
Gadis Atlantis itu membawa Diaz, Martin, dan Agatha ke sebuah permukiman.
Permukiman yang terdiri dari kumpulan rumah kopel dua tingkat. Kumpulan rumah kopel itu tampak begitu tua. Mungkin permukiman penduduk setempat itu sudah lama ada di Puerto Rico. Sebab terlihat sekali dari warna dan kontur tiap kopel yang bebatuannya tergerus oleh cuaca. Warna tiap kopel aslinya putih, tapi sudah mulai menguning atau mencoklat.
Sudah begitu, ada beberapa kopel yang sepertiya si empunya memaksakan untuk dicat. Jadi tak enak dipandang mata.
“Ini permukiman suku Tainotic, campuran suku Taino yang merupakan suku asli
Puerto Rico dan suku Atlantis. Tak banyak yang tahu memang. Sebab suku Tainotic selalu mencoba merahasiakannya dari…” Serena memutar bola matanya. “…dunia.” Ia tersenyum getir. “Tapi ada kalanya rahasia itu terkuak, entah bagaimana caranya.”
Para warga negara Indonesia itu mengangguk takzim. Lalu si gadis Atlantis membawanya ke salah satu rumah kopel. Rumah kopel itu juga sama tuanya, hanya saja dicat berwarna hijau lumut. Di atas pintunya terdapat sebuah papan yang bertuliskan–kata Agatha
sih itu–dibaca restaurant.
Serena mengetuk pintu. Keluarlah seorang paruh baya dengan jenggot nyaris seperti
sinterklas, hanya saja kurang pakaian ala penduduk Eskimo – yang serba merah. Serena berbicara dengan pria itu – yang mungkin berusia empat puluh tahunan. Cukup lama juga pembicaraan mereka. Martin menyenggol Agatha dengan maksud minta diterjemahkan, namun gadis yang baru saja lulus SMA Agustus lalu itu hanya angkat bahu. Katanya: “Nggak tahu, Bang, itu bukan bahasa Spanyol.”
Mendengar kata-kata Agatha itu, si paruh baya tersenyum. Ia berujar, “Orang
Indonesiakah? Sudah lama sekali saya tak berjumpa orang Indonesia.”
Diaz, Martin, dan Agatha tersenyum dan berjengit kaku. Apalagi saat si paruh baya
itu mengangsurkan tangan pada salah satu dari antara mereka, dan Diaz yang menangkap.
“Kenalkan nama saya Caio Da Silva; saya sebetulnya warga Indonesia juga, dari
Adonara, Nusa Tenggara Timur. Saya pindah ke Puerto Rico ini di tahun 1979 karena hasrat saya untuk meneliti lebih lanjut soal Atlantis. Dan karena meneliti soal Atlantis itulah, saya menikahi penduduk lokal dan sudah memiliki tiga putra.” tutur pria paruh baya itu berbinar-binar.
“Sa-saya Di-Diaz,” balas Diaz gugup.
Mata Caio semakin berbinar-binar. “Orang Adonara jugakah?”
Diaz menggeleng. “Bu-bukan, orangtua saya Manado-Jawa.”
“Oh, begitu,” Caio berjengit ramah. “Oh iya, ayo masuk. Serena bilang, kalian ada
keperluan kan ke negeri ini?”
Mereka semua lalu masuk ke rumah Caio yang ternyata merupakan semacam kepala
desa di permukiman suku Tainotic itu. Caio menggiring ke sebuah ruangan. Sepertinya
ruangan itu living room yang dikombinasikan juga dengan ruang makan. Tak jauh dari meja makan, ada beberapa sofa yang berjejer mengeliling sebuah televisi kuno. Di sofa-sofa itu telah duduk… yang sebaya mungkin itu keluarga Caio. Ada wanita yang sebaya Caio dan tiga orang yang sebaya Diaz atau Agatha. Salah satu dari mereka menyapa, “Hola, buenos dias, amigo!” (Buenos dias, karena jam masih menunjukan pukul 09.30)
“Buenos dias,”sapa balik Agatha dengan tatapan genitnya. Yang menyapa barusan
tadi berwajah cukup tampan di mata gadis itu.
“Dasar!” sembur Martin.
“Suka-suka dong.” desis Agatha ketus.
Sementara Diaz dan lainnya sibuk berdebat dan menjelajahi rumah Caio lewat
pandangan mata, Caio sudah berada di dekat keluarganya--bersama Serena. Ia coba
memperkenalkan pada mereka bertiga, “Ini istri saya, Nicole. Lalu ini anak-anak saya, Pedro, Gilberto, Tristan.” Oh ternyata yang menyapa Agatha tadi namanya Gilberto, pemuda berkacamata dengan mata sipit dan hidung mancung runcing.
“Istri saya ini merupakan anak dari tetua yang tinggal di sini. Konon nenek moyangnya berasal dari Atlantis dan salah seorang petinggi Atlantis.”
Sepertinya memang betul. Di dindingnya terdapat beberapa lukisan yang semacam
kaligrafi, yah seperti kaligrafi Arab atau Mandarin. Hanya saja tak terlihat seperti sebuah kaligrafi. Oh, apa mungkin itu semacam huruf-huruf hieroglyph yang banyak ditemui di dinding-dinding piramida?
“Memang benar.” sela Serena membenarkan.
“Namanya Calypto.”
Caio nyengir. “Oya, bagimana kabar Indonesia? Saya sering dengar kabar dari
internet, negara itu masih terus dirundung masalah yah?”
“Yah seperti itulah,” ucap Diaz nyengir pula.
Caio terkekeh. “Ada saja masalah yang dibuat negeri Khatulistiwa tersebut.”
Pandangannya menjelajah ke tiap sudut, hingga mendapati Martin tengah asyik memandangi salah satu lukisan. Semua yang ada di ruang tengah itu ikut terfokus ke Martin, terlebih saat Caio berkata, “Itu huruf-huruf Atlantis. Mertua saya yang membuatnya.”
Nicole memerah mukanya saat suaminya menerjemahkan apa yang sudah diucapkan.
“Jadi Atlantis itu betulan ada?” konfirmasi Martin, mengerutkan kening.
Caio mengangguk. Lama hanya memandangi satu persatu tamu-tamu Indonesia-nya,
ia berujar, “Jadi bisa kalian ceritakan kenapa kalian butuh penawar dari keracunan Atlante?”
Martin memberanikan diri untukmenceritakan kronologisnya. Tentunya Diaz,
Agatha, serta Serena juga ikut membantu menjelaskan.
“Sebentar,” ujar Caio, yang langsung bangkit dan beringsut menuju sebuah lemari, eh
tepatnya bufet. Bufet yang dikunjungi Caio itu penuh dengan banyak hasil kerajinan tangan.
Guci, patung, lukisan yang tak Diaz dan lainnya pahami, dan manuskrip-manuskrip kuno--yang sudah sangat lapuk, sehingga perlu hati-hati memegangnya. Juga masih ada beberapa benda aneh seperti tablet berbentuk tak lazim; atau juga perkamen-perkamen dengan huruf-huruf aneh. Di salah satu bagian dari bufet itu, tepatnya di bagian bawahnya, Caio mengambil sesuatu. Tampak Diaz dan lainnya bisa melihat salah satu laci di bufet itu penuh berisi botol-botol yang berisi ramuan-ramuan berwarna aneh. Mungkin itu semacam ramuan tanaman
herbal.
__ADS_1
Caio kembali menghampiri Diaz dan lainnya. Ia mengangsurkan botol ramuan yang
berwarna hijau terang–seperti sinar hijau yang dipancarkan Green Lantern. Tak satupun dari Diaz, Martin, dan Agatha mengerti. Hanya Serena yang mengerti.
“Itu penawarnya,” ucap Serena tersenyum.
“Penawar dari keracunan Atlante. Dibuat
dari tumbuhan herbal yang langka, karena hanya bisa ditemukan di Atlantis.”
“Totally right.” Caio nyengir membenarkan.
“Suruh tunanganmu itu untuk
menenggak sampai habis ramuan ini. Setelah meminumnya, ia akan langsung pulas. Tapi
jangan khawatir, apalagi kalau ia tidur cukup lama, karena itulah efek sampingnya. Mungkin setelah tidur selama enam hingga…” Caio termenung sebentar. “…errr, dua belas jam, tunanganmu itu berada dalam kondisi fisik yang amat sangat meyakinkan–bahkan untuk bergulat sekalipun.”
Martin dan Agatha terkekeh mendengarkan selorohan tersebut.
“Gracias, Senor,” ujar Diaz menerima botol ramuan itu. “Kalau boleh tahu, apa nama
ramuan ini?”
“Penduduk setempat biasa menyebutnya Pastic.” jawab Caio. “Dibuat dari passiflora
tulae hijau terang yang tumbuh subur di bagian lain yang tersembunyi dan tak terjamah dari perairan Atlantik.”
“Ooh..” kata Diaz seraya meletakan botol itu ke dalam kantong dalam jaketnya. Ia
kembali duduk di bangku bersama Martin, Agatha, dan Serena.
“Oh iya, apa selanjutnya yang kalian lakukan? Penawarnya sudah kalian dapatkan,
bukan?” tanya Caio penuh arti.
Bahu Diaz terangkat. “Entahlah, mungkin kami akan segera pulang. Seperti yang Serena yang bilang, racun Atlante itu akan sangat berbahaya sekali, kalau tak segera
ditangani.”
Agatha tampak kecewa mendengarnya. Diaz mendapatinya. “Agatha, kita kemari
bukan untuk liburan.”
“Iya, iya, tahu, Bang. Tapi jangan kaku begitu kenapa? Sedikit refreshing juga nggak
apa-apa, kan?” kata Agatha.
“Benar kata Agatha tuh.” bela Martin. “Lagian kalau menurut gue, kita kayaknya
agak susah untuk balik. Lu lupa sama kejadian di bandara?”
“Kejadian di bandara? Kenapa emangnya?” tanya balik Diaz.
deh.” Martin mendelik pada Serena. Martin tampak mencurigai Serena.
Serena mengangguk. Kesuraman mendadak melandainya.
“Kak Serena, sebetulnya ada masalah apa sih dengan Kenneth?” tanya Agatha.
“Kayaknya antara Kakak sama Kenneth, ada sesuatu yah.”
Diaz angguk-angguk sendiri. “Iya, Ser, ada masalah apa sih?”
Serena mematung saja. Bibirnya kelu. Otaknya mumet. Bingung; haruskah ia
menceritakannya. Ia tatap Caio dan keluarganya, seraya mengatakan sesuatu dalam bahasa yang hanya bisa dimengerti oleh Serena dan mereka. Mungkin itu bahasa suku Taino, begitu dugaan Martin. Menjelang keberangkatan, Martin sudah mencari tahu soal negara yang kedaulatannya masih dipegang oleh Amerika Serikat. Caio tersenyum. Diawali dengan embusan napas, ia berkata, “Mereka gangster.”
Diaz, Martin, dan Agatha terbelalak. Mereka bertiga nyaris loncat dari tempat
duduknya.
“Gangster?” Diaz terperanjat.
“Kenneth gangster?” Agatha membeo.
“Mereka itu siapa?” Martin menyusul.
“Si Kenneth itu,” Caio langsung sebut merek.
“Tadi Serena juga sudah menceritakan
kepada saya–kejadian apa yang menimpa kalian di bandara. Dan si Kenneth itu bagian dari organisasi kriminal yang paling diawasi oleh kepolisian Puerto Rico.”
“Masa sih?’ Agatha masih tak percaya. “Habis tampang Kenneth nggak seperti
seorang kriminal. Ia malah lebih seperti penyanyi Korea.”
“Don’t judge a book by its cover.” Caio memperingatkan. “Asal kalian tahu, Kenneth
itu langganan kasus. Tak terhitung berapa kali ia sudah terlibat kasus hukum – yang
seringkali kasus narkotika. Baru-baru ini, ia keluar dari penjara setelah menyelesaikan masa hukumannya karena ketahuan memiliki dan menggunakan kokain. Untung ia sedang dalam masa percobaan, jadi kalian tak perlu terlibat terlalu jauh.”
Martin berjengit. “Sebetulnya Kenneth itu terlibat dalam organisasi apa? Apakah itu
semacam kartel narkoba? Hal seperti itu cukup akrab di sini kan.”
Caio mengangguk. “Kenneth itu cucu jauh dari pemimpin kartel Calderon yang
__ADS_1
bernama Oscar Moyes–buronan nomor satu di San Diaz ini. Ayah Kenneth, Luther Soo
merupakan anggota Triad, organisasi kriminal spesialis pembajak software-software yang
terkenal di Hongkong, Tiongkok. Ayahnya menikahi Amanda Traven, putri dari Neftali
Traven yang diduga merupakan pemimpin kartel narkoba yang cukup terkenal, Los Travenos di Meksiko. Konon Los Travenos bekerja sama dengan The Calderon, dan menguasai pasar narkoba di Amerika Tengah dan Amerika Latin.”
“Wah anda cukup tahu yah masalahnya,” potong Martin.
Caio terkekeh. “Except of their nasty life has been making up the face of whole mass
media, Amanda Traven is also grand daughter of my wife undirectly.” Ia manatap tersenyum
pada istrinya. “Tak usah heran juga, di dunia ini, kalau kita mau memerhatikan, ada berjuta
kebetulan yang bisa kita temukan.”
Istrinya, Nicole mengangguk tersenyum mengiyakan.
“Oh yah, sepertinya kalian juga butuh istirahat. Dari mata kalian, aku yakin kalian
belum sempat menyembuhkan jet lag.” ujar Caio yang dengan seksama memperhatikan mata demi mata dari Diaz dan lainnya.
Diaz, Martin, dan Agatha mengangguk serempak. Itu menyebabkan anak-anak Caio
tertawa. Sementara Caio dan istrinya–juga Serena–hanya tersenyum menahan tawa.
“Kalian bisa tidur di atas. Kebetulan kami punya dua kamar kosong, dan satu kamar
sudah terisi. Oh yah–“ Caio tiba-tiba teringat sesuatu. “–kalian kenal dengan Teguh dan
Tiara? Dua hari lalu, mereka ditemukan oleh Pedro dan Gilberto di jalanan kota San Diaz.
Kasihan sekali mereka.”
Jangan heran apabila Tiara dan Teguh begitu cepat tiba di San Diaz. Tiara itu berasal
dari keluarga yang cukup berada. Perempuan yang-genitnya-menyamai-Maria-tapi-lebih-
gegabah itu langsung heboh begitu mendengar soal isu tersebut. Tergesa-gesa mendesak ayahnya untuk memesan dua buah tiket ke Puerto Rico. Tak tanggung-tanggung, yang ekstra mahal sekalian, yang bisa lebih cepat ke sana ketimbang rombongan Diaz, dkk.
Diaz terkekeh. “Mereka lagi. Kenapa sih hidup gue nggak bisa lepas dari dua orang
aneh itu? Bahkan sampai ke San Juan segala lagi.”
“Jangan gitu, Yaz. Jangan jahat-jahat sama teman sendiri.” kata Martin nyengir.
“Teman?” Diaz hampir saja tertawa lepas.
“Buat apa juga gue temanan sama dua
orang aneh itu. Yang satu, paranormal wannabe; satunya lagi, ratu drama.”
Caio nyengir. “Jangan begitu. Siapa tahu kelak dua orang aneh itu malah jadi
penyelamat dalam hidupmu.”
“Tuh dengar,” bela Martin.
Diaz hanya menghela napas dan mengangkat bahu seraya berkata, “Iya kali,”
“Ya sudah, kalian beristirahatlah. Soal kepulangan kalian ke Indonesia, kita bahas
nanti saja.” saran Caio. “Pedro, please bring them to their room,”
“Okay, Papa.” sahut Pedro yang sigap berdiri.
Kemudian Pedro membawa Diaz dan lainnya ke kamar yang terletak di lantai dua.
Lantai dua ini terlihat lebih luas daripada lantai pertama. Mungkin karena jarang sekali
terlihat ada perabotan, makanya bisa menimbulkan efek lapang. Di depan pintu masuk salah satu kamar tamu, mereka semua terdiam. Pedro belum memperbolehkan mereka masuk.
“The men, please get into this room,” Pedro menunjuk satu ruangan yang pintunya
berwarna coklat kusam. “and the women, you get that room.” tunjuk pemuda hispanik yang
berambut awut-awutan pada pintu yang sepertinya baru saja selesai dicat. Bau catnya pun masih saja terasa di hidung. Mungkin kemarin dicatnya.
Pedro melirik arlojinya. “Lo siento, hermano-hermana. 2I have to leave you all. It’s
eleven already. I have to go downstair–to my room. You must be know siesta, right?.” Ia
terkekeh, lalu meninggalkan Diaz lainnya di lantai dua.
Diaz dan Martin masuk ke pintu yang warnanya coklat dan kusam dan terlihat belum pernah dicat lagi setelah sekian lama. Di sana, mereka langsung disambut oleh ekspresi terkejut dari seorang Teguh yang juga menanyakan perihal Maria. Diaz jujur saja bilang soal kunjungan ke Puerto Rico ini untuk mencari obat penawar.
Sementara Agatha dan Serena masuk ke pintu yang baru saja dicat tersebut. Mereka
berdua juga disambut oleh ekspresi terkejut. Tiara langsung terbirit-birit heboh setelah tahu bahwa Diaz juga ikut serta. Diaz risih dengan seringaian Tiara itu. Tambah risih lagi saat Tiara memeluk erat Diaz. Martin iseng saja meledeki adiknya itu: “Hebat lu, Yaz. Gue iri banget sama lu yang digila-gilai banyak perempuan. Mulai dari Maria, Velita, Fidel, Ester, hingga Tiara ini. Bagi dong resepnya.”
💜💜💜💜💜
Tak terasa sudah jam enam sore. Senja menyingsing. Lama sekali tidur para Indonesia itu terlelap.
“Hello, dear,” Nicole langsung menghampiri mereka yang baru saja turun. Istri Caio
itu langsung memeluk dan mencium pipi Agatha dan Serena. “Is your sleep nice?”
__ADS_1
“Si, señora–ya, nyonya.” kata Agatha tersenyum, mencoba mempraktekan kembali
kemampuan berbahasa Spanyol yang sudah lama tak digunakan. “Mi sueño hermoso."