.”


“Kayaknya Caio nggak bilang gitu juga.” desis Agatha. “Seingat gue, obat itu juga


bisa nyembuhin apa aja.”


“Inget lho, Caio ngomong pake bahasa Spanyol yang lu nggak ngerti kan.” timpal


Martin mengingatkan.


“Udah deh, ntar gue ikut nganterin Agatha ke rumah sakit.” tukas Diaz. “Tungguin


gue bentar di sini. Gue kasih dulu obatnya ke Maria, lalu gue anter Agatha ke rumah sakit.”


Diaz melengos begitu saja. Terbirit-birit masuk ke dalam untuk menghampiri Maria yang tubuhnya masih membiru. Semoga saja Maria tidak kenapa-kenapa selain warna fisiknya yang mengerikan.


“Sabar ya, Tha,” ujar Martin memberikan tatapan simpati kepada adik iparnya.


Agatha menggeleng lemah seraya berkata,


“Nggak apa-apa kok, Bang. Gue senang lihat


Bang Diaz begitu perhatiannya sama kakak gue.”


Martin terkekeh. “Tapi kalau di depan yang bersangkutan, malah sok jual mahal.


Aneh emang si Diaz.”


Agatha balas terkekeh. “Bang, tolong bawain gue ke teras dong. Lu juga pasti capek


kan, mapah gue. Atau siapa kek, salah satu dari kalian yang mau bantuin gue.”

__ADS_1


“Eh, Teguh, Tiara. Tolongin si Agatha dulu yah. Gue mau ke dalam, mau ngambil


kunci mobil.” ujar Martin.


Pemuda itu langsung memberikan ‘tongkat estafet’ tersebut ke Tiara yang tanpa pikir


lebih lanjut, langsung memapah Agatha menuju salah satu bangku yang ada di teras.


Seharusnya Teguh ikut membantu. Namun pemuda yang berbakat membuat pantun ini malah turut serta Martin ke dalam. Tambah bikin Martin gemas lagi saat pemuda itu bertanya soal kamar Maria.


Sewaktu Martin dan Teguh melewati dapur, Mbak Nenti yang sibuk memasak lauk


untuk makan siang dan malam, tampak bingung.


“Kok Mas Martin udah pulang? Cepat banget, Mas.” tanya Mbak Nenti yang begitu


sigap menerima amanah.


“Penjelasannya panjang, nanti kujelasin deh. Mobil nggak lagi dipake kan?”


Ah, untung Mbak Nenti menggeleng.


💜💜💜💜💜


Maria kaget. Seharusnya, menurut prediksinya, Diaz baru tiba sekitar dua minggu lagi. Atau mungkin tiga minggu.


Begitu cepatnya Diaz tiba. Plus, gadis yang suka sekali mengepang rambut itu juga mengerutkan dahi. Tampang Diaz begitu kalut. Napas tunangannya tersengal-sengal. Sebenarnya apa yang terjadi?


Diaz duduk, memegangi lengan Maria. Ditunjukannya botol obat itu. “Mar, ini obat


penawarnya. Aku berhasil mendapatkannya.”


Gadis itu menuliskan sesuatu. Tulisnya: kamu kok cepat banget sampainya?


“Nanti kujelasin semuanya, sekarang kamu minum dulu, buruan.“ kata Diaz sembari


menyodorkan persis ke mulut Maria.


Ini gapapa kan?


“Iya, nggak apa-apa.” Maria membuka penutupnya. Ia spontan mengernyitkan hidung saking begitu tengiknya ramuan itu. Dalam hatinya, ini dibuat pakai apa sih ramuannya? Bau banget.


“Udah langsung tenggak aja. Dijamin kamu bakal cepat sembuh, Mar.”


Awalnya Maria skeptis. Namun perlahan, keraguan itu sirna. Ini bukan soal cinta, ini


bukan drama romantis picisan, namun itu terjadi karena Diaz sudah langsung mendorong masuk botol tersebut sehingga sebagian cairannya masuk ke mulutnya. Dan itu terus terjadi, nonstop, sampai cairan itu membasahi kerongkongan Maria. Sewaktu ia akan memuntahkannya karena tak tahan dengan aromanya, Diaz melotot dan berkata,


“Jangan dimuntahin. Percaya sama aku, obat ini bisa nyembuhin penyakit yang kamu derita sekarang ini.”


Sedetik, dua detik, tiga detik, hingga belum ada lima menit, obat itu sudah bekerja.


Maria mulai merasa pandangannya mengabur, kesadarannya melemah. Bersyukur Diaz sudah diberitahukan efek dari obat penawar tersebut. Penggunanya akan merasa ngantuk dan


langsung tertidur selama kurang lebih dua belas jam tiada henti. Setelah itu, fisik Maria akan normal seperti sedia kala. Gadis itu akan kembali dapat berbicara.


Tampak Teguh yang baru tiba, terlihat panik. Sepertinya ia tidak diberitahukan soal


efek samping dari obat penawar tersebut.


“Yaz, dikau apakan Maria-ku?”


Diaz langsung menggamit lengan Teguh. Ia tak tersinggung dengan kata terakhir yang


diucapkan Teguh tersebut. “Udah percaya sama gue, Maria nggak apa-apa. Mending kita langsung ke teras yuk, Agatha udah nungguin dari tadi. Kita harus segera bawa dia ke rumah sakit.”

__ADS_1


__ADS_2