
Kini Diaz sudah berada di lorong basement satu gedung Yustinus, tempat mahasiswa
Hukum biasanya menjalani perkuliahan. Ada beberapa mahasiswa-mahasiswi yang sedang duduk-duduk santai, mendengarkan I-Pod, membaca koran atau majalah, hingga merebahkan diri di lantai; semuanya itu dilakukan mereka untuk menunggu kelas perkuliahan mereka dibuka. Di lorong yang remang-remang pencahayaannya itu, Diaz mengangkat nomor asing tersebut yang sudah lima kali menghubunginya.
“Halo,” Diaz mulai membuka pembicaraan.
“Halo,” balas seseorang yang jadi lawan bicaranya. “Ini dengan saudara Marino Diaz
Rohie?”
“Yah saya sendiri, ini siapa yah?”
“Saya Junaidi, dari Asia Airlines, ingin memberitahukan bahwa anda terpilih sebagai pemenang dari kontes “Video Romantis Atau Gokil? Mana Videomu? Buruan Upload!” yang
diselenggarakan pada tanggal 14 Februari lalu. Dan anda merupakan juara pertamanya yang mendapatkan tiket ke San Juan – Puerto Rico.”
Rahang mulutnya terbuka lebar. Diaz serasa tak percaya apa yang didengarnya. Beberapa kali ia mencubit-cubiti telapak tangannya, sehingga membuat beberapa temannya yang ada di lorong jadi memperhatikannya. Mereka memandang heran dan geli padanya.
“Serius, Mas?” Diaz mengkonfirmasi lagi hal tersebut untuk meyakinkannya itu
bukan sebuah lelucon, apalagi mimpi belaka.
“Iya, benar. Dan untuk pengambilan hadiahnya, bisa saya tahu alamat rumah anda beserta nomor yang bisa dihubungi?”
Tanpa pikir panjang lagi dan sepertinya melupakan kejadian tempo hari di kamarnya
itu, Diaz langsung menyebutkan alamat rumah dan nomor teleponnya.
“Oke, terimakasih anda sudah mengikuti kontes yang Asia Airlines adakan. Hadiahnya paling lambat akan anda terima hari jumat besok,”
“Terimakasih juga, Mas. Saya tunggu, lho, hadiahnya” Diaz nyengir. Terputuslah hubungan komunikasi antar pihak dari Asia Airlines dengan Diaz.
Kala itu, hati Diaz serasa mau copot dan terpantul-pantul membentur-bentur seluruh
organ tubuhnya. Sakit, tapi senang. Pikir Diaz, Maria pasti senang nih aku ajak dia pelesiran
ke Puerto Rico. Kemenangan Diaz di kontes yang diadakan oleh Asia Airlines itu menghilangkan konsentrasinya di ruang kuliah. Ia kebanyakan melamun daripada
mendengarkan penjelasan Ibu Bernadetta. Ia pun kena semprot dari sang dosen dan ejekan ‘cie-cie’ dari teman-temannya.
Scene berpindah.
Garasi kediaman keluarga Diaz yang agak tampak begitu lapang. Kejadiannya, seminggu lebih dua hari dari kejadian di ruang kuliah itu. Baru saja Innova masuk dan Diaz serta Maria keluar dari dalamnya, mereka berdua sudah didatangi Mbak Nenti. Mbak Nenti langsung saja menyerahkan sebuah amplop kuning kecoklatan dengan logo resmi Asia Airlines--eserta alamat dan kontaknya-kepada Maria yang memang keluar lebih dulu. Amplop berukuran semajalah itu sama sekali masih tersegel.
“Mbak Maria, Mas Diaz, ini ada surat,” kata Mbak Nenti. “Suratnya sih buat Mas Diaz, tapi pasti Mbak Maria juga ada hubungannya, deh,” Mbak Nenti nyengir.
“Kok begitu, Mbak?” tanya Diaz mengernyitkan dahinya. Ia nyengir geli. “Itu kan surat buat aku, yah kasih ke aku, dong. Ngapain kasih ke Maria?”
“Yah, yang namanya suami-istri, kan, barang suami, barang istri juga,” goda pembantu yang berusia 30 tahun itu, tapi masih perawan.
“Apa sih Mbak ini? Ngasal aja ngomongnya.” kata Diaz terkikik. Diaz segera
merenggut kembali surat itu dari tangan Maria. Sementara itu, Mbak Nenti langsung kembali masuk ke dalam dan meninggalkan sepasang tunangan itu berdua di garasi, sekaligus teras tersebut.
“Ih, Didi, kamu apaan sih? Kan aku mau lihat dulu,” ucap Maria genit. Tanpa sengaja–tapi masih dalam keadaan sadar, mulutnya memanggil Diaz dengan sebutan masa kecil
Diaz. Mungkin karena dorongan alam bawah sadarnyalah, Maria tak sengaja memanggil Diaz seperti barusan.
“Hah?” Dahi Diaz berkerut beberapa lapis dan matanya terbelalak. “Barusan kamu
manggil aku apa?”
“Didi… Memangnya ada yang salah?” tanya balik Maria tanpa merasa bersalah.
“Kamu bukannya dulu dipanggil Didi yah?”
Diaz menengguk air ludahnya lagi; entah ini yang keberapa kalinya. Wajahnya mulai
pucat pasi. “Ka-kamu tahu darimana? Yang tahu soal itu kan cuma keluargaku dan teman-teman masa kecilku doang.”
__ADS_1
“Kan aku juga teman masa kecilmu,” Maria tersenyum penuh arti. “Aku Letty, Yas,
yang dulu suka kamu godain dulu. Yang dulu tinggal di sebelah rumahmu.” Maria menatap
lekat mata Diaz dan itu sudah cukup membuat Diaz mati kutu. Seperti kebiasaannya yang sudah-sudah, Diaz menggaruk-garuk rambutnya. “Pantas saja waktu pertama kali ke rumahmu, aku merasa semakin déjà vu dengan kondisi sekelilingnya. Eh rupanya, aku baru ingat, aku pernah tinggal di sini dan sering main sama anak cowok yang sukanya gombal melulu.”
Waktu Maria mengucapkan semua itu, wajahnya memerah dan… ia terkikik-kikik
sendirian. Akhirnya setelah sekian tahun, Maria teringat kembali dengan masa-masa TK-nya itu. Gadis itu patut berterimakasih pada Ibu Tantri–ibu Diaz–yang semasa Diaz pergi ke Puerto Rico menceritakan padanya kisah itu.
‘Oya, Di---di,” Maria semakin gencar membuat Diaz semakin gelisah. “Kamu sudah buka kotak mainan dokter-dokteran kita, nggak? Jawaban atas pertanyaan kamu waktu itu kutaruh di kotak tersebut.” Tiba-tiba saja Maria mengungkit soal momen dimana Diaz menembaknya. Mungkin karena pengaruh tayangan-tayangan telenovela dan drama Jepang yang memang marak diputar di televisi itulah membuat Diaz jadi cepat dewasa soal cinta.
Waktu itu, Maria tak menggubrisnya dan Diaz mengira Maria hanya menganggapnya
bercanda. Padahal, asal Diaz tahu, diam-diam Maria menuliskan jawabannya di dalam buku
hariannya, lalu sehari sebelum keberangkatannya ke Bandung, ia sobek halaman tersebut dan diletakan dalam kotak mainan dokter-dokteran yang selanjutnya diserahkan kepada Mbok Jumirah, pembantu keluarga Rohie saat itu. Mbok Jumirah langsung menyerahkannya pada Diaz sepulang dari TK. Hanya saja, karena dilanda kesedihan ditinggal sahabat sekaligus
cinta pertamanya, ia mengabaikannya dan sama sekali belum membuka kotak tersebut.
Kotak itu sekarang masih tersimpan di lemari baju Diaz. Itu terjaga aman dalam tumpukan pakaian. Mendadak saja, Diaz teringat sesuatu: ia pernah menembak Maria dan Maria merespon aksi cinta monyetnya itu sekarang, di era internet makin menjamur
pemakaiannya. O-oh! Keringat dingin mulai mengucur di sekujur tubuhnya. Bibirnya
menganga lebar. Wajahnya semakin memucat. Hingga… tanpa sadar ia malah menyobek surat itu menjadi dua bagian secara vertikal.
Maria kaget melihat perbuatan Diaz barusan. “Diaz! Itu kan tiket ke Puerto Rico-nya,
kenapa kamu sobek?” Gadis yang sekarang ini terlihat manis dengan kepang duanya itu tahu perihal kontes itu karena pernah lihat langsung video itu yang sudah diamati 250.000 pasang mata.
Diaz kembali membesar lagi, setelah sebelumnya mengecil seperti cecurut. Ia melihat surat tersebut sudah menjadi dua bagian. “Astaganaga! Ini kenapa bisa jadi begini sih? Kalau disambung lagi, masih bisa dipakai kali yah?”
“Yah, nggak bisa lagi dong,” Maria terkikik-kikik sendirian. “Kalau sudah sobek tiketnya, yah artinya sudah tak berlaku. Apalagi ini juga hitungannya kan hadiah, belum terdaftar juga datamu. Jadi mana mau maskapainya terima. Kamu gimana sih, Didi?”
“Cukup!” bentak Diaz. “Berhenti panggil aku Didi. Ambil dan simpan surat ini,” Diaz
Maria kaget dan terpana melihat Diaz yang jadi begitu emosional. Diaz memang
selama ini sering bersikap tak acuh padanya. Namun, baru kali ini, Diaz membentaknya
dengan nada suara naik beberapa oktaf, sehingga membuat orang-orang yang berada di luar rumah jadi menonton mereka. Diaz menjauh dari Maria dan menuju kamarnya. Di kamarnya, ia memukul-mukuli kepalanya sendiri. Ia merutuki kebegoannya mengapa tadi merobek amplopnya. Dalam lubuk hatinya, ia menyesali gagal mengajak Maria kencan ke Puerto Rico sendirian… yah
hanya sendirian; berdua maksudnya.
Sementara itu, Maria yang air matanya mulai keluar memegang surat itu dan membawanya ke kamarnya. Di sana, ia segera mengeluarkan gunting dan selotip. Secara
seksama, ia satukan baik-baik dua buah tiket dan sertifikat–bukti menang kontes--tersebut
dengan selotip. Walau sebetulnya hanya buang-buang tenaga saja, ia berpikir mungkin saja tindakannya itu dapat meredakan emosi Diaz. Setelah berhasil disatukan kembali, ia
membawanya kembali ke Diaz. Namun sebelum itu terlaksana, Mbak Nenti yang melihat dari jauh insiden itu langsung mencegahnya.
“Jangan, Mbak,” ucap Mbak Nenti. “Mas Diaz, kalau lagi marah, jangan langsung diganggu dulu. Tunggu satu jam dulu, atau paling cepat tiga puluh menit-an. Mending Mbak Maria makan dulu saja.”
“Oh begitu yah, Mbak,” desah Maria. “Ya sudah deh, aku makan dulu saja.” Ia perlahan berjalan menuju ruang makan dengan air mata turun perlahan untuk membasahi pipi-pipinya.
💜💜💜💜💜
Martin masih saja tertawa. Diaz mendengus.
“Udah dong ketawanya, nggak ada yang lucu juga.” kata Diaz memelas, sekaligus
menahan malu.
“Lucu banget itu, apalagi kejadian waktu di meja makan itu…” Martin tergelak benar-
benar puas. “Itu menjijikan. Kisah cinta yang bikin perut gue mules.”
💜💜💜💜💜
__ADS_1
Martin dari jarak yang agak jauh dan tanpa sepengetahuan objeknya, tengah memata-
matai kedua orang yang sungguh memulaskan perutnya. Mau muntah menyaksikan Diaz berdiri tepat di belakang Maria. Tangannya jahil menutupi pandangan Maria, sehingga membuat Maria jadi menerka-nerka siapa pelakunya. “Hey, ini siapa sih? Bang Martin yah?”
Yah karena biasanya yang sering iseng padanya adalah Martin. Kepala Diaz beringsut ke arah kepala Maria dan ia mulai membisikan sesuatu pada tunangannya itu, “Ini aku,”
Maria langsung menoleh. “Diaz... Kamu sudah nggak marah lagi sama aku? Oya,
Diaz, itu suratnya sudah aku selotip lagi. Mungkin kalau diselotip lagi, masih bisa digunakan kali yah?” Maria menunjuk ke arah beberapa berkas yang sudah diselotipnya dari arah belakang.
Spontan Diaz memeluk erat Maria dari belakang; Maria jadi terkaget-kaget. “Nggak
bisa dipake juga nggak apa-apa, kok. Bagiku, lebih penting jawabannya daripada tiket itu.
Oya, aku minta maaf juga yah atas kekasaranku tadi.”
Maria tersenyum sumringah. “Kamu udah baca suratku waktu itu?”
“Iya,” kata Diaz lagi. “Maaf yah, kalau aku baru bacanya sekarang. Soalnya dulu aku sedih banget kamu tinggal pergi ke Miami. Makanya aku jadi nggak nafsu lagi buat
bacanya.”
“Nggak apa-apa kok,” kata Maria. “Oya, kamu masih marah nggak, kalau aku panggil
Didi lagi?” Maria melirik nakal ke arah Diaz.
“Boleh, kok, Letty,” Diaz terlebih dahulu memanggil Maria dengan nama kecilnya.
“Eh, Didi, lepasin dong pelukannya. Aku mau makan, tahu,” balas Maria.
Tanpa diminta dua kali, Diaz pun melepaskan pelukan, lalu duduk di samping Maria
persis. “Letty, gimana kalau aku suapin kamu?”
“Nggak usah. Aku kan bukan anak kecil lagi,”
“Kamu ini kecilnya kapan sih? Soalnya dulu kamu juga bilang seperti itu.”
“Iih, Didi…. Kamu jahat, deh…” Maria ngambek sambil mencubit perut Diaz.
💜💜💜💜💜
Martin terbahak. Rahang mulutnya nyaris saja robek. Sementara Diaz hanya bisa cemberut dan masam. Saking kesal, Diaz naik ke tempat tidur lagi; ia pura-pura tidur.
“Ya elah, ngambek lagi,” ujar Martin terkekeh.
“Udah usia 25, masih aja suka kayak
anak kecil waktu diceng-cengin.”
“Mending lu keluar deh, gue mau tidur.” tukas Diaz dengan mata tertutup dan kedua
tangan diletakan di atas kepala.
Martin masih terkekeh. “Oh yah, Diaz, gue mau nanya. Sebetulnya siapa sih yang lu
suka? Maria atau Serena? Kok bisa sih lu jatuh cinta untuk kedua kalinya, padahal udah jatuh cinta ke cewek lain.”
Diaz tak menjawab. Jawaban yang dilihat Martin dari Diaz hanya sebuah rona merah
di kedua pipinya. Jawaban sesungguhnya ada di pikiran Diaz. Ia dilema dan sama
bingungnya dengan Martin. Walau sering menyangkal, Diaz sungguh yakin mencintai Maria, gadis keturunan Italia itu. Namun saat Serena datang dan tinggal beberapa hari di rumah, hatinya bergetar hebat pertanda ia sedang tergila-gila. Ia tergila-gila dengan sikap polos Serena yang jauh beda dengan sikap centil Maria,yang juga cenderung blak-blakan dan terlalu percaya diri.
“Gue ingetin yah, Yaz,” Martin mewanti-wanti sembari tersenyum. Tawanya sudah
mulai mereda. “Sebaiknya lu fokus aja ke Maria. Karena gue lihat, takdir cinta lu itu di
Maria, bukan di Serena. Apalagi dengan kondisi fisik serta lingkungan dari Serena itu. Masih ingat kan sama kejadian di Puerto Rico waktu itu?”
__ADS_1